
Mempertahankan itu yang sulit, merawat apa yang sudah didapatkan itu perlu pengorbanan, menghentikan langkah saat sudah separuh jalan, akan membuang waktu yang sudah di jalani. Yang tertinggal kini adalah harapan yang lebih baik, dan berbaik sangka dengan apa yang akan terjadi di hari kemudian, dan masih penuh misteri.
Bagi seorang pendaki, kenikmatan yang tak dapat digantikan dengan materi adalah ketika suda mencapai puncak gunung, hanya sekedar menyaksikan sunset di ufuk Barat, berdiri di atas awan, memandang indahnya lukisan sang Maha Agung, bagaimana ia menciptakan langit tak bertiang, matahari dan rembulan yang tunduk pada waktu, untuk mencapai puncaknya, harus rela melewati aral, jalan menanjak, berkelok, jurang yang curam dan melalui ancaman binatang buas.
Sama seperti apa yang sudah dilalui dengan Onci, ia pun sudah siap dengan konsekwensi yang harus diterimanya, karena ia sudah memilih ini semua, ketika ia memilih Thea maka ia pun harus meninggalkan 1000 kawannya, waktunya pun harus siap tersita dan menghabiskannya dengan gadis yang ia kenal.
Untuk mendapatkan Dhea, bukan saja waktu, materi dan hal lain yang tidak terperinci dengan detail, termasuk menciptakan permusahan baru yang seumur hidupnya, Onci tidak kenal dengan perkelahian atau perselisihan, yang cukup menguras pikiran. Dan masalah itu selalu saja muncul dalam hidupnya, apa yang diharapkan dari hubungannya dengan Dhea? Tak lain sebuah hubungan yang serius dan berlabuh kepada dermaga terakhir, yah, pelaminan.
Seiring waktu pun, Onci diperkenalkan satu persatu dengan sahabat, saudara dan orang-orang terdekatnya. Rasanya sia-sia jika waktu dilalui dengan arah dan tujuan yang tidak terencana dengan baik.
Onci pun pernah sesekali waktu menyinggung tentang hubungannya yang menurut ia sudah terlalu jauh berjalan, tetapi amat letih karena tidak ada tujuan dari ini semua.
"Jangan bahas yang berat-berat ya yaank? Kita jalanin aja semua, lagi juga aku belum lulus kuliah juga. Ada hal yang lebih serius kita bahas yang kamu juga tahu, kamu seorang Muslim, latar belakang keluarga kamu dari kalangan Ustadz, dan aku sendiri dari keluarga yang fanatik dengan kristennya."
Yah, jawaban itu yang sering Onci terima, tentang keyakinan, dan Onci sendiri alumni dari pesantren, dan pendidikannya dimulai dari sekolah Islam. Ia dibesarkan dari seoarang ayah yang sebagai guru ngaji, walau pun di kampung, tetapi orang tua Onci menjadi pusat perhatian masyarakat. Dan entah jawaban apa yang Onci terima saat ia membuka pembicaraan bahwa ia ingin menikah dengan gadis nasrani dengan keadan keluarga yang juga fanatik.
Orang tua Thea sendiri, begitu taat dengan ajarannya, mereka terbilang jamaat yang paling aktif, bahkan keluarga besar Dhea sendiri pendiri sebuah perkumpulan nasrani, dan memiliki gereja sendiri.
__ADS_1
Onci pun sering mengantar Dhea ke Gereja, memperhatikan cara mereka beribadah, ia pun pernah mengisi kekosongan pemain gitar saat kekurangan tim pelayanan.
"Kamu bisa kan main gitar yaank? Ko David nggak bisa hadir untuk pelayanan, kamu bantu yaah? Aman kok, nggak ada maksa-maksa kamu untuk memeluk agama kami." Sering juga Dhea memintanya mengisi pelayanan.
Terlepas dari entah ada kepentingan apa pun, terlepas norma agama yang mengikat, Onci memilih atas dasar kemanusiaan ia menolong, karena pacaranya yang meminta Onci pun membalas kebaikan Thea dan keluarganya, lagi pula Dhea pun sering mengingatkan ibadah, dan menemani Onci sholat jumat dengan sabar.
