
Dipagi hari yang tenang di kota kayu. Penduduk kota tersebut tengah dihebohkan dengan kedatangan banyaknya Kultivator tahap menengah dan akhir warrior guru, serta beberapa warrior tahap awal master beladiri.
Mereka datang dengan berkelompok-kelompok mewakili sekte mereka, dan berjalan beramai menuju ke pusat kota kecil itu. Rombongan kultivator tersebut tidak hanya berasal dari aliran terang saja, namun juga ada beberapa kelompok yang berasal dari aliran gelap dan netral. Sebagian dari mereka juga memenuhi tempat minum, dan jalanan kota tempat keluarga Jean tinggal itu.
Xiang Shing, yang merupakan walikota sekaligus senior ke-4 dari Sekte Bulan Biru, juga sedikit terkejut dengan kedatangan para kultivator yang tidak biasa ini. Dirinya langsung bergegas pergi ke balai kota, serta ditemani beberapa orang pengawalnya. "Oh! pengawal Su, tolong kamu cari Qian Er ke bukit pelatihan sebelah dan suruh dia pergi ke sekte secepatnya, jika dia bertanya mengapa, bilang saja ada sedikit masalah dikota." ucap Xiang Shing kepada pengawalnya yang juga segera bergegas pergi ke bukit pelatihan tempat putrinya berada.
*CTAAARR!!!*
*DUAK!!*
Suara keras senjata cambuk menghantam sebuah batu besar hingga terbelah menjadi beberapa bagian.
"Laki-laki brengsek!, beraninya dia mengusirku seperti itu. Awas saja nanti aku akan membuatmu bertekuk lutut!." geram Jean sambil sesekali melepaskan kekesalannya dengan cara menghancurkan batu.
Tap Tap!
Pandangan Jean teralihkan dengan kedatangan sesosok pria muda berwajah tampan bertubuh tinggi tegap, dengan pakaian sutra emas bercorak matahari sebagai hiasan dan kipas digenggamannya. Dialah Li Aiguo, anak dari Marquis kota cahaya sekaligus tuan muda dari Sekte Matahari, tengah berjalan kearahnya ditemani beberapa pemuda lain dari sektenya.
"Ahh... aku sama sekali tidak menyangka dikota kecil seperti ini, masih ada gadis secantik nona jika boleh tahu siapakah nama dari nona ini?" tanya Li Aiguo pada Jean yang sedari tadi hanya menatapnya dengan tatapan tidak suka. Tentu saja Jean tahu siapa laki-laki muda didepannya itu, yang merupakan cucu dari pemimpin Sekte Matahari Li Hongli, yang merupakan warrior raja beladiri tahap akhir. Dan dia juga terkenal sebagai tuan muda yang suka bermain-main dengan wanita muda.
Jean mengabaikannya dan kembali berlatih. Sedangkan Aiguo yang merasa dipermainkan, sedikit mengeryitkan dahinya serta menatap Jean penuh nafsu dan sedikit emosi.
'Huh! wanita sialan tidak tahu diuntung!, kamu akan membayar mahal untuk penghinaan ini.' batin Aiguo sambil menoleh ke rekan-rekan murid sektenya.
"Kalian tangkap dan telanjangi dia!, aku akan buktikan pada nona ini, bahwa tidak ada yang bisa menolak keinginan dari tuan muda sekte Matahari." setelah mengatakan itu beberapa rekan pemudanya mendekati Jean dan berusaha menangkapnya.
"Ingin menangkap ku?, jangan bermimpi...!" Jean kemudian mengaliri cambuknya dengan aura spiritual dan langsung menghempaskan cambuk itu, kearah beberapa pemuda yang mencoba mendekatinya.
*CTAAARR!!!*
Tiga dari enam pemuda tahap awal guru beladiri itu terhempas sejauh empat meter setelah mendapat serangan dari Jean. beruntung karena setelah diusir oleh Zee, Jean menjadi sangat rajin latihan hingga dia sudah berada ditahap awal warrior beladiri level 2. Namun tanpa Jean sadari Aiguo sudah berada tepat di belakangnya.
"Nona manis diamlah sejenak aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu..." ucap Aiguo tepat di samping telinga Jean.
Jean yang terkejut mecoba melompat menghindar, namun satu lengannya berhasil ditangkap oleh Aiguo. Pertempuran jarak dekat pun tak terhindarkan, Jean dan Aiguo bertukar beberapa pukulan.
