
Seorang gadis berjalan sendirian menyusuri jalanan sepi, malam yang begitu sunyi karena hujan baru saja reda menyisakan gerimis kecil yang cukup untuk membuat basah jika menerobosnya, dia mengeratkan jaket yang dia kenakan ketika angin menerpa tubuh rampingnya.
Terdengar helaan nafas ketika dia memasuki sebuah rumah besar yang menjadi tempatnya tinggal, tidak ada sapa tidak ada suara, hanya keheningan yang terasa.
Perlahan dia melangkahkan kaki menuju kamarnya, segera berganti membersihkan diri dan berganti pakaian, dia tidak mau jika dia sakit, tidak ada yang akan merawatnya. Setelah selesai dengan kegiatannya dia merebahkan diri diatas kasur empuk dan meraih ponsel yang dia letakan diatas nakas samping tempat tidur.
Sejenak dia tersenyum melihat pesan yang dia baca, setelahnya dia tenggelam pada layar ponsel yang berada ditangannya, jari-jarinya menari dengan lincah mengetikan sesuatu pada layar ponsel itu, bibirnya pun tak berhenti tersenyum bahkan tertawa kecil ketika menerima balasan dari orang entah di sudut mana yang sedang dia ajak bicara melalui sebuah aplikasi.
Reynata Mahesa, itulah namanya, seorang gadis yang cerdas di sekolahnya, Rey yang memiliki perawakan seperti laki-laki ini cukup terkenal disekolahnya selain pintar dia juga digandrungi banyak murid terutama murid wanita karena ketampanannya yang mirip seperti artis Korea, dengan tinggi 169 cm, tubuh kekar karena sering melakukan work out bahkan perutnya berbentuk seperti roti sobek, kulit putih khas orang Korea, bibir merah tanpa polesan, rahang tegas, cukup membuatnya menjadi idola di sekolahnya mengalahkan murid pria yang tanpa sengaja menjadi saingannya.
Gadis dengan aura dingin dan tatapan mematikan namun tak mengurangi pesonanya sedikitpun.
Gadis yang hanya menampilkan sisi kuatnya namun tak pernah menunjukan sisi lemahnya, hanya orang beruntung yang bisa melihat sisi lain dari seorang Reynata Mahesa.
__ADS_1
Dia hanya mempunyai seorang sahabat yang dia miliki sejak kecil, sahabat yang selalu menemaninya disaat Rey membutuhkan sandaran, Faranita Agniya, dimana ada Rey selalu ada Fara, ada Fara juga ada Rey, dan Rey hanya mau tersenyum jika bersama Fara meski aura dingin itu masih ada.
Kedua orang tua Rey adalah orang tua yang paling sibuk, jarang berada dirumah, jika pun ada dirumah pasti akan timbul masalah, pertengkaran tidak bisa dihindarkan, namun mereka tidak mau bercerai, entahlah Rey pun sudah terbiasa dengan semua itu. Dan papa Rey adalah orang paling keras dalam mendidiknya, jika Rey melakukan kesalahan tidak tanggung-tanggung dalam menghukumnya, ada hukuman khusus yang selalu diterima oleh Rey.
"Kau belum bisa melampaui papa, jangan sekali-sekali membangkang!" ucap Andreas, papa Rey.
Andreas melepaskan kuncian pada tubuh Rey yang sudah terkapar babak belur dihajarnya, lalu pergi begitu saja.
Rey tersenyum kecut lalu berdiri, seseorang menghampirinya untuk mengobati luka-luka ditubuhnya, namun Rey menolak, dia berlalu begitu saja dan berjalan gontai menuju garasi dan langsung memacu mobil kesayangannya menuju sebuah rumah yang akan membuatnya tenang dari amarah yang sedang membakar hatinya.
****
Nadine Aryatama, seorang gadis yang umurnya sama dengan Rey, gadis manja namun cantik yang apapun harus dituruti saat itu juga, tidak boleh besok-besok, gadis yang selalu berlimpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang selalu memanjakanya dan menuruti apapun yang dia inginkan.
__ADS_1
"Mama, sekali ini saja ma, ayolah," rengeknya.
"Nad, sudah berapa kali kamu pindah sekolah, mama dan papa capek ngurus kepindahan kamu tau gak," omel Amira.
"Iya ma tau, tapi kali ini saja ma, ini yang terakhir, janji,"
"Oke, janji ini yang terakhir,"
"Iya, ma,"
Nadine, berjingkrak kegirangan apa yang diinginkannya akan dipenuhi oleh orang tuanya, dia pun berlari menuju kamarnya dan langsung melompat diatas kasurnya, lalu diraihnya ponsel yang sedari tadi tidak dia hiraukan, di bukanya sebuah aplikasi lalu dia tersenyum menatap gambar wajah seseorang.
"Tampanku, aku datang," serunya sambil menciumi ponselnya seperti orang gila.
__ADS_1
****