Jiwa Malaikat & Iblis

Jiwa Malaikat & Iblis
Bab 11 - Gua Relik Kuno.


__ADS_3

"Kraaakk!!"


Suara kawanan Beast Monyet Api yang turun dari atas tebing, segera berjalan bergerombol ke tempat Zee berada. Bahkan beberapa dari Beast monyet itu, juga mengambil batu dan melempar ke arahnya.


Monyet Api memang hanya sekuat tingkat akhir junior murid. Namun mengalahkan mereka yang jumlahnya mencapai ratusan ekor, untuk seorang tahap awal warrior guru tentu bukanlah hal yang mudah.


Beast tersebut memiliki tubuh sebesar pria dewasa, dengan seluruh bulunya yang merupakan api yang menyala. Beast jenis ini biasanya hanya tinggal didekat kawah gunung atau tempat-tempat dengan suhu panas yang ekstrim.


"Kraakk!"


Zee cukup kewalahan menghadapi kawanan Beast Monyet itu. Mengingat dia tidak bisa terlalu sering menggunakan keterampilan serangan jiwa. Ditambah lagi kemampuan aura spiritualnya entah kenapa malah melemah beberapa waktu terakhir.


"Dasar monyet sialan! jika seperti ini, energi spiritual ku akan cepat terkuras." gumam Zee sambil melihat sekeliling, berharap dia menemukan celah dari kawanan itu agar bisa melarikan diri.


Namun kawanan Monyet Api yang jumlahnya ratusan itu, memblokir sebagian besar wilayah tebing yang mengarah ke Gua Relik didepannya.


*CLANG!*


Zee yang telah menebas puluhan ekor Beast, aura spiritualnya semakin terkuras. Dan karena merasa tidak ada jalan lain, ia hendak menggunakan sisa energinya, untuk melakukan serangan jiwanya ke kawanan Monyet Api itu. Berharap mereka menggila sejenak dan memberikan cela pada Zee untuk lewat.


Namun Zee juga cukup dilema, sebab efek samping penggunaan jurus serangan jiwa sangatlah fatal dan berbahaya bagi dirinya saat ini. Apalagi beberapa hari lalu dirinya merasa kan serangan jiwa berbalik padanya sampai membuatnya pingsan sampai pagi.


'Aish sial! jika begini terus aku juga hanya akan mati dimakan monyet-monyet itu!, aku rasa aku harus sekali lagi mengambil resiko.' pikir Zee sambil memejamkan mata dan memilih menggunakan jurus berbahaya itu lagi.


****SWUUUNGG!*


*Shooth... Shooth****


Ratusan anak panah spiritual berjatuhan ke tebing, tempat Zee dan para Monyet Api itu sedang bertarung.


"***Krakkk!!"


"Kraakkkk***!!"


"Habisi monyet-monyet sialan yang menghalangi jalan kita!" teriak seorang ketua warrior master bersama ke-empat regu warrior guru diatas kendaraan spiritualnya yang melayang diatas pintu masuk Gua Relik Kuno.


Panah-panah yang dialiri energi spiritual, menembus tubuh ratusan Beast Monyet Api dibawah mereka. Bahkan Zee harus bersembunyi ke balik bebatuan untuk menyelamatkan diri.


Melihat lawan yang cukup kuat, kawanan Beast Monyet Api itu akhirnya memilih berlari mundur ke gua - gua batu, yang berada disekitar celah tebing tersebut.


Setelah beberapa waktu, wahana spiritual berbentuk kapal layar ber-Aura spiritual itu. Mendarat tepat di mulut Gua, dan turunlah ketua warrior master beserta ke-empat regu warrior guru tahap akhir yang mengiringinya.


Terlihat dari pakaian mereka yang mengenakan rompi perang, jelas bagi Zee bahwa itu adalah prajurit kerajaan. Namun yang membuatnya bertanya-tanya adalah, untuk apa mereka ke Gua Relik Kuno.


***


Melihat para prajurit memasuki Gua, Zee keluar dari persembunyian dan segera menelan beberapa pil penambah tenaga, guna mengembalikan staminanya yang terkuras. Setelah menunggu beberapa saat Zee, memutuskan untuk mengikuti jejak rombongan prajurit itu diam-diam.


Sesampainya didepan mulut Gua Relik Kuno yang begitu besar. Zee dapat merasakan aura spiritual ilusi yang cukup kuat dan mengganggu kesadarannya. 'Aku rasa setiap inci dari Gua ini memiliki larangan tak terlihat dan misterius, kelihatannya aku harus lebih berhati-hati lagi' ucap Zee dalam hati dan terus menyusuri mulut Gua Raksasa tersebut.

__ADS_1


Setelah beberapa ratus meter berjalan, Zee melihat penampakan yang akan membuat semua orang yang pernah melihatnya merasa takjub.


