
Sesampainya di Yayasan, seperti biasa Nabila absen dan menyelesaikan tugasnya, memastikan semua laporan sudah dibuat. Umi tiba-tiba datang menghampiri Nabila.
"Fahrurozinya dimana? Kamu nggak bareng dia?"
"Eh Umi, iya Kak Ozzi nya masih di rumah, aku kan harus rapihkan laporan, takut Abah nanya, tetapi belum Bila selesaikan, nggak enak nanti Umi."
"Bila, Umi dan Abah pernah muda, dan kami paham betul penganten baru...Bagaimana lancar?"
"Ah Umi, Nabila malu jawabnya."
Nabila menyembunyikan apa yang sebentarnya terjadi. Yah, yang orang tahu pengantin baru penuh kemesraan, yang di luar sana tahu ada kehangatan di malam pertama, yng mereka tahu Nabila bahagia, dan yang mereka tahu, Nabil gadis beruntung yang berhasil dipersunting oleh keluarga Kiayi, pasti Nabila akan kebagian warisan, karena Fahrurozi anak semata wayang, pewaris tunggal dari Abah.
Sah sah Saja, mereka, kalian atau anda berpikir demikian, dan menganggap Nabila memiliki tujuan kesana dan rela tersudut dalam kesendirian, tak ada satu pun yang tahu kalau, batin Nabila menjerit seolah-olah berkata,"Andaaaaaai pernikahan ini bukanlah ibadah, Andaaaaai saja perceraian Tuhan Halalkan dan Andaaaai masyarakat tak akan ramai membicarakannya, mungkin aku memilih itu."
Apalah daya, nasi sudah menjadi bubur, alangkah mubazirnya kalau saja dibiarkan basi tak termakan, untunglah Nabila memiliki hati yang tak sepicik orang bayangkan.
Nabila hanya berpikir," secuek apa pun suami dia, memiliki pendidikan tinggi atau hanya lulusan sekolah dasar, kerja atau hanya serabutan, lahir dari keluarga ningrat atau pun jelata, dia tetap imam dalam hidupku, bukan itu yang menjadi alasanku untuk berhenti mencintainya, tetapi karena Allah-lah yang sudah menitipkan dia untuk ku."
Tenanglah Nabila, tak ada yang mengganjal di hatinya, ia ikhlas jalanin hidup, pahit-manisnya rumah tangga yang ia lalui, Allah lah tujuan dari semuanya.
Beberapa jam Nabila sampai di sekolah, Fahrurozi alias Onci atau Ozzi tiba, mulai ia memainkan perananya sebagai putra terbaik Abah dan Umi, yang kini menjadi suami bagi Nabila.
"Sayang, kamu sudah sarapan? Aku bawakan untuk kamu." Onci memberikan bubur ayam yang baru saja ia beli di hadapan Umi dan Abah, serta beberapa karyawan yayasan menjadi saksi.
"Makasih ya Kak..." Jawab Nabila, melengkapi drama sang suami.
"Duuh, mesrahnya penganten baru." Celetuk Ustadz Hasan, yang juga guru di Yayasan.
"Jadi pengen nikah lagi...." Sindir Ustadz Iskandar.
"Aaaah ente mah maunya Stadz..." Jawab Ustadz Hasan.
Umi dan Abah hanya tersenyum, melihat anak semata wayangnya begitu perhatian dengan istrinya.
"Nggak terasa ya Mi, Ozi yang dulu kita timang-timang kini sudah memiliki istri, cantik, soleha pula." Ucap Abah berbisik kepada Umi.
"Kita doakan aja, menjadi keluarga Sakinah Mawadah Warahmah ya Baah..."
"Amin." Jawab Abah menutup pembicaraan.
Kontan seisi ruangan tertawa begitu hangatnya melihat penganten baru, yang terlihat begitu mesrahnya.
_________________ oOo_________________
__ADS_1
Dhea mencoba menghubungi Onci tetapi tak terangkat. Ada yang ingin ia bicarakan perihal prewedding yang sudah direncanakan.
"Bee, aku temui Onci dulu ya? Tuk bahas persiapan preweding kita, kamu kan sibuk tuh, urus kerjaan kamu, biar aku handle semua dulu yah?" Ucap Dhea Via phone dengan Jonathan.
"Iya yaank, maaf yah? Kamu temui mereka dulu deh...."
"Iya bee....biar nanti sesuai dengan apa yang kita harapkan."