Namun Aiguo yang licik, mengeluarkan sebuah jarum dari ujung lengan jubahnya dan diam-diam melemparnya kearah Jean. Jarum tersebut melesat dan berhasil menusuk bagian pinggang Jean tanpa ia sadari.
Dan setelah beberapa waktu Jean merasa kelelahan dan energinya seakan sangat cepat terkuras. Sadar ada hal yang tidak beres ia segera melompat mundur beberapa langkah dari Aiguo.
"Bajingan! apa yang kamu lakukan padaku." tuduh Jean dengan tatapan tajam kepada Aiguo, sedang yang ditatap hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.
"Cup cup cuu... nona manis tidak boleh menuduh sembarangan, tapi tak apa aku suka gadis muda yang liar sepertimu. Hal itu membuat adrenalinku bertambah dan membuatku semakin bergairah!." ucap Aiguo dengan seringaiannya dan melesat kearah Jean.
__ADS_1
*Sraazh!*
Sebuah pisau dengan aliran aura spiritual dengan cepat nyaris saja mengenai kepala Aiguo, dan membuat wajah tampannya tergores. Aiguo yang menyadari itu tiba-tiba emosinya memuncak.
"BAJINGAN SIALAN!"
"Siapa yang berani melukai tuan muda sekte Matahari!?," ucapnya dipenuhi emosi.
"Kau yang seharusnya tahu diri! beraninya ingin melecehkan putri tuan kota kayu." sahut tak kalah sarkas dari pengawal Su yang tiba tepat waktu sebelum Jean tertangkap oleh Aiguo.
"Oh jadi gadis ****** ini, adalah anak dari walikota kota kayu?, baguslah kalau begitu kami tidak perlu mencarinya lagi. Kalian semua habisi pengawal itu! aku akan menangkap gadis liar ini dan memberikannya kepada kakek." setelah mendapatkan perintah dari tuan muda mereka, beberapa murid level warrior guru yang sedari tadi menonton, kini mulai menyerang ke pengawal Su.
"Huh, kultivator tahap awal guru beladiri mau melawanku yang sudah berada ditahap warrior Master menengah akhir? cari mati!" pengawal Su kemudian mengeluarkan aura spiritualnya yang berbentuk serigala besar berwarna biru raksasa, dan dengan cepat melompat kearah murid-murid sekte Matahari.
*BAAANGG!!!*
Serangan pengawal Su mampu membuat seluruh murid tahap awal warrior guru itu, terpental hingga beberapa meter dan membuat mereka terluka cukup serius.
Melihat itu, wajah Aiguo menjadi memucat. Dirinya menyadari ada jarak kekuatan yang sangat jauh antara warrior guru dengan warrior master. Melihat lawannya yang adalah Master tingkat akhir, membuat nyali Aiguo menciut dan ia berusaha untuk melarikan diri.
"Hehe."
Melihat lawannya yang ingin kabur, pengawal Su hendak mengejarnya dan nyaris saja ia berhasil menangkap tuan muda sekte Matahari itu. Namun sayang sebuah tekanan aura yang lumayan kuat membombardir dirinya hingga membuatnya jatuh tersungkur ke tanah.
"Guru!, Kakek! syukurlah kalian datang tepat waktu." Aiguo yang melihat dua orang warrior raja tahap akhir yang berada tidak jauh darinya, langsung mengenali bahwa itu adalah kakek dan guru perempuannya yang juga merupakan senior tetua dari sekte Matahari.
"Warrior master beladiri tahap akhir berani melukai murid kesayangan ku? MATILAH SAJA!" Sebuah aura pedang api keluar dari jari tetua warrior raja itu dan melesat ke arah pengawal Su. Pengawal tingkat master beladiri tersebut mengeluarkan aura seperti kubah bulan biru untuk menahan aura api didepannya.
Pengawal Su yang juga kesusahan bergerak akibat perbedaan kekuatan yang mereka miliki. Mencoba menahan sekuat tenaga serangan musuhnya yang merupakan warrior raja. Jean yang semakin lemah dan mulai terduduk, hanya bisa melihat pengawal su yang berjuang mati-matian menahan serangan tetua sekte Matahari itu.
