
Terlihat begitu hangatnya sambutan abah dan umi, bahkan sampai Dhea diajak makan, dan keliling ke sekolah, masih ada beberapa guru yang masih standby karena sedang menyelesaikan laporan kerja, begitu juga Nabila terlihat di sana dengan beberapa staf administrasi dan pengajar, disaat melihat umi datang bersama Dhea, mereka pun menghampiri dan ikut dalam obrolan ringan.
"Calon mantu ya umi?" tanya Ustadzah Khofifah.
"Umi aja baru ketemu hari ini Bu ustadz." Jawab Umi.
"Cantik juga calon istri ente Zi?!" canda Ustadz Burhan, guru pengajar Bahasa Inggris.
"Bisa aja ente stadz, belum tahu juga. Jodoh di tangan Tuhan kan Stadz." Jelas Onci.
"Tapi kalau kita nggak perjuangkan dan kejar, mana dapat Bang." Tambahnya.
Dhea pun tertawa kecil dan tersipu malu dengan ucapan beberap guru. Hanya Nabila saja yang diam dan tertunduk.
"Ada apa sih Bila sama elu? Kenapa elu panas liat Kak Ozi sama yang lain?" Nabila masih merunduk dan pura-pura asik dengan pekerjaaannya.
"Ya Allah, apa ini yang disebut Bila jatuh hati? Dan cemburu?!" ucap Nabila makin membatin.
"Bila...besok pagi ambil laporan yang bila kasih ke umi tadi yah? Mungkin nanti malam umi sudah selesi periksa dan tanda tangan." Ucap umi yang juga pengurus yayasan.
Nabila tak mendengar apa yang umi katakan, dan hatinya masih terus berkecambuk.
"Tuhan, ini sudah tak wajar!Bila, kemarin kan kamu sudah nolak untuk dijodohkan dengan Kak Ozi, kenapa sekarang kamu menyesal?"
Pikiran dan perasaan Nabila lagi tidak menentun, hingga tidak mendengar ucapan Umi.
"Nabila, denger kan yah umi ngomong apa? Nabila....Bilaaaa!" umi menghampiri dan menepuk pundak Nabila.
"Apa Mi?" tanya Nabila sedikit terkejut dengan tepukan pundaknya.
__ADS_1
"I...iya Mi, bila denger kok!"
"Denger apa?"
"Denger apa yang Ustadz Burhan ucapin tadi, kalau calon istri Kak Ozi cantik."
Kontan membuat Ustadz Burhan ambil alih apa yang umi ucapkan.
"Bilaaa...bila! Maksud Umi besok ente jangan lupa ke rumah Umi, dan bawa laporan yang sudah Umi periksa dan Pak Haji sudah tanda tanganin. Aduuuhh, untung ente cakep Bila. Coba hidung ente pesek an dikit. Udah ane bawa ke dokter THT." Ustadz Burhan mencoba menjelaskan kembali apa yang umi pinta.
"Oooh, si...sii...siap Umi." Jawab Nabila terbata-bata.
Umi, Onci dan Thea kembali ke rumah. Dan mereka saring beringan jalan. Sesampainya di rumah, abah sedang asik menonton televisi. Melihat mereka sudah tiba, abah pun mematikanya.
"Bagaimana sudah jalan-jalannya?" tanya abah.
"Sudah bah, tadi ke sekolahan dan ngobrol sebentar dengan guru-guru disana."
Onci dan Dhea pun duduk berhadapan dengan mereka, entah apa yang abah ingin sampaikan.
"Mumpung ada umi juga, abah mau bicara serius ini menyangkut kehormatan ente berdua dan mencegah fitnah orang.Kira-kira abah sama umi kapan bisa ketemu dengan orang tua Neng Dhea? Kalo perlu Abah dan Umi ke Malaysia pun siap kok."
"Aduh, kenapa abah jadi begini." Gumam Onci dan ia pun melihat ekspresi wajah Dhea yang gugup.
"Mu..mungkin dalam waktu dekat ini Bah, dan Dhea selesaikan tugas akhir kuliah dulu. Setelah skripsi baru Dhea akan coba obrolkan dengan Papah dan Mamah. Kalau Dhea boleh tau, memangnya ada apa abah dan umi mau bertemi dengan orang tua Dhea? Maaf yah Abah Dhea tanya begitu."
"Yaah namanya dua anak remaja berduaan, dalam agama itu nggak baik Neng, pasti ada syetan menjadi orang ketiga yang akan membisikan hal buruk. Nah, abah sama umi mau bertemu orang tua Neng Dhea itu selain mau silaturahmi, juga mau bicarakan hal yang serius. Abah maunya langsung aja, Dhea dan Ozi menikah. Jangan ada istilah pacaran dan ta'aruf, bahaya!" jelas abah.
