Jaka Someh

Jaka Someh
Bab 40. Sebuah Perjuangan Untuk Hidup.


__ADS_3

Di dasar jurang,  Sugandi ternyata tidak mati. Dia hanya mengalami patah tulang di kaki kirinya,  dan beberapa luka memar di beberapa bagian anggota tubuhnya. Rasa sakit yang luar biasa yang dia derita membuat dia terpaksa untuk merebahkan dirinya. Karena sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit,  dia pun akhirnya pingsan,  tak sadarkan diri selama lebih dari satu harian.


Setelah larut malam,  Sugandi mulai siuman. Dia mengerang kesakitan,  badannya menggigil menahan dinginnya malam yang gelap gulita. Sugandi hanya mampu pasrah dengan keadaannya tersebut,  hanya matanya saja yang melelehkan air mata. Begitu berat penderitaan yang dia rasakan. Akhirnya dia pun tertidur sampai matahari mulai bersinar dari ufuk timur.


Setelah bangun dari tidurnya,  Sugandi masih mengerang kesakitan,  hanya saja semangat hidupnya mulai muncul kembali. Dia ingin tetap hidup dan ingin membalaskan dendamnya kepada para warga yang telah menyakitinya. Dengan sisa-sisa tenaganya,  dia pun mulai merangkak menuju tempat yang lebih nyaman. Dilihat,  di dekatnya ada sebuah sumber air,  Sugandi pun mulai merangkak menuju mata air tersebut untuk meminum beberapa teguk air. Setelah puas meminum air tersebut dia mulai merangkak lagi mencari tanaman yang sekiranya bisa dia jadikan sebagai makanan. Namun dia tidak melihat ada tanaman atau buah-buahan yang bisa di jadikan makanan yang layak. Akhirnya Sugandi hanya memakan daun-daunan muda yang berada di sekitar tempat itu. Meskipun rasanya tidak enak,  Sugandi tetap memakannya untuk mengembalikan tenaganya. Demikianlah selama beberapa pekan dia hanya mampu makan daun-daunan.


Sungguh ajaib,  setelah kurang lebih lima pekan,  badannya pun sudah mulai pulih,  bahkan kakinya yang patah sudah mulai sembuh,  meskipun jalannya masih tertatih-tatih. Dengan kaki yang masih pincang,  Sugandi mencoba untuk menelusuri lembah,  dia berjalan mengikuti aliran sungai kecil. Ketika sampai di suatu tempat,  dilihatnya ada kumpulan bebatuan yang berukuran cukup besar,  Sugandi mendekati bebatuan tersebut dan beristirahat di atas sebuah batu yang ukurannya tidak terlalu besar. Sambil duduk,  dia mengamati keadaan di sekitar tempat itu. Tepat di sebelah dinding lembah yang menjulang tinggi terdapat sebuah gua yang terlihat begitu gelap. Sugandi tiba-tiba merasa penasaran dengan gua tersebut,  kemudian dia mendekati gua tersebut.


Ketika dia sudah berada tepat di mulut gua tersebut,  dilihatnya banyak tulang berserakan di sekitarnya.


Setelah di amati secara seksama,  ternyata tulang belulang tersebut adalah tulang manusia. Sugandi juga menemukan banyak senjata yang sudah berkarat berserakan di tempat itu. Sugandi menyangka bahwa tulang belulang tersebut adalah sekumpulan prajurit dari masa lampau yang tewas di tempat itu.


Entah,  dia seorang yang pemberani ataukah memang rasa takutnya telah habis,  Sugandi benar-benar tidak merasa gentar sedikitpun berada di tempat yang nampak angker tersebut. Sugandi pun mengumpulkan beberapa senjata yang berhasil di temukannya itu. Ada pedang,  golok,  kapak,  pisau,  tombak,  dan kujang. Menemukan berbagai senjata tersebut membuat Sugandi bahagia,  seakan-akan dia telah menemukan harta karun yang banyak.  Dengan menggunakan kapak dan golok,  Sugandi berhasil membuat sebuah pondok sederhana dari kayu. Dia berhasil menebang dan mengolah beberapa pohon yang ada di sekitar lembah itu. Dengan tombak yang di temukannya itu juga Sugandi mulai belajar berburu binatang buruan dan ikan yang ada di sungai.


