
" Papah habis dari mana?"
" Astaghfirullah, Kia kamu mengagetkan Papa. Untung gak ada penyakit jantung."
Reza sangat terkejut akan hadirnya Kia tengah duduk di sopa, tentu dia tidak dapat melihat akan kehadiran sosok anaknya itu karena lampunya padam. Namun Reza heran, mengapa anaknya berani di dalam kegelapan. Dia sangat tahu Kia, dari bayi sudah mengurus dan membesarkan sampai sekarang ini tentu sudah hapal apapun yang disukai atau di benci, begitu juga dengan rasa takutnya. Kia sangat takut jika dalam keadaan gelap. Tapi malam ini, jam hampiri menunjukan pukul 10 malam dia duduk dengan tenang tanpa ada rasa takut sama sekali.
" Kia, kamu ngapain disini? Papah kira kamu sudah tidur?" Tanya Reza dia menyalakan lampu dan sekarang berjalan mendekati Kia sambil membuka jas putihnya.
" Papah habis dari mana?" Bukannya menjawab, Kia malah mengajukan pertanyaan yang sama tapi kali ini sedikit agak meninggikan suaranya.
Reza membulatkan matanya tak percaya, tak pernah dia melihat anaknya seperti ini. Ekspresi marah tanda tak bersahabat. " Kia kamu ini kenapa, lagi gak enak badan?"
__ADS_1
Kia tertawa sinis mendengar pernyataan Reza, Kia menatap Reza tajam dia sangat marah dan kesal padanya. Mata Kia terlihat sebab dan sedikit bengkak, Reza yakin jika anaknya ini habis menangis. Lalu apa dan siapa yang membuatnya menangis? Reza bertanya -tanya.
" Papah habis dari mana?" Sekali lagi Kia bertanya dengan pertanyaan yang sama. Lagi -lagi dia meninggikan suaranya. " Habis dari rumah kekasih simpanan Papah, iya!"
Reza kembali membulatkan kedua matanya, kekasih kecil? Atau jangan-jangan, Reza nampak panik.
"K- kamu ngomong apa Kia, Papah seharian dirumah sakit Papah banyak pekerjaan."
" Di rumah sakit, sibuk? Oh benar kah? Bukannya pergi menemui kekasih kecil Papah?"
" K- kekasih apa maksud kamu, tentu Papah di rumah sakit." Kembali ngeles.
__ADS_1
" Oh bener kah, kalau begitu sekarang Papah tidak lupa kan ini hari apa?" Tanya Kia dengan nada sinis. Dia bener -benar sudah muak dengan kebohongan papahnya itu.
Reza mengerutkan kening berpikir keras, ada apa dengan hari ini? Memangnya kenapa dengan hari ini sampai -sampai anaknya itu marah besar yang belum pernah ia melihatnya.
" Hari ini hari Rabu, memangnya ada apa dengan hari ini? Gak ada yang spesial kan?"
Braaaaak ... Reza dibuat terkejut oleh Kia yang memukul meja.
" Jadi Papah gak ingat hari ini hari apa? Papah bener -bener keterlaluan, jika sudah tidak mencintai mamah lagi seharusnya Papah gak melupakannya, jika Papah sudah menemukan wanita lain seharusnya Papah tidak menyingkirkan mamah di hati papah. Aku kecewa sama Papah, aku benci, dan jangan harap aku mau menerima dia menjadi mamah aku."
Kia benar-benar sangat kecewa dengan Reza, dia tidak menyangka jika Reza melupakan mendiang istrinya. Padahal hari ini adalah hari dimana wanita itu menghembuskan nafasnya. Kia seharian menunggu kedatangan Reza di makam, tapi kenyataannya lelaki itu malah menjemput Febby di bandara dan seharian bersama wanita itu, tidak bekerja apalagi datang ke pemakaman memperingati hari kematian mendiang Rina untuk mengirimkan doa.
__ADS_1
Kia menangis dan berlari ke kamarnya, dia tahu mungkin sudah saatnya Reza mencari pendamping hidupnya. Tetapi bukan seperti ini, bukan bersembunyi di belakangnya apalagi benar-benar sampai melupakan mendiang istrinya.