
Warga-warga yang melihat perkelahian pun pada bubar, mereka takut akan terjadi keributan yang lebih besar lagi. Mereka tahu bahwa babah Liong pasti akan marah besar, dan akan membalas dendam kematian muridnya. Mereka langsung pulang kerumahnya masing-masing, dan segera mengunci pintu rumahnya.
Babah along yang semenjak tadi gelisah, langsung mendekati Jaka Someh, wajahnya tampak semakin pucat. Babah along berkata pada Jaka Someh,
“Gawat, gawat, loe orang sudah membunuh muridnya babah Liong hah! celaka, loe cepat-cepat pergi lah dari sini! loe mesti sembunyi dahulu! babah Liong dan muridnya yang lain pasti balas dendam, hah! Celaka, celaka, oe mesti bagaimana ini ?“
Jaka Someh kaget mendengar ucapan babah Liong. Dia menyesali insiden yang baru terjadi ini, tapi semuanya sudah terjadi. Dia merasa kasihan terhadap babah Liong dan warga-warga yang lain yang tampak ketakutan. Jaka Someh bertekad untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Dia tidak mau pergi dulu sebelum urusannya dengan geng naga hitam selesai. Namun karena desakan dari babah along yang menyuruhnya untuk segera meninggalkan tempat itu, Jaka Someh akhirnya bersedia untuk segera pulang ke kampungnya. Babah along meyakinkan Jaka Someh bahwa tidak akan terjadi apa-apa padanya,
“hayya loe orang jangan kawatirkan oe, hah! dia orang tidak mungkin mencelakakan oe, oe ini masih ada hubungan keluarga dengannya, yang perlu di kawatirkan adalah loe, dia orang adalah murid pendekar Tong yang terkenal sakti, Pendekar Tong sendiri adalah seorang pendekar yang hebat dan baik, namun sayang dia sudah meninggal, tapi muridnya ini, si Liong adalah orang jahat, di sini tidak ada yang berani sama itu orang, Jaka Someh, loe mesti pergi dari sini! biar loe selamat, hah!”.
Setelah yakin bahwa tidak akan terjadi suatu masalah terhadap babah along, akhirnya Jaka Someh memutuskan untuk pulang.
Jaka Someh naik ke gerobak sapinya, kemudian berpamitan dengan melambaikan tangan ke arah babah along. Jaka Someh segera menjalankan gerobaknya ke arah pulang ke kampungnya.
Jaka Someh mengambil rute jalan utama yang biasa di lewati orang-orang. Dia berjalan menyusuri jalan setapak menuju pantai selatan sukabumi. Hari masih siang ketika Jaka Someh mulai berangkat. Dia melajukan gerobaknya dengan santai tanpa tergesa-gesa, meskipun sudah tidak ada muatan lagi dalam gerobaknya.
Sementara Jaka Someh berjalan dengan santai, keadaan geng naga Hitam ternyata sedang ricuh. Mereka sibuk untuk membalas dendam kepada Jaka Someh.
Ada 5 murid utama babah Liong yang tersisa. Mereka semua adalah pendekar-pendekar tangguh. Mereka masih menunggu kedatangan babah Liong yang sekarang masih berlatih di dalam ruangan tertutup. Babah Liong belum tahu tentang kejadian yang menimpa anggota gengnya. Dia sedang asyik berlatih ilmu tenaga dalamnya. Babah Liong memang pendekar yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Selama karirnya sebagai pendekar belum pernah sekalipun dia mengalami kekalahan, kecuali oleh adik seperguruannya yang sekarang pergi entah kemana. Hampir semua musuhnya mati mengenaskan di tangannya. Babah Liong memang terkenal sebagai pendekar yang kejam dan bengis. Konon katanya dia mampu menghancurkan batu sebesar kerbau hanya dengan sekali pukul. Karena wataknya yang gampang marah, maka semua muridnya tidak ada yang berani mengganggu latihannya, mereka pun hanya menunggu. Ketika selesai dari latihan, babah Liong keluar dari ruangannya. Dia mendapati semua muridnya sedang menunggunya kecuali akuan yang tidak terlihat.
“Mana akuan, ?” kata babah Liong kepada murid-muridnya.
