Jaka Someh

Jaka Someh
Bab 28. Gerobak Sapi Untuk Perjalanan.


__ADS_3

Pagi itu Jaka Someh pergi ke sebuah kampung yang letaknya tidak begitu jauh dari bukit yang dia tempati. Tujuannya adalah untuk membeli seekor sapi berikut gerobaknya. Dia mengambil uang simpanannya,  yang dulu pernah di beri Pak Rohadi,  mantan mertuanya.  Selama ini uang tersebut dia simpan di dalam sebuah peti kayu kecil. Setelah dibelikan seekor sapi dan gerobak ternyata uangnya masih tersisa separoh.


Sore hari itu juga Jaka Someh segera memodifikasi gerobaknya,  dengan memberinya atap dari anyaman daun pinang agar Dewi Sekar merasa nyaman bernaung di bawahnya. Alasnya juga di beri sejenis kasur kapas yang tipis.


Jaka Someh segera memuat perbekalan ke dalam gerobaknya,  ada tungku masak portable yang terbuat dari tanah liat yang dikeringkan,  ada wajan dari bahan logam yang dia buat sendiri,  ada piring dan lainnya. Jaka Someh juga memuat beberapa karung biji jagung,  beras,  umbi-umbian,  buah-buahan dan berbagai sayur-sayuran yang tahan lama,  seperti mentimun,  kacang`kacangan,  cabe,  bawang merah,  tomat bahkan beberapa butir kelapa. Semuanya berasal dari ladang yang dia kelola.


Melihat persiapan Jaka Someh yang sedemikian rupa,  Dewi Sekar tertawa,  dia merasa heran sekaligus kagum dengan jaka Someh yang dianggapnya penuh kesungguhan. Dalam nada bercanda,  Dewi Sekar berkata kepada Jaka Someh,


“Aduh  Akang! memangnya akang teh mau pindahan kemana, ? Koq bawaannya banyak sekali?  “


Jaka Someh tersenyum mendengar ucapan Dewi Sekar


“Hey kan kita akan pergi jauh  nyai! hehehe, siapa tahu nanti bisa di jual,  kan lumayan buat modal nikah akang, mungkin saja nanti dalam perjalanan akang menemukan perempuan yang mau nikah sama akang, hehehe“

__ADS_1


Dewi Sekar tersenyum mendengar candaan Jaka Someh.


Keesokan harinya,  setelah fajar,  mereka pun segera berangkat,  mengarah ke kota Sumedang Larang. Diperkirakan perjalanannya akan memakan waktu sekitar 3 sampai 4 harian dengan menggunakan gerobak sapi.


Jaka Someh begitu menikmati perjalanannya kali ini,  sudah hampir dua tahun dia tidak berkelana karena memilih bermukim disebuah bukit yang sekarang dia tempati. Hari itu dia merasa senang mendapatkan kesempatan untuk berkelana lagi,  meski  hanya sekedar untuk mengantar Dewi Sekar Harum  ke rumah orang tuanya.


Selama dalam perjalanan Jaka Someh lebih banyak terdiam. Pandangannya lebih banyak terfokus pada jalanan di depannya. Hanya sesekali dia mengamati keadaan Dewi Sekar,  karena khawatir apabila  Dewi Sekar merasa tidak nyaman dengan perjalanannya.


Menjelang siang,  mereka beristirahat,  meskipun hanya sebentar saja. Mereka  makan,  sambil membiarkan sapinya makan rerumputan. Jaka someh kemudian solat dhuhur yang dijamak dengan ashar. Setelah cukup  beristirahat,  mereka kembali melanjutkan perjalanannya sampai hari terlihat mulai gelap.


Mereka terpaksa menginap di suatu tanah lapang dipinggiran hutan. Mereka tidak tahu bahwa dibalik kelebatan pepohonan itu terdapat sebuah perkampungan kecil.


Jaka Someh membuat api unggun di tempat itu. Dia membakar Jagung sebagai menu makan malam. Sambil menunggu jagung bakarnya matang,  Jaka Someh menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan Dewi Sekar. Jaka Someh bertanya tentang keadaan Dewi Sekar,

__ADS_1


“Bagaimana Nyai?  masih kuat kan untuk menikmati perjalanannya?”.


Dewi Sekar tersenyum kemudian menjawab pertanyaan Jaka Someh,


“ Iya Kang Someh. Alhamdulillah Saya masih sehat,  hanya sedikit capek saja  “.


Jaka Someh menganggukan kepala,  meskipun ada perasaan canggung dia memaksakan diri untuk tersenyum ramah kepada Dewi Sekar,


“Alhamdulillah atuh kalau Nyai masih kuat mah,  ya sudah  sekarang mah Nyai istirahat dulu saja setelah selesai makan nanti! “.


 


 

__ADS_1


__ADS_2