Jaka Someh

Jaka Someh
Bab 32. Mimpi Yang Aneh


__ADS_3

Matahari sudah bersinar cukup terik menyinari bumi. Dewi Sekar baru terbangun dari tidurnya. Dia segera bergegas menuju tempat pemandian. Baru saja dia melangkahkan kakinya beberapa meter,  tiba-tiba terdengar suara Jaka Someh  menyapa dari arah belakang,


“ Nyai, baru bangun ?”


Dewi Sekar menoleh ke arah Jaka Someh. Ada perasaan malu menyelimutinya. Dia malu karena ketahuan baru bangun dan masih belum mandi.  Wajahnya jadi memerah. Dia tertunduk malu,  dan hanya mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Jaka Someh


“iiyaa kang  “.


Dewi Sekar langsung pergi dengan cepatnya meninggalkan Jaka Someh yang masih berdiri diam sambil memandanginya. Dewi Sekar merasa malu kalau Jaka Someh nantinya memiliki kesan buruk kepadanya ‘Sebagai seorang wanita pemalas yang suka bangun siang’. Padahal baru kali itu dia mengalami bangun terlambat.  Biasanya  sebelum  subuh Dewi Sekar sudah bangun untuk berlatih ilmu silatnya.


Jaka Someh merasa heran dengan sikap Dewi Sekar seperti itu. Namun dia memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh.


Selesai mandi,  Dewi Sekar langsung menuju kamarnya. Hari itu dia lebih banyak mengurung diri di dalam kamarnya. Hanya sesekali dia mengintip ke arah luar dari celah jendela kamarnya. Tiba-tiba dia melihat ada Jaka Someh sedang mengobrol dengan seorang lelaki di luar rumah. Rupanya lelaki itu meminta tolong kepada Jaka Someh untuk mengobati anaknya yang sedang sakit.


Memang semenjak Jaka Someh berhasil menyembuhkan penyakit suami Ceu Entin,  namanya jadi dikenal oleh seluruh warga kampung. Banyak warga yang meminta tolong kepadanya untuk berobat. Dewi Sekar memperhatikan Jaka Someh secara diam-diam dari bilik jendela kamarnya. Dengan suara yang pelan dia bergumam kepada dirinya sendiri.


“Kang Someh orangnya baik, suka menolong, penuh perhatian dan tulus, meskipun berpenampilan sederhana tapi saya merasa nyaman dengannya, wajahnya tidak terlalu ganteng, namun  ada sesuatu yang istimewa di dalam dirinya, entahlah, kharismanya sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, Dia juga seorang yang alim, dan sangat penyabar, saya sebenarnya butuh orang seperti dia untuk membimbing saya dalam hidup, aduh apakah saya mulai suka kepadanya,  ya? Sebagai lelaki, sepertinya dia memang seorang lelaki sejati, bukan saja bersifat penyayang, tapi orangnya juga sangat perhatian, sayangnya dia memang bukan seorang pendekar, padahal kalau melihat dari postur tubuhnya, tubuhnya terlihat kekar dan berotot, apakah Rama bisa menerima keadaan kang Someh seperti itu? Rama sepertinya sangat berambisi di dalam dunia persilatan, sepertinya beliau kurang bisa menghargai orang yang bukan berasal dari dunia persilatan “.


Dewi Sekar menghela nafasnya. Hari itu dia lebih banyak mengurung dirinya di dalam kamar. Jaka Someh sendiri merasa heran dengan sikap Dewi Sekar kepadanya. Akhir-akhir ini Dewi Sekar seakan-akan berusaha untuk menghindar darinya.  Dalam hati Jaka someh bertanya-tanya,


“Nyi Sekar teh kenapa ya ? koq seperti risih bertemu dengan saya, saya khawatir, jangan-jangan keberadaan saya di sini justru membuat hatinya menjadi tidak nyaman, duh apakah saya pamit saja? lagipula di sini Nyi Sekar sudah aman dan selamat “.


Jaka Someh bergumam pelan. Hatinya menjadi sedikit gelisah,  khawatir telah membuat sesuatu yang membuat Dewi Sekar merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Malam semakin larut,  Dewi Sekar masih belum bisa merasakan tidur nyenyak. Pikirannya selalu saja dipenuhi oleh bayangan Jaka Someh. Dia merasa heran dengan keadaanya tersebut,  di atas pembaringan dia terlihat begitu gelisah. Berkali-kali dia merubah posisi tidurnya.