Murid yang paling tua yang bernama Feng Li menjawab,
“Anu guru, Akuan sudah meninggal “
Babah Liong terkejut mendengar jawaban feng Li,
“hah? mati bagaimana maksudnya, ?”
Feng li pun meneruskan jawabannya,
“Dia mati terbunuh, guru “
Babah Liong semakin terkejut, dengan nada menyentak dia bertanya lagi,
“Hah? siapa yang berani membunuh muridku ? Siapa yang berani membuat masalah dengan geng kita hah, ?”
Fengli dan ke empat murid lainnya diam sambil menundukan kepalanya. Babah Liong bertambah emosi sambil membentak murid-muridnya. Dia berkata lagi,
“Siapa? siapa yang berani membunuh anak buah ku hah, ? Ayo jawab pertanyaanku !”
Akhirnya murid babah Liong yang ke Lima yang bernama Memed menjawab,
“Dia bernama Jaka Someh guru, orang dari kampung Cikaret “
Babah Liong pun bertanya lebih lanjut tentang Jaka Someh kepada kelima muridnya, tentang bagaimana asal muasalnya akuan bisa terbunuh oleh Jaka Someh. Mereka pun menjelaskan sebatas apa yang mereka dengar dari orang-orang yang melihat pertarungan itu. Mereka mengakhiri ceritanya dengan mengatakan,
“Yang lebih tahu masalah ini sebenarnya adalah ocin, guru “
Babah Liong pun menyuruh agar mang Ocin segera di hadapkan kepadanya. Feng li segera menyuruh beberapa anak buahnya untuk mendatangkan mang Ocin. Mang Ocin pun masuk ke ruang pertemuan dengan badan yang gemetaran. Dia takut akan kemarahan babah Liong. Setelah berada di hadapan babah liong mang Ocin bertanya kepada babah Liong sambil bergetar.
”Anu Tuan besar, aadaaa aapaa? SA YAA di panggil Tuan ? “
Babah Liong berkata kepada mang Ocin,
“Ocin coba kamu ceritakan! bagaimana murid saya akuan bisa terbunuh, ? Ayo cepat! jangan bertele-tele! cepat kamu ceritakan!”
Mang ocin benar-benar ketakutan. Dia pun menceritakan kejadian tadi pagi mulai dari perselisihannya dengan Jaka Someh sampai kejadian terbunuhnya akuan di tangan Jaka Someh. Mendengar cerita dari mang ocin, babah along menjadi merah mukanya karena marah, babah Liong pun berteriak,
“Bangsat! berani sekali orang itu menghinaku, apakah dia sudah ingin mati dengan cara mengenaskan di tanganku ? Hah?”.
Babah Liong kemudian menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencari tahu keberadaannya Jaka Someh. Feng li pun mengatur beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Jaka Someh.
Setelah mendapatkan informasi tentang keberadaan Jaka Someh yang sekarang sedang bergerak menuju pantai selatan, mereka pun berencana untuk mencegat nya di sana. Babah along dan ke lima muridnya psegera berangkat ke pantai selatan dengan menggunakan kuda. Mereka menggunakan rute jalan yang lain, meskipun jalan tersebut agak sulit karena melewati celah bukit yang terjal namun jalan tersebut adalah rute terpendek dibandingkan dengan rute jalan yang di pakai oleh Jaka Someh.
Tanpa terasa Jaka Someh sudah berada di sekitar pantai selatan. Waktu itu sudah memasuki waktu ashar. Jaka Someh pun memutuskan untuk mengerjakan shalat dahulu. Dia menjama qosor shalat dhuhur dan Ashar.
Setelah mengerjakan shalat, Jaka Someh beristirahat sejenak untuk memberi makan pada sapinya. Kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Hanya butuh beberapa jam saja, dia pun sudah memasuki area pantai yang luas. Jaka Someh terkesima dengan pemandangan pantai yang megah, yang menggulungkan ombak-ombak dengan suara bergemuruh.
Jaka Someh masih terus berjalan dengan santai, tanpa menyadari kalau ada enam manusia yang berusaha mengejarnya dari arah belakang dengan menunggang kuda. Mereka berusaha melewati Jaka Someh dengan mengencangkan lari kuda. Setelah melewati nya, mereka langsung memberhentikan Jaka Someh.
