
* JODOH WASIAT AYAH *
Ep.2
Kasih sayang Ayah
Pena: Smilling
Bruk!!!
Bagas yang saat itu tengah santai duduk sambil membaca koran ditemani secangkir kopi, bergegas lari mendekati sang putri yang terjatuh dari ayunan. Koran yang dipegangnya dia buang kesembarang tempat sangking terkejutnya melihat putri nya terjatuh.
"Zea sayang" ucapnya langsung membawa tubuh mungil Zayna kedalam pelukannya. Dia mengelus puncak kepala sang putri sayang.
"Apa yang sakit Nak, hmmm bilang sama Ayah" tambahnya memperhatikan seluruh tubuh Zayna. Bagas menatap wajah putrinya yang bukannya menangis karena sudah terjatuh malah mengembangkan senyumnya. Zayna lalu menggelengkan kepala.
"Jea nda papa Yah" jawab gadis mungil itu menggemaskan.
Bagas menghela napas lega, menurunkan tubuh putri kecilnya yang baru berumur lima tahun itu. Ia berjongkok menghadap sang putri, matanya menangkap luka pada lutut Zayna.
"Zea beneran nggak papa, kakinya berdarah loh?" tanyanya memastikan.
Zayna menunduk melihat kakinya, lalu kembali menatap Ayahnya. "Sikit aja kok Yah, jea kuat" ucapnya mantap.
Bagas tersenyum mengusap lembut pipi cabi Zayna. "Jea kan anak Ayah jadi hayus kuat nda boleh cengeng" tambahnya dengan nada menggemaskan.
Bagas tercengang ternyata kata katanya masih diingat oleh Zayna saat mereka berlatih sepatu roda setahun yang lalu. Saat itu Zayna yang ingin sekali bermain sepatu roda seperti temannya minta diajarkan oleh sang Ayah. Tapi selalu terjatuh dan membuatnya menangis. Untuk menenangkannya Bagas berkata, anak Ayah nggak boleh cengeng harus kuat biar bisa jaga Mama.
"Pinternya anak Ayah" ucapnya memberi kecupan bertubi tubi dipipi sang gadis kecil yang tertawa geli dibuatnya.
*****
"Pokoknya Zea mau sepeda, Zea mau kaya temen temen, Ayah sudah janji nggak boleh diingkari" rengek Zayna menghentakkan kedua kakinya didepan meja kerja sang Ayah.
"Iya sayang, nanti Ayah beliin, sabar dulu ya" ucap Bagas menenangkan sang putri tapi Zayna bertambah kesal.
"Nanti nanti terus, Zea capek nunggunya, Zea sebel sama Ayah" ucap gadis berumur sebelas tahun itu. Kemudian berlalu meninggalkan sang Ayah yang mengurut pelipisnya.
__ADS_1
Sebenarnya bukan karena tak ingin menuruti kemauan sang putri, tapi keadaan bisnis yang ia geluti sedang berada di titik terendah membuatnya harus memutar otak. Gajih karyawan dan masalah kecil lainnya pun ia harus tutupi dengan uang tabungan. Dia hanya ingin menunda sampai keadaan mulai membaik dulu baru dia menuruti kemauan sang putri.
Dan kata nanti adalah salah satu kata andalannya karena untuk memberitahukan hal sebenarnya pada sang putri dia tak bisa. Belum tentu juga sang putri akan mengerti dengan masalah orang dewasa ini.
Beberapa minggu kemudian setelah rengekkan Zayna. Gadis itu sama sekali tak menegur Ayahnya, tapi suatu hari dengan mata kepalanya sendiri Zayna sadar telah membuat Ayahnya bekerja keras untuknya.
Siang itu sepulang sekolah Zayna melihat sang Ayah berpindah dari pintu ke pintu rumah menjajakan barang buatan pabriknya. Dengan cuaca panas sang Ayah tak malu turun tangan sendiri menjual pakaian. Karena inikah sang Ayah selama beberapa hari ini selalu pulang malam dan terkadang sampai demam. Zayna tak berani menghampiri setelah melihat itu dia langsung pulang kerumah, merenung sendiri.
Saat malam tiba, sang Ayah pulang dengan membawa sepeda keinginannya. Zayna yang dipanggil Ibunya ke teras rumah pun terkejut bukan main.
"Ini sepeda untuk putri Ayah tersayang" ucap Bagas dengan wajah bangga dan senyum mengembangnya. Zayna tercengang sesaat ketika sadar air matanya sudah mulai terkumpul, dia berlari. Bagas yang tiba tiba mendapat sambaran pelukan sang putri pun tertegun.
"Ayah maafin Zea, maafin Zea karena sudah buat Ayah capek, Zea nggak mau sepedanya Zea cuma mau Ayah sehat sehat aja, mulai sekarang Zea nggak bakal minta apapun lagi, Zea janji" isak Zayna dipelukan sang Ayah menangis sesenggukan.
Bagas tersenyum mendorong lembut tubuh putrinya untuk dia lihat wajah sembabnya dan dia hapus jejak air matanya.
"Kenapa Zea minta maaf, Zea nggak salah kok, wajar kalau Zea minta apapun ke Ayah karena sebagai orang tua Ayah harus siap dengan keinginan anaknya" Bagas kembali menyeka air mata putrinya yang terus turun tanpa jeda.
"Itu sudah kewajiban Ayah, Ayah kan cari uang juga untuk Zea jadi jangan merasa bersalah yah" tambahnya.
Itulah sang Ayah yang tak pernah mau langsung memarahi putrinya. Karena menurutnya disetiap tindakannya akan berpengaruh pada sifat sang putri. Jadi dia akan mengajarkan hal hal yang baik. Seperti tak melihat sebuah masalah dari sisi negatifnya saja tapi dari sisi positifnya dan memutuskan jalan keluarnya dengan benar.