Harapan itu muncul, disaat Dhea berbincang ringan tentang idenya membuat konsep pernikahan, atau jika mereka datang ke sebuah acara wedding gadis itu selalu berkomentar tentang design interior, bentuk undangan dan prewedding.
"Kalo kita benar-benar nikah, aku mau konsepnya lucu seperti ini yah?" Komentar Thea setiap kali memenuhi undangan pernikahan keluarga besarnya.
"Kamu percayakan sama aku yank, untuk konsep wedding kita nanti akan lebih baik dari yang kita lihat." Sadar dan tidak sadar dengan apa yang Onci ucapkan, atau hanya sebatas rencana kosong saja dengan semua ini.
"Ayah, hanya bisa berdoa saja semoga Dhea itu menjadi wanita Soleha, menutup aurat dan menjaga agamanya, dan semakin mendekatkan abang kepada Allah. Hanya itu harapan seorang Ayah naaak.." Mendengar pernyataan sang Ayah, Onci tidak banyak cerita tentang gadis yang sedang dekat, bahkan sudah menjalin hubungan sudah cukup lama.
"Ayah yakin kamu tahu kriteria wanita seperti apa yang Alqur'an dan Rasul mu ajarkan, perhatikan keturunan atau nasobnya, bagaimana ia menjaga dirinya dan agamanya, wanita itu jangankan tubuh, suaranya saja kamu pun tahu itu aurat, sampai disini kamu paham yah? Kamu kan sudah lama di pesantren, tahu betul apa yang Islam ajarkan bukan?"
Dari ucapan sang Ayah, jauh dari ekpektasi dan harapannya, justru Dhea itu modis dan profesinya jauh dengan apa yang Ayah gambarkan.
__ADS_1
"Nggak kebayang Dhea pakai jilbab!" Gumam Onci dalam hati.
Entah bagaimana reakasi sang Ayah andai benar-benar melihat wujud aslinya Dhea. Bisa-bisa keluarin jurus serampang dua belas, dan silatnya, bahkan nama Onci bisa di keluarkan dari Kartu Keluarga dan tidak boleh menggunakan 'Bin' Syahrul lagi, masa iya pake nama 'Bin Pulan'.
Belum lagi kalau Dhea ingin banget diperkenalkan dirinya dengan keluarga besar Onci.
"Yank, kenapa sih aku kamu nggak kasih untuk kenal sama Ayah dan Ibu kamu? Atau jangan-jangan kamu nggak pede punya pacar aku yaaah? Ataaaau diam-diam kamu sudah punya istri? Bahaayaaa ini..." Sindir Dhea yang memang dari awal jadian sampai sudah jalanin hubungan berbulan-bulan Dhea tidak pernah ia kenalkan dengan keluarganya.
"Kamu sudah aku kenalin ke keluarga besar aku, bahkan sampai ke sepupu-sepupu aku. Giliran aku? Tahu bentuk orang tua kamu aja nggak kamu kasih."
Setiap kali Dhea meminta, maka saat itu juga ia harus berpikir keras, untuk mencari jawaban yang tepat. Mulai dari alasan, orang tuanya lagi di luar kota-lah, sampai mencari alasan bahwa orang tuanya memiliki kesibukan masing-masing.
"Aku mau kok kenalin kamu sama orang tua aku, tapi bagaimana mereka juga sibuk masing-masing. Nanti ada waktunya yaank, lagi juga kamu siap pakai jilbab?" Alasan Onci.
"Aku bisa kok pakai kerudung, tapi jangan rapet-rapet juga yaaank, geraaaah akunya."
"Yaudah aku janji ajak kamu ke Abah dan Umi, tapi nanti yaah? Sampai kamu yakin ingin menikah dengan aku!" Jawaban Onci agar Thea tidak meminta lagi untuk dikenalkan dengan orang tuanya, karena Onci tahu kelemahan Dhea itu saat diajak diskusi serius masalah hubungannya.
__ADS_1
"..........." Dhea hanya terdiam dan tidak ada sepatah kata yang terucap.