Jadi Sugar Baby Duda Lapok

Jadi Sugar Baby Duda Lapok
28


__ADS_3

Kia sudah duduk berhadapan dengan sahabat dan juga ayahnya. Dia menampilkan wajah yang sangat datar dan juga ekspresi dingin, tetapan lurus ke depan memperhatikan keduanya dengan surat mata yang sangat tajam.


Feby begitu sangat sekali, biasanya dia tidak pernah merasakan sekugup ini bahkan saat melakukan ujian akhir saat masa SMA dulu atau Tengah berhadapan dengan calon mertuanya. Ya Febi sudah bertemu dengan ibu atau nenek dari sahabatnya itu beberapa bulan yang lalu, dan mereka sudah mendapatkan Restu begitu pun juga dengan keluarga yang lainnya, hanya tinggal Kia saja yang belum mengetahui hubungan mereka. Tentu saja jika gadis itu sangat marah sekali.


Reza mengerti akan kegugupan kekasih kecilnya itu dia pun menggenggam tangan Feby yang terkepel kuat dan terasa dingin. Gajah tersenyum saat Feby menoleh ke arahnya.


" Ehem ..." Kia berdehem seolah dirinya adalah obat nyamuk. Kia duduk dengan kaki menyilang pandangan matanya tak luput dari keduanya.


" Ada sesuatu yang ingin kalian jelaskan padaku?" Tanyanya dengan ada dinding. " Kalian datang ke sini bukan hanya untuk memamerkan kemesraan kalian bukan?" Cibirnya ketus.


Febi maupun Reza menatap ke arahnya. Reza menghela, dia mengerti akan kemarahan anaknya itu. " Kia, dengarkan Papah. Papah tidak bermaksud menyembunyikan hubungan kami padamu ..."


Sontak dia langsung tertawa sesaat kemudian dia terdiam dan kembali menatap ayahnya tajam. " Tidak bermaksud menyembunyikan? Bahkan kalian sudah berhubungan selama 1 tahun bahkan sudah saling bertemu dengan keluarga masing-masing. Dan hanya aku yang tidak tahu apapun tentang hubungan kalian berdua! Apa itu yang dinamakan bukan bermaksud menyembunyikan?" Sentak Kia sangat emosi sekali.


Alex yang duduk di samping Kia ingin menenangkan gadis itu, tetapi bukan saatnya karena situasi seperti ini dirinya tidak boleh ikut campur dan Alex pun hanya bisa menjadi penonton yang baik saja.


" Bahkan jika aku tidak mengetahuinya sendiri, aku yakin kalian berdua tidak bakalan mengatakan apapun padaku, iyakan?" Lanjutnya dengan nada mengejek. " Kalian anggap aku ini apa? Hah!" Bentaknya kemudian. Kia sangat emosi sekali, dia mengusap wajahnya kasar mencoba untuk tidak terpancing emosi lagi.

__ADS_1


" Kia ..." Febby merasa sangat bersalah.


" Apa?" Jawab Kia cepat membuat Febby menundukkan kepalanya. Dia menangis menyesal karena telah berbohong.


" Aku pikir kita adalah sahabat, Febby! 3 tahun, lebih dari 3 tahun kita bersahabat. Aku bahkan sudah menganggap mu seperti saudara kembar aku sendiri." Kia menunjuk dirinya sendiri. Kemudian dia menggeleng pelan menatap Febby.


" Aku selalu menceritakan apapun padamu, bahkan dengan urusan pribadi ku. Tapi kenapa kamu hal sebesar ini tidak mengatakan padaku kalau kamu mencintai orang ini, ayahku!" Kia sangat kecewa sekali dengan sahabatnya.


" Kalian berdua hebat. Sangat hebat bisa mengelabui ku, berpura-pura tidak memiliki hubungan apapun saat berhadapan dengan ku." Kia tertawa sambil bertepuk tangan.


Kemudian kembali menatap dengan sinis.


Kia tersenyum sinis menatap sang ayah. " Kenapa?" Tanyanya menantang.


" Berhenti memojokkan dan menyalahkan Feby. Dia tidak bersalah. Papa lah yang meminta dia agar tidak memberitahu kamu, Papa yang meminta dia untuk menyembunyikan semua ini agar kamu tidak merasa kecewa karena papa telah mencintai wanita lain selain mama kamu," ucapnya.


Kia kembali tertawa. " Tidak kecewa? Lantas dengan menyembunyikan semua ini aku tidak kecewa? Sungguh lucu sekali ...!"

__ADS_1


" Kia, maafkan aku," ujar Febby dalam isak tangisnya.


Reza menarik nafasnya panjang kemudian membuangnya kasar. Reza menatap anaknya dalam.


" Kamu belum dewasa dan begitu sangat emosi, sebab itulah Papah memilih untuk merahasiakan hubungan kami lebih dulu agar supaya kamu semakin dekat dengan Fabby barulah Papa memberitahu kamu dan langsung menerima Febby sebagai ibu sambung kamu dengan senang hati," kata Reza pelan tanpa emosi. Dia meminta pengertian pada anaknya itu.


" Jika kalian mengatakannya dari awal, mungkin aku tidak akan se kecewa ini pada kalian. Aku merasa seperti orang bodoh di sini," jawabnya sambil memijat pelipisnya, kepalanya itu terasa pening mendadak.


" Jadi sekarang kamu maunya apa?" Tanya Reza. Kia terdiam dia tidak menjawab pertanyaan dari ayahnya itu lantaran tidak tahu harus menjawab apa.


" Kami sudah memiliki hubungan selama 1 tahun lebih, dan kami pun berencana untuk menikah lantaran sudah saling sangat mencintai dan merasa cocok satu sama lain. Dan ditambah lagi, adik kamu sudah tumbuh di rahim nya. Jadi mau tidak mau suka atau tidak kami tetap bakalan menikah, dan itu terserah kamu mau tetap tinggal bersama kami atau tidak!"


Reza mengatakan begitu sangat tegas dan serius sekali dia tidak mau mendengar protes dari anaknya, tidak mau mendengar amarah dari anaknya itu. Reza pun berdiri, dia menatap iya dan juga Alex bergantian.


" Febby, ayo kita pulang!" Ajak Reza, laki-laki itu tidak mengatakan apapun lagi pada anaknya.


Febby menggeleng. " Tidak, Aku tidak akan pulang sebelum dia memaafkan aku," tolaknya.

__ADS_1


" Tidak perlu, toh dia juga tidak bakalan mau memaafkan kita jadi. Terus untuk apa?" Reza tidak ingin lebih kembali di pojokan lagi oleh anaknya dan membuat kekasihnya itu menangis tentu akan berdampak pada janin yang ada di kandungannya itu.


__ADS_2