Awalnya memang dia mengalami kegagalan dalam perburuannya,  namun seiring dengan waktu,  dia pun sudah mulai mahir menggunakan tombaknya untuk berburu hewan buruan termasuk ikan. Tanpa terasa sudah hampir setahun dia hidup di lembah itu,  dia pun sudah ahli dalam berburu. Jarang sekali dia mengalami kegagalan dalam perburuannya. Tubuhnya pun kini menjadi sehat dan kuat,  gerakannya juga sudah demikian gesit.


Pada suatu malam ketika dia sedang tertidur,  tiba-tiba ada seekor ular sanca yang berukuran besar melilit tubuhnya. Sugandi terbangun dari tidurnya,  dia kaget karena tubuhnya sudah dililit kuat oleh sanca itu. Dia merasa kesulitan untuk bernafas. Namun karena semangat hidupnya yang begitu tinggi dia pun berusaha untuk melawan ular tersebut,  dia tidak mau menyerah terhadap ular tersebut,  dengan kujang yang selalu ada di pinggangnya,  Sugandi berhasil merobek perut ular sanca tersebut hingga lilitannya menjadi terlepas. Setelah itu,  dia langsung membunuh ular tersebut. Bahkan ular itu pun akhirnya berhasil dia kuliti. Kulitnya kemudian di jadikan pakaian,  setelah di jemur sampai kering di terik matahari.


Pernah juga ketika dia sedang berburu ikan dengan tombaknya,  tiba-tiba saja ada seekor macan tutul yang menyergapnya dari arah belakang.   Punggung Sugandi pun terluka,  namun dengan sisa tenaganya,  dia berhasil menghempaskan macan tersebut hingga terpelanting ke tanah. Meskipun dalam keadaan terluka,  Sugandi tetap berusaha melawan macan tutul yang sedang kelaparan tersebut. Sorot matanya juga tak kalah ganas dengan mata macan yang sedang berusaha memangsanya. Sugandi menatap tajam ke arah macan itu. Tangannya sudah bersiap menggenggam kujang. Ketika macan itu kembali menerjangnya,  Sugandi dengan sigapnya menusukan kujangnya ke arah perut macan yang sedang melayang ke arahnya. Tusukannya begitu dalam,  membuat macan itu langsung terkulai jatuh ke tanah. Macan itu pun mati seketika itu juga. Meskipun punggungnya dalam keadaan terluka akibat cakaran macan,  namun Sugandi tetap mampu berdiri kokoh. Dia sudah tidak begitu peduli terhadap lukanya. Justru dia asyik menguliti kulit macan yang sudah mati. Untuk dijadikan pakaiannya sehari-hari.


Tanpa terasa sudah dua tahun kini Sugandi tinggal di lembah hutan Dadap Kulon. Pada suatu malam Sugandi bermimpi bertemu dengan seorang kakek yang bertampang sangat seram meminta untuk menemuinya di dalam gua gelap yang tak jauh dari pondok Sugandi. Kakek itu mengaku bernama Eyang Jaya perkasa.  Awalnya Sugandi mengacuhkan mimpinya tersebut. Dia menganggpnya sebagai bunga tidur. Namun mimpi itu terus datang di setiap tidurnya. Sugandi pun terpengaruh. Dia merasa penasaran dengan mimpinya,  ingin membuktikan isi dari mimpinya tersebut.

__ADS_1


Keesokan pagi,  Sugandi pergi menuju gua yang ada dalam mimpinya itu.


Sesampainya di mulut gua,  Sugandi berhenti dan mengamati keadaan di sekitarnya. Entah mengapa dia merasa takut melihat gua itu. Gua tersebut terlihat sangat angker.


Namun karena rasa penasarannya yang sudah besar,  Sugandi menekadkan hatinya untuk tetap masuk ke dalam gua tersebut.


