Jodoh Wasiat Ayah

Jodoh Wasiat Ayah
Ardella Zayna


__ADS_3

\* JODOH WASIAT AYAH \*


Ep.1


Ardella Zayna


Pena: Smilling☺️


"Bu...., Zea berangkat...." teriak Zayna dari teras rumahnya sembari memakai sepatu kanannya.


Tas yang tak dipakai dengan benar, roti tawar utuh yang masih di gigit dibibir dan kemeja yang belum dirapikan menjelaskan bahwa mahasiswi tingkat akhir itu kelihatan tengah terburu buru.


Hampir saja pergi melesat menaiki motor matic kesayangannya, sang Ibu yang menghampiri putrinya itupun langsung menarik telinga Zayna sebal. "Adududuh Bu sakit..., Zea udah terlambat nih..., lepasin dong" rengeknya.


"Habisnya...., ingat Zea kamu itu anak perempuan rapi sedikit kenapa sih, mana pamitnya pake teriak teriak segala lagi, pelajaran sopan santunmu udah lupa?" omel si kanjeng mami. Zayna hanya memutar bola matanya jengah pagi pagi sudah dapet ceramah, pikirnya.


"Nih coba liat masa anak perempuan begini sih nggak ada manis manisnya!!".


Santi memperbaiki kerah kemeja putrinya lalu memasukkan ujung kain itu kedalam celana Zayna. Wanita berumur empat puluh tahunan itu tak lupa memakaikan dengan benar tas ransel putrinya.


Dan jelas saja untuk melawan perlakuan sang Ibu Zayna tak mampu, takut dikutuk jadi babu selama seminggu. Jujur saja Zayna ini memang bukan tipe wanita yang menjaga penampilan agar terlihat menyenangkan didepan orang tapi batinnya terpaksa memakainya. Gadis itu ebih nyaman memakai pakaian yang ia suka seperti kaos dan celana jeans saja dilapisi jaket mungkin, dari pada harus memakai kemeja atau dress pilihan ibunya.


Seperti tadi baru selesai mandi Zayna sudah dipaksa memakai kemeja wanita yang dibelikan Ibunya. Alhasil perdebatan dimulai sampai dengan keputusan Zayna yang terpaksa memakai kemeja tersebut dan terlambat kekampus, tinggal dua puluh menit lagi.


"Ini apalagi mbo ya rotinya dihabisin dulu, duh anak gadis ini pusing ibu...".


Zayna memasukan semua roti kedalam mulutnya mengunyahnya lalu menelannya, membuat ibunya menggelengkan kepala bingung dia dulu ngidam apa sampai mendapat putri yang semberono begini.


"Bu ngomelnya udah dulu ya sambung lagi kalau Zea udah pulang...., sekarang Zea ngampus dulu udah telat banget ini". Cup, Zayna menarik tangan sang Ibu untuk dikecupnya lalu menaiki motor maticnya. "Dah Bu....." serunya sambil melajukan motornya.


Santi menggelengkan kepala sembari menghela napas panjangnya. "Anak itu kapan berubahnya sih, gimana mau dapat calon suami kalau kelakuannya begitu" keluhnya lalu masuk kedalam rumah.


*****


"Telat deh gue..., telat deh gue" rapal Zayna berlari menuju kelasnya.


Tok, tok, tok.


Masih dengan nafas terengah engah Zayna mengetok pintu ruang kelas Pak Budi, dosen killer dikampusnya ini.


Mendengar suara pintu diketuk Pak Budi menoleh, menurunkan sedikit kecamatanya memicing mengarah pada Zayna. Alisnya bertaut lalu melirik jam tangannya.


"Anda terlambat lima menit, beri alasan tepat untuk masuk kekelas saya!" ucapnya tegas.


Para mahasiswa yang ada dalam ruangan itu pun menoleh memusatkan perhatian pada Zayna yang berdiri diambang pintu dengan wajah tegangnya.


"Emmm, itu, anu pak".


"Anu, itu, anu, itu cepat jawab" bentak Pak Budi yang membuat Zayna sedikit tersentak namun tak gemetar.


"Kita habis kumpul di perpus pak, bahas kegiatan penyambutan siswa baru minggu depan" jawab seorang pemuda jangkung dibelakang Zayna yang juga baru datang. Zayna melirik pada pria disampingnya yang mengedipkan mata memberinya kode agar bisa bekerja sama.


Pak Budi menaikkan sebelah alisnya. "Sepagi ini?" tanyanya curiga.


"Iya Pak, karena Pak Handoko ada dinas luar kota nanti siang" jawab pemuda itu.

__ADS_1


Pak Budi terlihat berfikir sebentar, menyelidik apa benar alasan keduanya karena dia termasuk dosen yang disiplin dan tak menerima alasan yang dibuat buat.


