Jaka Someh

Jaka Someh
Bab 4. Menyambung Silaturahim.


__ADS_3

Perguruan maung Karuhun adalah perguruan silat yang sangat terkenal di wilayah Kampung Cikaret. Bahkan terkenal sampai ke kampung-kampung lainnya. Banyak para pemuda,  baik yang berasal dari kampung Cikaret maupun dari kampung lainnya berguru di perguruan tersebut. Namun karena Jaka Someh memang seorang yang kuper,  tidak mengetahui tentang Perguruan tersebut.


Mang engkos kemudian bercerita kepada Jaka someh perihal Ki Jaya Kusuma yang memiliki perawakan tinggi besar dan memiliki ilmu tenaga dalam yang sangat luar biasa. Konon katanya dia memiliki Jari-jari yang sangat kuat,  hasil dari latihan khusus jurus cakar harimau yang terkenal ganas. Sorot matanya juga sangat tajam seperti sorot mata harimau yang sedang marah. Membuat orang lain menjadi segan untuk berurusan dengannya. Mendengar penjelasan Mang Engkos,  Jaka Someh menjadi semakin mantap untuk berguru kepada Ki Jaya Kusuma. Keesokan harinya,  Jaka Someh bersiap untuk berangkat menuju perguruan Maung Karuhun. Tekadnya sudah demikian kuat untuk belajar silat kepada Ki Jaya Kusuma Dia ingin menjadi seorang pendekar hebat yang di takuti oleh musuh-musuhnya. Jaka Someh membayangkan kalau nanti,  saat dia sudah menjadi pendekar hebat,  dia akan membalas dendam kepada Ki Marta dan kawan-kawannya.


Meskipun perguruan Maung Karuhun masih terbilang satu kampung dengan gubuk Jaka Someh,  namun perjalanan untuk mencapai perguruan tersebut memakan waktu setengah harian.


Karena tidak memiliki uang sepeserpun,  Jaka someh menyiapkan bekal sendiri.  Yaitu berupa nasi timbel,  nasi yang di bungkus dengan daun pisang,  di tambah dengan lauk pauk seadanya,  berupa pepes peda dan sambal bawang. Bekal makanan dan sepasang pakaian yang bersih sudah dia simpan dalam sarung bututnya. Setelah siap,  Jaka someh pun segera meninggalkan gubuk sederhana miliknya.


Satu jam lebih,  Jaka Someh berjalan. Dia telah melewati area pesawahan dan hutan kayu yang sudah nampak mengering. Dia berjalan di sebuah jalan setapak,  di atas bukit yang di apit oleh dua buah jurang kecil. Meskipun jalanannya tampak sepi,  tapi dia begitu menikmati perjalanannya tersebut. Pemandangan yang hijau dan indah sangat memanjakan matanya.


Tak terasa sudah empat jam dia berjalan,  Jaka Someh pun mulai memasuki lahan perkebunan


kopi dan cengkeh milik warga.  Setelah itu,  dia mulai memasuki pemukiman warga.


Di sana banyak sekali rumah rumah panggung milik warga. Rumah-rumah yang berdindingkan bilik bambu. Terlihat ada beberapa warga yang sedang menjemur gabah padi yang baru saja di panen. Mereka menjemur di atas bahan yang berupa anyaman tikar dari daun kelapa.


Beberapa orang,  sedang duduk santai di dalam rumahnya,  sambil di temani kopi dan camilan goreng pisang ataupun rengginang. Beberapa anak terlihat bermain bersama teman-temannya. Mereka sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri,  tidak peduli dengan Jaka Someh yang sedang berjalan santai ke arah barat kampung mereka.


Namun tanpa Jaka Someh sadari ada sepasang mata yang dari tadi mengawasi gerak-geriknya. Usianya yang sudah paruh baya membuatnya menjadi agak sedikit pelupa,  namun matanya merasa tidak asing dengan paras dan cara jalan Jaka Someh,  hal itu mengingatkannya pada salah satu sahabat karib ketika masih muda. Dia adalah Pak


Rohadi,  jaro di kampung itu. Jaro adalah gelar untuk sebutan kepala kampung. Mengalahkan rasa penasaran,  akhirnya ia memanggil Jaka Someh,  yang baru saja melewati bale-bale depan rumahnya.