Didalam aula Gua raksasa itu terdapat sungai lava bawah tanah yang mengalir ke suatu tempat lain di rongga-rongga gua. Sedang yang berada dihadapan Zee saat ini, adalah jembatan batu besar yang membelah sungai-sungai lava itu.


Dan di ujungnya terlihat jelas reruntuhan benteng batu kuno berukir, yang walaupun sebagian besar bangunannya telah rusak, namun masih tampak jelas kemegahannya.


Zee menghentikan kekagumannya dan mulai melangkah maju ke arah Benteng bawah tanah itu.


***


Tembok berukir dihadapan Zee memiliki satu pintu masuk megah di tengahnya, yang diapit dua patung penjaga berukuran raksasa dengan tampangnya garang.


NGUUNG!


Dengungan aneh memenuhi isi kepala Zee, dan dengan cepat ia langsung tahu jika itu Chi yang telah terbangun.


'Eh, hei kamu akhirnya bangun juga, apa kamu tahu berapa lama kamu tertidur? dan coba jelaskan padaku kenapa aura spiritual milikku menjadi melemah' ucap Zee kepada Chi yang baru terbangun, dan mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


Aura hitam keluar dari tubuh Zee membentuk siluet yang berubah menjadi sosok wanita cantik didepannya.


Zee cukup tertegun saat melihat sosok Chi yang melayang keluar dan duduk di kaki patung batu didepannya itu.


"Bagaimana ka-...


"Tentu saja aku bisa!" potong Chi sebelum Zee meneruskan perkataannya.


"Aku adalah esensi Roh, dan akan bebas melayang keluar menampakkan wujudku saat kekuatan ku pulih, lagi pula..." lanjutnya. "Aku cukup beruntung dapat memurnikan esensi roh Iblis Gurun itu." ucap Chi kepada Zee.


"Selama bersama rombongan tartar, aku telah banyak menelan inti spiritual beast tapi tetap saja dipagi hari tubuhku terasa pegal dan seperti kehabisan tenaga." keluh Zee.


Roh berbentuk milik Chi kemudian melayang turun dan menghampiri Zee dibawahnya.


"Masalah aura spiritualmu yang melemah itu disebabkan tekanan esensi darah Hewan Buas Hydra milikku...,-


"Kami Hewan Buas Suci, melatih cara kultivasi yang berbeda dengan manusia. Dan karena kamu sekarang telah memiliki esensi darahku, seharusnya kamu segera mulai berlatih teknik penempaan tulang klan Hydra." jelas Chi sambil duduk memangku kaki didepan Zee.


"Namun sebelum mempelajari teknik penempaan tulang keluargaku. Kamu setidaknya harus mengumpulkan 400 kristal spiritual ungu, dan 3 inti spiritual beast naga bumi atau jika tidak esensi darah yang tidak ditempa itu akan menggerogoti tubuh dan aura vitalitasmu." lanjut Chi...


Zee yang mendengar semua itu, sama sekali tidak terkejut tentang penjelasan panjang lebar Chi. Mengingat jurus serangan jiwa yang dia pelajari beberapa bulan lalu darinya, sampai menguras seluruh pil dan sumberdaya yang bisa digunakan kultivator lain selama setahun penuh.


"Huh!"


"Aku telah menyadarinya, kemampuan yang hebat membutuhkan sumberdaya yang besar pula untuk membangunnya." ucap Zee.


"Tapi kamu tahu, bagi orang buangan seperti diriku mencari sumber daya sebanyak itu tentu akan sangat sulit dilakukan, apalagi sekarang aku buronan sekte." ucap Zee sambil mengangkat kedua tangannya dan terlihat tersenyum walaupun itu sebenarnya adalah senyuman ketidak berdayaan.


Melihat bocah didepannya yang mulai melunak dan mau berbicara dengannya. Chi sudah merasa cukup senang, hingga kemudian melayang ke arah Zee dan memeluknya sejenak.


Zee yang dipeluk tiba-tiba seperti itu, sama sekali tidak bergerak dan malah sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Terkadang kamu harus sedikit melihat lebih jauh siapa dirimu,"


"Lagi pula sekarang kamu adalah tuanku, dan aku sudah mengatakan akan menjadikan dirimu tak terkalahkan, jadi hilangkan wajah keputusasaan itu dan ingatlah akan tujuan hidupmu!" ucap Chi sedikit tegas sambil menatap lekat lekat manik mata Zee.


Zee yang sadar bahwa sekarang dirinya tidaklah sendiri. Meneguhkan niat hatinya untuk terus berjuang dan bertumbuh menjadi semakin kuat, demi mencapai seluruh cita-cita dan tujuannya.


"Pada akhirnya kita hanya butuh saling mengerti satu sama lain, tapi ngomong-ngomong kenapa kamu terbangun saat berada dalam gua ini?" tanya Zee yang memang penasaran kenapa Chi bisa menampakkan wujudnya diluar pikirannya.


