
Rey yang sudah tahu dimana Nesa bekerja, keesokan harinya dia menunggu Nesa pulang bekerja, dia pun sudah menunggu didepan kantor dimana Nesa bekerja, tentunya dia mengajak Fara. Seperti halnya detektif mereka bertingkah seolah-olah sedang mencari tersangka dari kasus yang sedang di pecahkan, Fara mengintai gedung kantor itu dengan menggunakan teropong kecil yang menggantung di lehernya, sedang Rey memantau sekitarnya untuk melihat situasi saat beraksi.
"Jika bukan karena kau, aku tak akan melakukan hal yang sangat memalukan ini," Fara mendumel.
"Bukannya kamu sudah tak punya urat malu," olok Rey.
"Setidaknya aku tidak pernah senekat ini,"
"Aku juga tidak pernah menyangka jika dia bekerja di perusahaan Papa,"
"Jika ketahuan, mati kau anak muda,"
"Aku tahu,"
Setelah lama menunggu akhirnya yang mereka tunggu pun menampakan diri, dengan anggun Nesa berjalan keluar gedung kantor dan berjalan menuju mobilnya. Rey yang berada tak jauh dari mobil Nesa segera keluar dan sedikit berlari dan tanpa ijin sang empunya mobil Rey langsung memasukinya.
"Kamu!" kaget Nesa.
"Halo Kakak, hehe," sapa Rey dengan cengirannya.
"Bikin kaget saja,"
"Maaf, habisnya harus buru-buru,"
"Kenapa?"
"Karena ini perusahan Papa,"
Nesa yang masih tak mengerti hanya diam dan tak mau bertanya, dia segera melajukan kendaraannya membelah jalanan kota yang macet di jam pulang kerja.
Dan sejak itu, Rey semakin sering melakukan hal-hal yang sama, menunggu Nesa pulang kerja, tidak sengaja bertemu atau memang Rey yang membuat seolah itu suatu ketidaksengajaan, seperti halnya seorang penguntit Rey bisa melakukan apa saja yang ingin dia lakukan agar bisa bertemu dengan Nesa.
Nesa yang dibuat heran pun dengan sengaja menunggu Rey untuk menanyakan hal ini karena dia yakin jika anak itu pasti akan muncul dihadapannya, karena dia merasa aneh dengan pertemuan-pertemuannya yang seolah memang sengaja di buat oleh gadis yang umurnya lebih muda dari padanya.
"Halo Kak Nesa," dan benar saja suara Rey menyapa Nesa yang sedang duduk menikmati makanannya.
"Hhmm, duduklah," suruh Nesa.
"Kak, tadi sebelum masuk ke resto ini aku melihat Kak Briana masuk ke tempat itu," terang Rey agak takut.
Nesa menghentikan menyuap makanannya dan mengernyit heran, bukankah tadi Briana bilang dia tidak enak badan sehingga tak bisa menemaninya makan malam tapi malah pergi jalan-jalan.
Briana, adalah kekasih Nesa, darimana Rey tahu yang tentu saja dari hasil dia menguntit dan berpura-pura tak sengaja bertemu dengan Nesa yang saat itu sedang bersama Briana namun Nesa mengenalkan Briana sebagai sahabatnya, jangan salahkan otak Rey yang cerdas karena bisa menyimpulkan sendiri jika Briana pacar Nesa.
"Jangan bohong,"
"Buat apa Kak aku bohong, gak guna tahu gak," tegas Rey.
"Kalo begitu antarkan aku kesana,"
"Ayo,"
Keduanya pun bergegas keluar dari restauran menuju tempat yang ditunjukan oleh Rey.
Nesa mengernyit lagi, mereka akan memasuki sebuah toko baju dengan brand terkenal, namun tetap mengikuti kemana Rey akan membawanya. Keduanya berjalan mengitari toko baju itu untuk mencari keberadaan Briana, ketika akan berjalan melewati salah satu rak baju, Nesa mendengar suara yang begitu dia kenal, Nesa pun berhenti dan akan berjalan menuju dimana Briana berada namun Rey dengan cepat menahan pergerakannya membuat Nesa memandangnya penuh tanya.
"Dengarkan saja," perintah Rey yang merubah ekspresinya menjadi dingin, membuat Nesa tertegun karena baru pertama kali melihat ekspresi Rey yang dingin.
Nesa akhirnya menurut, dia memposisikan diri agar lebih dekat dengan posisi Briana, setelah dirasa cukup dia pun mempertajam indera pendengarannya. Dan apa yang dia dengarkan dari semua percakapan Briana dengan seseorang membuatnya sedikit terguncang, Briana memanggil seseorang itu dengan mesra bahkan orang itu begitu manja pada Briana, sama halnya jika dia sedang bersama kekasihnya itu.
