
Pagi yang sedikit mendung, membuat Rey sedikit malas untuk pergi kesekolah, namun dia tetap harus pergi jika tidak mau menerima hukuman dari Papanya, seperti biasa dia akan menjemput Fara terlebih dahulu lalu berangkat sekolah bersama.
"Rey, gak sarapan dulu?" tanya Bunda Fara, Ana.
"Rey sudah sarapan dirumah Bun, ini harus buru-buru berangkat takutnya anak Bunda gak bisa nyontek PR," jelas Rey sambil melirik Fara yang sedang memakai sepatu dengan mimik wajah menahan kesal.
"Kebiasaan dia mah Rey, sesekali jangan di kasih contekan dia," omel Bunda.
"Siap Bun,"
"Buru berangkat!" ucap Fara kesal dan berjalan keluar terlebih dahulu menuju mobil Rey.
Setelah mencium tangan Bunda, Rey menyusul Fara yang sudah duduk manis di kursi penumpang mobilnya, tak lama Rey langsung melajukan mobil kesayangannya menuju sekolah.
"Rey, kenapa hari ini perasaanku gak enak ya?" ucap Fara.
Rey tidak menjawab hanya mengendikan bahunya tanda tidak tahu, mereka kembali diam dengan pikirannya masing-masing sambil berjalan menyusuri koridor yang akan membawa mereka menuju kelas.
"Hari ini aku duduk samamu deh," kata Fara.
"Terserah, dari dulu kan aku minta kamu duduk sama aku, tapi kamunya yang gak mau," balas Rey.
Keduanya memasuki kelas dan benar saja Fara langsung duduk di kursi samping Rey, dia langsung membuka tas milik gadis tomboy itu dan mencari buku tugas yang akan dia salin, dalam sekejap Fara anteng dan tenggelam dalam fokusnya menyalin PR sedangkan Rey membaca novel yang selalu dia bawa untuk memenuhi rutinitas paginya.
Pukul 07.00 tepat bel sekolah berbunyi tanda pelajaran akan dimulai bersamaan dengan selesainya proses penyalinan PR yang dilakukan oleh Fara.
Kelas pun mulai gaduh karena guru tak kunjung memasuki kelas sudah hampir 30 menit tapi guru yang seharusnya mengajar jam pertama tidak kunjung terlihat. Fara sudah pergi entah kemana dari tempat duduknya, sedang Rey masih tetap di posisi yang sama tanpa merubah fokusnya sama sekali.
Barulah setelah terlambat hampir 45 menit guru tersebut memasuki kelas, sontak seisi kelas kembali pada posisi yang seharusnya dan kembali diam.
"Okay anak-anak, maaf atas keterlambatan Bapak dan hari ini kalian mendapatkan teman baru dengan kata lain ada murid baru yang akan menempati kelas kita, okay silahkan masuk,"
Seluruh mata penghuni kelas tertuju pada sosok yang berjalan anggun dan berdiri didepan kelas kecuali 1 murid yang sejak tadi masih tenggelam dalam kalimat-kalimat yang tertera pada novel yang dia pegang.
"Ah kenapa harus dia sih," kesal Fara pelan.
"Biarkan saja," balas Rey.
Sedang seseorang yang sedang berdiri di depan kelas mencuri pandang pada gadis tomboy yang tak pernah terusik sama sekali.
"Dia masih tetap sama,"
Gadis itu membatin.
__ADS_1
Setelah memperkenalkan dirinya, gadis yang bernama Nadine Aryatama itu duduk dibangku yang telah di tunjuk untuk dia tempati yang persis berada didepan bangku milik Rey dan Fara.
"Hai," sapa Nadine dengan senyum ala pepsodentnya.
Tidak ada jawaban dari Fara maupun Rey, Fara tengah fokus pada pelajaran yang sudah dimulai sedangkan Rey tetap pada novel kesayangannya, tidak ada yang berani mengganggunya dan para guru sudah enggan menegurnya karena setiap ditegur lalu disuruh mengerjakan soal didepan Rey tetap bisa menjawab meski dia sedang membaca novel.
Jam pelajaran pun berlalu dengan cepat dan bel pertanda istirahat pun sudah berbunyi, semua murid berhamburan menuju tempat yang akan membuat perut mereka kenyang, kantin.
"Beb, kantin gak?" tanya Fara.
"Hhmm," jawab Rey dan dia berdiri dari duduknya.
"Boleh ikut gak?" tanya Nadine dengan tatapan penuh harap.
"Kami tidak suka diganggu," jawab Fara ketus, sedang Rey bersikap acuh.
"Rey?" Nadin tidak menyerah dia mencoba menarik perhatian Rey.
"Sama seperti Fara," jawab Rey tak kalah dingin.
Rey dan Fara meninggalkan Nadine yang kecewa sendirian menuju kantin, Fara butuh asupan makanan untuk mengisi energinya yang hilang akibat rasa kesalnya pada murid baru yang tiba-tiba muncul padahal kehadirannya sangat tidak diharapkan oleh keduanya.
