Jika Hati Sudah Memilih

Jika Hati Sudah Memilih
VII.


__ADS_3

Keadaan Rey sungguh menyedihkan, wajahnya yang rupawan tertutup awan mendung dan gunung es yang semakin membeku, suram, begitulah penilaian Fara terhadap sahabatnya. Rey yang memang dingin dan apatis terhadap orang lain semakin menjadi dengan sifatnya itu, sedangkan orang yang terlihat dekat dengannya seolah tak perduli dengan apa yang ada dipikiran gadis itu, sebagai contoh adalah orang tuanya yang selalu memaksakan kehendaknya tanpa memikirkan apa yang dirasakan oleh anaknya.


Sejak dulu, Rey selalu dituntut untuk menjadi nomor satu, di tuntut untuk menjadi yang sempurna dan dituntut harus mau menuruti segala sesuatu yang diinginkan oleh orang tuanya tanpa mereka tahu jika anaknya harus melalui proses yang sangat berat, terlebih saat Rey membuka jati dirinya yang sebenarnya, dia harus mau menuruti semua kemauan orang tuanya sebagai balasan penerimaan atas jalan yang Rey pilih.


Hanya Fara dan Nesa yang selalu berusaha memahami dan mengerti apa yang menjadi keinginan terbesar Rey, dan karena mereka berdualah Rey masih sanggup berdiri menatap langit yang tak selalu cerah. Terutama Nesa yang menjadi alasan utamanya untuk tetap bertahan meskipun jalan yang dia lalui tak selalu berjalan mulus.


Demi meraih ambisinya Papa Rey sanggup mengorbankan perasaan anaknya, bisnis adalah hal utama yang harus di perjuangkan dengan cara apapun, tak perduli jika anaknya menjadi korbannya.


Malam ini Rey duduk diantara kedua orang tuanya yang tiba-tiba saja mengajak makan malam bersama setelah beberapa tahun tidak ada pemandangan seperti itu dirumah megah itu, justru Rey berharap makan malam atau makan-makan lainnya tidak ada dirumah ini jikapun ada itu justru membuatnya jengah dan muak.


"Sudahlah jangan kau urusi cafe yang tidak seberapa itu, kau ini Papamu punya perusahaan besar untuk kau urus malah mendirikan cafe tak berguna itu."


Rey yang mendengar ocehan Papanya hanya diam tak menyahut, dia terus saja memasukan makanan yang terlihat lezat namun hambar ketika berada didalam mulutnya, dia tidak membenci Papanya hanya saja dia tidak suka dengan apa yang Papanya ucapkan, terlalu merendahkan apa yang dia usahakan.


"Kau harus baik-baik dengan Nadine, dia anak yang baik dan jika kalian bersama bisnis Papa semakin besar dan kau nanti yang akan untung."


See, hanya bisnis yang ada di otak Papanya tidak ada yang lain.


"Benar kata Papamu, lagian kamu tidak ada masalah dengan Nadine, dari pada kamu mencari pasangan yang tak benar di luaran sana lebih baik kamu sama Nadine yang sudah jelas."


Rey muak, dia ingin segera mengakhiri acara makan malam dan ingin segera pergi dari rumah untuk mencari udara yang lebih segar ketimbang tinggal lebih lama dirumah besar namun sesak.


"Maaf, saya sudah selesai dan saya harus pergi ke kamar karena ada tugas dari sekolah, selamat malam."


Rey langsung pergi meninggal kan meja makan yang masih ada kedua orang tuanya menuju kamar dan menguncinya dari dalam, segera dia meraih sweater hitam pemberian dari Nesa lalu keluar dari kamar melalui balkon yang disisinya ada tembok pembatas dengan bangunan lain yang tak seberapa tinggi tapi bisa dia jangkau dari balkonnya, Rey berjalan hati-hati menuju pos satpam yang berada di depan dan disana sudah menunggu satpam yang sudah hapal dengan kelakuan Rey tapi tak satpam itulah yang selalu membantu pelarian gadis tomboy itu.


"Hati-hati bos," satpam memperingatkan Rey yang sedang menuruni tangga yang selalu dipersiapkan di pos satpam tanpa ada yang mengetahuinya.


