
Didalam ruangan Gua raksasa. Beberapa kelompok kecil kultivator level Warrior Master, terlihat berdiri bergerombol di pintu masuk paviliun kuno dan saling bersitegang satu sama lain.
"Lu Xuan, bagaimana jika kamu memikirkan penawaran dariku! "
"Berikan bubuk kristal cahaya abadi kepada kami, dan kalian kultivator rendahan bisa pergi dengan keadaan utuh!" ucap seorang pria dewasa bertubuh besar dan berwajah garang kepada pria muda didepannya.
"Maaf Senior Gao, ketua sekte kami membutuhkan bubuk ajaib ini, dan juga kami yang menemukannya pertama kali."
"Sebagai seorang kultivator aliran netral, harusnya anda tidak bersikap memalukan seperti ini!" ucap Lu Xuan kepada senior didepannya itu.
Pelipis senior tahap akhir Warrior Master itu berkerut pertanda marah, dan ia langsung mengeluarkan aura spiritualnya yang berbentuk banteng merah besar.
"Huh!"
"Dasar bocah tidak tahu balas budi!, aku sudah berbaik hati dengan memandang gurumu dan mau melepaskan mu. Tapi tidak aku sangka kau lebih memilih membuat kedua belah sekte bermusuhan hah!" ujarnya menggebu kepada Lu Xuan.
"Saya membuat sekte bermusuhan?"
"Maaf tetua... tapi anda yang pertama kali memprovokasi kami, dengan menyuruh murid sekte Gagak Api menyerang murid dan mencoba merampas serbuk kristal cahaya."
"Kami sebagai sekte aliran terang selalu bersikap adil, dan jika pertarungan diperlukan untuk menciptakan keadilan, maka kami tidak akan mundur walau harus bertarung sampai titik darah penghabisan!" tegas Lu Xuan yang juga mengeluarkan aura spiritualnya yang berbentuk burung walet berekor perak.
"BOCAH SOMBONG!"
"Terimalah kematian mu!" ucap senior bermarga Gao itu sambil menerjang ke arah Lu Xuan. Sedangkan anggota sekte lainnya juga memulai pertempuran satu sama lain.
Didepan paviliun yang berada didalam gua raksasa tersebut. Pertempuran antara beberapa aliansi sekte aliran terang dan netral tidak terelakkan, ratusan nyawa dari berbagai anggota aliansi meregang karena memperebutkan harta didalamnya. Sedang anggota yang masih hidup tidak menyadari bahaya yang mengintai mereka dari bawah tanah.
***
Grrrrrrrrkk!
Getaran kuat dari gerombolan Beast Sapi Gurun yang sedang melintas, membuat badai pasir yang menutupi pandangan sekitaran gurun yang Zee, dan rombongan musafir tartar berkemah.
Dari arah gerombolan Beast sapi yang berlari itu, Tiga senior master yang sedang mengendarai untanya memberikan aba-aba kepada Zee dan senior lain didepan untuk segera bersiap-siap.
"Uwoooooyyy!"
"Kami sudah memancing mereka kemari! kalian cepat lakukan sesuai rencana!" ujar seorang senior master bernama Koke yang terlihat panik, karena dikejar oleh gerombolan Beast Sapi Gurun dibelakangnya.
Beberapa senior lain dan Zee saling berpandangan, dan segera membuat formasi.
"Formasi segel ini disebut penjara bintang! gunanya untuk melemahkan pergerakan musuh, sekaligus menyerang dengan kekuatan api yang meledak dari pusatnya. Hanya saja, kelemahannya adalah mantra api yang mengalir dari ujung formasi berjalan sedikit lambat mencapai ke bagian tengah-
"Maka kamu bocah... yang akan bertanggung jawab untuk membuat Beast Sapi itu tetap berada didalam segel." ucap senior berbadan kekar bernama Tugi di samping Zee.
Zee yang mengerti, segera melompat ke unta disampingnya dan segera maju kearah Beast sapi gurun yang mulai mendekat ke tengah segel itu. Tugas Zee adalah menahan pergerakan Beast sapi itu dengan serangan pencabik jiwanya, agar gerombolan Beast itu tidak keluar dari formasi sebelum mantra api mencapai pusat segel Penjara Bintang.
Formasi segel Penjara Bintang sendiri sebenarnya memiliki kemampuan untuk melemahkan pergerakan musuh, namun karena yang dijebak kali ini adalah segerombolan Beast Sapi Gurun liar, dengan kekuatannya setara warrior guru tahap akhir. Tentu membutuhkan kekuatan yang besar serta kerjasama Tim yang kompak untuk mengalahkannya.
"Bentuk formasi!" ucap sepuluh senior Master serempak, sambil memusatkan energi spiritual mereka untuk membentuk segel Penjara Bintang.
