Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Batas Suci


__ADS_3

Perpadanan warna, keluwesan aksara arab dan pemilihan Khat Diwani Jali dan Khat Tsuluts begitu tepat, hingga terlihat indah ukiran di atas dinding, bahkan sampai ke langit-langit kuba masjid, kaligrafi itu nampak memiliki nilai lebih. Design interior nya mencerminkan seperti bangunan di Timur Tengah. Lihatlah juga mimbarnya yang terbuat dari kayu jati dan ukiran khas Jepara, begitu kekar. Jam digital menunjukan jadwal sholat dengan lampu merah mencolok, membuat kagum dan memanjakan mata Dhea.


Ia pun menelusuri ruang yang bertuliskan, Kantor Dewan Kepengurusan Masjid, menjadi bukti bahwa masjid yang selama ini ia lihat, memiliki management pengelolaan.


"Aku pikir di gereja saja yang ada seperti ini, ternyata masjid pun ada juga yah?" Ucap Dhea melihat tulisan yang terpajang di atas pintu masuk.


"Ukirannya juga bagus yaah yaank, dan tempat wudhu nya juga bersih." Dhea mengomentari juga tempat wudhu.


"Itu kok di depan masjid ada panggung untuk apa?"


"itu mimbar namanya untuk khotbah." Jelas Onci.


"Ooh, kalau tulisan-tulisan itu bacanya apa?"


"Itu disebutnya kaligrafi, bacaanya apa yang tertulis dalam kitab suci Al Quran."


"Kok bukan pakai bahasa Indonesia?"


"Ada juga yang pakai bahasa Indonesia, disebutnya huruf latin. Karena demi menjaga keaslian al quran, makanya menggunkan bahasa Arab, dan dalam cetakan Al-quran juga ada yang diterjemahkan artinya dengan bahasa lokal di seluruh dunia."


"Kenapa kok masuk masjid harus lepas alas kaki?" Dhea masih meneruskan pertanyaan-pertanyaan yang masih membuatnya penasaran.


"Untuk ketemu kamu aja aku harus bersih, masa ketemu Tuhan nggak berisih sih yank." Jawab Onci.


"Seumur hidup aku baru masuk ke Masjid, terimakasih yaah?" Ucap Dhea.


"Oh iyaaa yank, kita balik ke cafenya Sisil yuk?! Aku belum bayar makanannya juga."


Ajak Dhea untuk kembali ke Cafe Sisil, selang beberapa menit handphone Dhea bergetar.


Dreeeet...treeet...


Tertulis di L.E.D ' I' Ipon'


Dhea pun mengangkat panggilan masuk tersebut, ternyata yang menelepon itu adik dari Mamah-nya Dhea.


" I'i ngajak barbeque-an nanti malam di rumah. Dan sekarang ia sudah ada di rumah ku." Dhea menjelaskan ke Onci, khawatir hatinya bertanya-tanya setiap kali gadis itu menerima telepon masuk.


Hingga sampailah mereka di Cafe Sisil, setelah membayar semua makanan yang ia pesan, mereka pun langsung menuju rumahnya, karena I'i Lusi dan anak-anaknya sudah menunggu.


Mereka pun bergegas meninggalkan Cafe, dan saat Onci menarik lengan Dhea, untuk mengapit di pinggangnya.


"Batas Suci dan kita belum muhrim." Sindir Dhea setelah melihat ada tulisan di Masjid tadi.


"Besok di jok motor ayaank aku mau buat tulisan batas suci...hahahaha," kelakar Dhea dan Onci hanya tersenyum.


__________________¤¤¤_____________


Beberapa kantung daging sudah disiapkan, wajan dan beberapa peralatan memanggang pun terlihat sudah berada di taman. Pernak-pernik lampu terpasang menghiasi di ranting dan daun serta bungalaw, menambah indahnya malam itu.


Onci nampak canggung di tengah-tengah keluarga mereka. Dan satu persatu Dhea mengenalkan saudara-saudaranya, mulai dari sepupu sampai ke tante-tantenya.


"Kenalin semua, ini pacar cici namanya Koko Onci." Teriak Thea membelah keramaian.

__ADS_1


"Hey Koko, aku Denies." Ucap anak laki-laki di sudut taman.


"Aku Natalie Koko," Si Kecil Natalie pun memperkenalkan diri.


"Dan Aku, Abraham Koh."


I'Nani menjulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya," I'i Ipon, tantenya Thea."


Setelah bercengkrama dan berbincang-bincang ringan, Dhea mendengar suara adzan, dan mengingatkan Onci untuk Solat.


"Yaaank, solat tuh! Sudah dipanggil Tuhan." Ucap Thea di tengah-tengah keluarganya.


"Dia muslim Tet?" Tanya I'i-nya.


"Yah Muslim!" Jawab Dhea.


Gadis itu mengajak ke kamar tidurnya, dan menunjukan kamar mandi untuk Onci berwudhu.