"Masih bisa bertahan? lumayan." ketua sekte Matahari itu kemudian mengangkat satu lengannya dan mengeluarkan serangannya yang berupa bola api raksasa serta melemparnya kearah pengawal Su. Dikarenakan perbandingan kekuatan yang sangat jauh, pengawal yang malang itu pada akhirnya tidak mampu menahan serangan ketua sekte Matahari, dan mati dengan cara terbakar api.
"Hmm jadi ini gadis yang bersama bocah Xiao itu," ucap tetua wanita dengan jubah berwarna biru tua bersimbol matahari yang dipanggil guru oleh Aiguo, sambil meneliti gadis yang sudah tidak sadarkan diri didepannya. "Bawa dia ke sekte, aku yakin dia mengetahui informasi dari bocah Xiao yang dicari-cari itu." lanjutnya lagi sambil menyuruh anak buahnya membawa Jean dan meninggalkan tempat tersebut.
Disebuah belukar seorang pria gendut yang menyaksikan semuanya dari kejauhan, dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Berusaha sebisa mungkin menahan diri agar tidak bergerak sebelum orang-orang Sekte Matahari benar-benar pergi. Dan setelah mereka cukup jauh barulah dia berlari sekuat tenaga pergi dari tempat itu.
Tetua wanita tersenyum dari balik cadarnya, sebenarnya ia mengetahui adanya aura guru tahap awal disekitar mereka berdiri, namun dia memilih untuk diam dan melanjutkan perjalanannya.
****
Sementara itu disebuah gurun, Zee masih bersitegang dengan 4 warrior master tahap awal yang sedang mengepungnya disana.
"Senior! aku mohon berhenti, ini semua adalah kesalahpahaman." tegas Zee pada keempat senior Master beladiri itu, berharap mereka mau mendengarkan penjelasannya.
__ADS_1
"Kesalahpahaman?, hei bocah apa kamu pikir kami bodoh mau mempercayai bandit gurun seperti kamu?" ucap salah seorang senior Master itu. "Katakan pada kami dimana teman-teman mu!?" sambil melirik ke arah rekan-rekannya, para senior Master sebenarnya sedang membuat formasi segel agar Zee tidak bisa kabur. Cahaya samar kebiruan membentuk seperti diagram dengan pola simbol seperti layaknya bintang, dan aura itu mencoba menyegel gerakan Zee.
Akan tetapi Zee yang bisa melihat pergerakan mereka, dan sedikitnya juga mengerti tentang formasi itu. Segera melesat ke salah satu senior Master dan menyerangnya.
Senior yang diserang tiba-tiba, tentunya terkejut dengan hal itu. Sedang Zee yang sudah berhasil melumpuhkan pergerakannya, mengambil belati dan mengarahkannya ke arah leher senior Master itu. Zee yang ada dibelakang senior tersebut juga tak sengaja mengeluarkan sedikit hawa pembunuh dari Chi, senior yang merasakan hawa pembunuh itu hatinya terasa dicabik-cabik dan pikirannya dipenuhi dengan ratusan ribu makhluk yang menjerit. Dan tanpa terasa tubuhnya melemas disertai keringat dingin membasahi tubuhnya sampai kuyup.
Ketiga senior warrior master yang melihat itu makin terheran, sebab tidak hanya bisa terlepas dari segel yang mereka buat. Bahkan bocah dengan aura warrior guru tahap awal itu telah berhasil menyandra rekannya hingga gemetar ketakutan.
Melihat semuanya itu, Seorang wanita muda berpakaian mewah, memakai caping dan cadar diwajahnya, melangkah keluar dari kereta yang ia tumpangi dan mendekat ke arah Zee. sedang pengawal lain yang ada dibelakangnya merasa was-was dan meminta nonanya untuk kembali ke kereta walaupun hasilnya adalah wanita itu tidak perduli.
Merasa didatangi Zee, menatap wanita tersebut.
"Tuan pendekar muda... hamba mohon lepaskan pengawal hamba, beliau sudah sangat bekerja keras menjaga nona ini, dan nona muda ini bersumpah jika tuan muda mau berbelas kasih. Tuan muda boleh mengambil seluruh emas yang kami miliki." tutur gadis bercadar tersebut kepada Zee dengan bersungguh-sungguh.
