
Di sebuah gurun misterius, yang dipenuhi puluhan ribu tulang belulang makhluk yang pernah melintasinya. Zee melangkah sambil sesekali menutupi wajahnya dengan kain agar terlindung dari debu pasir yang kadang menghalangi arah pandangnya.
"Hah... hah... Astaga, apakah gurun ini benar-benar tidak berujung? Dan juga bukankah aku sudah melewati tempat ini lebih dari 6 kali tadi?" gerutu Zee frustasi sambil sesekali menghela nafas karena kakinya sudah mulai pegal-pegal.
"Huh. Tahu begini aku akan lewat jalan tebing yang dulu itu saja."
Zee mengedarkan pandangannya ke sekeliling, namun tetap saja tanda-tanda akhir dari gurun misterius yang ia lewati belum juga terlihat. Sedangkan dirinya yang sudah berjalan selama hampir 3 hari, juga sudah mulai kelelahan karena terkuras staminanya.
Hari pun semakin gelap, Zee memutuskan untuk berhenti dan beristirahat pada malam itu. Ia mencari celah batu yang kemungkinan bisa ditempatinya berlindung sementara waktu, demi menghindari badai pasir yang kadang menerjangnya.
Setelah itu, Zee mulai menyilangkan kakinya sembari bersandar di sebuah batu di celah yang ditemukannya tadi, dan mulai bermeditasi.
Di dalam alam bawah sadarnya, seorang wanita cantik muncul dan mulai berjalan mendekati dirinya.
"Aku melihatmu kesulitan," ucapnya.
Mata Zee yang tadinya terpejam kini mulai terbuka, ia menatap Chi yang berjalan melayang mengitari tempatnya duduk bermeditasi. Hal itu dapat terjadi karena setelah kebangkitan roh serta penyatuan dirinya dengan pedang hitam, bisa dibilang Chi telah menjadi bagian lain dari diri Zee yang sekarang.
Zee, sebenarnya masih sedikit risih dan belum terbiasa dengan keberadaan Chi di tubuhnya. Namun, dia sadar percuma baginya menolak Chi, mengingat andai saja dia tidak menyatu dengan esensi pedang hitam waktu itu, dapat dipastikan dirinya telah mati beberapa hari yang lalu.
"Kamu sudah tiga hari tiga malam berputar-putar di sini dan masih diam saja?" Zee yang ditanya berlagak mengabaikan Chi, namun sebenarnya ia selalu mendengarkan dan memperhatikan setiap perkataannya.
"Hmm... sudahlah percuma aku menasehati bocah bodoh sepertimu."
Swuuungg!
Sebuah gulungan cahaya misterius keluar dari kening Chi dan melayang kedepan Zee.
"Ini adalah gulungan spiritual milikku, yang berisi 6 keahlian hewan suci kuno misterius yang aku pelajari."
"Tahap awal, kamu pelajarilah keterampilan jiwa kesadaran, dan cobalah sebisa mungkin memahaminya."
"Setelah kamu mengerti dasar-dasarnya, aku akan membantumu sedikit dan kamu akan keluar dari gurun ini."
Dan setelah mengatakan itu, Chi kembali menghilang dari pandangan. Sedangkan Zee mulai membuka dan memperhatikan tulisan di gulungan yang ada di hadapannya itu.
'Hmm.. gulungan cahaya ini berisi 6 jurus rahasia dari ular monster itu.'
'Tapi setelah aku lihat, cara kultivasinya sangat berbeda dengan cara yang umum dilakukan kultivator biasanya,' batin Zee sambil membaca gulungan tersebut.
'Tahap kultivasi terendah di dunia ini adalah level warrior guru dan murid, bisa dibilang level warrior ini adalah level dasar bagi para kultivator untuk memulai jalan menuju keabadian. Tahap perkembangan setiap level peningkatan dibagi menjadi 8 yaitu 1 - 3 tahap awal, 4 - 6 tahap menengah dan 7 - 8 akhir tahap pergantian gelar dan kekuatan. Tahap warrior master, raja, dan kaisar merupakan tahap level menengah dan atas. Sedangkan alam warrior roh dan para orang suci berada dalam tahap tertinggi di bawah alam warrior Immortal, yang sangat jarang kultivator yang mencapainya.'
__ADS_1
"Aku rasa perjalananku benar-benar masih panjang! Huh!" dan setelah sekian lama berpikir Zee, kembali melanjutkan membaca isi gulungan pertama dan mulai mempelajari keterampilan jiwa kesadaran.
Waktu pun berlalu begitu cepat dan hampir mendekati tengah malam, sedangkan Zee baru memahami bagian 8 dari 31 mantra di keterampilan itu.
"Keterampilan jiwa kesadaran ini memiliki 31 jenis mantra dan merupakan ilmu yang paling penting saat belajar kultivasi Dewa," ucap Zee.
"Menurut catatan ini, kesadaran seorang kultivator adalah kendali terkuat jiwanya, dalam menanggapi masalah yang rumit, bahkan dalam keadaan terdesak adalah dengan kesadaran dan mengerti inti dari energi kesadaran itu dan mengendalikannya. Apa maksudnya!?"