*****
Zayna berjalan tertatih mendekati tubuh sang Ayah yang sudah terbujur kaku diruang tamu. Tatapan mata yang hanya tertuju pada kain batik memanjang itu menyiratkan luka begitu dalam.
Semua orang yang melihatnya tahu jika saat ini Zayna hancur, kehilangan orang yang amat ia cintai. Sang Ayah yang selalu setia mendampingi disaat ia bahagia maupun kecewa. Nasihat yang selalu diajarkannya, candaan yang membuatnya tertawa dan ketegasan yang membuat Zayna menginginkan kelak suaminya harus seperti sang Ayah. Membuat Zayna amat kehilangan sosok pria berbadan tegap itu.
Begitu sampai tepat disamping jasad sang Ayah, tubuh Zayna melemas. Dia langsung tertekuk lutut disana.
"Hiks..., Hiks...., Ayah" tangisnya tak tertahankan. "Kenapa Ayah ninggalin Zea dan Ibu, bukannya Ayah udah janji mau jagain kita berdua, mana janji Ayah" tambahnya.
Tangan Zayna bergerak mengambil tangan sang Ayah dari balik sarung batiknya. Dikecupnya berkali kali tangan dingin pria kesayangannya itu, membuat sang Ibu yang ada disampingnya semakin menangis tersedu.
"Ayah marah sama Zea?, Zea ada salah?, Zea minta maaf Yah, tapi jangan kaya gini, Ayah bangun.....".
"Hiks..., Hiks...., Siapa nanti yang nasehatin Zea kalau Zea salah, siapa yang nungguin Zea dikursi kalau Zea pulang malam, siapa yang Zea sandarin kalau Ayah begini, siapa Yah, bangun Yah, bangun" isak Zayna.
__ADS_1
Melihat Zayna yang begitu kehilangan sosok Ayahnya membuat para tetangga yang melayat bahkan Heri dan Naira yang duduk disamping Ibu Zayna ikut menitikan air mata merasakan kesedihan yang sama.
Zayna kini menangis memeluk tubuh dingin sang Ayah dari balik sarungnya. Menyesal, menyesal karena tak mencegah lebih keras lagi saat sang Ayah ingin pergi ke Sukabumi untuk masalah pekerjaan. Jika saat itu ia berkeras agar sang Ayah tak pergi, Ayahnya takkan pulang tak bernyawa begini. Kecelakaan membuatnya harus meninggalkan dua orang yang disayanginya.
Selesai prosesi penguburan Zayna tak langsung meninggalkan pemakaman dia berjongkok disamping tempat terakhir sang Ayah itu tinggal. Menatap nisan bertuliskan nama pria itu.
Namun tak hanya Zayna yang saat itu terdiam dalam lamunannya, tapi juga seseorang disisi lain sana yang sama keadaannya dengan Zayna.
*****
"Zea makan dulu, lo belum makan dari tadi" tawar Naira setelah para pelayat yang ikut membacakan yasin pulang, hari sudah malam.
Keluarga?. Zayna tak punya keluarga lain selain Ayah dan Ibunya. Sang Ayah seorang anak tunggal yang ditinggal mati kedua orang tuanya, sedangkan sang Ibu tak tau dimana rimba saudara saudaranya. Mengakibatkan mereka hanya jadi keluarga kecil beranggotakan tiga orang saja.
"Gue nggak laper Nai" jawab Zayna pelan tanpa menoleh pada Naira. Dia hanya duduk terus memandang lurus kedepan sambil memeluk foto sang Ayah.
Naira menghela napas beratnya, menoleh pada Heri meminta pertolongan. "Zea, lo boleh sedih tapi ingat dengan kesehatan lo juga, lo nggak kasian sama Ibu?" ucap pemuda itu mencoba membujuknya.
Mendengar kata Ibu, Zayna tersadar. Dia masih punya seorang Ibu yang harus ia jaga, dia sudah berjanji pada sang Ayah. Tapi nyatanya baru sebentar ditinggal dia mengabaikan ibunya. Anak macam apa dia.
Zayna bergegas berdiri. "Ibu mana?" tanya gadis itu.
"Ibu dikamar, baru aja tidur" jawab Naira. Zayna langsung menuju kekamar Ibunda tercintanya.
Begitu membuka pintu kamar dengan perlahan Zayna langsung masuk menghampiri ranjang Ibunya. Dilihatnya disana sang Ibu tertidur namun dengan wajah yang masih nampak lelah dan sedih. Terbukti dengan mata bengkak dan alis yang masih bertaut.
Zayna berlutut disisi ranjang, mengambil tangan Ibunya untuk ia genggam. "Maafin Zea karena udah ngelupain Ibu" gumam gadis itu.
"Zea terlalu larut dalam kesedihan karena ditinggal Ayah" tambahnya. "Bu, kenapa Tuhan jahat sama kita kenapa Tuhan mengambil Ayah dari kita, apa Zea punya kesalahan sampai Tuhan memanggil Ayah secepat ini" sambungnya kembali menitikan kristal beningnya.
Sesaat Zayna kembali menangis dalam diam menunduk sambil terus mengelus tangan sang Ibu. Beberapa detik kemudian Zayna menghapus kasar bekas air matanya. Ia mendongak.
"Sekarang kita cuman tinggal berdua bu, Zea janji akan menjaga Ibu seperti janji Zea sama Ayah, Zea bakal nurutin semua ucapan Ibu dan Zea bakal jadi anak yang mandiri dan nggak ngerepotin Ibu, sekarang hanya Ibu prioritas Zea" ucapnya yakin.
*****
Lanjut atau nggak nih, jangan lupa komen dan like yah.
__ADS_1