"Nona jangan! kami walaupun hanyalah seorang pengawal rendahan, rela mati demi nona!" ucap pengawal yang sebenarnya sudah sangat ketakutan disamping Zee.
Sedang Zee yang melihat keberanian nona muda didepannya, juga kesetiaan para pengawal yang rela mati demi menjaga tuannya itu. Kembali teringat akan kesetiaan pengawal Chu dan keberanian ibunya, demi melindungi dirinya saat dikejar pembunuh bayaran.
Zee kemudian melepaskan senior Master tersebut dan memperkenalkan diri kepada nona itu.
"Nona sudah aku bilang ini hanyalah salah paham. Aku sebenarnya hanya ingin menumpang dikereta kalian dan membeli beberapa perbekalan saja," ujar Zee sambil melirik para pengawal yang menatapnya.
"Jadi kamu bukan bandit gurun?, lalu untuk apa kamu berlari mengejar kami digurun seperti ini!?." tanya senior Master yang ada didekatnya yang masih curiga.
Zee yang ditanya hanya menghela nafas, dan kemudian mulai menceritakan apa yang ia lalui sampai ia bertemu rombongan musafir yang mereka jaga. Dan walaupun beberapa dari mereka masih menaruh curiga pada Zee, tapi penjelasan Zee cukup masuk akal, walaupun mereka masih bingung bagaimana Lee bisa keluar dari gurun iblis yang sangat berbahaya.
"Jadi kamu adalah anak yang bermarga Xiao itu. Kami harap perkataanmu benar, tapi aku pikir setelah kamu berhasil mendapatkan Lotus Api lebih baik segera pergi sejauh mungkin dan jangan pernah kembali ke kota tebing kapur." ucap salah satu senior Master yang mengetahui beberapa informasi mengenai Zee sebelum mereka berangkat.
"Jadi sudah sampai seburuk itukah?" tanya Zee sambil tersenyum kepada senior yang sedang duduk didepannya.
"Ada yang lebih buruk dari itu, awal kamu ditetapkan sebagai buronan oleh Marquis kota gunung pedang sudah sangat menggemparkan berbagai sekte aliran hitam dan para pembunuh kultivator,"
"Namun informasi yang aku dengar sebelum kami pergi dari kota itu adalah, barang siapa yang bisa membawamu baik hidup atau mati, Sekte Pedang Emerald akan melindungi sekte dari kultivator yang berhasil membunuhmu selama 20 tahun. Bahkan hadiah intinya, ketua sekte yang sektenya berhasil membunuhmu akan menjadi Marquis disalah satu kota milik sekte Gunung Pedang Emerald." lanjut senior Master tersebut.
"Awalnya aku berpikir mereka bodoh saat memberikan hadiah besar hanya untuk membunuh kultivator tahap warrior guru seperti mu. Namun setelah apa yang kami lihat dan yang kamu lakukan kepada rekan kami, aku sudah tidak mau berkata-kata lagi." ucap senior Master itu yang sebenarnya juga lumayan kagum dengan Zee.
Zee yang mendengar semuanya hanya tersenyum sambil menatap langit malam itu, ia tidak menyangka betapa sekarang dirinya begitu terkenal dikalangan kultivator, bahkan sampai hadiah yang begitu besar akan diberikan hanya untuk membunuhnya.
Dan dimalam itu, dalam kehangatan api unggun Zee banyak mendapatkan informasi, bahkan cerita yang menarik dari para senior Master yang menemaninya.
Mereka ternyata berasal dari negeri Gurun Utara, dan walaupun suka berpergian jauh untuk berdagang. Mereka memilih untuk tidak terlibat dalam konflik politik wilayah setempat yang mereka datangi. mereka hanya ingin fokus berdagang dan kembali dengan kaya raya ke negri mereka.
Wanita muda bercadar yang mereka jaga, sebenarnya adalah seorang putri dari pangeran ke-7 orang Tar Tar yang memaksa untuk ikut berdagang demi mendapatkan pengalaman.
__ADS_1
Malam itu walaupun mungkin hanya sesaat, Zee benar-benar seperti telah kembali merasakan kehangatan dari keluarga. Orang tartar memang terkenal agak barbar dalam menyikapi sesuatu, bahkan tidak jarang mereka membahas hal yang fulgar. Namun dari kesemuanya itu Zee benar-benar bisa merasakan tawa dengan lepas bersama mereka.