Tapi mengingat memang Pak Handoko setaunya ada dinas luar, juga yang menjawab adalah ketua BEM yang terkenal pintar dan jujur akhirnya Pak Budi termakan kebohongan keduanya.


Ah, tidak hanya kebohongan pemuda itu saja. Zayna kan ingin menjawab jujur tapi pemuda itu saja yang langsung menjawab tanpa permisi. Masuk atau nggak masuk yah terserah udah pasrah Zayna mah, tapi dibantu gini gak ditolak juga lah.


"Oke kalian boleh masuk, tapi ini untuk yang terakhir kalinya saya memberi kalian kesempatan mengerti!" ucap Pak Budi.


Diam diam Zayna menghela napas lega lalu buru buru mencari kursi untuk segera ia duduki sebelum si dosen killer berubah pikiran lagi.


Zayna baru meletakkan bokongnya di dinginnya kursi tak berpenghuni tapi sang sahabat Naira sudah mencercanya dengan berbagai pertanyaan.


"Kok bisa lo bareng ketua BEM?, Lo kan bukan panitia?, terus kenapa lo telat?, udah buat tugas matkul Bu lucy belom?".


Zayna menatap Naira tak terbaca lalu menjitak kepala gadis berponi itu gemas sampai dia mengaduh kesakitan. "Set pertanyaan lo, dosen killer didepan aja pertanyaannya cuma satu, nah lo seabrek". Naira pun cengengesan sambil mengelus kepalanya yang dijitak Zayna.


"Kalau masih mau mengobrol silahkan keluar dari kelas saya" sentak Pak Budi membuat semua orang terkejut tak terkecuali Zayna dan Naira yang jadi sasaran utama Pak Budi. Keduanya langsung kicep dibuatnya.


Sebelum fokus pada penjelasan Pak Budi, Zayna tanpa sengaja melirik pada pemuda yang tadi menyelamatkannya dari hukuman Pak Budi. Pemuda yang duduk di ujung kelas itu tersenyum manis padanya yang mau tak mau dia balas dengan hal yang sama walau malah terlihat Zayna seperti menyeringai.


Zayna langsung meregangkan otot otot jari tangannya saat Pak Budi keluar dari ruangannya setelah memberikan tugas untuk pertemuan berikutnya.


"Sebel amat Pak Budi tiap ngisi kelas hobinya nyuruh nulis mulu, masa" keluh Naira.Zayna tertawa mendengus.


"Ya masih mending dari pada Bu lucy hobinya ngasi kuis mulu, coba itu". Naira nampak berpikir. "Lah iya juga ya" jawabnya.


Karena jika dipikir pikir walaupun dari menit pertama sampai menit terakhir dia terus menulis di matkul Pak Budi tapi pria berumur lima puluh tahun itu tak memberi tugas saat itu juga paling untuk pertemuan berikutnya. Sedang Bu Lucy pasti memberikan kuis disetiap pertemuannya yang membuat kepala para mahasiswa terasa ditindih batu sebesar ban truk.


"Kalau nggak mau nulis dan ada kuis, nggak usah kuliah aja lah sekalian, bolos kek gue aman udah" ucap Heri yang dengan santainya duduk didepan keduanya.


"Set..." umpat Heri saat mulusnya buku mendarat sukses dikepalanya, siapa lagi pelakunya, Zayna.


Heri baru ingin membalas tapi saat melihat tatapan tajam Zayna, bibirnya langsung menyunggingkan senyuman.


"Ngikutin lo itu malah bikin sesat, sama aja menduakan Tuhan!" omel Zayna.


Naira mencebikkan bibirnya. "Tau heran gue sama ni anak suka bolos tapi bisa aja gituh jadi mahasiswa tingkat akhir, nyogok sih gue rasa".


Heri mendengus sebal. "Kenapa iri, ikutin lah" ucapnya pada Naira yang langsung menjawab. "Ogah".


Setelahnya hanya ada perdebatan diantara Heri dan Naira yang tak pernah akur dari dulu kala. Zayna saja sampai kehabisan akal untuk mencocokkan keduanya yang adalah sahabatnya sejak SMA.


Tuk, tuk.


Heri dan Naira menoleh pada pemilik jari yang mengetuk meja mereka, keduanya menaikkan alis heran melihat Ibra sudah berdiri disamping meja mereka, menatap Zayna dengan senyumnya.


"Hai, Zayna kan?" tanya pemuda itu pada Zayna yang baru memasukkan bukunya kedalam tas.


Zayna mendongak. "Iya" jawabnya singkat.


Ibra mengulurkan tangannya. "Gue Ibra ketua BEM, mahasiswa tingkat akhir juga" kenalnya.