Dengan melihat penampilan mereka yang sebagian berkulit putih dan bermata sipit, Jaka Someh langsung mengerti kalau mereka adalah temannya akuan. Jaka Someh pun turun dari gerobak sapi, sambil berkata,
“Maap tuan-tuan, ada apa gerangan mencegat saya di sini?”
Fengli yang pertama berkata kepada Jaka Someh, langsung menjawab pertanyaan Jaka Someh dengan pertanyaan juga,
“Apakah kamu Jaka Someh?orang yang membunuh saudara seperguruan saya ?”
Jaka Someh menjawab,
“Betul saya Jaka Someh, tapi mohon maap tentang peristiwa tersebut, saya benar-benar tidak sengaja telah membunuh saudara seperguruan Tuan, Saya menyesal telah terjadi kesalahpahaman antara saya dengan saudara Tuan “
Fengli dan ke empat murid babah Liong lainnya langsung turun dari kudanya kemudian melangkah maju ke depan. Memed dan fengli berteriak dengan membentak Jaka Someh,
“Bangsat kamu! jangan banyak ngomong! kamu harus bertanggung jawab “
Sedangkan ketiga murid lainnya yaitu chow li, wang li dan kwok wan hanya diam. Sebenarnya mereka bertiga adalah orang-orang yang baik. Mereka tidak setuju dengan sikap guru dan dua saudaranya yang lain, hanya saja mereka tidak kuasa untuk menentang mereka. Babah Liong masih tetap berada di atas kudanya sambil mengawasi ke lima muridnya. Tangannya sebenarnya sudah gatal ingin segera membunuh Jaka Someh, tapi dia masih bisa menahan diri untuk melihat pertarungan kelima muridnya melawan Jaka Someh.
Ke lima murid babah Liong pun mengepung Jaka Someh. Jaka Someh masih berusaha meminta maap kepada mereka dan memohon untuk tidak meneruskan pertarungan. Tapi mereka sepertinya sudah tidak mau mendengar permohonan maap Jaka Someh.
Fengli berada di depan Jaka Someh, memed dan Kopeng berada di kanan, sedangkan yang berada di kiri adalah wangli dan asim. Jaka Someh pun menyiapkan diri untuk menghadapi mereka. Jaka Someh tahu bahwa mereka bukan pendekar sembarangan. Makanya dia menambah kewaspadaan. Jaka Someh bertekad akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menghadapi lawan-lawannya ini.
Memed segera melompat kedepan untuk menyerang Jaka Someh dengan menggunakan jurus cakar naga. Menghadapi serangan Memed, Jaka Someh hanya mengelak sedikit dengan menggeserkan kaki kirinya ke arah kiri, sambil menepis serangan cakar naga memed dengan menggunakan pergelangan tangan kanannya,
“haiit! “ kata Jaka Someh.
Sambil menghindari serangan memed, Jaka Someh langsung melanjutkan serangan ke arah wangli dan asim dengan gerakan tinjunya. Wangli berhasil menghindari serangan Jaka Someh dengan melompat ke belakang, sedangkan asim berusaha menangkis pukulan Jaka Someh dengan tangan kanannya.
Praak, Asim merasa tangannya seperti terkena baja keras ketika tangannya berbenturan dengan Jaka Someh. Kaget dan Panik.
“Waaduuh sialan “ kata asim, dia pun mundur sambil menahan rasa sakit akibat benturan itu.
Kopeng yang tadinya hanya berdiri saja sekarang ikut menyerang Jaka Someh dengan menggunakan pukulan lurus ke arah muka Jaka Someh, Jaka Someh tidak menangkis pukulan tersebut, dia hanya egos, kemudian secara kilat sudah memegang pergelangan tangan lawannya. Jaka Someh langsung langsung menarik tangan Kopeng secepat kilat, diarahkan ke arah bagian bawah. Meskipun tarikan tersebut terlihat ringan tak bertenaga namun ternyata membuat Kopeng tersungkur ke arah depan bawah, wajah dan badannya langsung menubruk pasir pantai. Untunglah yang dia tubruk adalah pasir pantai yang halus, sehingga tidak terlalu membahayakan jiwa Kopeng.
Setelah itu, ke lima murid babah liong segera kembali bersiap untuk menyerang Jaka Someh. Sekarang mereka tidak lagi menganggap enteng Jaka Someh.
