Jaka Someh

Jaka Someh
Bab 38. Doa Orang Yang Teraniaya.


__ADS_3

Pada suatu hari,  Mak Ipah mengalami sakit yang sangat parah,  akibat musim paceklik yang melanda kampung Dadap Kulon. Tanaman banyak yang mati,  sungai dan mata air pun mengering,  hewan ternak juga banyak yang mati akibat kelaparan.


Pada waktu itu sebagian besar warga mengalami kekurangan makanan,  sehinga wabah kelaparan pun melanda warga kampung. Sugandi merasa sedih melihat nenek kesayangannya menderita sakit,  dia berkata pada neneknya,


"Ambu,  ambu sabar ya! gandi mau mencari obat untuk ambu "


Mak Ipah berkata dengan suara yang lemah lembut kepada Sugandi,


"Mau nyari obat kemana atuh ujang? Sudahlah jang,  tidak usah repot-repot nyari obat untuk ambu,  ambu mah nanti juga akan sembuh sendiri, yang penting kamu jangan sampai sakit,  bagaimana apakah kamu sudah makan ?"


Sugandi membalas ucapan mak Ipah dengan suara yang lembut,


"Gandi sudah makan ambu,  rencananya Gandi mau minta tolong ke abah Sarpin,  bapaknya kang madani,  Gandi dengar kalau dia adalah seorang tabib di kampung kita. Kebetulan gandi teh kenal dengan kang Madani. Siapa tahu bapaknya kang Madani mau menolong kita".


Mak Ipah tersenyum kepada cucu kesayangannya tersebut,


"Ya sudah kalau ujang memang kenal baik dengan keluarga abah Sarpin,  mudah2an saja dia bersedia untukmengobati ambu,  tapi ambu mah tidak terlalu berharap banyak, ".


Sugandi berkata lagi kepada mak ipah,


"Kalau begitu,  gandi pamit dulu ya ambu?  nanti gandi mampir dulu ke warung emak. Gandi mau minta tolong ke emak supaya bersedia menjaga ambu di saat Gandi pergi".


Mak Ipah terlihat agak keberatan dengan niat sugandi untuk menemui ibunya. Mak Ipah khawatir kalau Sugandi akan diperlakukan kasar oleh ibunya,  dia pun berkata kepada Sugandi,


"Tidak usah mampir ke warung emakmu  ujang! Biar ambu sendiri saja di sini,  kamu tidak usah ganggu emakmu "


Meskipun sudah dilarang oleh neneknya,  namun Sugandi tetap bersikeras untuk minta bantuan kepada ibunya tersebut,


"Tidak apa-apa Ambu,  Sugandi coba ngomong dulu ke emak,  siapa tahu dia mau bantu menjaga ambu?  kalau memang emak tidak mau,  Sugandi juga tidak akan memaksa."


Mak Ipah yang mendengar ucapan Sugandi seperti itu,  akhirnya cuma pasrah saja. Dia tahu kalau nyi surti memiliki sifat yang egois,  tidak peduli pada anak dan emaknya sendiri,  yang dia pedulikan hanya kesenangan untuk dirinya sendiri.


Mak Ipah pun berkata pasrah kepada Sugandi,


"Ya sudah atuh jang,  terserah kamu saja! tapi jangan paksa emakmu ya jang! "


Sugandi tersenyum kepada mak Ipah,  kemudian dia pergi ke warung ibunya.


Warung Nyi Surti hanya berada 5 meteran saja dari rumah mak Ipah. Sugandi heran ketika sampai di sana,  ternyata warung tersebut dalam keadaan tertutup.


Karena warungnya dalam kondisi tertutup,  Sugandi pun langsung menuju pintu belakang warung,  tanpa pikir panjang dia langsung membuka pintu warung tersebut yang ternyata tidak dalam keadaan terkunci.


Begitu terkejutnya Sugandi ketika dia membuka pintu warung nya,  dilihatnya Nyi Surti sedang berbuat mesum dengan seorang pemuda kampung,  yang bernama Suraji. Suraji adalah anak seorang juragan di kampung Dadap Kulon.

__ADS_1


Karena merasa kaget,   tiba-tiba ada orang yang memergokinya sedang berbuat mesum,  Nyi Surti langsung menarik pakaiannya yang berada di lantai. Namun setelah dia tahu bahwa yang masuk tersebut adalah Sugandi,  Nyi Surti pun langsung naik pitam. Dia langsung membentak Sugandi yang masih berdiri dalam keaadaan melongo.


"Dasar anak kurang ajar!  tidak punya sopan santun kamu teh,  masuk tanpa mengetuk pintu dahulu, Sugandi, !!! Ayo keluar, !"


