Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Cinta, Sesakit ini Kah?


__ADS_3

Selesai sudah pembahasan Onci dan Ale mengenai masalah konsep pernikahan yang Onci inginkan, done payment pun sudah Onci berikan untuk mempersiapkan pernikahannya. Semua sudah dipersiapkan dengan matang. Tinggal pelaksanaanya saja dan menunggu jumlah tamu yang di undang baik dari pihak mempelai wanita dan pria.


"Kamu dimana Nabila?"


"Aku dirumah Kak."


"Kita bisa ketemuan abis isya nanti? Mau bahas pernikahan kita."


"Oh iya Kak, insyallah Nabila datang. Ketemuan dimana?"


"Ditempat pertama kita ngobrol itu."


"Oh, iya Kak nanti Bila ke sana."


"Ditunggu kabar selanjutnya yah."


"Iya Kak."


Onci pun menghubungi Nabila untuk membahas semua persiapan pernikahan mereka. Dan progres yang sudah ia lakukan, Onci ingin Nabila juga membantunya juga dan ada sedikit yang ingin ia sampaikan.


"Bila, kamu nanti diskusi sama Pak Haji Romli berapa banyak yang mau diundang."


"Iya Kak."


"Sekalian aku mau bicarakan tentang pernikahan yang kamu tahu, kalau di hati ini masih ada nama yang belum hilang dari hidupku. Kakak harap kamu pahami itu, dan belajar untuk mencintai kamu."


"Aku paham, masih ada nama Thea di hati Kakak."


"Mulai sekarang jangan lagi kamu panggil kakak."


"Habisnya aku harus panggil kamu apa?"

__ADS_1


"Nah, aku-kamu saja."


"Dan aku harap kamu pun paham, aku memiliki privacy yang tidak harus kamu tahu. Kalau pun Nabila mau tau, maka harus siap untuk sakit hati."


"Tapi kan aku sudah jadi istri kamu, apa masih ada yang harus disembunyikan?"


"Aku tadi sudah jelaskan, bahwa aku belajar untuk mencintai kamu."


Nabila pun diam, dengan aturan yang Onci berikan, dan pastinnya batin perempuan mana yang tak sakit, ketika diujung pernikahan mendengar bahwa pasanganya belajar untuk mencintai. Ia pasrah, karena gayung terlanjur bersambut, apa yang sudah terucap tak mudah untuk dihapus.


"Iya, aku ikuti apa yang kamu mau," pandangannya tertunduk dan ia harus ikhlas dengan kenyataan yang harus dijalani.


"Oh iya Nabila, biaya pernikahan ini tidak sedikit yang dikeluarkan, semoga kamu paham itu yaah?"


"................."Nabila hanya tertunduk dan memahami apa yang Onci ucapakan, seolah mengingatkannya untuk tidak macam-macam dengan urusan pernikahan.


"Kamu juga jangan melarang aku untuk melakukan apa pun, selama itu tidak bertentangan dengan pernikahan dan ketika kita resmi menjadi suami istri. Aku harap kamu mengerti akan hal itu. Pernikahan ini, hanya aku menghormati abah yang tak lain orang tuaku."


"Satu lagi, pandai-pandainya menyembunyikan. aib pasangan dan tidak semua dapat dikonsumsi untuk umum. Aku tidak suka ada acara mengadu dan mengeluh yang tidak-tidak kepada orang tua kita, dan aku harap kamu bisa melakukan ini. Jangan sampai tembok mendengar keluhan kita."


Onci menitipkan pesan, untuk Nabila tidak bercerita kepada siapa pun untuk urusan rumah tangganya nanti.


Dan dapat dipahami, dari pertemuanya hari ini Onci membuatkan Nabila aturan-aturan dalam rumah tangga dan pernikahannya ini bukan atas dasar cinta, hanya karena menghargai dan menghormati abah dan nama baik keluarga. Seakan Onci menegaskan, " ini kan yang elo mau? Dan berharap untuk memaksakan pernikahan tanpa ada rasa cinta."


Mereka pun pergi meninggalkan cafe, pertemuan malam ini membuat Nabila tak menyangka dengan sikap Onci yang ia kenal, sebelum menikah saja ia sikapnya begitu dingin, apa lagi setelah menikah.