Rey yang melihat ekspresi wajah Nesa yang terlihat sedih dan terluka memberanikan diri menggenggam tangannya, menyalurkan kekuatan dan memberitahu jika ada dirinya jangan takut.
Rey berinisiatif menyibakkan beberapa tumpukan dan baju display yang digantung untuk mengintip orang yang berada di baliknya seketika Rey membelalakkan matanya terkejut, Nesa yang penasaran pun ikut mengintip dan betapa terkejutnya dia melihat Briana yang mencium bibir seorang wanita selain dia.
Nesa yang kembali ingin melabrak keduanya di tahan oleh Rey.
"Kenapa!" tanya Nesa pelan namun penuh ketegasan dan amarah.
"Ini tempat umum jangan bikin ribut,"
"Tapi itu...,"
"Aku tahu, tapi ada cara lain,"
"Apa?"
"Sebelum ini, Briana bilang apa ke Kakak?"
"Dia bilang tidak enak badan,"
"Telepon dia, bikin dia seperti mendapatkan surprise,"
Nesa yang paham segera mengeluarkan ponselnya dari tas dan menghubungi Briana, tanpa menunggu lama telepon itu dijawab.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Nesa pada Briana dengan menahan suaranya agar tak seperti sedang marah.
"Sedikit membaik,"
"Kamu ada dimana?"
__ADS_1
"Aku tentu saja sedang dirumah sayang kan lagi gak enak badan,"
"Jika berbohong sedikitlah menjadi pintar, kita berada di ruangan yang sama, dengan lagu yang sama, tapi dengan keadaan yang tidak sama, jika tidak enak badan tidurlah dirumah jangan malah berciuman dengan wanita lain di toko baju,"
"Ka-kamu, kamu dimana?"
"Tidak usah tahu aku dimana, cukuplah bagiku melihat semuanya, dan sekarang kita selesai sampai disini,"
Tanpa menunggu balasan dari Briana, Nesa mematikan panggilan teleponnya dan bergegas berjalan keluar dari toko itu dan berjalan dengan cepat menahan tangisnya menuju parkiran dimana mobilnya berada. Rey masih setia mengikuti dari belakang karena merasa khawatir dengan kondisi Nesa yang sekarang.
Saat Nesa akan memasuki mobilnya kembali dia ditahan oleh Rey.
"Mau apa kamu?"
"Mana kuncinya,"
"Untuk apa?"
"Aku tidak mau jika besok melihat berita di tv maupun koran, Kakak berada dihalaman paling depan dan itu berita duka,"
Mau tidak mau Nesa menyerahkan kunci mobilnya, karena otaknya masih bisa dia gunakan untuk berfikir realistis jika sekarang keadaannya tidak baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan kedua insan itu hanya diam, tidak ada yang memulai pembicaraan, Nesa sadar jika saat ini Rey melajukan mobil bukan kearah rumahnya, namun Nesa tidak perduli, yang dia butuhkan saat ini hanya ingin menenangkan pikiran.
Tak lama mobil yang mereka kendarai berhenti pada sebuah bangunan besar namun terlihat sepi, Rey meminta Nesa untuk turun dari mobil lalu mengikutinya. Nesa merasa heran karena Rey dengan mudah membuka pintu bangunan itu dan bahkan memasukinya dengan tenang tanpa rasa takut bahkan kini mereka memasuki bangunan di lantai dua.
"Masuklah kak," pinta Rey pada Nesa.
Nesa hanya menurut, melangkahkan kakinya memasuki sebuah ruangan yang lumayan luas dan nampak baru, bahkan perabotannya masih tertutup dengan kain putih. Perlahan Rey membuka kain putih yang menutupi sofa yang berwarna hitam lalu membersihkannya agar tak ada debu yang menempel.
"Kakak duduklah, akan aku buatkan sesuatu,"
Setelah mengatakan kalimat tersebut Rey beranjak pergi meninggalkan Nesa yang termangu sendiri di ruangan itu, cahaya remang dari lampu di sudut ruangan menambah suasana suram ruangan tersebut membuatnya sedikit bergidik ngeri.
Beberapa menit kemudian Rey kembali dengan kedua tangan membawa cangkir yang isinya masih mengepulkan asap.
"Minumlah semoga dengan ini kakak akan lebih enakan," Rey mengulurkan secangkir yang isinya ternyata coklat panas untuk Nesa.
"Ini tempat apa Rey?" tanya Nesa setelah meneguk sedikit minumannya.
"Cafe, cafe milikku," jawab Rey.
