
Dari arah kejauhan. Zee bisa merasakan samar-samar Aura Warrior Beladiri Level Master, yang mulai mendekat dengan cepat sambil melompat kearahnya dan para Bandit Gurun itu berada...
Salah seorang Bandit Gurun yang melihat pengganggu level Master itu, lantas mengambil bom asap kecil seukuran kelereng dari saku bajunya dan melemparnya ke segala arah disekitaran tempat mereka berdiri.
*TAAR ******TAARR******!!!*
Kepulan asap yang pekat menutupi pandangan disekitar mereka.
Kesempatan ini dimanfaatkan Zee untuk segera merangkak mundur ke arah belakang. Karena ia pikirnya tidak mungkin bagi dirinya saat ini, untuk bisa melawan seorang senior ditahan Master beladiri. Apalagi dengan keadaannya yang bahkan sudah tidak sanggup untuk berjalan.
Dengan sekuat tenaga, Zee menahan rasa sakit akibat luka dari pertempurannya barusan, sambil sebisa mungkin untuk tetap tersadar . "Si- sialan! ini sakit sekali!" rintih Zee dengan lirih sambil menutupi bagian perutnya yang berdarah dengan satu tangannya yang lain.
Seorang Bandit Gurun kultivator yang sadar akan hal itu mencoba berlari ke arah Zee. Sedang rekan-rekannya yang lain mencoba sebisa mungkin menahan Warrior Master level awal itu.
Namun senior Master berciri fisik wanita bertubuh ramping, tidak membiarkan bandit gurun itu menjauh. Dengan cepat ia melompat maju ke arah bandit gurun tersebut, dan langsung menginjakkan kaki kirinya yang dialiri energi spiritual ke atas kepala bandit gurun itu.
Bandit Gurun yang mulai tahu dirinya diserang, mencoba menahan kaki senior Master itu dengan menggunakan kedua tangannya. Lalu dia mengumpulkan Aura Spiritual miliknya untuk membuat sebuah kubah Aura disekitar tubuhnya itu. Dengan harapan mampu melindungi dirinya dari serangan senior Master tersebut.
Senior Master yang melihat perlawanan si bandit sedikit mengernyit, dan kemudian menambahkan tekanan serangan yang ia pusatkan pada kaki kiri untuk menghancurkan kubah Aura.
KRAK!
Kubah Aura itupun pada akhirnya hancur, akibat tekanan Warrior Beladiri Level Master yang lumayan kuat. Dan dengan cepat senior itu berhasil menginjak kepalanya dan sekaligus membuat Bandit Gurun itu tersungkur ke tanah.
"Arrk!"
"Se- senior, kami tidak memiliki dendam ataupun bersinggungan dengan kalian."
"Jadi! kami mohon, ampuni kami!..." ujar bandit gurun kultivator itu dengan nada yang ketakutan.
Bukannya menjawab, Senior wanita itu malah menginjakkan kembali kakinya ke kepala bandit tersebut, hingga ia mengucurkan darah segar. Dan setelahnya ia mengeluarkan senjata seperti pisau berbentuk cakar panjang yang terbuat dari besi dikedua sisi lengannya.
*CRAAKK!!!*
"Aaarrkk!"
Senior Master itu dengan cepat menusukkan senjatanya ke pangkal lengan si Bandit dan mengoyaknya, hingga kedua lengan itu terputus!.
Bandit Gurun kultivator yang merintih kesakitan masih berusaha untuk kabur walau tanpa kedua lengan. dan pada akhirnya seluruh usahanya berakhir sia-sia karena kehabisan banyak darah, membuat pandangan bandit itu mengabur kemudian tergeletak dan mati.
Kedua bandit lainnya yang melihat rekan terkuat mereka tewas mengenaskan seperti itu, lebih memilih untuk melarikan diri.
Para senior-senior Master itu tidak mencoba mengejar ataupun menghalangi kedua bandit yang lari itu.
Dan Zee yang melihat semuanya menyadari bahwa yang sebenarnya mereka bertiga incar adalah dirinya. Seketika itu tubuh Zee menjadi lemas dan sejenak kehilangan keberaniannya. Hingga membuat dirinya menjadi seperti orang linglung.
Dan di tambah lagi, salah satu senior Warrior Master yang sedari tadi hanya diam melihat kedua rekannya menghabisi bandit-bandit itu. Kini menatap dengan tajam ke arah Zee, dan mulai berjalan mendekat kearahnya.
Zee yang semakin ketakutan mencoba merangkak menjauh sekuat tenaganya. Namun karena sudah cukup banyak kehilangan darah dan rasa sakit yang menggerogotinya, pada akhirnya ia memutuskan berhenti.
Hatinya mengatakan untuk jangan menyerah, akan tetapi kondisi fisiknya berkata lain. Dan dalam saat-saat terendah itu. Dia mulai pasrah kepada takdir yang membawanya.
Pikiran Zee, mulai menerawang jauh kedalam kehidupannya yang hancur dan berantakan. Dan tanpa ia sadari setetes air keluar dan mengalir dari sudut matanya.
