
Hari ini Rey memutuskan untuk tidak masuk sekolah, dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Nesa, kekasihnya. Fara yang sangat tahu bagaimana kehidupan Rey hanya berpesan untuk hati-hati dan menyiapkan mental.
Dengan berbalutkan piyama tidurnya, Rey berdiri menghadap keluar jendela kamar milik Nesa, berdiri tegap dengan kedua tangan berada di saku celananya, tatapan matanya tajam bagaikan elang menemukan mangsanya.
"Sedang memikirkan apa, hhmm?" ucap Nesa sambil memeluk Rey dari belakang.
"Sedang memikirkan masa depan kita nanti,"
"Jangan terlalu difikirkan, kita jalani saja sebaik mungkin,"
"Hmm,"
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Nesa.
"Semalam ada sisa sambal terasi kan? buatkan aku nasi goreng,"
"Baiklah, kamu mandilah biar lebih segar,"
Setelah sarapan selesai Rey memilih duduk di depan televisi dengan beralaskan karpet bulu yang sangat lembut, dia bersantai sambil membuka leptop yang menampilkan beberapa draft laporan keuangan yang belum selesai dia kerjakan.
Fara yang melihat kekasihnya sedang serius tersenyum, perlahan dia mendekati gadis tomboy itu dan memeluknya dari belakang.
"Kamu kalau serius begini kadar cakepnya nambah deh," puji Nesa.
"Lah emang dari orok ku sudah cakep," bangga Rey.
"Jadi males muji lagi,"
Rey tersenyum lalu mengecup singkat bibir tipis Nesa dan kembali mengerjakan tugasnya.
Tak ada kata yang terucap diantara mereka, keduanya sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing, Rey dengan laporannya sedang Nesa sibuk memperhatikan gadis tomboy yang menjadi kekasihnya itu.
Tidak ada kata bosan dalam kamus Nesa, memperhatikan Rey adalah hobi utamanya dia saat ini, memandangi wajah gadis tomboy itu adalah favoritnya dan akan menjadi kesibukannya ketika sedang berdua.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat mulus pada bibir Nesa yang membuat gadis itu terperanjat kaget.
"Ngagetin aja sih," gerutu Nesa.
"Makanya jangan ngelamun,"
"Siapa yang ngelamun,"
"Aku panggil lebih dari tiga kali tapi gak ada sahutan, lalu apa gak ngelamun tuh,"
"Iya deh iya, kenapa manggil?"
"Pengen es krim, yuk pergi beli,"
"Kan di kulkas ada toh sayang,"
"Pengen pergi,"
"Yaudah ayok,"
Keduanya segera bersiap-siap dan berangkat menuju tempat tujuan, Rey memilih untuk pergi ke mall karena ada yang ingin dia beli. Setelah membeli apa yang dia inginkan Rey mengajak Nesa untuk bermain di tempat permainan yang pada umumnya berada di mall.
"Main basket, siapa yang kalah nanti traktir makan," tantang Rey.
"Yang itu mah keahlianmu," cibir Nesa.
__ADS_1
"Gak berani ya?"
"Ih siapa takut,"
Rey dan Nesa memulai permainannya, keduanya saling menyalip skor, Nesa yang cukup tinggi memudahkannya untuk melempar bola.
"Yah, aku kalah deh," keluh Nesa.
"Sesuai kesepakatan ya,"
"Baiklah,"
Mereka kembali memainkan permainan yang lainnya, mereka tertawa lepas seakan tidak ada yang membebani pikiran mereka.
****
Nadine yang malas bersekolah memilih membolos setelah istirahat, dia tidak mood sekolah karena Rey tidak masuk, Nadine yang sedang menyetir mobilnya tidak tahu harus kemana akhirnya membelokan mobilnya ke arah mall dan dia pun memiliki ide untuk membelikan Rey sesuatu, dengan senyum mengembang dia berjalan menyusuri mall.
"Beliin apa ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Mata Nadine melihat-lihat toko yang berjajar di dalam mall, dia bingung mau membeli apa untuk Rey.
"Beliin sepatu apa ya?"
"Sepatu Rey perasaan itu-itu aja yang di pakai,"
"Nah itu saja, okay,"
Nadine pun memasuki sebuah toko sepatu yang berlogo centang itu dan memilih sepatu yang sekiranya cocok untuk Rey.