Giliran Kopeng yang sekarang memulai serangan, dia menyerang Jaka Someh dengan menggunakan pukulan lurus ke arah muka lagi, namun sebenarnya itu hanya pancingan saja,
“Rasakan ini ******** ! “ kata Kopeng kepada Jaka Someh.
Ketika Jaka Someh menghindar ke arah kanan sebagaimana yang di perkirakan, Kopeng segera melancarkan tendangan berputarnya dengan keras.
“Rasakan ini ********! mati kamu! “ kata kopeng.
Kalau bukan Jaka Someh, mungkin dia akan panik ketika mendapat serangan tak terduga yang cepat dan bertubi seperti itu, namun Jaka Someh tetap tenang. Dia hanya melangkahkan kakinya saja, menyerong sedikit ke arah kiri untuk menghindari tendangan Kopeng, kemudian menyelup ke bawah kaki Kopeng yang masih dalam posisi menendang.
Dengan gerakan kilat Jaka Someh sudah berada di belakang Kopeng. Tanpa membuang waktu dia langsung menendang tulang belakang Kopeng yang saat itu masih berdiri dengan satu kaki, karena kaki yang satunya masih dalam posisi melakukan tendangan. Fatal buat Kopeng, dia langsung tersungkur terkena tendangan Jaka Someh ke bagian tulang belakangnya. Kopeng merasakan rasa sakit yang luar biasa. Kopeng langsung terjatuh ke tanah. Beberapa syaraf di bokong belakangnya ternyata mengalami kerusakan. Kopeng sudah tidak mampu lagi untuk berdiri.
Melihat Kopeng sudah jatuh, wangli dan fendi pun menyerang Jaka Someh secara bersamaan. Sedangkan memed masih berdiri untuk mengawasi dan mengincar Jaka Someh. Dia menyiapkan sebilah belati dari balik bajunya, menunggu saat Jaka Someh menjadi lengah.
Wangli menyerang Jaka Someh dengan menggunakan sapuan bawah sedangkan fendi meloncat ke arah kepala Jaka Someh sambil menyabetkan pedang yang semenjak tadi disimpan di balik punggungnya. Mendapat serangan secara bersamaan dari arah bawah dan atas sekaligus, Jaka Someh justru melangkah kedepan sembari merendahkan badannya serendah mungkin.
Karena Jaka Someh merendah, tebasan pedang fendi menjadi gagal, sedangkan sapuan wangli menjadi tidak efektif karena Jaka Someh sudah berpindah posisi kaki. Tiba-tiba memed melemparkan pisaunya ke arah Jaka Someh yang baru berpindah posisi. Jaka Someh kaget bukan kepalang mendapat serangan pisau yang mendadak dari memed, Dengan reflek Jaka Someh mencabut goloknya yang masih terselip di pinggang sambil berusaha menghindari lemparan pisau tersebut. Namun terlambat buat Jaka Someh karena pisau tersebut. Jaka Someh tidak mampu menangkal pisau lawannya secara sempurna. Pisau tersebut masih sempat merobek kulit lengan Jaka Someh. Darah segera merembes keluar dari lengan bajunya.
Jaka Someh kembali menfokuskan dirinya, dengan mengatur nafasnya. Sekarang dia bersungguh untuk menghadapi ke empat lawannya yang masih berdiri. Jaka Someh kembali bersiap-siap, menunggu serangan dari lawannya. Ilmu silatnya memang bersifat reaktif.
Memed kecewa karena lemparan pisaunya ternyata gagal mengenai Jaka Someh secara sempurna,
“Ah sialan “ kata memed dalam hati.
Dia pun langsung melangkah dengan cepat ke arah Jaka Someh, untuk menyerang Jaka Someh dengan pedangnya. Dia menusukan pedang ke arah dada Jaka Someh, Jaka Someh tidak menangkis pedang tersebut melainkan hanya memindahkan posisi tubuhnya secara cepat ke sebelah kanan, sambil menyabetkan goloknya ke tangan memed yang masih menjulur memegang pedang. Karena gerakan Jaka Someh yang sangat cepat memed tidak mampu menghindarkan tangan kanannya dari sabetan golok lawannya. Dia pun langsung berteriak karena darah sudah tersembur dari tangannya,
__ADS_1
“Aaahh, aduuh sakit “ kata memed, tangan kanannya nyaris putus.
