
Asshalatu wassalamun ‘alaik, ya imamal mujahidin, ya Rasulallah.
Ashalatu wassalamun ‘alaik, ya nashiral huda ya khaira kholqilllah
Suara sholawat Tahrim membahana di tengah keheningan, menembus Arasy dan menyapa lembut telinga yang rindu bertemu kekasih-Nya.
Jauh sebelum suara itu berkumandang, Abah dan Umi sudah terbangun dari tidurnya. Mereka begitu konsistennya, tidak mengenal keadaan, sekalipun ia sedang tidak enak badan, keadan pikirannya semraut, dan entah apa itu yang mencoba menggoda mereka untuk lalai dari solat malam, dapat mereka lalui bukan saja satu dua tahun, bahkan sudah puluhan tahun tetap konsisten dalam ibadah.
Itu yang tidak bisa Fahrurrozi alias Onci ikuti, walau di pondok pesantren pernah ia lakukan, selepas lulus? Hanya ibadah wajib saja yang ia kerjakan. Fahrurrozi terbilang santriawan yang pintar dan mampu menghafal Al Quran dan Hadits dengan cepat di masa itu, kini? Hafalannya sebagian sudah hilang, seiring dengan ambisinya.
Namanya anak muda, dan masih mencari jati diri. Kalau pun Abah dan Umi tidak 'mencaambuk-nya' mungkin kemasalannya akan menggurita, walau di hatinya amat dongkol, kesel tetapi pantang bagi Onci untuk melawan kedua orang tuanya, walau sering berselisih pendapat dan sudut pandang yang berbeda, hanya satu permintaan Abah dan Umi yang selalu saja di dengungkan di telinga.
"Senakal apa pun hidup elu, jangan sampai ninggalin ibadah.Cuma ntu yang bisa nyelematin hidup luu...!" Ia akan inget selalu apa yang Abah-Umi ucapkan.
Thea pun tanpa ia ceritakan tentang latar belakang keluarganya, selalu ia mengingatkan Onci untuk ibadah, sekalipun ia berbeda agama.
Begitu juga dengan Onci, yang menghargai keyakinan Dhea, keduanya tidak pernah mau membahas perbedaan, atau mengunggul-unggulkan keyakinan yang mereka anut.
"Bagimu agama mu dan bagiku agamaku." Prinsip Onci, begitu juga Dhea memiliki prinsip yang sama.
“Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi. Tetapi orang pandai berdiam diri”. Amsal 11:12
Beruntung Onci memiliki, Abah, Umi dan Dhea, walau ada satu yang mengganjal dalam hubungannya, yakin perbedaan keyakinan. Onci hanya menjalani saja apa yang ada, selebihnya biarlah Tuhan yang mengatur jalan hidup manusia, manusia hanya berencana selebihnya Tuhan tahu mana yang terbaik untuk umatnya, yang terpenting bagi Onci sekarang adalah bagaimana bisa berbagi waktu, untuk Tuhan, Abah, Umi dan Dhea, ia tidak mau keduanya kecewa.
"Baaaang, bangun! Tahajud!!!" Suara itu kembali mengejutkannya, dan membangunkan Onci dari mimpi indahnya.
Sebisa mungkin ia paksakan matanya untuk melek, dan mengumpulkan tenaga untuk bisa beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
"Ampun jam tiga pagi, dipaksa bangun dan solat! Mata masih sepet pula!" Gerutu Onci, tetapi kembali ia mengingat ada harapan yang Abah dan Umi titipkan harapan padanya, dan yang terpenting ancaman kalau saja tidak nurut dengan mereka, siap-siap dipindahkan ke Yaman, Saudi, Mesir, atau terjauhnya Maroko.
"Ingat! Kalo sampai ente tidak nurut dengan Abah dan Umi, terpaksa ane sekolahin ente di Timur Tengah, biar belajar lagi ilmu agama tanah para nabi." Ucapan ini yang akan terus ia ingat.
Kalau sudah teringat pesan Abah seperti itu, rasa kantuknya akan hilang dalam sekejab, dan yang semula malas, memacu dirinya untuk bergegas ke kamar mandi, kenakan baju sholat, sholat tahajud dahulu lalu berangkat ke Musolah Madrasah.
Dan jam sepuluh pagi, selepas Dhuha ia harus mengantar Dhea ke kampus, semalam Dhea sudah menghubunginya. Akhir-akhir ini Dhea merasakan ada perbedaan yang dialami kekasihnya itu, sering telat anter dan jemput.
"Jangan telat yaaah yaaaank! Kamu sering banget telat." Ini yang sering Dhea katakan setiap harinya.