Pada dasarnya, Zee bisa dikatakan sebagai salah satu jenius muda karena berhasil mencapai aura Level Guru diusianya yang baru empat belasan tahunan itu. Namun kelemahan terbesar pada dirinya adalah. Zee tidak memiliki teknik pertahanan diri khusus dan serangan yang mumpuni.
Hal itu terjadi karena ia telah dikeluarkan dari akademi junior beladiri Sekte Gunung Pedang Emerald, saat usianya baru menginjak sekitar sebelas tahunan. Dan selama beberapa tahun terakhir, ia hanya mendapatkan pelajaran dari salah satu mantan pengawal berpangkat rendah yang membantunya melarikan diri dari kejaran orang-orang dari mantan sektenya itu.
Yang memenuhi benaknya Zee kala itu hanyalah kematian dan dihantui rasa penyesalan. Baik penyesalan akan sumpahnya yang ingin membalaskan dendam untuk kedua orangtuanya. Juga pula pada Jean, gadis muda yang selama ini dengan tulus membantunya.
****
Ingatan Zee kembali ke musim panas disebuah taman yang indah sekitar sembilan tahun yang lalu.
Disana, dirinya ditemani oleh paman Xu. Pengawal pribadi milik Ayahnya Zee... yang ketika itu ditugaskan untuk menjaga Zee serta ibunya, yang saat itu sedang berada di istana musim panas demi untuk menikmati pemandangan gugurnya pohon bunga persik emerald, pada saat musim semi terakhir pada bulan itu.
__ADS_1
'Tuan muda'
'Jangan terlalu jauh saat berlari, jika anda jatuh dan terluka maka kami yang akan disalahkan oleh yang mulia Marquis.' ujar paman Xu yang sedari tadi mengikuti Zee dibelakangnya.
'Paman Xu lihat! , aku menangkap serangga yang terlihat bagus sekali!' tukas Zee dengan riang, sambil memperlihatkan serangga liar tangkapannya itu .
Pengawal Xu yang melihatnya pun melotot!, dan langsung mengambil serangga itu dari genggaman Zee, melempar serta menginjaknya sampai hancur dihadapan Tuan Mudanya itu.
Melihat kebrutalan pengawalnya, Zee terkejut dan berlari sambil menangis kearah ibunya yang sedang menyiapkan makan siang bersama para dayang.
'Ibu, Ibu... paman Xu jahat!, dia.. dia hiks! membunuh serangga yang mau ku peliharaa... Huwaaa ha' ucap Zee sambil tersengal-sengal pada ibunya.
Ibu Zee yang mendengar itu kemudian melihat sekilas ke arah Pengawal Xu.
'Cup,cup sudah diam, nanti biar ibu marahi Paman Xu mu itu.
'Perwira Xu kenapa kamu membunuh serangga peliharaannya Zee?' tanya ibu Zee, yang dijawab dengan senyuman kikuk dari Xu. Karena sebenarnya yang Zee ingin pelihara adalah seekor lipan laba-laba yang memang warnanya cemerlang dan terlihat sangat menggoda.
Tak Tak!
Rombongan berkuda memasuki kompleks Istana Musim Panas...
Pengawal Xu, dan yang lainnya menundukkan kepala mereka dengan hormat. Ketika seorang pria berpakaian bangsawan yang terlihat begitu berwibawa, berjalan memasuki istana musim panas sambil membawa anak laki-laki kecil didekatnya .
'Ayahhh!... Eh' Chen Chen kamu juga kemari?' tukas Zee melihat sepupu jauhnya datang bersama ayahnya.
'Yah..! aku sedikit bosan dikota, kamu sendiri kenapa tidak mengunjungi aku dalam seminggu ini?!' cecar Chen pada Zee yang hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal, sambil mengajak Chen bermain dihalaman belakang sedang ayahnya Zee pergi mencari ibunya.
Pada saat itu, Zee berpikir bahwa kehidupannya kedepan akan selalu sebahagia pada hari itu.
Enam tahun kemudian...
Namun semua itu berubah pada suatu malam, Ayahnya Zee tiba-tiba dipanggil mendadak ke kota. Zee yang kala itu terbangun karena mendengar keributan, mencoba mengintip dari balik jendela kamarnya. Ia bisa melihat Ayahnya sedang berbicara dengan ibunya Zee dengan ekspresi cemas dan sedikit tergesa, sedang Ibu Zee yang diajak bicara terlihat sedang menangis sambil menutupi mulutnya menggunakan kedua tangannya.
Dan tiga hari setelah kejadian itu...
Tak Tak!
Kereta kuda itu bergerak cukup kencang melewati hutan-hutan yang berada disekitar lereng tersebut.
Tak Tak
*Shooth... Shooth!!!...
'Iiiaahahhah!'
*BUK!*
Puluhan anak panah yang berasal dari dalam hutan itu pun mengenai kuda dan kusirnya, dan membuatnya terjungkal. Sehingga kereta yang ditumpangi Zee terpental dan terguling beberapa kali dan membuat Zee dan Ibunya, yang berada didalam terluka cukup parah.
****Shooth...
*Shooothh! Shooth***!!*
Tak hanya itu panah-panah lain juga kembali melesat kearah kereta.
