
Rey, berjalan menyusuri lorong sekolah bersama dengan Fara yang bergelendotan manja di lengannya, banyak pasang mata menatap mereka berdua dengan jagum, Fara yang termasuk siswi famous tak kalah mempesonanya dengan Rey, banyak orang mengira jika mereka adalah sepasang kekasih namun mereka hanya akan mengabaikan hal tersebut.
"Rey, nanti pinjam duitnya ya?"
"Buat apa?"
"Lagi dapat hukuman,"
"Ambil saja sendiri nanti di dompet,"
"Terima kasih Rey ganteng,"
Rey lalu mengalihkan perhatiannya pada buku yang ada dihadapannya sambil mendengar Fara bercerita tentang artis yang dia favoritkan. Tak lama, bel sekolah pun berbunyi pertanda jam pelajaran pun dimulai.
Sama seperti siswa-siswi kebanyakan jika sedang beristirahat tempat yang dituju dan menjadi surga mereka adalah kantin, begitu juga dengan Rey dan Fara, banyak pasang mata yang selalu memandang mereka penuh kagum, namun bagi mereka justru membuat jengah, mereka bukan artis bukan juga anak orang penting tak perlu dipandang seperti itu, namun mereka berdua hanya diam jikapun di bicarakan yang ada hanya sia-sia.
"Kamu mau makan apa?" tanya Rey pada sohibnya.
"Bakso aja deh," jawab Fara.
"Kamu beli minumnya, aku air mineral, ini uangnya," ucap Rey sambil mengulurkan uang.
Mereka pun terpisah untuk membeli makanan dan minuman, Fara terlebih dahulu selesai dan sudah duduk di bangku tak lama beberapa siswa duduk mengerumuni Fara, ada yang meminta foto bersama atau terang-terangan memberi hadiah dan menitipkan hadiah untuk Rey.
Rey yang sudah selesai mengantri untuk membeli bakso pun mencari keberadaan Fara ditengah manusia-manusia yang sedang memenuhi kantin, ketika dia melihat Fara yang sudah seperti mengadakan fan meet dia pun mendengus, tidak suka akan pemandangan seperti itu namun pada akhirnya mau tidak mau dia berjalan menuju meja dimana Fara berada.
"Ekhem," dehem Rey keras agar kerumunan itu bubar.
"Udah ya, besok-besok lagi, kami mau makan dulu," usir Fara halus.
Sedang Rey sudah menatap mereka dengan pandangan dinginnya yang justru membuat mereka yang dipandanginya semakin terpesona dengan Rey.
"Selamat makan," ucap Fara menerima bakso dari Rey.
"Berdoa dulu Fara," tegur Rey pada Fara yang akan memasukan sesendok kuah bakso kedalam mulutnya.
"Hehe, iya lupa,"
Selesai berdoa mereka makan dengan khidmat, Rey tidak suka jika sedang makan sambil mengobrol dan Fara, mau tidak mau harus mengikuti kebiasaan Rey yang sudah menjadi sohibnya sejak TK itu.
"Rey, kayaknya aku pengen nyari kerja deh," ucap Fara.
"Buat apa?"
__ADS_1
"Biar bisa jajan pake duit sendiri,"
"Ayah sudah tidak bisa beri kamu uang jajan emang?"
"Masih sanggup sih, tapi tahu sendiri aku suka khilaf,"
"Kontrol pengeluaran mu,"
"Tapi bener sih Rey, aku pengen kerja, pengen kayak kamu tuh punya penghasilan sendiri,"
"Yasudah, kerja di cafe ku aja, lebih aman buat kamu, biar tidak nyari kemana-mana,"
"Yang bener?"
"Gak jadi deh,"
"Eh, iya iya, aku mau, tapi bagaimana aku bilang sama ayah?"
"Nanti aku bantu bilang,"
"Ih, makasih ganteng ku,"
Fara pun memeluk Rey dengan girang bahkan dia berusaha mencium pipi Rey, yang membuat gadis tomboy itu berusaha melepaskan diri dari pelukan Fara, keduanya berhasil menarik perhatian penghuni kantin yang masih betah duduk disana.
****
"Nah, selesai," gumamnya lalu tersenyum menatap hasil karyanya.