"Set sombongnya". Zayna melirik kedua sahabatnya sekilas melirik pada tangan Ibra lalu pada wajah manis pemuda itu. Kemudian Zayna tersenyum sambil menyambut uluran tangan Ibra.


"Gue Zayna ketua perhimpunan bidadari sekota Jakarta" ucapnya sekenanya yang membuat Naira dan Heri cekikikan tak terkecuali Ibra.

__ADS_1


"Lo lucu juga" ucap Ibra saat Zayna menyudahi jabat tangan perkenalan mereka. Zayna hanya tersenyum miring saja.


Heri berdiri merangkul pundak Ibra seperti sudah berteman dekat. "Ada paan bro kemari?" tanyanya.


"Oh iya terima kasih sudah nolongin gue tadi" sela Zayna. "Mungkin dia mau ucapan terima kasih dari gue karena udah ditolongin" tambahnya bicara pada Heri.


"Ohhhhh" Heri menganggukkan kepala.


"Bukan bukan" Abri melambaikan kedua tangannya. "Gue mau ajak lo ikut jadi panitia penyambutan siswa baru" tambahnya.


Zayna menaikkan sebelah alisnya. "Gue" tunjuknya pada dirinya sendiri. Abri mengangguk antusias. "Sory gue nggak minat".


Zayna kemudian berdiri. "Yok Nai, kantin laper gue" ucapnya mengajak sang sahabat tanpa menghiraukan lagi Ibra yang terus menatapnya.


"Tapi....".


"Titik!" sela Zayna sebelum pergi bersama Naira.


Heri menggelengkan kepalanya. "Hah...., Sory bro nggak minat temen gue" ucapnya menepuk pundak Abri dua kali.


Ia pun ikut pergi dengan kedua sahabat perempuannya itu tapi dia kembali berbalik dan berkata. "Kalau modus, berkelas dikit, rencana lo kebaca sama Zayna" ucapnya tersenyum smirk.


Abri yang sedari tadi hanya terdiam entah karena penolakan Zayna, kecantikan gadis itu atau ucapan Heri dan baru tersadar saat seorang temannya mengejutkan.


"Ikan tak termakan umpan, habis ini lo utang teraktir makan" ucapnya tertawa bahagia.


"Sialan" umpat Abri yang memang membantu dan mendekati Zayna dengan tujuan memenangkan taruhan bersama teman temannya.


Sedangkan dikantin Zayna yang sudah duduk manis menikmati bakmi ayam andalannya selalu dilirik sebagian besar pemuda yang ada disana. Wajahnya yang cantik walaupun dengan gaya yang terbilang tomboi membuat para pemuda sering menjadikannya bahan uji coba.


Zayna sering dibuat taruhan karena sikapnya yang jutek pada pemuda pemuda yang mendekatinya, membuat mereka tertantang untuk taruhan.


Tak hanya cantik Zayna terkenal pintar dan frendly tapi dia akan bersikap cuek dan dingin pada pemuda yang mendekatinya. Satu satunya pemuda yang ada didekatnya hanya Heri.


Heri dan Naira adalah sahabatnya sejak jaman SMA, mereka selalu bersama. Hanya saja Heri dan Naira tak pernah akur lebih sering berantemnya dari pada baiknya. Tapi hal itu menjadi bumbu dalam pertemanan mereka.


Saat menikmati makanannya tiba tiba ponsel Zayna bergetar, gadis itu lalu mengangkat panggilannya.


"Halo iya Bu, baru juga pisah udah nelpon kangen yah" ucapnya bercanda karena memang Zayna dan sang ibu lebih seperti teman dari pada anak dan orang tua.


Tapi raut gembira Zayna hilang dalam beberapa detik saja membuat Heri dan Naira yang duduk didekatnya saling tatap.


Zayna perlahan menurunkan ponsel yang ia tempel di telinganya. Tatapanya kosong dunianya bagai runtuh seketika.


"Zea, lo kenapa?" tanya Naira khawatir.


"Kenapa, Ibu kenapa?" tanya Heri memegang pundak Zayna.


Zayna menatap kedua sahabatnya itu dengan bibir yang mulai gemetar. "Bo...., Bokap gue...., Bokap gue meninggal" ucapnya terbata air matanya sudah sukses meluncur dengan bebasnya.


Heri dan Naira terkejut bukan main. Orang tua Zayna bukan lagi orang lain, mereka sudah seperti orang tua juga untuk keduanya. Terlebih Ayah Zayna pria paruh baya yang selalu memberi mereka nasehat dan motifasi pada kehidupan ketiganya.


"Ayo, kita antar kamu pulang sekarang." ucap Heri mode serius.


*****

__ADS_1


lanjut nggak nih????????


__ADS_2