Namun Jaka Someh tidak berhenti hanya di tahap itu saja, dia segera menyabetkan goloknya ke leher memed. Teriakan memed pun berhenti, darah langsung keluar dari leher Memed. Memed tewas secara mengenaskan, menjadi korban keganasan golok Jaka Someh.
Asim yang melihat memed tewas secara tragis langsung menyerang Jaka Someh secara brutal. Jaka Someh hanya menghindarinya saja, bahkan goloknya pun sudah dia masukan kembali ke serangka yang ada di pinggang kirinya. Karena serangannya tidak ada yang berhasil mengenai Jaka Someh, Asim menjadi marah. Dia terus menyerang Jaka Someh dengan memukul sekencang-kencangnya ke arah muka Jaka Someh.
Karena serangan Asim sudah tidak terkontrol, Jaka Someh dengan mudah mematahkan serangan tersebut. Dia menangkap pergelangan tangan asim dan langsung mengarahkan kebawah namun kali ini Jaka Someh tidak membenturkannya ke arah bawah. Dia hanya menahannya, kemudian tangan kiri Jaka Someh mematahkan bagian pergelangan siku tangan kanan asim. Asim langsung berteriak dengan keras. Jaka Someh masih belum berhenti di situ, tangan kanan asim yang sudah patah masih di tariknya ke depan sehingga wajah asim menjadi condong. Begitu wajah lawannya menjadi condong, Jaka Someh langsung menendang muka Asim. Tendangannya tidak kencang, namun tetap membuat Asim menjadi tersungkur ke belakang, dan pingsan. Jurus silat yang dilancarkan Jaka Someh menjadi terlihat kejam dan keras.
Jaka Someh sendiri sebenarnya tidak tega untuk melukai lawan-lawannya, namun bagaimana pun juga dia harus segera menyelesaikan pertarungan tersebut secepat mungkin.
Melihat sudah tiga muridnya yang roboh, babah liong langsung melesat melompat dari atas kudanya, menyerang Jaka Someh dengan ganasnya. Jaka Someh berupaya menangkis serangan babah liong dengan tangannya. Kedua tangan mereka pun saling beradu.
Akibat benturan tersebut, Jaka Someh mundur beberapa langkah ke belakang, demikian juga dengan babah liong. Dia merasakan kesemutan di pergelangan tangan. Babah Liong juga ternyata merasakan hal yang sama.
Jaka Someh mengerti bahwa Babah Liong adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi. Murid-muridnya saja sudah sedemikian hebatnya, apalagi dengan gurunya. Jaka someh semakin berhati-hati menghadapi babah Liong.
Tidak lama kemudian mereka kembali melanjutkan pertarungan. Pertarungan maut di tepi pantai Selatan.
Berbagai jurus dan gerakan sudah mereka lancarkan.
Jurus-jurus Babah Liong terlihat sangar dan menakutkan. Gerakannya sangat cepat dan kompleks. Berbeda dengan Jaka Someh yang jurusnya relatif sederhana namun harmonis dan bertenaga.
Beberapa kali Jaka someh terkena pukulan dan tendangan Babah Liong. Sampai terjatuh ke tanah. Namun Jaka Someh segera bangkit kembali untuk melanjutkan pertarungan tersebut. Babah Liong merasa heran dengan kekuatan yang dimiliki oleh Jaka Someh, meskipun jurusnya terbilang sederhana namun ternyata sulit untuk merobohkan Jaka Someh. Nafasnya kini sudah ngos-ngosan, tenaganya juga sudah mulai terkuras habis, namun lawannya masih berdiri kokoh meskipun sudah berkali-kali terkena serangannya.
