
Kia pergi meninggalkan Febby yang mematung, ya dirinya memang sedang memakai pakaian dan tas bermerek hasil dari pemberian Reza pastinya. Tetapi Febby sudah lama memakai pakai bermerek seperti ini, dan Kia tidak pernah mempermasalahkan semuanya.
" Ada masalah apa sama Kia? Tidak mungkin kan dia tahu." Febby menutup mulutnya, ia menebak jika Kia mengetahui tentang hubungannya dengan Reza.
" Tidak, aku harus bagiamana jika Kia sudah mengetahuinya." Kakinya sampai gemetar, detak jantungnya berdetak kencang, Febby ketakutan akan kemarahan sahabatnya itu.
Febby mengeluarkan hp-nya dari dalam tas.
" Sial, hp mati." Lupa dicas, sebab itulah HP-nya tidak bisa di hubungi sedari tadi.
" Aku langsung ke rumah sakit sekarang, aku harus kasih tau ini pada mas Reza." Tidak jadi kuliah, Febby segera pergi keluar gerbang untuk menemui Reza. Filing nya sangat yakin jika Kia sudah mengetahui tentang hubungan dirinya dengan Reza.
Febby menaiki taksi, di dalam taksi dia sangat cemas. Tentu Febby tidak ingin persahabatannya kandas gara-gara hubungannya dengan Reza, jika seandainya Kia meminta memilih antara persahabatan dan hubungan cintanya dengan Reza. Febby pasti akan memilih persahabatan walaupun harus mengorbankan perasaannya dan cintanya, Febby tidak ingin kehilangan sosok sahabat seperti Kia, karena Kia adalah orang yang menyayangi dirinya dengan tulus dan selalu ada disaat dirinya tengah sedih.
__ADS_1
Sesampai di rumah sakit, Febby berlari kencang di koridor menuju ruangan Reza. Bahkan sampai menabrak pengunjung lain saat berpapasan.
" Aduh, ya Allah Mbak, jalan pelan-pelan dong," tegur keluarga pasien saat bahunya tak sengaja di tabrak oleh Febby.
" Maaf Bu, saya tidak sengaja." Dengan wajah menyesal Febby meminta maaf dengan tangan di tangkupnya.
" Ibu tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir.
" Saya tidak apapun, hati-hati lain kali," nasehatnya, lalu ibu itu pergi meninggalkan Febby.
" Maaf mohon tunggu antrian, dokter masih memeriksa pasien," kata suster saat membuka pintu.
" Oh, maaf. Emmm dokternya tidak sibuk lagi?" Tanya Febby ragu.
__ADS_1
Suster itu mengecek jadwal dokter Reza. " Emmm sekitar satu jam lagi, apa anda sudah memiliki janji?" Tanyanya.
" Ah, tidak. Kalau begitu saya tunggu saja, permisi." Febby pun pergi ke taman rumah sakit untuk menunggu sambil mengecas hpnya disana. Dia tidak bisa mengganggu orang yang sedang bekerja, tak ada pilihan lain selain menunggu.
" Kia sama sekali tidak menghubungi ku, dia benar-benar marah karena ini." Dengan raut wajah sedih Febby mengecek HP-nya, kali saja Kia ada menghubungi dirinya, tapi sayangnya tidak ada sama sekali.
" Aku harus bagiamana?" Sangat khawatir, Febby bingung harus bagaimana cara menghadapi sahabatnya itu. Dia bingung akan memulai dari mana.
Setelah satu jam menunggu, Reza mencari keberadaan Febby. Dia mengetahui jika kekasih kecilnya itu ada di taman rumah sakit lantaran Febby mengirim pesan. Febby malas untuk berjalan kembali ke ruangan Reza karena sangat lemas sekali kakinya untuk bergerak. Jadi biarkanlah saja Reza yang menghampiri dirinya.
" Febby." Reza duduk disamping gadis itu, dia melihat raut wajah kekasihnya itu nampak sedih.
" Mas ..." Febby langsung menangis, dia langsung menumpahkan air matanya sedari tadi ditahan.
__ADS_1
" Febby ada apa?" Dengan cemas Reza langsung memeluknya erat.