"Oh,"
Keduanya kembali diam dengan pikirannya masing-masing, Rey berjalan mendekati jendela yang masih tertutup dengan tirai, dia buka sedikit tirai tersebut untuk melihat pemandangan malam.
Di belakang Rey, Nesa diam-diam memperhatikan gadis tomboy tersebut yang sedang berdiri dengan diamnya, di mata Nesa gadis tomboy itu malam ini sedikit berbeda, dia lebih banyak diam, tidak banyak bicara seperti hari lalu ketika bertemu dengannya. Nesa memandang lekat gadis itu, Rey terlihat menawan jika sedang diam, matanya begitu tajam dan menghanyutkan, diam-diam Nesa tertawa lirih tanpa di sadari oleh Rey, Nesa berhasil menertawai pikirannya sendiri yang merasa mulai mengagumi gadis tomboy di hadapannya padahal dia sedang patah hati.
"Aku tidak berminat," jawab Rey.
"Kenapa?"
"Hanya tidak ingin,"
"Lalu cafe ini?"
"Mimpiku dan keinginanku,"
Kembali hening.
"Ada harga untuk menebus mimpi dan ada pengorbanan untuk menebus keinginan," ucap Rey dengan nada sendu namun terlihat tegas.
Nesa berdiri lalu berjalan mendekati Rey yang masih setia pada posisinya, Nesa berdiri berhadapan dengan Rey dan menyandarkan tubuhnya pada jendela, melihat dengan seksama ekspresi wajah gadis tomboy itu.
"Sejak lama, Papa menyuruhku untuk mengikutinya menjalankan perusahaan, tapi aku tidak mau, aku lebih menyukai duniaku sendiri dan inilah duniaku juga karena sesuatu hal aku tidak bisa menuruti kehendak Papa, Papa menentang keras keinginanku, tapi aku tidak menyerah, dan inilah sekarang,"
"Dari mana kamu dapatkan uang untuk membangun semua ini?"
"Almarhum kakekku meninggalkan aku tabungan khusus untukku tanpa sepengetahuan orang lain termasuk kedua orang tuaku, tabungan itu bisa aku pakai untuk membangun 20 cafe secara langsung dan bersamaan juga lebih besar dari ini,"
"Oh,"
Sejujurnya Nesa sangat terkejut mendengarkan kejujuran gadis itu tentang dari mana sumber uangnya dan hanya mampu mengucapkan kata itu.
"Tapi aku tidak mau serakah, aku ingin memulainya dari nol,"
"Dan aku ingin menciptakan masa depanku sendiri serta mempersiapkan semua hal ini untuk orang yang aku cintai nantinya,"
Nesa tertegun, bagaimana bisa gadis belia yang baru saja duduk di bangku SMA memiliki pemikiran yang tinggi bahkan sudah merancang masa depannya sendiri.
Tubuh Nesa menegang, Rey memeluknya dengan tiba-tiba, Nesa yang masih terbuai dengan lamunannya tidak siap menerima pelukan dari Rey.
"Jangan sedih lagi, ada aku, aku tidak akan membiarkanmu sedih, percaya padaku,"
"Aku selalu ada di sekitarmu, memandangmu dari kejauhan, menikmati senyummu dari jarak yang tak kamu ketahui, tahukah kamu, betapa tersiksanya aku, harus melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan untuk mendekatimu,"
"Aku menyukaimu Nesa, lebih dari itu, jangan tanyakan padaku seberapa yakin diriku akan perasaan yang aku punya, aku yakin meski kamu menganggap aku hanya main-main karena aku masih terlalu muda,"
"Berilah aku satu kesempatan untuk membuktikannya, percaya padaku Nesa aku akan membuktikannya, apakah kamu mau?"
__ADS_1
Nesa tak tahu harus berkata apa, namun hati dan fikirannya bekerja dengan cepat dan berfikir jika anak ini tidaklah main-main, dan pada akhirnya hanya sebuah gerakan anggukan yang mampu dia berikan.
Mungkin ini terlihat begitu gila, Nesa baru saja putus dengan pacarnya tapi dia menerima kehadiran orang lain untuk memasuki kehidupannya, Nesa tidak perduli itu, mendengar perkataan yang diucapkan oleh anak itu membuat hatinya menghangat, kata yang begitu tegas membuatnya mengambil keputusan untuk mengiyakan permintaan gadis tomboy itu.
"Tidurlah, kamu perlu istirahat," suruh Rey sambil mengecup kening Nesa.
"Temani aku?"
"Baiklah,"
*****
Tiga bulan berlalu, hubungan keduanya semakin membaik, perasan Nesa pun mulai tumbuh pada Rey, membuat gadis tomboy itu semakin bahagia ditambah lagi usaha yang dijalankan mulai dibuka sesuai rencana.
