Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Sungkem Satu


__ADS_3

"Kalau memang Mas Arul menerima Nabila apa adanya, dengan keadaan yang Mas sudah tau juga, dan saya pribadi tak ada hak lagi atas Nabila, asal Nabila menerima Mas Arul, saya bisa apa."


"Setidaknya saya sudah sampaikan semua, dan insyallah saya bisa terima Nabila apa adanya. Ustadz Hafidz juga menyarankan saya untuk menemui Ustadz Ozi, setelah kemarin saya jelaskan itikad baik saya untuk menikahi Nabila, tugas saya tinggal meminta restu dari para sepuh dan pengurus Yayasan."


Ustadz Burhan hanya terdiam dan tak banyak bicara, ia pun tahu betul perjalanan cinta Nabila dan Ozi, bahkan ia sendiri diam-diam simpati pada Nabila, atas kepandainya, tegar dan begitu sabar menjalani kisah hidupnya, Nabila wanita hebat.


"Saya pamit ya Stadz, Assalamu'alikum."


Wajah Ozi yang semula ceria menjadi muram, apa yang diberikan Arul hanya sedikit bisa melepaskan dirinya dari semua permasalahan yang terjadi.


"Mungkin sudah jalan takdir hidup saya seperti ini Ya Allah, aku terima apa yang menjadi konsekwensi dari apa yang sudah saya kerjakan, maafkan dosa-dosa hamba Ya Allah." Tak ada kata lain, selain ikhlas dan menerima kenyataan hidup yang kini ia alami.


"Biarlah saya menanggung semua di dunia, ringankan dosa-dosa hamba di akhirat kelak, amin."


Agenda Arul selanjutnya adalah menemui Abah dan Haji Romli orang tua dari Nabila untuk meminta restu.


__________oOo________


Kesahatan Abah agak menurun, beberapa hari ini ia sudah sakit-sakitan, bahkan aktifitas Kiyai Syarullah itu sudah banyak di atas kasur, dan menyendiri di dalam kamar, hanya sesekali waktu ia berkumpul di ruang keluarga, kalau memang ada tamu penting saja.


Abah meminta Ustadz Burhan untuk mengurangi tamu yang datang, karena keadaan Abah sudah tak sebaik dulu. Apa lagi sejak ditinggal almarhumah, ia lebih banyak diam, membaca kitab, buku dan solat.


Nabila juga tak bisa mengganggu istirahat Abah, dan sering ia temui Abah dalam keadaan tertidur pulas, ia mencoba membuka pembicaraan dengan Haji Romli, sang Ayah, perihal rencana Arul hendak menikahinya.


"Abi, Bila mau curhat boleh?" Nabila membuka pembicaraan.


"Ada apa Bila? Telinga Abi 48 jam mau dengerin apa yang Nabila mau cerita."


"Haha, Abi bisa aja."

__ADS_1


"Ada apa putri Abi yang cantik?"


"Bi, di yayasan Nabila kenal Mas Arul dan dia ingin menikahi Nabila, dia sudah serahkan tiga hafalan surat yang Nabila pinta, dan hari ini Mas Arul juga meminta izin sama Kak Ozi untuk melamar Nabila, bagaimana menurut Abi?"


"Bila, bukan Abi tak mau Bila menikah lagi, tapi Abi khawatir kejadian yang kaya kemarin keulang sama Nabila, Abi pesen banget sama Nabila, bae-bae milih calon suami, Abi nggak mau denger Nabila cerai lagi. Pernikahan afdolnya sekali seumur hidup Bil, bukan berkali-kali. Yang namanya perceraian Allah paling benci, ape lagi Rasulullah. Apa Bila udah yakin? Dia pasangan terakhir seumur hidup Bila?"


"Bila paham Abi takut kejadian dengan Kak Ozi terulang, Nabila juga sudah dewasa dan lebih selektif menerima calon suami bila nantinya. Mas Arul sudah tunaikan persyaratan yang Nabila pinta, dan insyallah Nabila yakin Mas Arul tidak sama dengan Kak Ozi."


"Abi belum bisa kasih keputusan, temukan Abi dengan Arul, dan Bila juga harus kenal siapa orang tuanya, keluarganya, saudara-saudaranya. Apa Arul sudah pantes jadi imam Nabila, apa belum. Perhatikan akhlaknya, ibadanya, apa solatnya belang-blentong, dan bagaimana dia menjaga hubungannya dengan Allah, kalau sama Allah sudah bener, insyallah urusan dengan manusianya juga bener."