“Jang  !”


Panggil pak Rohadi,  suaranya sudah sedikit berat karena sudah termakan usia. Dengan cepat kepala jaka someh menoleh kearah sumber suara.


“Bapak memanggil saya?”


Tanya jaka someh dengan sopan.


“Iya,  sini dulu!”


Tangan pak rohadi memberikan isyarat agar jaka someh menghampirinya. Dengan perasaan ragu Jaka Someh menghampiri orang yang memanggilnya.


“Kamu tinggal di lereng Halimun bukan?”Tanya pak Rohadi


“Iya pak,  kok bapak tahu?”jawab Jaka Someh.


Ada perasaan heran juga dalam hatinya,  kok bisa orang ini tau asal tempat tinggalnya.


“Kamu anak almarhum Sabarudin bukan?”


Medengar pertanyaan seperti itu Jaka Someh menjadi tambah heran,  matanya melirik Pak Rohadi dengan sedikit memincing. Ditelisiknya pak Rohadi dari atas sampai bawah.


“Bapak kenal dengan bapak saya?”

__ADS_1


Jaka someh balik bertanya kepada pak Rohadi. Tapi bukannya menjawab,  Pak Rohadi malah merangkul tubuh kekar jaka someh.


“Beneran kamu anak sabarudin?”


Suara Pak Rohadi agak sedikit serak,  ada sedikit rasa haru dalam dadanya bisa bertemu dengan anak sahabat dekatnya.


“Saya Pak Rohadi,  sahabat bapakmu dari kecil,  dulu kami sama-sama belajar ilmu agama di pesantren Kiai Hasan di Sukabumi,  ayo mampir dahulu kesini,  Masuk ke rumah saya!”


Jaka Someh tersenyum kepada bapak tadi,  lalu dia pun masuk ke pekarangan rumah pak Rohadi. Samar-samar Jaka Someh mulai ingat,  dulu ayahnya pernah mengajaknya berkunjung ke rumah ini. Dia pun sudah mulai ingat dengan pak Rohadi,  sahabat karib ayahnya. Jaka Someh tersenyum pada pak Rohadi,  lalu mengucapkan Salam,


” Assalamu alaikum pak Rohadi,  bagaimana kabar bapak?”


Pak Rohadi menjawab,


”Wa alaikum salam,  alhamdulillah baik,  ayo naik,   mari masuk ke dalam !”


Jaka Someh menaiki tangga pendek yang berada di bawah pintu rumah panggung milik pak Rohadi. Dia di sambut ramah oleh pak Rohadi,


“Bagaimana kabarmu jang Someh? Sudah lama bapak tidak melihat kamu,  dulu kamu masih kecil sewaktu di ajak ayahmu main ke rumah bapak,  wajah kamu mirip dengan almarhum Sabarudin, makanya dari tadi,  bapak tilik-tilik koq rasanya seperti kenal, eh ternyata Someh anaknya Sabarudin,  kebetulan pisan atuh jang  “


Kata pak Rohadi sambil bediri di atas tangga rumahnya.


Setelah dipersilahkan masuk,  Jaka Someh pun masuk ke dalam rumah pak Rohadi.


Rumahnya cukup luas,  namun hanya terdiri dari 3 ruangan saja,  yaitu satu ruang tengah dan dua kamar tidur. Di ruang tengah itu Jaka Someh duduk di atas tembikar yang telah di gelar di atas lantai yang berupa bale-bale bambu. Pak Rohadi kemudian menyibukan diri dengan memberi suguhan kopi panas dan kue keripik yang terbuat dari singkong. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar,  mereka kemudian mengobrol cukup lama tentang kehidupan Jaka Someh sepeninggal ayah dan ibunya. Jaka Someh sendiri jadi lupa dengan tujuan awal perjalanannya untuk berguru ke Kijaya Kusuma. Dia baru ingat hal tersebut,  setelah tiba-tiba pak Rohadi menanyakan tentang tujuan perjalanannya,