Ibunya Zee yang melihatnya dengan cepat melindungi Zee dengan menggunakan tubuhnya sebagai tameng agar panah-panah itu tidak melukainya.
'Aaaarh!'
Ibuuu!... teriak Zee sambil memandangi ibunya yang masih saja bisa tersenyum, walaupun belasan anak panah menancap ditubuhnya.
'Hiks...Hiks! Ibu ...'
'Zee dengarkan ibu!, jika malam ini kamu bisa selamat, berjanjilah pada ibu untuk terus tetap hidup. Kamu jangan memikirkan untuk balas dendam, atau apapun itu. Karena bagi Ibu, melihat kamu tumbuh dewasa adalah impian yang mungkin tak bisa ibu wujudkan saat ini.' Ucapnya kepada Zee sambil berlinang air mata.
__ADS_1
Para pembunuh kemudian keluarga dari semak hutan tersebut, dan sebagian lagi mendekat ke arah kereta yang terguling itu.
Seorang pembunuh maju untuk memeriksa kereta dan melihat kedalamnya. Ia bisa melihat seorang wanita muda berparas cantik dengan penuh anak panah yang tertancap ditubuhnya, meringkuk sembari berusaha melindungi anaknya.
'Pendekar mohon beri belas kasihan,' lirih ibu Zee yang sudah dalam keadaan sekarat itu.
Beberapa pembunuh sebenarnya iba melihat semua itu, namun mereka adalah pembunuh yang terus dituntut untuk tetap profesional dalam pekerjaan mereka. Satu pembunuh dari belakang menarik pedangnya dan mendekat maju kearah Zee dan ibunya.
'Kau minggir lah, biar aku sudahi penderitaan ibu dan anak ini' salah seorang pembunuh itu mengambil ancang-ancang untuk memenggal kepala ibu dan anaknya.
*******Swoosh******!*
'Aarrk!'
Sebuah tombak panjang menusuk dan menembus leher pembunuh itu.
Dan dari kejauhan datanglah beberapa orang berkuda menyerang mereka.
'Hyaatt!'
'Matilah kalian!'
*CLANGG...
'Tuan muda cepat raih tanganku!, kita harus segera melarikan diri dari sini!' ujar pengawal Xu sambil menarik paksa Zee dari pelukan ibunya.
'Tap.. tapi paman Xu ibu...
'Nyonya sudah meninggal!' potong pengawal Xu sembari mempererat Zee dalam pelukannya. 'Ingatlah hari sebagai hari kematian kedua orang tua anda, dan para orang rendahan yang mengorbankan diri mereka untuk menyelamatkan Tuan Muda!'
Dan setelah itu, kuda mereka berlari menerobos para musuh didepan, sedang pengawal yg lainnya mencoba menahan gerombolan pembunuh dan akhirnya memilih untuk mati melindungi tuan kecil mereka.
Dan setelah beberapa tahun. Zee tumbuh besar dan hidup nomaden bersama Paman Xu, hingga suatu ketika pamannya itu meninggal karena sakit parah akibat luka yang dia terima saat menjalani misi yang dia ambil. Dan Zee yang sekarang sendirian, mencoba bertahan hidup sebagai Kultivator bebas yang mengambil misi di kota-kota kecil yang dilewatinya.
****
"Hiks! sial aku tidak ingin mati!"
"Aku belum membalas dendam orang tuaku!"
"Tidak... Tidaaaakk!" sesal Zee yang mendalam dihatinya.
*NGUUNG!!*
Kamu tidak akan mati!
Suara aneh yang entah dari mana itu kembali muncul disaat ketakutan dan keputusasaan Zee menghantui dirinya.
Dan tiba-tiba Aura hitam pekat menguar dari dalam tubuh Zee dan juga membuat kedua bola matanya menghitam secara misterius.
Aku akan membuatmu, menjadi yang tidak terkalahkan bersamaku! setelah suara itu berhenti terdengar. Zee entah bagaimana kemudian melayang dan Aura hitam pekat itu menjadi semakin kuat menciptakan sebuah kubah Aura yang mengelilinginya.
Pedang Pusaka milik Zee yang tadi tergeletak pun akhirnya bereaksi. Pedang hitam itu dengan segera melayang kedepan dan seketika aura hitam misterius menguar darinya kemudian menyelimuti tubuh Zee. Sekaligus menyatu dengan dirinya.
"Aaaaarkkkk"
Penyatuan pedang pusaka dengan tubuh Zee, menyebabkan rasa sakit yang luar biasa sangat menyakitkan, dan belum pernah Zee rasakan sebelumnya.
*WUUNGG!!*
Aura yang tertarik menyebabkan korosi pada tempat di sekitarnya.
"Astaga apa-apaan yang sebenarnya terjadi pada anak itu?!" tukas salah satu senior Master yang melihat semuanya itu dan...
*BAANGG!!!*
__ADS_1
Badai Aura keluar dari tubuh Xiao Ze membuat seluruh yang disekitar terpental!, tidak terkecuali ketiga Master yang dengan susah payah menahan badai Aura yang mengerikan itu.