Sugandi panik,  dia merasa sedih dan kecewa dengan kelakuan ibunya tersebut,  dia pun keluar. Dia takut dengan kemarahan ibunya. Suraji yang sudah mulai sadar bahwa yang memergokinya cuma Sugandi,  langsung mengambil celananya yang tercecer di lantai. Setelah memakai celana pangsinya,  Suraji berteriak keras kepada Sugandi,


"Hey bocah kamu mau kemana? Kamu kesini dulu!  jangan asal selonong saja kamu,  kemari kamu!!!"


Sugandi yang di bentak oleh Suraji pun kembali berbalik. Dia meminta maaf kepada Suraji dan Nyi Surti,


"Maaf kang,  saya tidak tahu kalau ada akang di sini, "


Suraji bukannya mereda dari kemarahannya,  justru bertambah emosi setelah tahu Sugandi menjadi melemah kepadanya. Tanpa rasa iba dia langsung memukul wajah Sugandi.


Spontan saja Sugandi berteriak kesakitan sambilmenangis dan  terus meminta maaf,


"Aduuh !!! Maaf kang, saya minta maaf ampun emak, gandi minta maaf"


Nyi Surti yang merasa telah terganggu oleh kehadiran anaknya,  langsung meludahi muka Sugandi.


Sugandi sedih mendapat perlakuan kasar dari ibunya. Melihat Nyi Surti juga berlaku kasar terhadap Sugandi,  Suraji semakin semangat untuk memukuli Sugandi. Dia telah tersulut emosi kepada Sugandi. Suraji memukuli Sugandi secara bertubi-tubi.


Sugandi pun tersungkur,  dia terjatuh ke tanah,  sambil menangis dan berteriak minta ampun. Namun mereka tidak mempedulikannya. Sugandi menangis,  sedih dan kecewa dengan sikap ibunya yang tidak peduli kepadanya.


Melihat Sugandi menangis dan merasakan kesakitan,  nyi Surti bukannya iba,  justru semakin bertambah marah dan terus menghardik anaknya tersebut.


Sugandi sudah tidak kuasa lagi menahan kesedihan dan kemarahan dalam dirinya,  dia pun mencoba untuk melawan balik Suraji. Namun karena Sugandi masih remaja bau kencur,  dia pun akhirnya menjadi bulan-bulanan Suraji.


Keributan itu pun terdengar oleh Mak Ipah yang sedang terbaring sakit. Mak Ipah berusaha keluar dari kamarnya dan mendapati Sugandi sedang dipukuli oleh Suraji. Dilihatnya,  Nyi Surti sedang berdiri sambil tersenyum melihat kejadian tersebut,  pakaiannya jugamasih morat-marit setengah telanjang. Mak Ipah langsung menghalangi Suraji dengan badannya yang sudah renta,  sambil mencoba membangunkan Sugandi yang telah roboh,


"Hey hentikan! Kamu menjauh dari cucuku!  awas kamu, jangan ganggu cucuku! ayo gandi bangun! cepat pergi dari sini! ".


Karena merasa di halangi,  Suraji pun marah kepada Mak Ipah,  dan langsung mendorong mak Ipah hingga jatuh tersungkur,


"******* kamu tua bangka! ini rasakan ! biar sekalian ****** kamu"


Karena di dorong dengan keras oleh Suraji,  mak Ipah pun langsung tersungkur dengan kerasnya,  kepalanya membentur sebuah batang pohon yang berada tak jauh dari warung Nyi Surti. Mak Ipah seketika itu juga langsung meninggal dengan kepala berlumuran darah. Suraji bukannya menyesali perbuatannya yang telah membunuh Mak Ipah,  justru malah tertawa,  dia puas karena telah melampiaskan amarahnya,


" Hahaha, ****** kamu tua renta !"


Sugandi yang melihat neneknya jatuh terkapar setelah di dorong oleh Suraji,  langsung bangkit dan mendekati mak Ipah. Dia pun memeluk mak Ipah dan memegang kepala neneknya yang berlumuran darah. Sugandi menangis karena panikmelihat kondisi neneknya,


"Ambu, ambu bangun ! ambu, ayo bangun ambu !"

__ADS_1


Karena mak Ipah tidak meresponnya,  Sugandi pun mengguncang-guncang tubuh mak Ipah,


"ambu bangun, bangun! jangan tinggalkan gandi sendirian di sini, bangun atuh ambu! "


Meskipun sudah di guncangkan sedemikian rupa,  mak Ipah tetap saja tak bisa menjawab sambatan Sugandi.


