
Rey keluar dari ruang pelatihan dengan beberapa bagian wajahnya sedikit lebam, bahkan ada luka sobek di sudut bibir yang darahnya mulai mengering, belum hilang rasa kesalnya dia di kejutkan oleh kedatangan seseorang yang sangat tidak di harapkan kehadirannya.
"Hai Rey," sapa gadis itu ramah.
Rey tidak menjawab hanya menatap gadis yang berdiri dihadapannya dengan senyuman manis menghiasi wajahnya, lalu pergi melewati tubuh gadis itu.
Dan gadis itu yang ternyata Nadine tak menyerah dia mengikuti Rey dari belakang, ketika Rey memasuki mobilnya Nadine pun ikut masuk dan duduk di kursi penumpang, Rey hanya membiarkan jika mengusirnya pun percuma dan ini masih di area rumahnya.
"Wajahmu kenapa? kok lebam," tanya Nadine penuh dengan rasa khawatir.
Rey tak menjawab, dia berusaha dengan kuat untuk tak mengeluarkan kata-kata yang bisa menyakiti hati gadis itu, meski dia sangat ingin tapi dia menahannya.
Sesampainya di cafe, Rey langsung masuk meninggalkan Nadine di belakangnya yang terus mengikuti kemanapun Rey melangkah. Fara yang melihat itu hanya mendengus kesal lalu pandangannya menyipit melihat wajah Rey yang lebam, diapun segera mendekati sahabat karibnya itu.
"Again?" tanya Fara pada Rey yang sangat dia tahu jawabannya apa.
Rey berjalan menuju salah satu meja yang kosong di sudut ruangan tak jauh dari meja kasir dimana Neva berada, keadaan cafe yang tak seberapa ramai membuat Rey dengan leluasa duduk dimana dia mau.
Fara langsung mencari kotak P3K dan handuk kecil bersih juga es batu, dia sangat tahu apa yang di butuhkan Rey saat ini, Nadine pun tak banyak bicara dia sedang fokus mengamati cafe milik Rey yang baru pertama kali dia kunjungi meski beberapa kali melewati cafe itu namun baru kali ini dia mampir yang lebih tepatnya mengikuti Rey.
"Sini biar aku obati," ucap Fara.
Nadine yang sadar dan ingat jika Rey sedang terluka pun tak akan membiarkan Fara mengobati Rey, Nadine berfikir jika ini adalah tugasnya bukan tugas Fara.
"Biar aku saja yang obati," pinta Nadine.
"Rey tidak akan mau tuh," balas Fara ketus.
"Aku yang obatin ya Rey?" tanya Nadine pada Rey agak memelas.
"Far, buruan, perih ini," ucap Rey yang ditujukan pada Fara.
__ADS_1
Fara tersenyum menang sambil meledek Nadine yang menunjukan wajah kesalnya karena Rey menolaknya lagi.
"Kau ini ya, bandel banget jadi orang, dikasih tahu ngeyel kek gini jadinya, gimana kalo Kak Nesa tahu, habis kau," omel Fara, dia pun sambil melirik kearah Nadine yang semakin kesal mendengar omelan Fara pada Rey.
"Jangan sampai Nesa tahu lah Far,"
"Gampang, asal yah tahu aja lah,"
"Besok sepatu logo centang di tanganmu,"
"Ah sahabat gue emang the best,"
Nadine yang hanya jadi penonton semakin kesal, Rey dan Fara mengobrol sendiri tanpa dia di beri celah untuk ikut berbicara, seolah-olah dia tidak ada di hadapan mereka berdua, pada akhirnya dia memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua, namun sebelum dia pergi, Nadine teringat tujuan awalnya menemui Rey.
"Oh ya Rey, ini buat kamu," Nadine memberikan paper bag pada Rey namun Rey tak menerimanya lalu meletakkannya dimeja.