"Sabar Nadine, nanti akan ada saatnya kamu bisa mendapatkan Rey," dumel Nadine.
"Bagaimana bisa tuh anak tengik masuk ke sekolah kita," ucap Fara berapi-api.
"Kamu sudah tahu jawabannya lah Far,"
"Kita sudah damai sekolah tanpa dia yang maha rese itu Rey, bukannya dia tenang-tenang sekolah di luar negeri ngapain dia balik lagi,"
"Sudahlah biarkan saja,"
"Aku takut dia nekat dan mengacaukan segalanya,"
"Aku sudah terbiasa dengan kekacauan, nanti sepulang sekolah aku ke cafe, kamu bareng atau pergi bareng Nava?"
"Kok Kak Nava?"
"Ku lihat di chatmu begitu,"
"Hehe, aku diantar Kak Nava,"
"Okay,"
__ADS_1
Nadine adalah teman mereka semasa SMP, tidak satu kelas namun keduanya saling mengenal, tidak lain karena ulah Nadine yang secara terang-terangan mendekati Rey, bahkan sampai berbuat nekat dan tidak tahu malu yang justru membuat Rey dan Fara begitu hati-hati terhadap Nadine, suatu hari entah kerasukan setan apa Nadine berada diatas gedung sekolahan dan mengancam akan melompat jika Rey tidak menerimanya menjadi pacar, dengan terpaksa Rey menerimanya menjadi pacar dengan perasaan yang sungguh takut jika kabar ini sampai ditelinga Papanya, Nadine yang merasa menang dan tidak tahu malu selalu mengumbar kemesraan di depan orang banyak yang justru sebenarnya membuat Rey semakin tertekan, beruntung kedua orang tua Nadine yang saat itu mendengar kabar tentang kelakuan anaknya di sekolah segera turun tangan, Nadine segera mereka bawa ke luar negeri.
Dan sekarang disinilah Nadine entah dengan cara apa dia merayu kedua orang tuanya untuk kembali ke negara asalnya.
*****
Cafe terlihat ramai, banyak meja yang telah terisi dan hanya menyisakan satu atau dua tempat yang kosong, Fara dan karyawan lain terlihat hilir mudik mengantarkan pesanan pada para pelanggan, sedangkan Rey sedang mengerjakan laporan bulanan yang baru saja dia terima dari Nava, kasir sekaligus merangkap menjadi admin.
"Sedang sibuk rupanya," sapa sebuah suara yang mengagetkan Rey.
"Eh, Loh kamu, kok sudah pulang?"
Seseorang itu segera menutup kembali pintu dengan tidak lupa untuk menguncinya, lalu berjalan menuju gadis tomboy yang sedang duduk dikursi nyamannya dengan kertas yang tertata rapi dimeja.
"Nesaku kapan pulang?" tanya Rey dengan suara manja.
Seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Nesa itu tersenyum lalu memeluk Rey yang posisinya masih duduk di kursinya.
"Kemarin malam aku pulang, tapi karena jet lag aku tertidur dan baru bangun tadi siang," jelas Nesa.
"Capek gak?"
"Capek, capek nahan rindu sama si kutub manja," jawab Nesa sambil mengecup kening Rey.
"I miss you too,"
Keduanya mengeratkan pelukan untuk melepaskan rindu yang mengumpul selama berhari-hari tidak bertemu, Nesa yang harus mengikuti bosnya pergi karena memang sudah menjadi kewajibannya dalam mengemban tugas perusahaan, beruntung Rey sangat sabar dan mengerti bagaimana kondisi hubungan mereka, tidak ada pertengkaran serius, jika ada sesuatu yang mengganjal mereka selalu membicarakan berdua atau melibatkan Fara untuk membantu berfikir.
"Tetaplah disiku sayang, apapun yang terjadi nanti, karena firasatku akan ada susuatu nanti yang akan menjadi badai dalam hubungan kita," ucap Rey yang tiba-tiba sendu.
Nesa tersenyum, lalu mendongakkan kepala Rey agar menghadapnya, menatap tepat pada manik mata gadis tomboy itu seolah memberikan keyakinan bahwa dia tidak akan pergi dari sisinya apapun yang terjadi.
"Papamu, akan memaksamu untuk mengendalikan perusahaan apapun caranya," ucap Nesa.
"Jika semua itu terjadi, aku akan menghubungi orang itu untuk membantuku," jelas Rey.
Nesa tersenyum, dia sungguh tak menyangka jika dia bisa jatuh cinta pada Rey yang umurnya terpaut jauh darinya namun memiliki pemikiran yang sangat dewasa juga penuh dengan persiapan di setiap langkah yang dia buat.
"Love you Vanessa,"
"Love you too Reynata,"
****
__ADS_1