Setelah Sugandi menyadari bahwa neneknya memang sudah meninggal secara tragis karena di aniaya oleh Suraji yang menjadi kekasih ibunya,  Sugandi pun berbalik ke arah Suraji. Dia marah bukan kepalang. Matanya memerah,  badannya juga bergetar. Sugandi pun langsung menyeruduk Suraji hingga tersungkur,  kemudian langsung memukuli wajah,  kepala dan menginjak perut Suraji secara serampangan,


"******* kamu Suraji! rasakan pembalasanku ini! "


Sugandi benar-benar telah menjadi kalap. Sekarang Suraji-lah yang telah menjadi bulan-bulanan kemarahan Sugandi. Meskipun dia berusaha melawan Sugandi,  dan mencoba membalas memukul Sugandi,  namun Sugandi sudah tidak mempedulikan dirinya. Sugandi terus memukuli Suraji dengan ganasnya.


Pemuda naas itu pun akhirnya mati secara mengenaskan. Melihat kejadian itu,  nyi Surti merasa ketakutan,  dia khawatir akan di aniaya oleh anaknya yang sedang kesetanan. Setelah puas membunuh Suraji,  Sugandi berbalik arah dan berdiri menghadap ibunya dengan sorot mata yang penuh kebencian dan kemarahan,


"Mak,  emak teh benar-benar egois,  bahkan emak tidak peduli terhadap orang tua emak sendiri,  orang yang telah melairkan dan merawat emak,  Gandi tidak peduli emak benci pada Gandi,  tapi emak telah membunuh orang tua emak sendiri,  lebih baik emak pun menyusul mereka ke alam baka ".


Nyi Surti yang melihat kemarahan anaknya,  hatinya menjadi takut. Dia kemudian berteriak minta tolong,


"Tolong! Tolong! Sugandi kesurupan, tolong tolong !"


Tidak lama kemudian para warga pun berdatangan. Mereka mendapati Suraji dan Mak Ipah sudah tergolek dalam keadaan tidak bernyawa. Mereka juga menyaksikan Sugandi sedang mencekik leher Nyi Surti.


Para warga yang telah salah paham terhadap Sugandi,  langsung berusaha mengamankan Sugandi. Mereka mengepung Sugandi,  kemudian beramai-ramai memukuli Sugandi dengan berbagai peralatan seperti kayu dan batu.


Sugandi mencoba melawan para warga yang hendak melumpuhkannya,  namun karena jumlah mereka yang demikian banyak,  akhirnya dia berhasil di lumpuhkan warga.


Sugandi tersungkur setelah terkena pukulan kayu oleh salah satu warga yang memukulnya dari arah belakang kepala. Setelah tersungkur ke tanah,  Sugandi di tangkap,  kemudian di tali dan di pasung di sebuah tiang kayu yang berada di tengah perkampungan.


Banyak warga yang menontonnya,  bahkan banyak dari mereka yang meludahi dan melemparinya dengan batu. Sugandi merasa begitu sedih dan jsangat marah. Dia sedih dengan nasib diri dan neneknya yang telah meninggal secara tragis,  dia sangat marah dengan sikap ibu dan para warga yang telah membencinya.


Meskipun tubuhnya lunglai,  namun hatinya telah dipenuhi oleh perasaan amarah dan dendam kesumat.


Dia mengeluh dalam hatinya,  mengapa hidup ini tidak begitu adil kepadanya,  apa kesalahannya sehingga dia harus menderita,  diperlakuan kasar dan dicampakan oleh ibu dan para warga kampung lainnya yang selalu membencinya.


Keadaan Sugandi sungguh mengenaskan,  kesedihannya sudah habis,  berganti dengan perasaan dendam membara dalam jiwanya. Namun dia tak berdaya untuk membalas perlakuan kasar para warga.


Sugandi akhirnya merasa pasrah kalau hidupnya akan segera berakhir. Dalam kepasrahannya tersebut,  tiba-tiba dia menjadi sadar betapa besarnya nikmat kehidupan itu. Dalam hatinya mulai terbersit keinginan untuk tetap hidup,  bahkan dia ingin hidup sebagai seorang yang kuat dan berkuasa,  agar dia tidak diremehkan dan dianiaya lagi.


Kemudian dia pun memanjatkan DOA.


"Ya Tuhan!  kalau Engkau memang ada?  tolonglah saya,  tolong jangan matikan saya dahulu!  saya ingin hidup lebih lama lagi, saya ingin menjadi orang yang kuat dan berkuasa,  agar saya tidak di hina dan diremehkan lagi oleh manusia. Mereka telah menganiaya saya,  Saya yakin Engkau Adalah Maha Adil, tolonglah Hamba yang teraniaya ini!  Wahai Tuhanku, Saya ingin membalaskan rasa sakit hati saya ini,  kepada mereka yang telah menyakiti diri Saya dan nenek Saya".


Setelah itu dia pun kembali memejamkan mata,  berharap agar bisa tertidur dan melupakan segala penderitaan hidupnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2