"Iya Bi, terimakasih nasehatnya, iya nanti Bila kenalin Mas Arul sama Abi."


"Dia usaha?"


"Iya dia usaha, yang investasi pembanginan rumah sakit itu semua usaha Mas Arul."


"Baguslah, memang harus begitu jadi suami, mesti pinter-pinter usaha, jangan ngandelin penghasilan istri."


Panjang lebar Nabila bercerita tentang Arul, dan kabar Ozi, Haji Romli juga menanyakan keadaan sahabat karibnya, Syarullah.


"Si Haji sehat Bil?"


"Sejak ditinggal Umi, Abah banyak di dalam kamar, kalo ada Abi aja Abah ke yayasan atau ke luar dari kamar."


"Kasian juga ya? Nanti-nanti Abi dateng nengokin si Haji deh, biar Abi temenenin."


"Iya, kalo ada ada Abi, Abah seneng dan ada temen ngobrol."


"Semoga panjang umur deh, Abah dari kecil kenal dia, orangnya pinter, maen bolanya jago, ibadahnya bener, apa lagi pas dia keluar dari pesantren, sampai almarhum kakek ngasih dia tanah. Kirain Abi nggak bakalan jadi sebesar sekarang, bener-bener tekun kalo udah usaha." Haji Romli mengingat kembali masa-masa dulu, saat ia mengenal sosok Syahrullah.

__ADS_1


"Dan memang dari dulu, kelakuannya bener-bener bae sama siapa aja, banyak nolong orang juga. Abi milih usaha jual-beli mobil, Nah si haji ngembangin Yayasan, dan sekarang baru keliatan, jam'ahnya membludak, santrinya dari mana aja, sampe dari pelosok pulau dateng pengen berguru sama mertua Bila itu. Tapi sayang, dan emang setiap manusia diuji dengan masalah masing-masing, Abi nggak abis pikir, kenapa si Ozi gitu amat kelakuannya ya?"


"Tuuh mulai deh ghibah Abi mah, Bila aja udah lupain, malah Abi yang gagal move on."


"Laaah kenapa jadi Bila bilang Abi Oon?"


"Bukan Oon Bi, tapi Move Oooon...."


"Belom juga kelar sama si Arul, Bila dah mau ngenalin orang baru lagi aja."


"Orang baru? Siapa Biiii?"


"Itu si Muton."


"Move on itu, mampu keluar dan bangkit kembali setelah mengalami keterpurukan, kesedihan, duka dan lain-lain."


"Ooooh, Abi kira nama orang."


"Heeeem....Yaudah ya Bee, Bila pamit dulu deh ya? Takut Abah nyariin, udah lama juga Bila ninggalin."


"Bil, kan Bila sudah cere sama si Ozi, kenapa masih tinggal disana sih? Nggak kasian sama Abi sendiri?"


"Bukaaan Bila nggak kasian sama Abi sendiri, kan memang Abi juga disuruh tinggal disana, tapi Abi maunya tinggal di sini, lagi juga kaya dari sini ke rumah Abah jauh aja....paling juga 100 meter."


"Yaudah, Abi nginep dah ya? Kasian si Haji."


"Naaah gitu dong, jadi Nabila juga nggak sendirian, ada Abi."


Haji Romli akhirnya mau memilih menginap di kediaman Abah, dan ingin menemani sahabatnya itu, ia khawatir takut ada apa-apa, dan hanya Nabila saja yang tinggal disana. Jarak dari rumah Abi dengan Abah tidak jauh, hanya berjarak kurang lebih 100 meter. Abi juga sudah lama ditinggal almarhumah Ibu, bernama Salamah.

__ADS_1


Umi dari Nabila meninggal dunia sejak Nabila masih berusia Lima Tahun, dan Abi tinggal di rumah seorang diri, yang membedakan Abah dengan Abi, hanya dalam menyikapi kesedihan hidup saja. Kalau Abi banyak keluar kota, urusin bisnisnya yang bukan saja jual-beli kendaraan, tetapi Abi punya usaha lain yakni ekpedisi dan travel domestik.


Bersambung >>>>


__ADS_2