Mendengar pertanyaan itu,  Jaka Someh pun menceritakan niatnya yang ingin berguru ke Ki Jaya kusuma. Dia juga menceritakan tentang kejadian penganiayaan yang dialaminya oleh Ki Marta dan kawan-kawannya. Pak Rohadi hanya terdiam tanpa ada komentar sedikitpun ketika mendengar cerita Jaka Someh. Setelah menghela nafas,  Pak Rohadi akhirnya berucap pada Jaka Someh,


“Jang Someh,  Bapak ikut prihatin  dengan musibah yang telah menimpa ujang dan keluarga, Tapi ujang sabar ya!   jangan sampai ujang  punya niat untuk membalas dendam kepada Ki


Marta dan kawan-kawannya,  Lebih baik bersabar! biarlah Allah saja yang membalas perbuatan mereka, Allah itu Maha Adil,  semua kejadian pasti ada hikmahnya,  kita saja yang seringkali tidak memahaminya,  Insya Allah saya yakin Bapak ujang teh mati sahid,  mati dalam keadaan khusnul khotimah,  karena matinya dalam keadaan membela kebenaran  ”.


Jaka Someh hanya bisa terdiam mendengarkan nasehat dari Pak Rohadi. Tidak mengamini juga tidak menolaknya. Pak Rohadi kemudian melanjutkan ucapannya,


”Bapak tidak melarang kamu untuk belajar silat, apalagi kepada Ki Jaya Kusuma,  Bapak teh kenal dengan beliau,  meskipun terkenal sebagai jawara hebat tapi beliau orangnya rendah hati dan tidak sombong,   kalau kamu nanti sudah berhasil menguasai ilmu bela diri dari Ki Jaya Kusuma, maka pergunakanlah ilmu tersebut di jalan yang benar, untuk menolong masyarakat yang lemah dan teraniaya,  jangan dipakai untuk kesombongan atau takabur,  jika ujang menggunakan kepandaian tersebut di jalan kebenaran, Insya Allah semuanya akan berkah, selamat,  dunia dan  akherat  ”.


Mendengar nasehat dari pak Rohadi,  Jaka Someh semakin tertunduk sambil sesekali menganggukan kepalanya,  seakan-akan dia patuh dengan ucapan sahabat almarhum ayahnya. Pak Rohadi kemudian melanjutkan lagi ucapannya.


”Bapak berharap setelah kamu selesai berguru,  tinggallah di sini,  di rumah bapak ini, dari pada kamu tinggal sendirian di lereng bukit,  jauh dari peradaban manusia  “


Jaka Someh terdiam sesaat,  kemudian dia berkata dengan sopan kepada pak Rohadi,


”Terima kasih banyak pak  atas tawarannya,   tapi saya masih merasa berat kalau harus meninggalkan gubuk peninggalan orang tua saya  “


Pak Rohadi berkata,

__ADS_1


”Iya,  iya  Bapak juga mengerti ujang teh pastinya berat untuk melepaskan segala kenangan dengan orang tuamu. Hanya saja Bapak merasa punya kewajiban untuk merawat kamu,  anak dari sahabat Bapak sendiri yang sudah Bapak anggap sebagai saudara,   bapak benar-benar menerima jang Someh dengan tangan terbuka”.


Ketika Jaka Someh dan pak Rohadi sedang mengobrol,  tiba-tiba terdengar suara orang yang datang,  rupanya orang tersebut adalah Asih,  putri semata wayang pak Rohadi. Dia sudah ada di dekat pintu rumah,  di temani dua pemuda yang kelihatan eksentrik. Dua lelaki yang baru dikenalnya sewaktu nonton pagelaran wayang golek seminggu yang lalu. Pemuda itu bernama Panji dan Udan. Panji yang memiliki wajah tampan dan pandai mengucapkan kata-kata gombal dengan mudahnya membuai hati Asih. Hanya berselang dua hari semenjak pertemuan,  mereka pun sudah saling mengikat jalinan asmara. Asih berkata manja kepada Panji,


“Ayo kang Panji masuk dulu ke rumah,  Asih ingin mengenalkan akang ke bapak.”