'Kesadaran adalah awal terbaik dalam merumuskan sesuatu, tanpa kesadaran orang yang melatih jurus hebat pun akan lebih lama dalam memahaminya,' ucap Chi yang lagi-lagi berdengung di kepala Zee.
'Dengan menyadari segala sesuatunya, baik dan buruk sebenarnya hanyalah semacam tata cara penyampaian saja, sebuah api yang tenang akan berguna untuk menghangatkan tubuh tapi juga dapat membakar hutan dan membuat kekacauan,'
'Pada dasarnya tidak ada aliran gelap ataupun terang, semuanya itu hanyalah reaksi dari kondisi yang terjadi, kami para hewan buas suci melakukan kultivasi ekstrem dengan gaya kami. Mungkin bagi manusia, itu adalah gerakan yang kejam atau menyimpang. Tapi bagi kami yang terjebak dalam kondisi yang tidak menentu, yang disebut ekstrem dalam cara berkultivasi adalah hal yang biasa dan lumrah,' lanjut Chi.
'Jika kamu mau menjadi kultivator hebat, jangan hanya melihat satu aliran yang monoton saja, tapi lihatlah keluar. Maka kamu akan menyadari bahwa dunia yang selama ini kamu tinggali hanyalah bagian kecil dari untaian debu di semesta.'
Lee yang mendengar penuturan Chi dalam batinnya, akhirnya mulai paham. Ia menyadari bahwa apa yang mungkin dia pelajari di sekte Gunung Pedang Emerald yang selalu menekankan disiplin aliran terang, telah banyak memengaruhi pikirannya. Sehingga dia hanya menganggap apa yang ada di luar dari doktrin sekte yang ia ikuti adalah aliran kejahatan.
Padahal, walaupun dari luar Sekte Gunung Pedang Emerald menyatakan diri mereka sebagai sekte aliran terang, nyatanya sekte itulah yang membasmi seluruh anggota keluarganya. Kala itu tidak ada sidang atau penentuan pendapat untuk membela klan Xiao, seluruh saksi mata mereka dibungkam. Bahkan lebih parahnya lagi, permasalahan apa yang membuat klan Xiao dari kota Gunung Pedang hingga seluruh anggotanya dihabisi, sampai kini masih menjadi sebuah misteri...
Dan itu pulalah yang menegaskan, yang terkadang disebut dengan aliran terang tidak berarti selalu berperilaku benar. Karena apa yang dilakukan Sekte Gunung Pedang Emerald saat itu, lebih mirip dengan yang biasa dilakukan oleh sekte aliran gelap.
"Pada akhirnya, semua terjadi karena hukum sebab dan akibat. Karma pun tergantung pada kondisi, baik dan jahat, terang ataupun gelap. Semua berasal dari awal yang sama," kata Zee sambil menutup matanya, dengungan aura kesadaran memenuhi inderanya.
*NGUUNGG!!!*
Cahaya keemasan terang secerah matahari memancar dari dalam tubuh Zee. Untuk pertama kalinya, dia naik level hanya dengan menyadari segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
"Sial, masih kurang!" Zee menelan hampir semua pil penambah energi yang ada di cincin ruang miliknya, yang sebenarnya bisa digunakan kultivator biasa untuk setahun penuh.
Swuuungg!
Tubuh lesu Zee dan staminanya yang terkuras, kini telah kembali dipenuhi energi keemasan yang mengalir ke seluruh otot dan titik meridian di tubuhnya. Rasa ringan dan kelegaan, serta indra yang bertambah tajam, membuat Zee merasa puas sekaligus kesal. Sebab, sumber daya yang seharusnya bisa digunakan selama setahun untuk kultivator biasa. Hanya mampu untuk mempelajari jurus dasar keterampilan jiwa kesadaran.
'Pantas saja si ular monster itu memiliki ketrampilan perusak jiwa yang begitu hebat, mempelajari keterampilan dasarnya saja bisa menguras sumber daya yang begitu banyak,' batin Zee.
*Swooshh!*
Zee merasakan tekanan segel ilusi yang kuat, tidak jauh dari tempatnya berada. "Aku rasa aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini," sambil sedikit tersenyum, Zee lekas menyudahi meditasinya dan bergegas menuju pusaran energi yang membuat ilusi tersebut.
"Oh! ternyata panji merah robek ini yang mengeluarkan ilusi hingga membuat gurun ini sulit dilewati," kata Zee. "Aku rasa aku harus menggunakan teknik pemecah kesadaran dari ular iblis tua itu untuk menghancurkan tekanannya." Zee kemudian menggunakan energi jiwanya untuk mengganggu aliran ilusi dari panji tersebut.
__ADS_1
*BAAANGG!!!*
Ledakan energi yang keluar dari panji merah aneh tersebut, membuat Zee mundur beberapa puluh langkah kebelakang. Dan dirinya baru menyadari bahwa dengan tubuh dan staminanya yang sekarang, mungkin kekuatannya sudah berada di tahap menengah warrior master saat ini.