Awalnya gua itu terlihat gelap dan lembab,  namun semakin kedalam,  ternyata gua itu nampak menjadi lebih terang. Di dalam gua,  Sugandi melihat  suatu ruangan yang luas dan terang karena terkena sinar matahari dari celah lubang di atas gua tersebut. Dalam suasana remang,  Sugandi memperhatikan keaadaan di sekitarnya. Dia berusaha meningkatkan kewaspadaannya. Kujangnya sudah dalam genggaman,  khawatir akan ada bahaya yang tiba-tiba akan menimpanya. Dilihatnya ada seseorang yang sedang duduk menyila di salah satu pojok gua. Sugandi melihat tajam mengamati sosok tersebut. Dalam hati dia bertanya,


“Eh ini teh siapa? Manusia ataukah setan penghuni gua  ?”.


Sosok tersebut tak bergerak sedikitpun juga,  tidak terpengaruh oleh kedatangan Sugandi. Matanya terpejam,  hampir Sugandi menyangka orang itu adalah sebuah arca. Namun Sugandi meyakinkan diri bahwa itu memang adalah sesosok mahluk hidup,  yaitu seorang kakek yang sedang bertapa.


“Eyang Jaya Perkasa ?”


Mendengar namanya di panggil,   kakek itu membuka matanya. Matanya melotot berwarna merah menyala. Dia menatap tajam ke arah Sugandi. Kemudian kakek itu melompat ke arah Sugandi dan langsung mencekiknya. Tentu saja Sugandi kaget dan panik,  secara spontan dia langsung menusukan kujangnya ke arah tubuh kakek itu.


Sugandi semakin menjadi kaget,  karena kujangnya ternyata tak mampu menembus tubuh kakek itu. Bahkan tangan sugandi menjadi kesemutan setelah kujangnya beradu dengan tubuh kakek itu. Tubuh kakek itu sangat keras bagaikan sebuah batu karang yang pejal. Kakek itu tertawa dan berkata kepada Sugandi,


“ Hahaha bocah, kenapa kamu mengganggu pertapaan saya ?”


Setelah tertawa,  kakek itu membanting tubuh Sugandi ke didinding gua. Sugandi terpelanting membentur dinding gua. Dia berusaha bangkit dan membalas dengan menyerang kakek itu,  namun usahanya sia-sia,  karena kakek itu ternyata sangat kuat. Sugandi menjadi bulan-bulanan kakek itu,  di banting ke sana kemari.

__ADS_1


Meskipun badannya terasa remuk,   namun dia tidak mau menyerah. Dia terus berjuang melawan kakek itu meskipun sadar bahwa kekuatannya tidak sebanding dengan kakek itu. Tenaga Sugandi mulai terkuras habis,  hanya menyisakan semangat hidup saja yang membuatnya masih bisa bertahan. Sorot mata Sugandi masih tajam,  menatap kakek itu. Kakek misterius itu tertawa ketika melihat sorot mata Sugandi yang masih menyala,


“ Hahaha bocah! kamu masih punya semangat rupanya, sekarang ini rasakan ! “


Setelah berhenti tertawa,  kakek itu pun memukul perut Sugandi,  meski terlihat pelan,  namun ternyata Sugandi langsung terhempas beberapa langkah ke belakang dan langsung tersungkur. Dari mulutnya keluar darah segar. Meskipun kondisinya sudah demikian kritis,  namun Sugandi masih berusaha untuk melawan kakek itu. Dia mencoba memukul dan menendang kakek itu dengan sisa-sisa tenaganya. Namun usahanya itu menjadi sia-sia,  karena kakek itu langsung memukul Sugandi dengan satu tinju ke dada Sugandi. Sugandi terpelanting ke belakang dan terjatuh. Tapi dia masih berusaha bangkit meski tubuhnya sudah sempoyongan.


“Saya tidak boleh mati! Saya harus hidup! tidak boleh kalah oleh kakek ini ! “.


Sugandi berusaha menekadkan hatinya.


Melihat Sugandi kembali bangkit,  kakek itu tiba-tiba tertawa dengan keras,


“ Hahaha Bocah! kamu punya semangat hidup yang tinggi, kamu layak untuk menjadi murid saya  “.


Sugandi kaget mendengar perkataan dari eyang Jaya Perkasa yang menerimanya sebagai murid. Tanpa fikir panjang,  Sugandi langsung berlutut untuk memberi hormat kepada eyang Jaya Perkasa,


“Terima kasih, eyang  Guru “.


 


 

__ADS_1


__ADS_2