_______________πŸ™‹β€β™€DHEAπŸ™‹β€β™€______________


Langit malam ini bertabur bintang, rembulan tertunduk malu, peluh pun berubah menjadi indah, seakan bulan pun ikut menjadi saksi bahagia yang gadis itu rasakan.


Cukup lama ia berbicara dengan pria di balik earphone nya. Terselip senyum, tawa dan raut wajah bingung. Berpuluh kali ia mengganti posisi tubuh, kadang berdiri dan duduk atau berjalan mengelilingi pelataran apartemen.

__ADS_1


"Mungkin minggu depan aku sudah kembali ke Indonesia. Nanti aku cari waktu untuk menemui kamu, sekaligus mau membawakan oleh-oleh dan ada yang aku mau bicarakan ke kamu." Ucap gadis itu dengan lelaki yang ternyata Onci.


"Memangnya kamu sudah selesai performance nya?"


"Kita nggak bisa melanjutkan ke Hongkong karena dari pihak penyelenggara belum menantongi izin acara dari pihak interpol."


"Oh, yasudah aku tunggu kamu pulang."


Tak lama, Dhea dikejutkan suara dengan kehadiran Jonathan, dan ia berusaha membias rasa kekhawatirannya. Seketika itu juga handphone nya ia matikan.


"Yaudah yah Mah, aku latihan lagi." Ia pun berpura-pura, seolah ia tengah berbicara dengan mamah.


"Lain kali kalau masuk kamar itu, kasih aba-aba, jangan asal main masuk aja yaaank."


"Iya, lagi telepon mamah?"


"Iya, ngomongin masalah lamaran kamu dan persiapan nikah."


Sebenarnya Dhea masih belum bisa untuk melepaskan Onci, bagaimana pun lelaki itu pernah membuatnya bangga, dan banyak kesan yang ia tinggalkan selama Dhea mengenalnya. Ia tak bisa pungkiri bahwa Onci itu pria baik,perhatian dan menghormatinya sebagai wanita. Butuh waktu bagi Dhea untuk menghapus semua kenangan yang pernah ia jalani bersama.


Mereka pun masuk ke kamar apartemen, berkelakar, bercanda, dan biacara banyak hal tentang persiapan pernikahan mereka. Hingga akhirnya mereka pun larut dalam suasana, terbius dalam hangatnya kamar apartemen, hanya dinding kamar yang tahu apa yang membuat mereka saling bertukar peluh, luruh dan larut dengan nuansa merah muda, tak ada alunan suara yang indah selain peraduan nafas dalam hening, tak ada kata indah selain memanggil namanya dalam lirih, menggetarkan, menusuk labirin,mendebarkan jantung, dan darah menghangatkan tubuh yang kini terkulai dalam lemas di balik kain putih tebal.


Onci berkali-kali menghubunginya tetapi tak diangkat. Dan ia pun pasrah dengan kata,"Mungkin dia kembali melanjutkan latihan dancenya.' atau, "Mungkin lowbet," atau juga,"Mungkin kena roaming dan pulsanya habis." serta kemungkinan-kemungkinan lain hanya untuk menghapus kesal, kecewa dan perasaan rindu yang masih belum juga luruh.


Dhea dan Jonathan, kini larut dalam keheningan malam, dibungkam dengan letih dan peluh yang mengering di balik selimut putih tebal, dan redupnya lampu, bulan mengintip dengan rasa malu melihat mereka beradu dalan nuansa merah jambu.


Berbeda dengan Onci, Dhea dan Jonathan. Nabila pun tengah larut dengan hangatnya air mata yang membasahi pipinya, menyembunyikan tangisan di atas bantal, semakin dekat dengan hari pernikahannya, semakin membuatnya pasrah, ucapan tak lagi bisa dipinta kembali, pernikahannya pun sudab telanjur terisar dalam berita, dari mulut dan telinga.


Beragam opini berspekulasi, bahwa Nabila beruntung mendapatkan lelaki tampan, pewaris tunggal dan dikelilingi lingkungkungan terpelajar, ada yang berasumsi Nabila beuntung ikut merasakan fasilitas mewah keluarga kiayi, dan ikut andil menjadi pewaris pondok pesantren yang begitu besar, dengan ribuan santri.


Nyatanya? Nabila akan masuk terkurung dalam sangkar emas.

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2