Dalam hati dia bertanya-tanya,


“Duh ada apa dengan saya ?”.


Kemudian dia termenung  cukup lama,


“Kenapa saya terus memikirkan Kang Someh? Apakah saya mulai suka kepada kang Someh?”


Malam terus bertambah larut,  namun Dewi sekar masih belum mampu memejamkan matanya. Keadaan di luar sudah sangat sepi,  hanya terdengar suara jangkrik yang mengkerik-kerik beberapa kali.


Menjelang dini hari,  Dewi Sekar akhirnya tertidur.


Hanya ada pohon-pohon perdu liar yang mengelilingi hutan itu. Kemudian dia mulai berjalan mencari jalan untuk keluar dari hutan tersebut.


Lama dia berjalan.


Dia terus berjalan,  namun masih belum mampu menemukan jalan untuk keluar dari hutan itu. Dewi Sekar merasa sangat lelah,  dan sadar bahwa sekarang dia sedang tersesat di dalam hutan. Tiba-tiba dilihatnya ada beberapa ular yang berusaha mendekatinya. Dewi Sekar merasa sangat ketakutan. Dia pun berlari dan terus berlari,  untuk menjauh dari ular-ular itu. Tapi ular-ular itu ikut mengejarnya.


Dewi Sekar terus berusaha mencari jalan untuk keluar dari hutan itu. Namun masih belum mampu menemukan jalan. Dalam keadaan berputus asa,  dia terduduk karena kelelahan.


Tiba-tiba Dewi Sekar melihat ada Makhluk mengerikan yang mendekatinya. Bahkan ular-ular yang mengejarnya pun sudah hampir mendekatinya Rasa takut dan bingung sudah menguasai dirinya.

__ADS_1


Hampir saja dia pasrah,  tiba-tiba dia mendengar suara orang yang sedang membaca Alquran. Suaranya sangat merdu. Mendadak makhluk-makhluk buas dan ular-ular  itu lari menjauh. Mereka berteriak keras karena tubuh mereka tiba-tiba terbakar hangus oleh api.


Dewi Sekar mencoba untuk bangkit kembali dan mencari asal dari suara itu. Tiba-tiba dia melihat ada seberkas cahaya dari sudut hutan sebelah kanan. Dewi Sekar mendatanginya. Cahaya itu semakin terang dan  jelas. Hatinya menjadi sangat senang karena telah menemukan jalan untuk keluar dari hutan itu.


Di seberang hutan itu  ternyata ada padang rumput yang nampak hijau dan asri. Di sana Dewi Sekar melihat seorang lelaki sedang duduk sambil membaca Al Quran. Bacaanya  tartil dan merdu. Dewi Sekar bergetar hatinya ketika mendengarkan lantunan ayat suci Al Quran. Dia pun mendekati orang itu.


Dewi Sekar terkejut ketika melihat orang itu ternyata adalah Jaka Someh,


“Kang Someh ?’.


Jaka Someh menoleh ke arahnya dan tersenyum. Dewi Sekar tertegun melihat senyuman jaka Someh. Dia terlihat tampan dan berwibawa. Wajahnya seperti memancarkan cahaya yang lembut.


Baru saja dia akan memanggil lagi nama Jaka Someh,  tiba-tiba Dewi Sekar sudah terbangun dari mimpinya. Dilihatnya hari sudah menjelang subuh.


Dewi Sekar duduk di samping ranjangnya,  memikirkan  kejadian  mimpi yang baru saja dialaminya tadi.


“Saya koq bisa bermimpi aneh seperti ini,  apa maksud dan arti mimpi tadi ya ?”.


Dewi Sekar bergumam pelan. Tiba-tiba dia mendengar suara langkah-langkah kaki di luar rumah. Dewi Sekar merasa penasaran kemudian mengintip dari celah jendelanya. Dia melihat Jaka Someh sedang berjalan dengan pakaian yang rapih menuju arah mesjid kampung untuk menunaikan ibadah sholat subuh.


 


 

__ADS_1


__ADS_2