Pertarungan terus berlanjut, namun masih belum ada tanda-tanda siapa yang akan memenangkan pertarungan tersebut. Babah Liong sudah mulai bersiap kembali dengan memasang kuda-kudanya. Kedua tangannya dalam posisi menyilang di dada. Kemudian dengan kecepatan tinggi, dia melancarkan pukulan tangan kanannya ke arah ulu hati Jaka Someh. Sedangkan tangan kirinya di siapkan untuk mencakar punggung Jaka Someh. Jaka Someh dapat menghindari pukulan tangan kanan babah Liong dengan cara egos ke samping kirinya. Babah Liong yang sudah memperkirakan gerakan Jaka Someh langsung melancarkan serangan tangan kirinya yang sudah di isi dengan tenaga dalam untuk mencakar punggung Jaka Someh. Jaka Someh tidak menyangka terhadap serangan dari tangan kiri babah liong yang begitu cepat dan mengandung tenaga dalam yang tinggi. Namun dia sadar dengan bahaya maut dari pukulan tersebut, dia pun langsung menjatuhkan diri kedepan untuk melepaskan diri dari serangan ganas babah liong, kemudian berguling di tanah beberapa kali dan langsung bangun dengan posisi sudah memasang kuda-kuda rendah. Posisi tubuhnya sudah membalik menghadap ke arah Babah Liong. Babah Liong tertawa kepada Jaka Someh yang ternyata masih mampu menghindari jurus andalannya,
“Hahaha, bagus, bagus saya senang mendapatkan lawan tangguh seperti kamu, tak di sangka di atas langit masih ada langit, saya senang! sebagai pendekar, tak percuma kalau saya harus mati di tangan kamu, bukan mati sebagai seorang pesakitan, hehehe, anak muda kamu hebat! tapi kehebatan kamu masih terhalang oleh perasaan kamu yang masih selalu sungkan untuk membalas serangan secara sungguh--sungguh, kamu tidak boleh ragu ketika bertarung! buang segala perasaan kasihan! kamu harus keluarkan semua energi kamu! ayo lawan saya dengan seluruh kemampuan kamu! jangan sungkan, karena saya pun tidak akan sungkan untuk membunuhmu, hidup dan matilah sebagai pendekar! ”.
Jaka Someh melongo mendengar perkataan Babah Liong. Dia mencoba meresapi segala perkataan Babah Liong. Jaka Someh menyadari bahwa dirinya memang tidak suka melakukan konflik dengan orang lain. Dia akan memilih mengalah kepada orang lain. Rasa sungkannya tersebut seringkali berlebihan sehingga merugikan pada dirinya. Dia seringkali diremehkan dan dianggap sebagai orang yang lemah. Meskipun demikian Jaka Someh tidak pernah mempermasalahkan sikap orang lain yang meremehkannya, dia masih nyaman selama itu tidak membahayakan nyawanya. Jaka Someh berkata,
“Tuan, mohon hentikan pertarungan ini! Saya lebih baik mengaku kalah “
Babah Liong tertawa lagi mendengar ucapan Jaka Someh,
“hahaha, kamu tidak usah ragu! pendekar muda ayo kerahkan seluruh kemampuan kamu! saya senang apabila saya mati di tangan pendekar tangguh seperti kamu, saya tidak mau mati karena penyakit yang telah saya derita, tolong, jangan ragu untuk bertarung, saya bahagia jika bisa mati di dalam pertarungan, ingatlah pendekar muda kelemahan kamu sebenarnya ada pada sikap kamu yang selalu ragu! maka itu kamu jangan sungkan lagi, Rasa Sungkan kamu yang terlalu berlebihan itu adalah kelemahan, ingatlah dalam hal apapun kamu tidak boleh ragu untuk bertindak, Putuskan ‘iya’ atau ‘tidak’, hanya itu saja! jangan sampai keraguan menguasai jiwa kamu! ”.
Jaka Someh merasa heran dengan ucapan Babah Liong, demikian juga dengan murid-murid Babah Liong. Mereka tidak menyangka kalau Babah Liong yang terkenal sadis dan kejam ternyata masih bisa menghargai lawan tandingnya, bahkan mau memberikan nasehat kepada Jaka Someh.
Babah Liong merasa puas dapat berduel dengan Jaka Someh yang ternyata tidak gampang untuk di kalahkan, sudah lama dia tidak menghadapi lawan yang tangguh. Namun dia harus segera mengakhirinya, karena tenaganya pun sudah mulai terkuras habis. Babah liong mulai memasang kuda-kuda sejajar dengan tangan menghadap ke depan. Mata babah liong terpejam, dan mulai memusatkan tenaga dalamnya.