Mereka pun tersentak kaget dan tidak menyangka, dengan apa yang abah ucapkan. Baru saja bertemu sudah membahas ke hal yang lebih serius.
__ADS_1
"Waduuh, kenapa jadi abah yang ngebeut banget mau nikahin gw ya?" ucap Onci dalam hati.
"Aduh, kok jadi begini obrolannya yah? Aku sendiri nggak tahu apa itu ta'aruf!" begitu juga dengan Dhea merasakan hal yang sama dengan Onci.
"Begini aja Bah, nanti setelah Dhea selesaikan skripsinya baru deh kita ketemu papah dan mamahnya Neng Dhea, lagi juga biar mereka saling kenal dulu." Akhirnya umi mengetengahkan dan menjadi juru bicara.
"Bukan begitu juga Mi, abah mah takut terjadi yang tidak diinginkan. Syaitan itu kalo sudah bisikin, jangankan si Ozi. Abah yang doyan wirid aja bisa habis digoda iblis, bisa rontok iman abah. Apa lagi mereka yang kader imannya tipis kaya kulit bawang."
"Oh, kalau masalah itu kami bisa jaga diri kok Bah. Bukannya di masjid saja ada batas suci. Apa lagi dalam urusan biologis, Dhea dan Ozi bisa menjaga kehormatan diri dan keluarga serta agama dengan baik." Dhea mencoba meyakinkan abah, kalau dirinya bisa menjaga apa yang abah dan umi khawatirkan.
"Yah sudah atur aja sama ente berdua. Kalo bisa jangan sering-sering ketemu, apa lagi sampe di tempat sepi."
"Maksud abah kuburan?" Celetuk Onci.
"Ini lagi dikata kuburan, yah tempat sepi yang hanya ada ente berdua doang." Abah kembali menekankan ketakutannya, kalau saja ada perbuatan yang tidak diinginkan itu terjadi. Atau kasarnya, hubungan intim layaknya suami istri.
"Insyallah kalo masalah gituan Bah, Ozi bisa nahan dan tahu batasan dosa-dosanya. Lagi juga Bah, Ozi sama Dhea nggak pernah duduk berudaan atau di tempat yang abah maksud. Ozi hanya anter jemput Dhea ke kampus aja kok." Onci pun menegaskan kembali agar abah tidak terlalu khawatir.
"Abah sering nonton berita isinya penggerebakan, keciduk dan apa lah itu di berita. Awas aja kalo sampe ente begitu Zi digerebek sama satpol pp abah nggak mau ngurusin, dan bikin malu keluarga. Lagi juga abah sama umi nggak kenal yang namanya pacaran. Abah langsung aja minta ke orang tua umi suka sama anaknya, dan nggak lama ane langsung nikah sama umi ente. Tanya aja sama umi, mumpung ada orangnya tuh!" Abah khawatir kalau sampai ada hal buruk seperti penggerebakan dan perbuatan asusila yang dilakukan mereka. Namanya orang tua mau memberikan yang terbaik untuk anaknya, dan tidak ingin kejadian buruk menimpah mereka.
"Insyallah kita nggak sampai segitunya Bah...Umi. Kan memang kita belum muhrim!" lagi-lagi Dhea mencoba meyakinkan abah dan umi. Dan Onci pun terkejut dengan istilah insyallah dan muhrim yang Thea ucapkan. Entah tahu dari mana dia dengan istilah itu.
"Yaudah Abah percaya sama ente berdua, jaga kepercayaan ane yah? Khususnya ente Ozi, jangan bikin malu keluarga. Oh iya, kalo bisa setiap hari minggu Neng Dhea ikut ngaji di masjid madrasah yah? Sempetin diri untuk hadir di majlis-majlis ilmu." Ada lagi permintaan abah yang bikin pusing kepala Onci.
"Andai Abah tahu kalo Dhea itu beda iman, bisa dipecat gw jadi anak. Lagi juga setiap minggu Dhea ke gereja Baaaah...!" gumam Onci.
"Iya Bah, insyallah Dhea sempetin hadir."
Bersambung >>>>
__ADS_1
Heeem, entah apa yang akan mereka alami lagi? Dan bagaimana ia harus menyiasati semua ini. Belum lagi dengan sifat abah yang begitu fanatik dengan agama. Ikuti terus ceritanya yaah?
Bersambung >>>