__ADS_1
Aura kebiruan ditengah gurun pasir membentuk pola layaknya bintang raksasa.
Zee yang juga sudah siap ditempat mulai memusatkan kekuatan jiwanya, yang akan ia arahkan ke kawanan Beast Sapi Gurun itu.
**Grrrrrk...
Gruuuduk**..
"Hiyaa!"
Ketiga senior yang memasuki segel, segera berpencar kearah samping mereka, untuk keluar dari formasi. Sedang puluhan kawanan Beast telah sebagian memasuki formasi tersebut.
"SEKARANG!!!"
Mendengar interupsi Senior Tugi, Zee segera melompat dari untanya mengedarkan pandangannya sejenak dan mulai melakukan serangan jiwa kepada puluhan Beast sapi itu.
"Hiaath!"
"Serangan Jiwa penghancur kesadaran!"
***NGUUNG!!
"Ooaahhh!!!
"Grooah***"
Gerombolan Beast Sapi Gurun yang ada didalam segel seperti kehilangan akal mereka . Dan sebagian mengamuk dan menyeruduk Beast Sapi yang lain.
Cahaya mantra api dari ujung formasi hampir mencapai pusatnya, Zee yang melihat itu membatalkan serangan jiwanya dan segera bergegas pergi menjauh menaiki untanya sebelum segel itu meletus...
Ledakan api spiritual dari pusat formasi penjara bintang itu, berhasil melukai dan membunuh sebagian kawasan Beast sapi gurun didalamnya. Beberapa warrior master dan guru beladiri lain yang bersiap diluar formasi, bergegas masuk kedalam segel untuk membunuh Beast yang masih hidup.
Dari segel formasi penjara bintang itu, kelompok Zee berhasil mendapatkan sekitar 43 inti beast sapi gurun, belum termasuk daging, tulang dan kulitnya yang bisa dijual kembali.
Zee mendapatkan bagian 7 inti beast sapi gurun dari kerja kerasnya, sedang sisanya akan dibagi satu rombongan. Dan malam harinya setelah mendapatkan tangkapan yang lumayan besar itu. Kelompok Zee membangun banyak tenda lalu mengadakan pesta dengan api unggun yang besar tengahnya.
Suasana malam itu begitu riuh dengan gelak tawa satu rombongan namun Zee memilih menyendiri di tendanya yang sedikit jauh disudut. Zee rupanya mendapatkan serangan balik dari keterampilan jiwanya dan memutuskan untuk menyembuhkannya dahulu.
Diketahui Zee yang beberapa waktu bersama gerombolan TarTar, memang telah meningkatkan keterampilan jiwa kesadarannya. Namun ia masih terkendala dalam memahami sebagian mantra dan efek samping dari penggunaan jurusnya itu, yang kadang setelah digunakan akan menyerang balik jiwanya. Sedangkan Chi yang harusnya memberikan arahan, bahkan sampai sekarang belum juga terbangun setelah pertempuran di gurun iblis.
***
Ditengah keramaian pesta malam itu, Putri Khulan yang tidak melihat penampakan Zee merasa khawatir dan segera mencarinya ke tenda.
Swoosh
Zee berusaha semaksimal mungkin menahan serangan jiwa itu, dengan membangkitkan energi spiritual dan mengalirkannya keseluruh jalur Meridian. Hal tersebut membuat tubuhnya basah kuyup akan keringat, sehingga ia memilih untuk melepaskan pakaian atasannya.
"Saudara Zee apa kamu baik-baik sa-...
Putri Khulan yang masuk begitu saja ke dalam tenda milik Zee, dibuat terkejut ketika melihatnya basah kuyup oleh keringat dan tanpa memakai atasan.
__ADS_1
Melihat putri yang tiba-tiba masuk membuat fokus Zee teralihkan, energi Spiritual yang ia keluarkan menjadi tidak stabil, sehingga serangan jiwanya makin tidak terkendali.
Grubak!
Zee terjatuh dari ranjang tendanya sambil merintih kesakitan. Putri Khulan yang panik ingin segera keluar memanggil senior Master Tugi, namun sebelum itu terjadi. Zee segera meraih pergelangan tangan sang putri sembari menariknya sedikit kasar ke arah pelukannya.
"Tolong aku!" ucap Zee setengah sadar sambil menatap sang putri dengan intens.
Putri Khulan yang jantungnya berdegup kencang akibat tatapan Zee yang seperti itu, meneguhkan hatinya untuk segera keluar dari tenda. Namun sayangnya, sekali lagi, Zee menariknya mengungkung kedua tangan Putri Khulan.