"Dan satu hal lagi 1 minggu lagi kita akan bertunangan, aku akan mempersiapkan sebaik mungkin untukmu, aku pulang dulu ya sopirku sudah menunggu didepan,"
Fara yang tahu apa yang dirasakan oleh sahabatnya hanya bisa mengusap punggungnya, dia tidak tahu apa yang harus diucapkan, kata-kata untuk menenangkan atau menghibur tak sanggup dia keluarkan dari dalam pikirannya dan dia pikir itu tidak perlu, Rey pun tak akan membutuhkan kata-kata itu karena dia tahu sahabatnya hanya perlu sebuah tempat untuknya bersandar dan mendukung apapun yang dia putuskan nanti.
"Pemberian dia itu buatmu saja, jika tak mau buang juga tak apa,"
*****
Hari ini langit terlihat mendung bahkan rintik hujan mulai terjatuh dari langit, Rey yang tidak fokus pada pelajaran hanya melihat kearah luar menikmati pemandangan hujan yang semakin deras menghantam bumi, diam-diam Fara melirik sahabatnya lalu menghembuskan nafas beratnya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya.
Jam istirahat pun datang, Fara yang sudah lapar mengajak Rey untuk ke kantin namun sahabatnya itu tidak mau, terpaksa Fara pergi sendiri.
Nadine yang melihat kesempatan untuk berdua pun tak menyia-nyiakan waktu, dia segera beralih tempat duduk tepat di samping Rey.
"Kamu tidak istirahat?" tanya Nadine.
__ADS_1
Namun Rey tak bergeming, dia sedang asik dengan pikirannya sendiri, menikmati hujan yang masih saja membasahi bumi, seolah menangis mengerti jika salah satu penghuni bumi sedang kalut.
"Kenapa kamu selalu mengacuhkan aku Rey?" tanya Nadine dengan suara sendunya.
Namun lagi-lagi dia tak mendapat jawaban, menunggu untuk Rey menjawab segala tanyanya hanyalah harapan semu, Rey begitu tak tersentuh olehnya, namun dia tak juga mau mundur, semakin Rey mengacuhkannya semakin gencar dia mencoba untuk masuk dalam kehidupannya, sedang Rey terus membangun benteng tinggi dan tebal agar Nadine tak memasuki kehidupannya meski ada campur tangan kedua orang tua mereka namun Rey tak akan mudah di goyahkan, meski terkesan jahat namun itulah Rey yang memang sejak awal tak mau orang lain memasuki kehidupannya tanpa dia inginkan, tak terkecuali Nadine yang memang sejak awal kehadirannya tak diinginkan oleh Rey dan sejak awal kehadirannya sudah membuat Rey terluka.
Rey menghembuskan nafas beratnya lalu dia menoleh dan sedikit kaget melihat Nadine ada disampingnya, dia tidak tahu jika ada Nadine, dia terlalu larut dalam lamunannya hingga tak menyadari kehadiran orang lain disampingnya.
"Pergilah aku ingin sendiri," ucap Rey dengan nada datarnya.
Nadine mendengus kesal, dia sungguh tak dianggap, dengan rasa kesal yang memuncak dia pergi meninggalkan Rey yang kembali melamun dan berselancar dengan pikirannya sendiri.
Fara yang sudah kembali dari kantin membawakan Rey roti dan minuman dingin karena dia tahu jika sejak semalam Rey tak makan sebutir nasi pun.
"Makanlah,"
"Makasih,"
"Galau tuh butuh banyak energi jadi kamu harus banyak makan, lagian kalau kamu sakit aku juga yang bakal repot,"
Rey tersenyum, lalu memakan roti pemberian Fara, dia bersyukur mempunyai sahabat seperti Fara yang mengerti dengan dirinya tanpa banyak kata dia mendukung dan menenangkannya, tanpa kata-kata yang manis tapi menunjukan perhatiannya, dia sangat berterima kasih pada Tuhan telah menghadirkan Fara sebagai sahabat baiknya.
"Far, terima kasih ya,"
"Untuk?"
"Untuk semuanya,"
"Hah?"
Rey tersenyum lalu melanjutkan memakan rotinya.
__ADS_1
*****