"Haah, aku ini adalah esensi jiwa yang ada di dalam pedang hitam, sedangkan pedang itu telah menyatu sementara dengan dirimu sekarang," ucap Chi


"Bisa dibilang aku ini adalah roh pembimbing mu. Setelah kamu berhasil mempelajari ke-enam ketrampilan kuno milikku kamu akan mengetahui rahasia besar dibaliknya." lanjutnya.


"Namun untuk sekarang, fokuslah dulu mencari sumberdaya untuk membentuk tubuh Hidra, mempelajari teknik penempaan tubuh adalah hal yang paling kamu perlukan saat ini." tutur Chi yang kemudian berubah menjadi Aura berbentuk ular hitam kecil yang melayang kedalam gerbang masuk benteng kuno.


"Eh, hei tunggu aku!"


Zee segera bergegas mengejar Aura Chi yang melayang tiba-tiba itu. sampai dirinya berhenti kembali setelah masuk cukup dalam.


Didepan, Zee melihat tumpukan tengkorak serta tulang-belulang manusia yang mungkin berjumlah puluhan ribu atau bahkan ratusan tersebar dalam aula Gua tersebut. Ia bisa merasakan aura kematian yang sangat mencekam dan bisa disandingkan dengan aura Hewan Suci Kuno milik Chi.


"Kemarilah aku menemukan sesuatu!"


Suara Chi memanggil dari kejauhan Zee pun bergegas kearah suara itu. Zee memasuki sebuah pintu gua yang mengarah ke suatu prasasti dengan ukiran tulisan kuno yang tidak ia mengerti.


"Ini adalah prasasti peninggalan orang suci dari selatan, tapi entah kenapa bisa ada di gua ini." ucap Chi yang berwujud ular hitam kecil yang melingkar di leher Zee.


"Coba kamu alirkan sedikit energi spiritual mu ke prasasti itu dan lihat apakah bisa bereaksi."


Zee yang mendengar interupsi Chi kemudian mengalihkan sedikit energi spiritualnya keprasasti kuno itu. Dan seketika isi pikiran Zee diliputi dengan kenangan masa lalu ketika bangunan gua ini dibangun.


Dahulu terdapat warrior tingkat suci tahap awal yang mengembara ke barat, namun ditengah perjalanannya dia berhadapan dengan seekor Hewan Buas Kuno yang memiliki kekuatan elemen bumi dan api.


Hewan Suci itu adalah sang kura-kura api yang setara dengan warrior tingkat roh akhir, dan dia ditugaskan oleh seorang Immortal Buddhis kuno untuk menjaga bunga Lotus Api legendaris di lembah ini.


Namun petapa tahap awal warrior suci itupun tergoda dengan Lotus Api yang konon katanya dapat memperpanjang umur, pertarungan mereka berdua tidak terelakkan membuat kerusakan di lembah ini.


Kura-kura api yang terdesak melarikan diri kedalam bumi, dan dikarenakan tubuhnya yang besar, lubang yang dia ciptakan pun juga teramat luas, sekarang lubang itu dikenal sebagai Gua Relik Kuno.


Sang Petapa Warrior suci mengejar kura-kura itu sampai beberap ribu meter ditanah, namun halangan roh bumi menahannya hingga dia menyadari perbuatannya sangat salah. Kemudian demi untuk menebus rasa bersalahnya dengan kura-kura api. Ketua Suci itu membangun istana dan benteng perlindungan di lubang raksasa ciptaan kura-kura itu, agar tidak ada yang bisa masuk ke wilayah terdalam larangan bumi berada.


Beberapa saat kemudian Zee pun kembali kedalam kesadarannya. Ia baru mengetahui bahwa misinya kali ini benar-benar sangat sulit untuk dilakukan, bahkan berpikir tendang mendapat bunga Lotus Api itupun kemungkinan sangat mustahil ia lakukan.


"Aku tidak menyangka jika bunga Lotus Api benar-benar sangat berharga, pantas saja raja pegunungan kapur membayar sangat mahal." ucap Zee yang merasa ditipu oleh Paviliun Misi.


"Bunga Lotus Api itu sebenarnya ada berbagai macam didunia ini, saat sedang mekar bunga-bunga itu akan menguarkan aura yang bahkan hanya mengekstraknya saja umurku akan bertambah beberapa tahun." ucap Chi menjawab kebingungan Zee.


"Yah kemungkinan keluarga kerajaan yang membutuhkan tanaman langka inipun juga tidak mengerti tentang kebenaran tentang bunga Lotus itu, dan daripada mereka menghabiskan waktu tanpa harapan yang jelas. Mereka menyuruh Paviliun Misi untuk merekrut para kultivator bebas untuk mengambil misi." jawab Zee kepada Chi yang sudah mulai mengerti duduk perkaranya.


Tap Tap!

__ADS_1


"Awas ada yang datang!" ucap Chi yang merasakan adanya pergerakan tidak jauh dari mereka.


__ADS_2