Dan tanpa disadari, bibir mereka berdua telah menyatu dengan sempurna di malam yang riuh karena pesta tersebut . Putri Khulan yang mencoba menahan Zee sedari tadi, nyaris saja terbawa suasana karena ciuman yang Zee berikan padanya. Namun dirinya sadar bahwa Zee saat ini tidak pada kondisi baik, atau bahkan tidak menyadari perbuatannya.
Dan karena Putri Khulan tidak mau menjalani hubungan tanpa adanya perasaan. Ia pun dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari Kungkungan Zee, sembari bangkit mengambil kursi kayu kecil didekat ranjang dan memukulkannya ke kepala Zee hingga tak sadarkan diri.
Setelah melihat Zee pingsan, Putri Khulan dengan sekuat tenaga menarik tubuhnya ke atas ranjang dan bergegas pergi dari tenda Zee, dengan keadaan mata yang sedikit sembab.
***
Begitu pagi hari tiba, Zee kembali terbangun dengan kepalanya yang lumayan pusing. Ia kemudian menormalkan energi Spiritualnya dan menyalurkan kembali keseluruhan Meridian ditubuhnya yang terasa kelelahan itu.
Tak seberapa lama Zee, keluar dari tendanya dan mencari senior Tugi untuk membahas, tentang misinya ke Gua Relik Kuno.
"Jadi kamu serius untuk pergi ke gua berbahaya itu?" tanya Senior Tugi pada Zee yang memangguk mantap.
"Haaah."
"Kalau begitu aku juga tidak bisa menahanmu , kamu sudah bilang kepada tuan putri?" lanjutnya sambil menguyah makanannya.
"Nanti aku akan segera berpamitan padanya, lagi pula sudah hampir setengah tahun aku mengikuti rombongan ini, sudah banyak pengalaman yang aku dapatkan." ucap Zee pada senior Master itu.
"Baiklah! bagaimana pun kamu sudah aku anggap anakku sendiri, aku harap setelah berpisah kamu bisa menjaga diri agar tetap selamat." pungkas senior tugi yang mau tak mau harus melepas Zee. Dan Zee yang mendengarnya hatinya sedikit bergetar dan segera memberi hormat pada senior di depannya itu.
Di gerbong kereta yang lain, Putri Khulan yang mendengar Zee akan segera melanjutkan misinya kembali, menolak untuk bertatapan muka secara langsung dengannya. Namun ia menyuruh pelayanannya memberikan keperluan perbekalan disebuah cincin ruang yang sebenarnya adalah miliknya pribadi.
Zee yang mendapat pemberian itu tak mampu menolak dan sambil menangkupkan telapak tangannya ia pamit pada putri.
Senior Tugi yang melihat gelagat aneh tuan putrinya dan cincin ruang yang diberikan kepada Zee yang sebenarnya adalah cincin pribadi Putri Khulan, mulai mengerti dan menghela nafas "Huh...aku harap bocah itu tidak membuat putri menderita." dan setelah mengucapkan itu, senior Tugi menemani Zee ke celah gunung batu tebing kura-kura, tempat pintu masuk gua Relik Kuno berada.
"Tak terasa hampir setengah tahun aku bersamamu, dan kamu adalah orang asing pertama yang membuat kami merasa nyaman." ucap Senior Tugi sambil memandang Zee.
"Didepan mu itu adalah celah Kura-kura api, ujungnya adalah pintu gua Relik Kuno tempat misterius yang legendaris. pergilah jika memang diperlukan, dan jika kamu berhasil selamat dimasa depan, kekaisaran Gurun Utara hanya berjarak 8 bulan dari sini." dan setelah mengatakan semua itu, Senior Tugi segera berbalik meninggalkan Zee, sedang Zee memberikan penghormatan terakhir pada senior itu.
"Baiklah Gua Relik Kuno aku datang." Zee segera melesat ke arah celah tersebut dan tetap meningkatkan kewaspadaannya.
'Sial setelah aku mempelajari keterampilan Jiwa Kesadaran, kultivasi aura spiritual ku malah seperti terhambat. Jika ini terus terjadi maka akan sangat buruk jika sampai bertemu musuh yang berbahaya.' batin Zee penuh kewaspadaan melewati celah itu.
Belum lama setelah memikirkan hal buruk, sebuah bongkahan batu yang lumayan besar menggelinding kearah Zee dan nyaris mengenainya.
*GLUDUK!!*
Untung saja Zee dengan sigap mengindari batu besar tersebut .
__ADS_1
'Aish! baru saja aku berpikir buruk musuh pun mulai berdatangan.' ucap Zee dalam hati sambil melihat ke atas celah tebing batu kura-kura, yang kemudian munculah kawanan Beast monyet api yang mengarah ke Zee.
"..."