Jaka Someh

Jaka Someh
Bab 23. Suatu Pencerahan.


__ADS_3

Setelah dua tahun Jaka Someh berguru kepada Ki Thiban,  dia pun berniat untuk kembali melanjutkan lagi perjalanannya. Ki Thiban pun,  mau tidak mau,  merelakan kepergian muridnya tersebut. Maka Jaka Someh pun pergi meninggalkan lereng bukit Karuhun serta gurunya tersebut. Dia berjalan terus ke arah timur namun tak sampai dua hari tiba-tiba dia memutuskan untuk menetap di suatu bukit yang menawan hatinya.


Awalnya waktu itu dia sedang berjalan di dekat bukit itu,  tiba-tiba langit menjadi gelap,  padahal hari masih siang. Rupanya hujan yang di sertai badai datang menerjang wilayah itu. Angin ****** beliung yang mengiringi badai itu pun memporak-porandakan wilayah itu. Banyak pohon-pohon besar yang tumbang,  bahkan akarnya pun sampai tercabut dari tanah.


Waktu kejadian,  Jaka Someh berusaha berlindung dengan cara merebahkan dirinya di atas ilalang di atas tanah. Ketika badai sudah berlalu,  dan langitpun sudah kembali cerah,  di lihatnya banyak pohon-pohon besar yang tumbang. Hanya pohon bambu dan ilalang saja yang nampak selamat dari serangan badai itu. Kejadian itu pun begitu membekas dalam pikirannya. Dia heran kenapa hanya pohon bambu dan ilalang yang bisa selamat dari badai,  padahal pohon-pohon besar yang nampak kokoh justru malah bertumbangan. Dia pun terus memikirkannya alasannya,  berusaha mencari jawaban atas keheranannya tersebut. Kemudian Jaka Someh mencoba memukul ilalang-ilang yang ada di sekitarnya,  ilang-ilang itu pun hanya bergerak mengikuti arah pukulan Jaka Someh.


Setelah berkali kali dia melakukan percobaan dengan memukul ilalang kemudian dia bandingkan dengan memukul pohon kayu yang berukuran cukup besar,  hasilnya ternyata tetap dia tidak mampu merobohkan ilalang dengan pukulannya tapi berhasil merobohkan pohon kayu yang terlihat lebih kuat daripada ilalang.


Lama dia memikirkannya,  sampai akhirnya dia menyimpulkan bahwa ilalang bersifat lentur dan tidak melawan badai dengan kekuatannya melainkan hanya meneruskan energi badai yang menerpanya tersebut,  sedangkan pohon kayu karena dia kokoh dan kaku maka dia mencoba melawan badai tersebut dengan kekuatannya,  namun karena kalah kuat maka dia pun tumbang. Ilalang dapat beradapatasi ketika menghadapi kekuatan alam yang menerpanya. Kekerasan tidak mesti harus dilawan dengan kekerasan,  seringkali kekerasan justru dapat ditaklukan oleh kelembutan. Jaka Someh merasa bahagia bisa menemukan pilosofi barunya tersebut. Dia pun mencoba menerapkan pengetahuannya tersebut kedalam ilmu silatnya. Maka untuk sementara waktu,  dia pun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan berkelana karena ingin melatih ilmu silat yang baru dipelajarinya tersebut.

__ADS_1


Jaka Someh kemudian menetap di bukit itu sambil melatih ilmu silat nya sekaligus melanjutkan kesenangannya dalam bercocok tanam. Disiang hari dia berlatih ilmu silatnya di atas pasir atau bebatuan di bawah teriknya cahaya matahari. Panasnya begitu melekeb,  namun Jaka Someh berusaha meresapi energi panas tersebut. Dia berusaha menempa dirinya agar mampu bertahan meskipun dalam kondisi alam yang ekstrim sekalipun.


Berbeda dengan latihannya di masa lalu yang keras dan tak kenal ampun,  sekarang dia lebih banyak menfokuskan pada jurus-jurus silatnya yang halus,  dia lebih banyak berlatih olah nafas dan olah konsentrasi pikiran maupun olah rasa. Jaka Someh menyatukan dirinya dengan alam semesta yang besar,  dalam panas dan dingin,  hujan dan kemarau,  dalam keharmonisan gerak dan nafasnya. Itulah ilmu silat halus yang sedang dia latih. Jiwanya pasrah pada yang Maha Kuasa.


Jaka someh sadar bahwa dirinya adalah hanya seperti setitik debu dalam bumi yang luas. Kekuatan yang dia miliki tidak ada apa-apanya di bandingkan kebesaran alam ciptaan Tuhan Yang Maha Perkasa. Lalu bagaimanakah dengan Yang menciptakannya? Pastinya adalah Sang Maha Besar. Allahu Akbar.


Dialah Dzat yang tidak mengalami kematian atau kerusakan meski sesaat pun juga,  karena Dia adalah Dzat yang maha kekal sehingga tidak memerlukan keturunan untuk memelihara kelanggenganNya.


Tuhan adalah Dzat yang meliputi seluruh alam semesta ini. Tidak mungkin disebut Tuhan apabila Dia masih berasal dari sesuatu,  justru Tuhan adalah Dzat yang tempat segala sesuatu berasal dariNya. Karena Dialah semuanya menjadi ada,  dengan kehendakNYa. Dialah Sang Maha Pencipta.

__ADS_1


Tuhan adalah sumber dari segala sumber kehidupan. Dialah Al awal,  Al Hayyu. Dia memelihara alam ciptaanNya dalam keteraturan sesuai dengan aturan yang dikehendakiNya. Hanya pada Tuhan yang tunggal itu-lah maka Jaka Someh memohon dan berpasrah diri. Karena hanya Dialah Dzat yang pantas untuk disembah.  Meng-Esakan tidak mensyirikannya dengan sesuatu apapun juga. Apakah ada Tuhan selain Allah yang lebih pantas untuk di sembah? Tidak Ada


Begitulah hari-hari yang dilalui oleh Jaka Someh di bukit itu selanjutnya,  kegiatannya hanya di isi dengan kegiatan beribadah seperti Sholat,  membaca  Alquran dan berdzikir,  Jaka Someh juga tetap giat untuk berlatih silat dan bercocok tanam.


Bukan hanya tanaman pangan,  atau buah dan sayuran saja yang dia tanam namun juga tanaman-tanaman yang mengandung khasiat sebagai obat-obatan dan kesehatan bagi mahluk hidup.


 


 

__ADS_1


__ADS_2