"Habis ngampus, anter aku latihan dance yah?" Aduh, sudah terbayang di benak Onci, kemacetan, suara deru knalpot, angkot yang asal berhenti, ibu-ibu yang mengendarai sepeda motor, pedagang di trotoar jalan, lampu merah, belum lagi hujan.
__ADS_1
"Huft! Demi kamu aku rela. Andai saja badan gw bisa dibelah, pengen bagi dua. Satu untuk Abah dan Umi, satu lagi untuk nemenin Dhea." Gerutu Onci.
Dan ada lagi yang bikin Onci semakin 'Snewen' atau gusar, kalau tiba-tiba ada pesan WhatsApp masuk dan itu dari Nabila.
Nabila Guru :
Kak, abah titip pesen nanti ikut rapat, sekalian ajarkan guru-guru komputerisasi. Kakak kan tahu, sekarang semua berbasis komputer.
Benar saja, ia mulai disibukan dengan urusan Madrasah. Mulai dari mengajarkan guru-guru membuat laporan kerja, soal ujian online, raport siswa, bahkan mulai mengajar jika ada guru yang berhalangan hadir.
Setidaknya ada Nabila yang bisa diajak kongkalingkong atau menutupi keterbatasan waktu Onci.
"Bil, bantuin Kakak yah? Kalo nanti saya belum sampai ke sekolah, Bila bantu ngajarin guru belajar ngisi laporan online. Nanti kakak traktir makan, atau nggak dibeliin pulsa yaa?" Rayu Onci demi menjaga perasaan semua dan berjalan dengan baik.
"Ok Ka! Tapi jangan sering-sering juga, takut ketauan Pak Haji, Bila kan baru masuk kerja."
"Santai kakak bantu bicara nanti."
"Emangnya Kak Ozi sibuk apa sih? Perasaan di rapat kemaren Nabila denger, Pak Haji hanya suruh ngurus sekolah, kalau bohong terus kan dosa Kaaak?" Sindir Bila
"Udah jangan banyak komentar ya? Dosanya biar kakak yang nanggung...Hahhaa..."
Seperti biasa, Onci hanya absen muka ke sekolah, setelah itu ia langsung pergi menemui Dhea.
__________________¤¤¤_________________
Tidak seperti biasanya, yang awal mula Onci mengendarai kendaraan hanya 30 Km/jam kini harus 50 Km/jam karena untuk sampai ke rumah Dhea, jangan sampai terlambat, setelah itu ia harus kembali ke Sekolah dan balik lagi ke kampus, lalu antar Dhea ke bilangan Timur Jakarta untuk latihan Dance.
"Naah gitu dong Ay, nggak pake lama!" Sindir Dhea.
"Kan pelayanan prima."
Thea tidak tahu, bagaimana perjuangan Onci untuk bisa sampai ke rumahnya lebih awal. Ia harus berbagi waktu, mengemudi kendaraan lebih dari kecepatan biasanya, bahkan harus merayu Nabila untuk bisa membantunya sampai ke rumah Dhea.
Setelah sampai di kampus, Onci harus kembali lagi ke Sekolah dan beraktifitas sebagai tenaga akademis, membantu kedua orang tuanya.
"Yaaank, nanti jemput yaah? Anter aku latihan." Pesan Dhea yang sudah mem-booking nya untuk standby di kampus sebelum dia keluar kampus.
Di sekolah, Onci pun memangkas waktu dan lebih intens untuk merapihkan apa yang Abah pesan di rapat pertama kemarin, kalau dirinya dijadikan staf administrasi yang membimbing tenaga pendidik untuk menyelesaikan laporan via online dan pemberkasan lainnya.
__ADS_1
Apakah pengorbanan Onci demi orang yang ia sayangi itu berakhir indah? Ataukah Tuhan berkata lain dengan jalan takdir hidupnya? Jangan-jangan Onci kehilangan semuanya.
***Bersambung >>>>
_____________Hi Readers😘_________
Terimakasih sudah mampir ke karya kecil saya, penulis yang masih terus belajar mengembangkan karya. Jangan lewatakan kisah selanjutnya yaaah?
Oh iya, tinggalkan juga jejak komentar dan karya temen-temen semua yah? Biar aku mampir juga.
Jangan lupa :
👉 Vote
👉 Share
👉 Like, dan
👉 Tanda bintang untuk barometer kami
atas kepuasan temen-temen, serta..
👉 Jangan lupa juga tekan ❤ sebagai bacaan favorit, dan dapat update terus episodenya.
👉 Dan kunjungi kanal literasi kami.
Ada beberapa menu novel yang sudah aku tulis, yaaah walau serba keterbatasan ejaan dll....
Takdir Tak Salah
Satu Cinta, Dua Benua
Petaka Youtuber
Terimakasih***
__ADS_1
_________________________________________