Getaran yang kuat membuat area disekitar Zee terguncang, serta puluhan ribu kerangka hewan dan manusia yang ada disitu mulai bergerak dan melayang ke arah panji merah didepannya. Aura merah dari panji itu berkumpul dan membentuk makhluk seperti tengkorak raksasa dengan mata merah menyala serta kedua tanduk besar dikepalanya.
Aura tingkat awal kaisar dapat Zee rasakan dan hal itu membuat nafasnya begitu sesak, dan tubuhnya yang sudah terduduk tidak bisa digerakkan. Zee juga sedikit panik karena pedang hitam andalannya sudah tidak ada. Sedang ia berpikir dua kali untuk menggunakan liontin teleportasi, mengingat itu akan langsung membawanya ke suatu tempat di negeri Naga.
Aku akan membantumu mengalahkan esensi roh iblis itu. Namun, itu akan membuat energi roh milikku melemah dan setelahnya aku akan tertidur sementara waktu, kata Chi, yang mulai menguasai separuh tubuh dan kesadaran Zee. Mata kirinya berubah menghitam dan aura hitam kematian yang pekat mulai menguar dari tubuh Zee.
*GROOAAARR!!!*
Raksasa tengkorak itu meninju kearah Zee, dan membuat lubang yang cukup dalam dari pukulannya. Beruntung Zee yang sebagian dirinya telah dikuasai Chi berhasil menghindari serangan itu tepat waktu.
Melihat serangannya meleset, sang raksasa tengkorak membuka mulutnya lebar-lebar dan menghisap energi angin sekitarnya lalu melepaskannya kembali ke arah Zee. Badai angin bercampur pasir dengan tekanan kuat membuat Zee terhempas kembali beberapa belas meter kebelakang.
Melihat musuhnya yang lumayan tangguh, Chi yang mengendalikan sebagian kesadaran Zee bergegas memadatkan aura spiritual dikedua kakinya untuk melompat ke arah kepala tengkorak iblis itu. "Tengkorak bau terima seranganku ini!" ucap Chi sambil mengeluarkan energi berupa dengungan aneh yang tidak terlihat kearah monster tengkorak didepannya.
Serangan Jiwa penghancur kesadaran!!
*NGUUNGG!!!*
Serangan jiwa yang dikeluarkan Chi mampu mengguncang kesadaran roh internal iblis tengkorak itu, mengoyak dan menghancurkannya dengan perlahan. Separuh kesadaran Zee yang melihat betapa kuatnya serangan jiwa kesadaran Chi, kini baru menyadari bahwa jiwa internalnya kemungkinan berada di atas esensi roh iblis didepannya, mengingat iblis tengkorak itu memiliki aura warrior spiritual level kaisar dan Chi kemungkinan berada satu atau dua level di atasnya.
Esensi terakhir roh iblis yang tercabik diserap oleh Chi membuat bentuk tengkorak raksasanya mulai hancur berjatuhan. Panji merah robek tempat roh iblis itu bernaung diambil oleh Zee, dan saat ia memegang panji itu. Dirinya juga merasakan puluhan ribu esensi roh kemungkinan korban dari iblis itu, yang melayang bebas di langit malam.
Setelah pertempuran tersebut, Chi kehilangan cukup banyak energi spiritualnya. Hal itu membuatnya tertidur sementara waktu sambil menyerap esensi roh iblis gurun. Sedang Zee yang juga tampak kelelahan memutuskan untuk ikut beristirahat sambil menunggu staminanya pulih kembali.
Fajar menyingsing dari timur, Zee membuka matanya sesudah beristirahat cukup lama. dan setelah sedikit meregangkan otot-otot ditubuhnya, ia memutuskan kembali berlari sambil mencoba menggunakan kesadaran jiwanya, untuk merasakan aura makhluk hidup yang berada di sekitar gurun tandus itu.
Aura kehidupan yang cukup kuat bisa Zee rasakan saat sedang berlari. Dan tak berapa lama dirinya melihat sekelompok musafir lengkap dengan unta dan barang bawaannya, melintasi area perbatasan gurun tandus tak jauh dari ia berada.
'Akhirnya, aku bisa pergi dari gurun menyebalkan ini,' pikir Zee sambil berlari tergesa-gesa ke arah rombongan musafir yang baru saja ditemuinya.
Beberapa pengawal warrior master level awal yang melihat Zee dari kejauhan dengan cepat memadatkan aura spiritual mereka. Dua orang tahap warrior master menengah melesat ke arah Zee untuk menghadangnya. Mereka mengira kalau Zee adalah bandit gurun yang ingin merampok rombongan musafir yang mereka jaga.
"Hiyaa!"
*BAANGG!!*
Tangan Zee berhasil menangkis pukulan pengawal tahap awal warrior master dan membuatnya mundur belasan meter. Pengawal lain yang melihat itu dari kejauhan terkejut dan segera menyusul rekan mereka.
__ADS_1
Mereka cukup heran dan bingung, bagaimana seorang kultivator tahap awal warrior guru beladiri, mampu menahan pukulan warrior tahap master beladiri level awal hingga membuatnya terpental belasan meter jauhnya?