Jaka Someh tahu babah liong sedang mengerahkan tenaga dalamnya, dia pun segera menyiapkan diri untuk menghadapi serangan babah Liong. Jaka Someh memasang kuda-kuda rendahnya sambil mengatur pernafasannya, dia berkonsentrasi untuk menggunakan jurus ke tujuh yang telah di ajarkan haji Ibrahim. Jurus ke tujuh ini adalah jurus untuk mengumpulkan dan mengambil energy dari alam semesta untuk di simpan dalam tubuh.
Sambil menunggu serangan lawan, Jaka Someh tetap berkonsentrasi mengatur pernafasannya. Dia melupakan keadaan sekitarnya, karena fokus kepada jurus ketujuhnya. Tak lama kemudian babah Liong berteriak sambil mengerahkan tenaga dalamnya yang dahsyat menyerang Jaka Someh. Mendapat serangan babah Liong, Jaka Someh segera bereaksi dengan membendung serangan tersebuta dengan tangan kananya.
Prak, suara keras akibat benturan tangan keduanya terdengar begitu keras. Meskipun kelihatannya cuma dua pergelangan tangan yang saling beradu, namun sebenarnya mereka saling menyerang dengan menggunakan tenaga dalam yang hebat.
Jaka Someh mundur satu langkah, dan segera menguatkan pasangan kuda-kudanya. Dia mengatur kembali nafasnya yang terasa sesak. Babah Liong juga mundur satu langkah. Kemudian berhenti dalam keadaan masih berdiri tegak tanpa bergerak sedikitpun. Matanya masih memandang Jaka Someh sambil tersenyum, tiba-tiba keluar darah segar dari mulutnya. Seketika badannya menjadi kaku.
Wangli yang melihat gurunya tetap berdiri tegak namun tidak bergerak sedikitpun, menjadi kawatir. Dia pun mendekati dan menyentuh tubuh sang guru. Wangli terkejut karena tubuh gurunya terasa begitu dingin. Dengan sigap dia memeriksa nafas dan urat nadi gurunya. Wangli kemudian menangis karena sedih ,
“Guru telah meninggal, huhu huhh “.
Rupanya benturan kedua tenaga dalam tadi telah merusak organ dalam babah Liong. Tidak tahu apakah luka dalamnya disebabkan serangan tenaga dalam Jaka Someh ataukah karena penyakit yang di derita oleh bbah Liong. Wangli tahu bahwa gurunya memang sudah lama mengidap suatu penyakit yang telah menggerogoti raganya. Jaka Someh melihat wangli menangis, dia meminta maap kepada wangli atas musibah tersebut,
“saya meminta maap tuan, mestinya semua ini tidak perlu terjadi “
Wangli hanya terdiam, kemudian dia mengangkat jenazah gurunya dan diletakannya di atas kuda. Lalu bersiap untuk meninggalkan tempat itu yang diikuti oleh 3 murid lainnya yang masih hidup. Memed yang sudah tewas juga dinaikan ke atas kuda oleh wangli dan kawan-kawanya. Sebelum pergi dia berkata kepada Jaka someh,
“Atas nama Guru, Saya minta maaf kepada anda karena telah banyak membuat kesalahpahaman, sebenarnya saya sudah mencoba untuk mencegah kejadian ini, namun Tuhan berkehendak lain, mungkin ini jalan Tuhan untuk mewafatkan guru saya, sebagaimana yang beliau inginkan untuk mati dalam pertarungan “.
Wangli dan teman-temanya kemudian pergi meninggalkan Jaka Someh yang masih berdiri tegak.
Jaka someh mulai tersadar dengan keadaan sekitarnya. Suara ombak pantai selatan pun mulai terdengar bergemuruh kembali. Di lihatnya dari jarak yang agak jauh, beberapa warga berlarian ke arahnya. Mereka adalah beberapa pedagang yang juga sedang lewat di jalur itu. Mereka meninggalkan gerobaknya dan segera menemui Jaka Someh.
Ternyata mereka turut menyaksikan pertarungan antara Jaka Someh dengan Babah liong.
Mereka bersyukur karena Jaka Someh akhirnya dapat mengalahkan ketua geng naga hitam yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi para pedagang yang berada di wilayah pantai selatan.
Jaka Someh berbincang-bincang sebentar dengan rombongan para pedagang tersebut, kemudian kembali melanjutkan perjalanan pulangnya.
__ADS_1