
Tanpa terasa Jaka Someh telah berjalan selama lebih dua jam, sampai akhirnya tiba di pintu gerbang perguruan Maung Karuhun. Mendadak ada perasaan ragu untuk meneruskan langkahnya untuk masuk ke perguruan itu. Dia hanya berdiri di bawah sebuah pohon rindang yang berada tidak jauh dari pintu gerbang. Jaka someh memandang keadaan disekitarnya. Ada banyak murid Maung Karuhun yang sedang berlatih. Jumlah mereka cukup banyak, kurang lebih ada sekitar 40 orang-an. Mereka berlatih secara berkelompok, ada 7 sampai 8 orang per kelompoknya.
Ketika Jaka Someh sedang asyik mengamati mereka, tiba-tiba ada empat murid Maung Karuhun yang menghampiri Jaka someh. Mereka melihat Jaka Someh sedang berdiri di bawah pohon dengan tingkah yang terkesan mencurigakan. Salah satu dari mereka berteriak kepada Jaka someh,
” Hey, kamu sedang apa di sana ?”
Jaka Someh terperanjat mendengar ada yang berteriak kepadanya, dia menengok ke arah suara yang menghardiknya. Belum sempat Jaka someh berkata apa-apa, mereka langsung mendahuluinya dengan berkata kasar,
” Kurang ajar, kamu pasti anak buah Ki Jabrik! yang sedang memata-matai latihan kami, iya khan?”
Jaka Someh kaget kalau dirinya di tuduh sebagai mata-mata oleh murid Maung Karuhun, beberapa saat dia hanya terdiam. Setelah kondisinya mulai stabil, Jaka Someh berusaha menjawab pertanyaan mereka, meskipun dengan suara terbata-bata,
”Oh bukan kang, sa saya, saya bukan mata-mata, saya datang kemari justru karena ingin menjadi murid di perguruan ini”.
Salah satu dari murid yang tadi menghardik Jaka Someh berkata dengan keras
“Bohong kamu, Ayo ngaku saja, kamu mata-mata kan? Kamu anak buah Ki Jabrik kan?”
Belum sempat Jaka Someh menjawab, tiba-tiba salah satu dari mereka langsung memukulnya
“ah, sudah lah teman-teman, mana ada mata-mata musuh mau ngaku, kita hajar saja lah dia “
Mereka pun langsung mengepung Jaka someh. Mendengar ada suara keributan, murid-murid yang lain yang sedang berlatih pun ikut berdatangan ke tempat itu, tanpa banyak bertanya mereka juga langsung ikut mengepung Jaka Someh.
Jaka Someh menjadi panik, dia tidak menyangka kalau Akan mengalami kejadian seperti itu. Beberapa dari mereka ada yang langsung memukul dan menendang Jaka Someh. Jaka Someh dengan terpaksa melakukan perlawanan sebisa mungkin untuk membela dirinya. Beberapa pukulan dan tendangan telah mengenai dirinya. Karena kewalahan di keroyok banyak orang, Jaka Someh berusaha untuk lari. Namun mereka segera menghadangnya kembali dan langsung menangkapnya.
Tiba-tiba saja sebuah pukulan telah mengenai wajahnya. Jaka Someh kaget dan merasakan wajahnya terasa sakit. Belum sempat dia membalas, sebuah tendangan keras dari arah belakang tiba-tiba telah mengenai punggungnya. Jaka Someh pun terjerambab ke depan, jatuh ke tanah. Untunglah pada saat itu ada Ki Jaya kusuma yang berteriak pada murid-muridnya,
“Heeyy, hey hentikan, ada APA ini, ?”
__ADS_1
Murid-murid perguruan Maung Karuhun langsung berhenti, mereka tidak ada yang berani menentang Ki Jaya Kusuma. Ki Jaya Kusuma berkata kepada Jaka Someh,
“Kamu siapa, dan ada maksud apa kamu datang ke sini?”
Jaka Someh menjawab dengan lemah,
“Saya Jaka Someh Aki, saya datang ke sini karena ingin belajar silat di perguruan ini, Saya ingin menjadi murid Aki”
Jaka Someh menceritakan perihal dirinya kepada Ki Jaya Kusuma.
Sambil mengamati keadaan Jaka Someh yang tampak lusuh, Ki Jaya kusuma mendengarkan keterangan Jaka Someh dengan seksama. Setelah yakin kalau Jaka Someh bukan musuh yang sedang memata-matai, dia berkata kepada Jaka Someh,
” Saya minta maaf atas perlakuan murid-murid saya. Ujang datang di saat yang tidak tepat, situasi di sini sekarang memang sedang tidak kondusif. Saya mendapat informasi bahwa Gerombolan Ki Jabrik akan menyerang padepokan ini. Mungkin murid-murid saya mengira kamu adalah salah satu anak buah Ki Jabrik yang sedang menyamar untuk memata-matai kami “
Mendengar keterangan dari Ki Jaya Kusuma, Jaka Someh mengangguk-anggukan kepalanya. Dia pun bertanya kepada Ki Jaya Kusuma,
“Maaf Aki, Ki Jabrik teh memang siapa? Sampai-sampai Aki sendiri terlihat khawatir kepadanya “
“Saya juga tidak tahu, siapa sebenarnya Ki Jabrik? tapi baru-baru ini dunia persilatan di wilayah pasundan telah di buat gempar oleh sepak terjang Ki Jabrik. Banyak perguruan silat telah di hancurkan oleh Ki Jabrik dan gerombolannya. Bahkan para tokoh persilatan yang terkenal hebat pun banyak yang telah dikalahkan olehnya. Akibat ulah mereka, banyak masyarakat yang menjadi korban. Penduduk banyak yang mati secara sia-sia. Harta benda di rampas, para wanita diperkosa dan di culik untuk dijadikan budak pemuas nafsu. Oh ya tadi kamu bilang mau belajar silat di perguruan ini ?”