"Fiuh, makasih Pak Oman, besok aku traktir bakso di ujung gang deh,"

__ADS_1


"Ah si bos, santai aja lah, segera cabut bos nanti kalau ketahuan bisa kacau,"


"Oke Pak, kalau Papa pergi kabari ya,"


"Siap,"


Rey pun melenggang pergi setelah di bukakan pintu gerbang dan Fara sudah menunggu sedikit jauh dari rumah Rey. Dan seperti biasa mereka menuju cafe karena Nesa sudah menunggu disana.


Sesampainya di cafe, Rey mengecek keadaan cafenya terlebih dahulu, mulai dapur, stok bahan, keadaan para karyawannya, menanyai apa kekurangan dan apa yang di butuhkan agar lancar dalam bekerja, terakhir dia meminta laporan keseluruhan dari Neva. Setelah selesai dia segera menuju ruangannya dimana Nesa sudah menunggu.


Saat masuk kedalam ruangannya terlihat Nesa tertidur di sofa dengan wajah yang menyiratkan rasa lelah, perlahan Rey mendekati gadisnya lalu berjongkok dihadapan Nesa, dengan senyum tipisnya dia memandangi wajah kekasihnya itu, disingkirkannya rambut yang menutupi wajah Nesa agar tak menghalangi pemandangan indah yang ada didepan matanya.


Nesa yang merasa seolah sedang diawasi merasa tidak nyaman dalam tidurnya, dia pun terbangun dan ketika dia membuka mata pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah kekasihnya yang sedang tersenyum manis padanya.


"Hai." sapa Rey.


Nesa tersenyum lalu merengkuh Rey kedalam pelukannya, menghirup aroma citrus yang menyegarkan dari tubuh gadis tomboynya ini dalam-dalam seolah itu adalah candu yang harus selalu dia hirup.


"Nanti dulu ih."


"Pegel pinggangku sayang."


Akhirnya Nesa melepaskan pelukannya dan diapun duduk dengan bibir manyun, Nesa masih ingin memeluk Rey hangat tubuh dan aroma tubuh kekasihnya itu selalu membuatnya nyaman dan betah jika di peluk lama.


Rey yang melihat ekspresi kekasihnya tersenyum lalu didekati wajah Nesa dan sebuah kecupan mendarat mulus dibibir tipisnya, seketika membuat Nesa tersenyum bahkan wajahnya memerah.


Rey mengambil duduk disisi Nesa lalu merebahkan tubuhnya menjadikan paha Nesa sebagai bantal, tangan Nesa pun langsung mengusap rambut Rey yang mulai memanjang.


"Rambut kamu mulai panjang."

__ADS_1


"Iya, belum sempat rapiin."


"Besok di rapiin ya."


"Tapi temeni."


"Iya besok ditemeni."


Keduanya kembali diam saling melempar senyum manis dan tatapan penuh kasih sayang, lewat tatapan mata itulah mereka berbicara tentang cinta yang sangat besar diantara keduanya.


Terkadang Nesa merasa takut, takut akan cinta yang terlalu besar yang diberikan oleh gadis tomboynya, takut jika saat cinta yang besar itu hadir lalu berubah menjadi luka yang sangat dalam hingga sulit untuk disembuhkan, namun ketakutan yang selalu menghantuinya segera dia tepis, Nesa percaya jika Rey tidak akan membuatnya terluka.


Meski sekarang dia harus merasakan luka itu namun dia kembali berfikir jika apa yang Rey lakukan saat ini bukan sepenuhnya kemauan dia sendiri, dia percaya apa yang dilakukan Rey saat ini adalah bentuk dari salah satu perjuangannya, ya... perjuangan yang akan membawa kebahagiaan yang mereka inginkan kelak, kebahagiaan mereka berdua.


"Sayang." panggil Rey membuyarkan lamunan Nesa.


"Hhmm."


"Apa kamu mempercayaiku?"


"Aku mempercayaimu sama seperti kamu mempercayaiku."


"Jalan kita masih panjang, aku butuh kamu tetap disampingku untuk menemaniku berjuang, aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin kamu tetap berada disisiku untuk menguatkan aku menjalani hari berat yang akan datang."


"Jangan berjuang sendiri, karena kita adalah sepasang, aku akan ikut berjuang bersamamu dan akan selalu disampingmu, kita akan berjuang bersama-sama untuk tujuan kita berdua."


"Aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu."

__ADS_1


*****


__ADS_2