Panji menjawab pelan sembari tersenyum simpul,


“Nanti saja ya nyai, lain kali saja ! Akang sekarang sedang terburu-buru, ada keperluan yang harus akang selesaikan segera hari ini “


Asih terlihat kecewa dengan penolakan Panji. Dia


pun segera memegang tangan Panji dengan mesra,  seakan` tidak mau berpisah dengan pujaan hatinya itu,


”Keperluan apa sih Kang  ? Koq buru-buru begitu, ayo masuk dulu atuh kang,   sebeentaaaar saja,  !”


Asih merayu Panji supaya mau masuk ke rumahnya. Panji tersenyum,  sambil menggelengkan kepalanya,  dia berkata lembut kepada Asih,


“Nanti saja ya Nyai, lain waktu saja akang main ke rumah Nyai, Beneran  Nyai,  akang janji,  lain waktu  akang akan mampir ke rumah Nyai,  bertemu dengan Bapak Nyai,  sekarang mah akang pamit dulu  “.


Meskipun cemberut Asih tak kuasa lagi untuk menghalangi niat Panji untuk pergi. Setelah Panji dan temannya tidak kelihatan lagi,  Asih naik ke tangga rumahnya. Pak Rohadi yang melihat kedatangan Asih,  langsung tersenyum sambil berkata,


“Eh Nyai  sudah pulang  ? Tadi teh kamu dengan siapa,  koq tidak di ajak masuk dulu atuh ke dalam rumah  ?”


Asih menjawab pertanyaan ayahnya dengan senyuman


“Tadi teh kang Panji , Bapak!  Teman Asih,  Kebetulan tadi Kang Panji sedang terburu-buru,  katanya masih ada keperluan penting yang harus dia selesaikan,  makanya gak bisa masuk ke rumah  ”.


Pak Rohadi menganggukan kepalanya sambil berkata lembut,


“Ya sudah atuh Nyai,  tidak apa-apa mungkin lain kali Nyai bisa memperkenalkannya ke bapak,    Eh iya  kebetulan  bapak mau meperkenalkan kamu dengan Jang Someh,  anak pak Sabarudin,  sahabat bapak waktu kecil  ”


Asih melirik ke arah Jaka Someh yang sedang memandanginya. Asih tersenyum sesaat,  sambil menganggukan kepalanya sekali. Lesung pipitnya terlihat begitu manis.


Mendapatkan senyum manis dari Asih,  Jaka Someh merasa jiwanya mau terbang. Hatinya bergetar. Seumur hidupnya belum pernah dia merasakan suatu getaran aneh seperti itu.  Entah karena belum pernah melihat seorang gadis ataukah karena dia merasa takjub melihat kecantikan Asih,  jantungnya terus berdegup tidak karuan. Ada perasaan takjub melihat wajah Asih yang khas. Cantik dan fresh. Mungkin inilah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Jaka Someh baru saja mengalaminya.


Namun untunglah Jaka someh adalah seorang pemuda yang telah di didik dengan etika dan norma kesopanan. Meskipun terpesona dengan Asih namun dia mampu menahan diri untuk tidak mengumbar hawa nafsunya.


Jaka Someh tersenyum hormat kepada Asih. Namun kali ini,  Asih hanya membalasnya dengan sedikit senyum yang dipaksakan. Dia mengamati pakaian Jaka Someh yang tampak lusuh.  Setelah itu Asih memalingkan mukanya. Sikapnya tersebut terkesan meremehkan Jaka Someh. Deg,  hati Jaka Someh merasa perih,  serasa teriris oleh sebilah pisau yang tajam karena mendapat perlakuan remeh dari Asih. Entah kenapa,  hatinya terasa begitu sedih.


Tanpa berkata apa-apa,  Asih langsung masuk ke dalam kamarnya. Roman muka pak Rohadi tampak tidak senang melihat sikap anaknya yang kurang sopan terhadap tamunya. Pak Rohadi berkata pada Jaka Someh,


” Maapkan sikap anak saya ya jang Someh,  Asih memang agak manja anaknya”


Jaka Someh tersenyum sambil berkata,

__ADS_1


“Tidak apa-apa  pak  “


Tidak lama setelah itu Jaka Someh pun berpamitan kepada Pak Rohadi untuk melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2