Ditempat permainan Rey yang sudah kelelahan memainkan permainan duduk di bangku yang disediakan, dia melihat kearah Nesa yang berdiri di depannya, Rey mengikuti arah pandang mata Nesa yang sedang memandang kesebuah mesin permainan capit boneka.
"Ah tidak,"
"Tiba-tiba aku ingin main itu, ayok,"
Rey menarik tangan Nesa menuju tempat permainan capit boneka, dia memilih mesin yang sedang kosong.
"Nih, main gih,"
"Loh katanya kamu yang pengen,"
"Okay, mari kita coba,"
Rey menggesekkan kartunya, dia segera menggerakkan analog yang mengarahkan capitnya setelah di rasa cukup dia segera menekan tombol, namun percobaan pertama ini dia gagal.
"Yah, gak kena,"
"Yaudah, gak usah aja yuk,"
"Gak mau, aku mau coba,"
Percobaan kedua, ketiga dan berikutnya masih gagal, Rey sedikit frustasi dan itu membuat Nesa terkikik karena ekspresi Rey yang terlihat lucu.
"Kamu mau coba?" tawar Rey.
"Boleh,"
Nesa pun mencoba namun masih saja gagal dan Rey kembali meminta kendali mesin capit bonekanya.
"Yaaaasshh, berhasil," teriak Rey yang membuatnya menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Ih, malu-maluin,"
"Habisnya, seneng aku tuh, nih," Rey menyerahkan boneka teddy bear coklat pada Nesa.
"Makasih ya udah berusaha, yuk makan, aku laper,"
"Ayok, aku juga laper,"
Keduanya berjalan bergandengan menuju tempat makan yang Rey pilih, tapi muka Rey terlihat suram.
"Kenapa dengan ekspresi itu?"
"Gak apa-apa,"
"Karena gak diijinin makan junkfood?"
"Bukan,"
"Lalu?"
"Huh, aku cemburu sama boneka itu,"
"Lah, kenapa?"
"Dia enak, bisa kamu peluk kapan saja,"
Nesa mengulum senyum, gadis tomboy itu bisa saja membuat hatinya menghangat dengan gayanya yang kadang tidak jelas.
Keduanya memasuki restauran yang menyajikan makanan khas Jepang, secara kebetulan Nadine juga sudah berada disana dan melihat Rey bersama seorang wanita yang tidak dia ketahui siapa karena posisinya membelakangi Nadine.
Nadine yang tadi moodnya sudah bagus kembali memburuk melihat Rey bersama wanita lain bahkan tertawa, tawa yang tidak pernah Rey berikan padanya. Nadine jengah melihat pemandangan keakraban yang lebih terlihat intim antara Rey dan pasangannya.
Rey dan Nesa meninggalkan restauran lalu keluar dari mall karena hari mulai sore, tapi di pertengahan jalan Rey membelokan mobilnya menuju taman yang terdapat banyak anak kecil yang sedang bermain bola.
"Katanya capek, ingin tidur, malah kesini,"
"Gak tahu pengen kesini,"
Keduanya berjalan beriringan dan duduk di bangku taman sisi lapangan bola kecil.
"Seru ya lihat anak-anak kecil main,"
"Iya, ketawanya nular,"
Tiba-tiba ada bola yang menggelinding tepat di bawah kaki Rey, dia pun mengambil bola itu.
"Kak, tolong balikin bolanya dong," pinta anak kecil cowok.
"Mau bolanya? tapi kakak boleh ikutan main ya?"
"Wah, ayok kak, pasti seru nih,"
"Kamu tunggu sini ya,"
Nesa tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya, Rey tidak pernah berubah, masih suka bermain dengan anak-anak kecil, menurutnya, bermain dengan anak kecil bisa membuatnya lepas dari beban dan seperti mengulang masa kecilnya yang tidak seperti mereka.
Tak jauh dari mereka, Nadine melihat dengan perasaan yang sangat geram, tangannya terkepal seolah rasa geramnya sangatlah besar. Orang yang sangat dia inginkan sedang tertawa bersama orang lain.
"Lihat saja nanti, akan aku jadikan Rey milikku dan tidak ada orang lain yang bisa merebutnya!"
Nadine meninggalkan taman itu dengan perasaan yang benar-benar marah.
__ADS_1