Jika Hati Sudah Memilih

Jika Hati Sudah Memilih
II.


__ADS_3

Vanessa Oktavia.


Seorang wanita dingin namun lemah lembut jika sedang bersama Rey, wanita yang terpaut umur 6 tahun dengan Rey menjadi salah satu orang terdekat gadis tomboy itu selain Fara.


Dan dialah yang menjadi satu-satunya wanita yang dicintai oleh Rey, satu-satunya yang menjadikan Rey orang yang pantang menyerah dan satu-satunya alasannya berjuang sampai saat ini.


Flashback.


Saat itu Rey yang baru saja diterima menjadi siswi SMA mentraktir sahabatnya Fara nonton bioskop setelah pulang dari sekolah, sebagai janji jika dia dan Fara diterima disekolah yang menjadi targetnya.


"Ayo Far, filmnya udah mau mulai," ajak Rey dengan terburu-buru.


"Iya ih sabar," seru Fara yang berjalan santai.


"Kamu sih nurutin kakak kelas playboy itu, jadi kita telat kan," omel Rey.


"Gak enak aku ninggalin gitu aja,"


"Rey! aw....was," teriak Fara terjeda melihat Rey yang sudah terduduk meringis kesakitan.


Rey yang berjalan terburu-buru tidak melihat langkahnya dan sekitar, dia menabrak seseorang yang berjalan dari depannya.


"Hey, are you ok?" tanya seorang wanita yang berdiri didepan Rey.


Rey hanya diam dengan ekspresi yang menahan sakit, Fara pun bergegas mendekati Rey dan membantunya untuk berdiri.


"Maaf, karena saya kamu jatuh," sesal wanita itu meski bukan salah dia sepenuhnya.


"Bukan salah kakak, sahabat saya ini saja yang jalanya tidak lihat-lihat," balas Fara, sambil mengomeli Rey yang kurang hati-hati.


Sedangkan Rey, menatap wanita yang didepannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Cantik. Itulah penilaiannya pada wanita yang dia taksir umurnya diatasnya.


"Kakak, bajunya kotor," ucap Rey tiba-tiba, mengabaikan omelan Fara.


"Tidak apa-apa, bisa dicuci," balas wanita itu.


"Nama saya, Rey dan ini teman saya Fara," ucap Rey memperkenalkan diri juga Fara.


"Saya, Vanessa," balas wanita itu.


Tidak ada percakapan setelahnya, semua dengan pemikirannya sendiri, sedang Rey masih sibuk memandangi Vanessa dengan kagum, hingga membuat Vanessa jengah dan salah tingkah. Fara yang melihat ekspresi muka sahabatnya hanya menghela nafas, bisa-bisanya sahabatnya itu menunjukan ekspresi yang sangat menggelikan. Akhirnya dengan terpaksa Fara mencubit lengan Rey dengan keras.


"Apasih, Far, sakit tahu gak!" marah Rey.


Fara pun memberi kode dengan matanya, membuat Rey tersadar jika dihadapannya masih ada orang yang baru saja dia tabrak.


"Kak, mau gak ikut kami makan, ya...sebagai ucapan maaf saya telah menabrak kakak," kata Rey malu-malu.


Dan Fara pun terbengong dengan tingkah Rey yang baru saja dia lihat.

__ADS_1


"Hhmm," Vanessa nampak berfikir sambil melihat jam yang ada ditangannya.


"Ayolah kak, kalau kakak gak mau nanti selamanya saya akan diliputi rasa bersalah," rayu Rey.


Dan Fara menunjukan ekspresi seperti akan muntah melihat ke-lebay-an yang ditunjukan oleh Rey.


"Baiklah, sebagai permintaan maaf saya juga, saya akan ikut kalian, asal jangan makan junk food," setuju Vanessa.


"Oke," jawab Rey.


Lalu mereka berjalan beriringan menuju restauran yang menyajikan makanan khas Jepang, karena hanya restauran itu yang paling dekat dengan mereka dan ketika Rey menawarkan pada yang lain semua tidak keberatan maka dari itu dipilihlah restauran Jepang sebagai tempat mereka makan.


"Kakak, kerja atau kuliah?" tanya Fara disela-sela makanya.


"Masih kuliah, sudah tahap akhir sih, nyusun skripsi," jawab Nesa.


"Kak, kalau pake aku-kamu boleh kan ya? gak biasa pake saya-anda kecuali sama orang yang lebih tua," tanya Fara.


"Boleh kok,"


"Kak Nesa tinggal dimana?" tanya Fara lagi.


