
Kia merasa sangat amat kecewa dengan Reza, dia sendiri tidak mengerti mengapa harus menyembunyikan semua dan yang paling dia sangat kecewa melupakan hari dimana mamanya itu pergi untuk selamanya. Kia mengerti jika memang cinta Reza sudah hilang sepenuhnya, dia mengerti jika Reza sangat membutuhkan sosok pendamping hidup di sisinya. Tapi maksud Kia bukan seperti ini caranya, toh papa nya itu bukan lagi anak remaja yang baru mengenal cinta.
Kia kembali menangis sejadi-jadinya di kamar, dia duduk di tembok sambil memeluk foto Rina erat.
Cukup lama dia menangis sampai air matanya saja sudah habis, Kia mengambil hpnya lalu menelepon seseorang.
" Hallo, Kia ada apa sayang?"
Yang di telpon Kia tak lain dan tak bukan adalah Alex.
" Om …" Terdengar suara serak membuat Alex panik seketika.
" Kia kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tentu Alex tahu jika gadisnya itu habis menangis.
__ADS_1
" Tolong bawa Kia pergi, Om." Bukan menjelaskan tetapi Kia malah meminta Alex membawanya pergi, Kia sudah muak jika bertemu dengan Reza, apalagi jika belum menjelaskan apapun tentang hubungannya dengan Febby.
" Kamu dimana sekarang?" Alex panik, dia takut jika Kia berada di luar. Telpon masih tersambung dengan cepat dia mengambil kunci mobilnya dan segera berlari ke luar dari kamar tanpa peduli jika sekarang ini dia sedang menggunakan baju tidur, celana boxer pendek dan baju kaos putih polos agak ketat di tubuhnya yang kekar itu.
" Aku dirumah, tolong bawa aku pergi dari sini," katanya.
" Oke tunggu Om datang."
Tak ingin bertanya mengapa dan kenapa, jika gadisnya itu meminta dia tidak bisa bilang tidak. Alex langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan, dia yakin terjadi sesuatu pada Kia sebab itulah mengapa dia terburu-buru melajukan kecepatan.
Alex sedikit ragu untuk mendekatinya. Perlahan dia melangkah dengan detak jantung begitu kencang seakan mau copot, apa mungkin Kia memintanya menjemput karena wanita ini pikir Alex. Wanita itu perlahan menoleh arahnya, Alex menelan ludahnya kasar, jika manusia tak ada kata takut bagi Alex tapi ini berbeda, jika bertemu dengan sosok hantu siapa yang berani, secara sudah berbeda alam sehingga rasa takut itu Alex rasakan, ingin berteriak dan berlari kencang tapi gengsi karena takut jika Kia sampai melihat sisi lemahnya itu.
" Om …" sapanya. Alex lega ternyata bukan seperti yang ada di dalam pikirannya. Dia tersenyum lalu menghampiri, ternyata sosok itu adalah Kia. Untung saja dia tidak sampai terkancing di dalam celana, bisa hancur imeznya di depan Kia.
__ADS_1
Alex kembali bersikap kul, dia berjalan dengan tegap menghampiri Kia. Alex melupakan soal ketakutannya tadi.
" Kia kamu kok disini sih? Udara dingin, kalau sampai masuk ingin gimana?" Kata Alex, hampir saja berlari terbirit-birit tadi, coba kalau terjadi tak tau deh bagiamana nantinya dia berhadapan dengan Kia, hancur … mau ditarok kemana muka gantengnya itu. Untung saja, kata Alex dalam hatinya.
" Ayo Om kita pergi dari sini," ajak Kia.
" Memangnya kenapa sih? Apa Reza gak ada di rumah?" Baru bertanya kenapa, toh kalau misalnya Reza gak ada dirumah gaak perlu pergi kan, dia bisa menginap disini.
" Ada, tapi Kia males ketemu sama dia," jawab Kia males.
Saat Kia keluar dari rumah tadi Reza sudah berada didalam kamarnya, Kia bersyukur setidaknya tidak bertemu apalagi untuk berpamitan. Sudah pasti tidak akan diberikan izin dan itu semakin membuatnya ingin kembali menangis. Tujuan Kia pergi dari rumah hanya ingin menenangkan hati dan pikirannya, dirumah ini sudah membuat nya tidak tenang apalagi jika memikirkan Reza yang melupakan hari kematian mendiang istrinya sendiri.
" Ayo Om, kalau Om gak maai yaudah Kia bisa pergi sendiri."
__ADS_1
" I-iya, ayo kita pergi ke rumah Om ya."
Dengan cepat Alex masuk ke mobil mendengar ancaman Kia. Mungkin ada masalah antara ayah dan anak itu sehingga dia tidak berani bertanya, tidak ingin ikut campur biarlah nantinya dia tahu dengan sendirinya.