Jadi Sugar Baby Duda Lapok

Jadi Sugar Baby Duda Lapok
25


__ADS_3

Setelah satu jam menunggu, Reza mencari keberadaan Febby. Dia mengetahui jika kekasih kecilnya itu ada di taman rumah sakit lantaran Febby mengirim pesan. Febby malas untuk berjalan kembali ke ruangan Reza karena sangat lemas sekali kakinya untuk bergerak. Jadi biarkanlah saja Reza yang menghampiri dirinya.


" Febby." Reza duduk disamping gadis itu, dia melihat raut wajah kekasihnya itu nampak sedih.


" Mas ..." Febby langsung menangis, dia langsung menumpahkan air matanya sedari tadi ditahan.


" Febby ada apa?" Dengan cemas Reza langsung memeluknya erat.


Febby menangis, dia tidak bisa berbicara untuk sekarang karena tangisannya belum mau berhenti. Terpaksa Reza harus menenangkannya lebih dulu. Caranya sebenarnya tidak mengerti dan kebingungan dengan kedatangan kekasih kecilnya itu yang tiba-tiba langsung menangis seperti ini.


" Tidak apa-apa, bicara saja pelan-pelan ya," ujarnya sambil mengusap punggung Feby dengan lembut.


Feby mengangguk, dia menarik nafas dalam-dalam kemudian ia hembuskan perlahan lalu menatap Reza.


" Kia, Mas ...," Ucapnya lirih, bahkan air mata masih mengalir.

__ADS_1


Reza kembali menghapus air mata di wajah Febby, mendengar nama anaknya di sebut Reza mulai mengeri.


" Apa kalian bertemu hari ini?" Tebaknya.


Febby mengangguk pelan. " Kia sepertinya sudah mengetahui hubungan kita," ucapnya menatap serius Reza dengan mata sembabnya.


Reza menghela nafas panjang, ia sudah menduga ini bakalan terjadi. Cepat atau lambat pasti Kia bakalan mengetahuinya, ibarat pepatah, sepandai-pandai bangkai disimpan, pada akhirnya bakalan tercium juga. Reza menggenggam tangan kekasihnya.


" Apa yang dia katakan? Apa dia berkata kasar sama kamu?" Tanya Reza, laki-laki itu masih menggenggam tangannya erat.


Febby kali ini menggeleng pelan, memang tidak ada kata kasar yang di ucapkan oleh Kia, tetapi sindiran dan tatapan benci dari gadis itulah yang membuatnya menangis dan sangat khawatir.


" Aku takut jika dia marah sama aku Mas. Bagiamana jika Kia tidak merestui hubungan kita dan menjauhiku?" Sangat khawatir, Febby tidak ingin berpisah dengan Reza dan dibenci oleh Kia.


Bolehkah ia egois? Febby menginginkan ayah dan anak itu menjadi miliknya. Febby tidak ingin memilih diantara keduanya. Ia sudah sangat terlanjur menyayangi dan mencintai sahabat dan juga kekasihnya itu.

__ADS_1


Feby kembali menangis ya bener-bener takut jika dirinya dibenci dan dijauhi dari sahabatnya. Dan Reza kembali untuk menenangkan, menariknya kedalam pelukan, dan memeluknya erat.


" Sebenarnya Kia juga lagi marah sama aku dan dia pergi dari rumah." Reza bercerita. Sontak membuat Febby melepaskan pelukannya dan menatapnya serius.


" Sejak kapan?" Tanyanya tak sabaran.


" Tadi malam," jawab Reza. Lagi-lagi tangannya harus mengusap air mata itu lagi yang dengan mudahnya keluar dari kelopaknya. Reza sangat tidak tahan melihat sang kekasih kembali menangis.


" Jangan menangis lagi, Febby. Kita temui Kia dan menceritakan semuanya padanya." Reza mencoba untuk menghibur.


" Kenapa gak bilang sama aku kalau Kia sudah mengetahui nya? Aku semakin merasa bersalah karena terus saja bersikap pura-pura bodoh dengan sindirannya tadi." Andai Reza memberitahu nya lebih awal, sebisa mungkin dirinya akan menghindari Kia untuk sementara waktu sampai dirinya dan juga Reza bertemu secara langsung dan mengatakan semua padanya.


" Maafkan aku!" Reza tidak memberitahunya jika dirinya sudah berusaha untuk menelpon, dia tentu tahu Febby bakalan merasa bersalah lagi nantinya. Ia lebih memilih untuk kembali menenangkan kekasih kecilnya itu hingga jam waktu istirahatnya selesai dan ia harus kembali bekerja lagi.


" Kamu beneran gak apa-apa, aku anterin pulang dulu ya." Sungguh Reza tidak tega membiarkan Febby pulang dalam keadaan kacau seperti ini.

__ADS_1


Febby menggeleng pelan dan memaksakan senyumnya. " Aku tidak apa-apa, Mas. Aku bisa pulang sendiri, kamu jangan khawatir ya."


Reza menghela nafas panjang menatap wajah sang kekasih, sebelum kembali beraktivitas ia mengecup lembut kening Febby dulu tak peduli dengan tatapan orang -orang yang melihat lantaran mereka sekarang ini masih di taman rumah sakit.


__ADS_2