"Tinggal dirumah,"


"Yaiyalah tinggal dirumah, masa tinggal di kolong jembatan, maksud aku tuh tinggal di daerah mana? nama jalannya apa?" kesal Fara.


"Bilang dong, kalau itu rahasia ya,"


Nesa memandang Rey yang tak mengucapkan sepatah katapun, dia merasa aneh jika tadi dia yang ngotot untuk mengajaknya makan dan sekarang melihat Rey yang diam tanpa berucap.


"Dia memang begitu kak, jika sedang makan dia akan diam, sudah jadi kebiasaannya,"


"Oh begitu,"


Dan selesai makan pun Rey lebih banyak diam hanya sesekali dia ikut berbicara selebihnya dia habiskan untuk memandangi wajah Vanessa.


****


"Far, kamu harus cari tahu dimana Vanessa tinggal, gak mau tahu pokoknya kamu harus dapatin alamatnya," seru Rey berapi-api.


"Heh geblek, bagaimana bisa aku cari alamat dia, dapat nomornya aja enggak, dapat info detailnya dia aja enggak," jawab Fara kesal.


Sejak pertama kali pertemuannya dengan Vanessa, Rey sering uring-uringan sendiri, mencari tahu keberadaan Vanessa, Rey mengklaim jika dia jatuh cinta untuk pertama kali dengan Vanessa, membuat Fara jengah dengan tingkah Rey.


"Far, aku jatuh cinta pada pandangan pertama kayaknya ya,"


"Udah berapa kali kau bilang kaya gitu, bosan aku samamu,"


"Aku harus bagaimana, Far?"

__ADS_1


"Udahlah lupain aja, lagian kak Vanessa mana ingat lagi samamu,"


Di tengah kegalauan hatinya, Rey yang saat itu berada dirumah bersama Fara memilih untuk keluar dari kamar dan mencari makanan di dalam kulkas. Bersamaan dengan itu terdengar suara bel pintu yang menandakan bahwa ada tamu yang berkunjung. Rey dan Fara sedang asik berkutat dengan makanannya di dapur sambil bercanda dan sesekali membicarakan tentang pelajaran sekolah, sedikit mendengar obrolan antara Andreas dan seorang wanita.


"Far, suaranya gak asing,"


"Iya, Rey, kita pura-pura lewat aja yuk, sambil sekalian ke depan aku bosan di kamar terus,"


"Ayolah,"


Rey dan Fara berjalan santai melewati ruang tamu sambil melirik siapa tamu yang datang, alangkah terkejutnya dia, seorang yang sedang dia cari-cari duduk manis di ruang tamu rumahnya dan ngobrol bersama papanya. Fara dan Rey pun saling pandang seolah memberi kode bahwa ada sedikit harapan dalam pencarian mereka.


"Rey, sini!" panggil Andreas dengan suara tegas, mengagetkan Rey yang sedang bergumul dengan pikirannya.


Perlahan Rey berjalan mendekati sang papa, lalu duduk disampingnya, ketika Vanessa tahu Rey yang di maksud pria di hadapannya ini adalah Rey yang tempo hari menabraknya cukup membuatnya terkejut.


"Rey, ini adalah Vanessa Oktovia, dia adalah asisten cadangan papa, nanti akan menggantikan Janeta yang akan resign, sekalian menunggu dia selesai kuliah,".


Rey dan Nesa berjabat tangan sambil melempar senyuman.


Tak ada lagi obrolan tercipta, kecuali Andreas dan Nesa yang membicarakan tentang bisnis, sedang Rey mendengar dengan jengah dan tak berminat, akhirnya dia pamit dengan alasan tidak enak dengan Fara.


Setelah menunggu lebih dari tiga puluh menit di depan pintu gerbang, akhirnya yang di tunggu oleh Rey menampakan batang hidungnya.


"Kak!" panggil Rey agak teriak.


"Eh, kamu ngapain disini?"


"Nunggu kakak,"


"Ngapain nunggu kakak,"


"Kangen sama kakak,"


"Ngaco kamu,"


"Kak, kakak kenapa sih kerja di tempat papaku, akan jadi rumit nantinya,"


"Apa yang rumit?"


"Karena aku naksir sama kakak,"


"Gak usah ngaco, dah ah aku mau pulang,"


Sepeninggal Nesa, Rey masih dengan ekspresinya yang seperti orang gila, tersenyum sendiri.


"Bocah edyan," gumam Fara yang berdiri tak jauh dari Rey.


*****

__ADS_1


berlanjut di next part...


__ADS_2