Tak beberapa lama setelah telepon Jonathan, Onci menghubungi Dhea kembali.
"Sorry tadi nggak keangkat, lagi ngobrol sama Abah dan Umi." Ucap Onci yang mencari tempat kosong untuk menghubungi Dhea.
"Oh yaudah kalo aku ganggu nanti aja, orang cuma mau tanya keadaan kamu aja."
"Ah, udah kok, nggak sibuk-sibuk amat, cuma bahas masalah yayasan aja, ada apa Dhe?"
"Kamu hari ini ada waktu nggak? Ketemuan bisa?"
"Hmmm....bisa...bisa, dimana? Jam 2 siang aja kalo mau, sehabis aku urus semuanya."
"Yaudah jam 2 siang, di resto yang aman aja yah? Nanti aku kasih tau lagi tempatnya."
"Aku sama Ale?"
"Oke deh, aku tunggu kabar tempatnya dari kamu ya?"
"Iya yank...bye..."
"Bye..."
Onci tidak sadar, dari balik jendela Nabila memperhatikan gelagatnya, Nabila sudah paham setiap kali Onci menerima telepon dan ia mencari tempat aman, bertanda kalau suaminya itu menghubungi Dhea.
"Ya Allah, sampai kapan terus begini?" Ucap Nabila dalam hati.
Nabila bergegas kembali bekerja, khawatir Onci memperhatikannya, kalau ia tahu kasian ia akan terlihat gugup.
Onci kembali masuk ke dalam ruangan, dan menemui Abah serta Umi.
"Bah, Umi nanti siang Ozi ke kantor dinas dulu ya? Mau bertemu dengan orang Kanwil, ada pembahasan program kerja."
"Oh yaudah kalo ente ada urusan silahkan diurus yang bener, bahas yang lebih detail sama orang Kanwil." Jawab Abah.
"Nabila nggak diajak?" Tanya Umi.
__ADS_1
"Nggak apa, Ozi sendiri aja Mi, biar nanti Nabila bantu Abah dan Umi disini, aku titip Nabila ya Mi? Kalo nanti pulang agak sore, Nabila biar ikut Umi sama Abah pulang."
"Oh yaudah."
Dhea kembali menghubungi Onci, memberi tahu tempat ketemuan mereka.
"Yank,nanti ketemu di resto di Kuningan aja ya? Santai aja, tempatnya aman."
"Iya yank, yaudah beberapa menit lagi aku jalan."
"Ok, aku juga udah siap-siapa otw kok...'
"Jonathan nggak ikut?"
"Dia sibuk sama kerjaannya, aku sama kamu aja, memangnya kenapa? Keberatan ya?"
"Oooh nggak....nggak apa-apa, nanya aja."
"Nggak usah tegang gitu dong, aman kok...serahkan semuanya sama aku..."
"Iya aku percaya kamu jagonya..."
"Ah, Ayam kali Jago. Yaudah aku siap-siap dulu...sampai ketemu...Bye..."
"Oke Bye..."
Sehabis menutup telepon Dhea, Onci masih tampak gelisah, memikirkan alasan ke Nabila dan dia menemui Nabila.
"Bil,aku pamit dulu ya...disuruh Abah ke Kanwil, kalo nanti aku pulang terlambat dan nggak sempet balik ke yayasan, kamu bareng Abah dan Umi aja."
"Iya Kak, nggak apa kok, semoga lancar urusan Kakak yah..."
"Amin....aku jalan dulu yah?"
"Iya...Hati-hati Kak...jangan lupa baca doa, jangan tinggalin solat, makannya juga jangan telat."
"Makasih...Assalamu'alikum...."
"Wa-alaikum salam...."
Onci melaju dengan mobilnya, dan hilang dari pandangan Nabila. Segera ia meluncur ke tempat yang Dhea sudah tunjuk, sebuah restouran dengan fasilitas private room jangankan Jonathan, nyamuk saja tidak bisa masuk ke dalam resto tersebut, karena memang sudah menyediakan jasa ruangan khusus untuk kalangan pejabat dan artis. Mereka sering menggunakan resto tersebut untuk beberapa kepentingan, seperti meeting terbatas, bertemu client atau keperluan lain yang bersifat pribadi dan tidak mau diketahu publik.
Sesampainya Onci di resto itu, ia dipandu Dhea untuk masuk ke tempat yang sudah ia booking.
__ADS_1
Bersambung....