Malam itu Nesa sedang menunggu kedatangan Rey dirumahnya bersama Fara, Nesa mengundang Fara untuk makan malam dirumahnya atas persetujuan dari Rey.
"Kak, kok Rey belum datang yah, tadi bilang udah on the way dari 2 jam yang lalu, apa dia nyetir mobilnya mundur yah,"
"Ngaco, mana bisa nyetir motor mundur,"
"Ya barangkali kak, orang gak sampai-sampai,"
"Katanya dia ada urusan sama Papanya, kamu yang sabar ya, masih kuat nahan lapar kan,"
"Kuatlah, kue nastar udah habis setoples masa gak kuat laper,"
Fara terdiam, dia berfikir jika Rey berurusan dengan Papanya pasti akan terjadi sesuatu, seketika matanya membelalak dia mengingat perkataan Rey beberapa waktu lalu dan Fara berdoa dalam hati semoga Rey tidak melakukannya.
Tiga jam berlalu namun Rey tak kunjung tiba, malam semakin larut, diam-diam Fara membuka ponselnya dan memberi kabar pada orang tuanya jika dia tidak akan pulang malam ini, firasatnya mengatakan bakal tidak baik-baik saja. Nesa pun mulai cemas tidak biasanya Rey menghilang dalam itungan jam tanpa mengabarinya, bahkan sesibuk apapun dia selalu berusaha memberinya kabar, sekalipun saat itu dia sedang bokerpun dia bakal kabarin Nesa.
Sudah beberapa kali Nesa menghubungi Rey namun nomornya selalu saja tidak aktif, membuat Nesa semakin cemas.
Setelah Tiga setengah jam menunggu, terdengar deru mobil yang begitu dikenal oleh Nesa memasuki pekarangan rumahnya, Nesa dan Fara pun segera berlari menuju pintu utama, namun begitu pintu itu terbuka kedua gadis itu melihat pemandangan yang berada di balik pintu tersebut membuat mereka terkejut.
"REY!" keduanya histeris memanggil satu nama itu.
"Apa yang terjadi?" panik Nesa.
"Bawa masuk dulu kak," ajak Fara sambil membantu memapah tubuh Rey dan mendudukannya di sofa.
"Sayang, apa yang terjadi? kenapa bisa begini?" panik Nesa.
Rey tersenyum lalu melirik Fara yang berdiri disampingnya dengan bersedekap tangan didada, tatapannya galak namun tak menyembunyikan rasa khawatir pada sorot matanya.
"Aku coming out, aku mengaku aku lesbian pada orang tuaku,"
"Untuk apa sayang, untuk apa kamu lakukan hal itu," Nesa sudah tak bisa membendung air matanya.
"Untuk kita, aku melakukannya untuk kita, tapi maaf aku tak bisa menyebutkan identitasmu sebagai kekasihku, ini aku lakukan untuk melindungimu dari Papaku,"
Nesa hanya menangis, dia tak menyangka jika gadis tomboy ini akan memberikan pengorbanan besar untuknya.
"Dan Paman menghajarmu," ucap Fara.
"Tentu saja Fara, hahahahaha,"
Fara berdecih lalu menuju dapur untuk mencari P3K dan baskom berisi air bersih untuk membersihkan luka-luka di tubuh Rey.
Nesa yang mulai tenang dia menatap Rey lekat, entah siapa yang memulai bibir mereka bertaut menjadi satu, Fara yang melihat itu semakin geram dan kesal.
"Setidaknya, jika mau mesum biar tamu pulang terlebih dahulu," tegur Fara.
Nesa yang sadar akan kelakuannya segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Rey dengan muka memerah, sedang Rey sedang menahan kesal karena kesenangannya terganggu.
"Itu untuk Rey yah?" tunjuk Nesa pada baskom yang berisi air di meja serta handuk kecil.
"Iya, Kakak aja yang bersihin, aku sudah bosan," jawab Fara.
"Anak tengik," umpat Rey.
Fara membalas dengan menjulurkan lidahnya lalu memfokuskan diri pada ponsel di genggamannya yang menampilkan game pabji.
"Atuh sayang pelan-pelan, sakit," omel Rey.
"Ini udah pelan tau,"
"Tekan yang kenceng Kak, biar gak tuman,"
"Diem kau, Arrrrrgggg....,"
Nesa dengan sengaja menekan luka Rey kuat-kuat, membuat Fara tertawa terbahak, sedang Rey meringis kesakitan.
"Diem, jangan bawel!" omel Nesa.
Seketika suasana jadi tenang.
Semua berawal dari malam ini dan perjuangan tidak akan berhenti disini.
Flashback End.
__ADS_1
****