Jaka someh langsung mengiyakaan pertanyaan Ki Jaya Kusuma, dengan semangat dia langsung menjawab,
”Iya, iya betul Aki, maksud kedatangan saya kemari teh sebenarnya memang untuk berguru di perguruan ini “
Ki Jaya Kusuma memandangi Jaka someh, dia merasa bingung harus menjawab APA. Di saat genting seperti ini rasanya tidak mungkin dia menerima murid baru. Dia tidak tega kalau Jaka someh justru nanti akan menjadi korban keganasan musuh. Walau bagaimanapun dia merasa harus bertanggung jawab kepada keselamatan murid-muridnya. Ada perasaan tidak enak kalau harus menolak Jaka Someh secara langsung. Dia tidak ingin melukai perasaan Jaka Someh. Ki Jaya Kusuma memikirkan cara, bagaimana cara menolak Jaka Someh secara halus, tanpa membuat Jaka Someh tersakiti. Ki Jaya Kusuma berkata kepada Jaka Someh,
“Sebenarnya saat ini Saya sedang tidak menerima murid baru lagi tapi, Begini saja jang, kamu akan saya terima jadi murid tapi ada syaratnya yaitu kamu harus menyediakan mahar berupa 1 ekor kambing berwarna hitam, yang benar-benar hitam tidak kecampuran warna apapun, bagaimana apakah kamu sanggup?”
Jaka Someh kaget mendengar persyaratan dari Ki Jaya Kusuma. Rasanya tidak mungkin kalau ada kambing yang warnanya seratus persen hitam. Kalau pun ada mungkin langka sekali. Jaka someh menghela nafasnya, lalu dia berkata kepada Ki Jaya Kusuma.
__ADS_1
” Saya minta maap Aki, saya tidak tahu, kalau ada syarat seperti itu, sekarang saya belum punya kambing seperti yang Aki minta, kebetulan saat ini saya juga tidak punya uang sedikitpun untuk membeli kambing yang aki minta ”
Kijaya Kusuma tersenyum kepada Jaka Someh, kemudian berkata,
”Kalau begitu kamu pulang dulu ke rumahmu untuk menyiapkan persyaratan yang saya minta! kalau sudah ada, silahkan kamu datang lagi kemari, Bagaimana apakah kamu bersedia ?”
Mendengar perkataan dari Ki Jaya kusuma, Jaka Someh merasa sedih, dia berpikir bagaimana dia bisa mendapatkan satu ekor kambing. Warnanya pun harus hitam lagi. Ingin rasanya Jaka Someh menangis.
Jaka Someh tidak memiliki uang, hartanya pun hanya berupa beberapa helai pakaian yang nampak sudah tidak layak. Dia merasa perjalanannya untuk mencari sosok seorang guru pun menjadi sia-sia.
Setelah terdiam beberapa saat, Jaka Someh menjawab pertanyaan Ki Jaya Kusuma,
“Baik aki, saya akan coba memenuhi persyaratan yang aki minta, sekarang saya mohon pamit dahulu ”
Ki Jaya Kusuma tersenyum kepada Jaka Someh, dalam hati dia berkata,
“Saya minta maaf Jang, kalau kamu merasa kecewa. Saya lakukan ini adalah untuk kebaikan kamu sendiri. Mudah-mudahan suatu saat nanti kamu bisa memakluminya”.
Setelah berpamitan kepada Ki jaya kusuma, Jaka Someh pergi dengan langkah gontai tak bersemangat, meninggalkan perguruan Maung Karuhun.
Jaka someh berjalan gontai sambil merenungi nasibnya, tidak diterima menjadi murid Kijaya Kusuma bahkan nyaris dikeroyok oleh murid-murid yang lain. Dia tidak sadar bahwa Ki jaya Kusuma menolaknya karena tidak ingin Jaka Someh celaka.
Saat itu memang Perguruan Maung karuhun sedang terancam oleh musuh yang kuat lagi kejam. Dia tidak ingin ada korban jiwa terutama dari murid-muridnya sendiri.
Ki Jaya Kusuma meskipun terlihat sangar namun sebenarnya hatinya penuh dengan kelembutan. Dia adalah seseorang yang mudah berempati, makanya dia menolak Jaka someh karena tidak mau melibatkannya dalam masalah yang belum jelas.
Jaka Someh terus berjalan. Dia berusaha untuk tetap tegar. Tidak mau dirinya menjadi lemah hanya gara-gara keinginannya tidak tercapai saat itu. Dia berusaha menerima semua musibah yang dialaminya tersebut dengan hati yang lapang. Tidak ingin cengeng dan cepat berputus asa. Jaka Someh bergumam sendirian
“Sabar, sabar Someh, lebih baik kamu berbaik sangka saja, mungkin Allah punya kehendak lain, yang lebih baik daripada yang kamu rencanakan ini, semuanya milik Allah, terserah Allah untuk menetapkan hasilnya, yang penting sudah berusaha semampu kamu, lebih baik beristirja saja, Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, mudah-mudahan saya di beri kesabaran dan bisa Ridho atas semua musibah ini”.
__ADS_1
Setelah menasehati dirinya sendiri untuk sabar dan tawakal, Jaka Someh kembali berjalan ke arah tujuan pulang menuju gubuknya.