"Tolong, panggilkan Fara," ucap Rey pada seorang yang berada di ruangan yang sama dengannya.
Tak lama Fara pun datang dengan senyum bahagianya karena dia sudah mulai bekerja dan memakai seragam kerja untuk pertama kalinya.
"Ada apa sih, aku sedang melayani tamu tuh," omel Fara.
"Menu baru, cobain," kata Rey sambil menyodorkan sepiring makanan pada Fara.
Fara pun mengambil sendok dan mengambil secukupnya, setelah makanan itu berada dalam mulutnya seketika matanya berbinar merasakan sensasi masakan Rey dalam mulutnya.
"Astaga Rey, ini enak, kamu apakan nasi goreng ini, cuman nasi goreng kok enak banget, trus ini kok ada kemanginya, eh rasa nasi gorengnya beda," cerocos Fara sambil terus menyendokan nasi goreng kedalam mulutnya.
"Ini nasi goreng sambal terasi dan daun kemangi, enak kan?"
"Enak banget ih, aku mau lah, aku laper juga,"
__ADS_1
"Nah makanlah," suruh Rey pada Fara.
"Abdi, beritahu yang lain jika mau makan ada nasi goreng di dapur," Rey memberitahukan pada Abdi, salah satu karyawannya.
"Oke, bos," balas Abdi.
"Far, aku keatas dulu, banyak kerjaan yang belum aku kerjakan, oh ya, beritahu yang lain, sepulang kerja kita meeting dulu sebentar,"
"Oke,"
Rey pun bergegas menuju ruang kerjanya yang berada dilantai atas cafe. Cafe milik Rey memiliki 3 lantai, lantai 1, di design untuk mereka yang merokok, tidak ada dinding kaca semua di buat terbuka, lantai 2, ruangan tertutup untuk mereka yang tidak merokok dan menyukai udara dingin karena ruangan ber-ac, lantai 3, ruangan untuk Rey bekerja dan beristirahat, ada sebuah kamar tidur disana yang memang dia design khusus untuknya jika tidak ingin pulang, ada garden yang ditata sedemikian rupa agar terlihat menarik dan nyaman, ada beberapa bangku yang dilengkapi dengan payung dan di garden terdapat panggung kecil yang biasa digunakan untuk live music setiap hari Sabtu dan hari khusus.
Tok...tok...tok...
"Masuk," jawab Rey.
Seseorang yang menjadi pelaku pengetuk pintu memasuki ruangan dengan senyum mengembang.
"Sibuk ya, sampai aku datang kamu tidak menyapaku," tegur tamu tersebut.
Rey mendongakkan kepalanya mendengar suara yang familiar di telinganya, suara yang menjadi favoritnya selama dua tahun ini.
"Nesa!" seru Rey semangat dan langsung bangkit dari duduknya, sedikit berlari lalu memeluk wanita yang umurnya lebih dewasa dari padanya.
"Kenapa tidak bilang mau kesini?" tanya Rey yang tiba-tiba sendu.
"Kejutan, baby," jawab Nesa.
"Aku kangen,"
"Iya sama,"
Keduanya pun larut dalam nikmatnya pelukan hangat, tidak ada satupun yang ingin melepas, keduanya terlalu rindu untuk melepaskannya, seolah jika berpelukan semalaman pun tak akan puas membalas rindu karena lamanya tak bertemu karena Nesa harus mengikuti perjalanan bisnis bosnya selama dua Minggu.
"Rey, lepas ih, eungap nih," kata Nesa, sambil berusaha dengan perlahan melepas pelukan Rey.
"Masih kangen," rajuk Rey.
"Iya, kangen-kangenanya sambil duduk ya, pegel nih kaki,"
Akhirnya Rey mau melepaskan pelukannya, lalu membawa Nesa untuk duduk di sofa panjang yang berada disudut ruang kerjanya, tanpa ada yang bersuara namun jari-jari mereka saling bertaut dengan tatapan mata penuh cinta yang tak lepas satu sama lain, seolah mengunci dan berkata bahwa mereka saling mencintai.
"Sayang, malam ini menginap ya," pinta Rey.
__ADS_1
"Iya, sayang," jawab Nesa.
*****