"Tapi disini tidak ada sarung dan alas untuk kamu solat yaank, nggak apa kan?"


"Nggak apa-apa kok! Kamu kasih aku tempat untuk solat aja sudah cukup."


"Yaudah, aku tinggal yah?"


"Ok, terimakasih yaah?!"


Warna pink menghiasi kamarnya yang bersih, beberapa jambangan dinding, salib terpasang, serta foto-foto Dhea dalam frame terlihat indah, maklum kamar wanita.


Disaat Onci tengah solat, ternyata beberapa orang keluarganya sedang membahas perbedaan agama antara Dhea dan Onci.


"Yaah, jalanin aja sih i'i! Jodoh syukur nggak pun mau bagaimana lagi!" Jawab Dhea.


"Awas aja kamu, sampe pindah agama! Kecuali dia yang ikut agama kamu." Tegas Kokoh Chandra William, suami dari I'Ipon.


"Heeeeem...nggaklah om!" Tegas Dhea.


Beberapa menit kemudian, Onci keluar dari kamar Thea, dan kembali bergabung dengan saudara-saudaranya, suasana menjadi hening saat melihat Onci datang, pembicaraan pun berganti topik.


"Kamu sudah selesai solatnya yaank?"


"Sudah."


"Oh ini sosis bakarnya sudah aku siapkan untuk kamu." Dhea menawarkan makanan.


"Aku mau ke Toilet dulu yank." Ucap Onci.


"Di deket dapur ada Toilet." Dhea menunjukan tempatnya.


Betapa terkejutnya Onci saat ingin masuk ke kamar mandi, ia menemukan bungkus Sosis bertuliskan,'Poke' yang ia tahu itu artinya Babi.


"Astaghfirullah...Untung gw belom makan itu sosis." Gumam Onci dalam hati.


Dan saat kembali dari Toilet dan Dhea pun sudah menyiapkan sosis bakar yang sepintas menggugah selera, di balur dengan saos tomat dan mayones.

__ADS_1


"Nggak mau aah! Pasti kamu ngerjain aku, kemaren Mie Jambi sekarang sosis bakar, aku tahu itu B 2."


"Hahahahahaaa...Kamu susah banget dikerjainnya!" Dhea tertawa terbahak-bahak


"Yaah sorry yaank, bercanda." Ucap Dhea.


Di tengah kelakar dan perbincangan, I'Ipon mengajak Dhea untuk liburan semester.


"Teet, libur kuliah kapan? Liburan ke KL yuk?" Tawar I'Ipon.


"Hayuu I'i ongkosin ya?" Pinta Dhea.


"Kalo satu tiket sih hayu aja!" Jawab I'i yang Onci pun sadar dengan apa yang dimaksud 'satu tiket saja'


"Lagi juga siapa yang mau ikut." Ucap Onci dalam hati menanggapi omongan I'ipon, dan pandangan Dhea pun tertuju ke Onci, ia merasa ucapan I'i nya itu sudah menyinggung perasaannya.


Onci memegang jemari Dhea dan berbisik," santai aja yaank, kamu liburan aja nggak apa-apa."


Thea pun merasa tenang kalau kekasihnya itu tidak tersinggung dengan ucapan tantenya.


Tak terasa, waktu menunjukan pukul sembilan malam, Onci harus pamit pulang karena situasi di rumah lagi tidak mendukung, Abah dan Umi sudah me-wanti-wanti nya untuk tidak membiasakan pulang larut malam.


__________________¤¤¤________________


Sesampainya di rumah, Abah dan Umi sudah menunggunya di ruang keluarga. Seakan sudah direncanakan dan ada hal yang ingin mereka sampaikan.


"Ozi, ente tinggal pilih ane kuliahkan ke luar Saudi atau bantu Abah dan Umi ngajar di Madrasah?" Abah menegaskan kembali dan menjadi somasi akhir untuk Onci alias Ozi.


Pilihan yang sulit, satu sisi ia takut Dhea berpaling ke hati yang lain, dan disisi lain Onci harus memenuhi keinginan kedua orang tuanya yang sudah sepuh itu.


"Kalau gw disekolahin di luar negeri, mana sanggup jalanin LDR dengan Dhea. Mau nggak mau gw milih ngajar, tapi mesti gw obrolin dulu sama Dhea." Gumamnya dalam hati.


***Bersambung >>>>>


_____________Hi Readers😘_________


Terimakasih sudah mampir ke karya kecil saya, penulis yang masih terus belajar mengembangkan karya. Oh iya, tinggalkan juga jejak komentar dan karya temen-temen semua yah? Biar aku mampir juga.


Jangan lupa :


👉 Vote


👉 Share


👉 Like, dan


👉 Tanda bintang untuk barometer kami


atas kepuasan temen-temen, serta..


👉 Jangan lupa juga tekan ❤ sebagai bacaan favorit, dan dapat update terus episodenya.


👉 Dan kunjungi kanal literasi kami.

__ADS_1


Terimakasih***


_________________________________________


__ADS_2