Jodoh Wasiat Ayah

Jodoh Wasiat Ayah
PDKT 2


__ADS_3

* JODOH WASIAT AYAH *


Ep.6


PDKT 2


Pena: Smilling


Zayna melempar tubuhnya kekasur asal berhubung dirinya sudah segar selepas menghabiskan waktu setengah jam dikamar mandi untuk membersihkan diri. Saat sibuk dalam pikirannya dia tiba tiba mengingat sesuatu.


Ia pun bangkit kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, lalu kembali kekasur dan tengkurap disana dengan kaki berayun diudara.


Dan saat wajah seseorang sudah muncul didalam layar ponselnya Zayna tersenyum tapi kemudian menutup kamera depannya.


"Zea......, Kamu kemana aja sih gue telponin nggak diangkat angkat, mentang mentang sibuk kerja lo lupa sama gue ya!!!!" pekik Naira.


Pelan pelan Zayna mengangkat telapak tangannya dan terlihatlah Naira yang bersidekap dada dengan wajah kesalnya. Ia mencoba tersenyum. "Sorry sorry" ucapnya.


Naira melengos sebal tapi tak lama alisnya bertaut. "Kangen banget gue sama lo, kangen nongkrong dikantin kampus sama lo, kangen belanja bareng sama lo" rengek Naira kemudian yang membuat Zayna ikut baper juga tapi setelah kalimat selanjutnya Zayna mencebikkan bibirnya.


"Kangen dihukum bareng lo, kangen ditagih tugas sama lo, kangen lah pokoknya" tambahnya tertawa diakhirnya.


"Kampret emang lo dasar" dan keduanya tertawa bahagia seperti biasanya.


"Eh Nai, lo masih inget nggak temen abang lo yang gue ceritain kemaren?" tanya Zayna.


Naira mengerutkan kening, sambil mengambil boneka untuk dipeluknya ia menjawab. "Bang Adri maksud lo".


Zayna mengangguk mengiyakan, setelahnya percakapan tentang pria itu yang selalu datang melihatnya juga kejadian beberapa jam lalu diceritakan Zayna pada sang sahabat.


"Wah, dia naksir berat tuh sama lo" ucap Naira antusias.


"Biarin lah" ucap Zayna acuh.


"Tapi, kenapa sih lo nggak coba buka hati, gue rasa bang Adri bisa di pertimbangkan, dia anaknya baik kok" ucap Naira serius menasehati karena juga dia cukup mengenal sahabat sang Abang sepupu itu. Beberapa kali mereka datang kerumahnya hanya sekedar bertamu.


Zayna nampak terdiam. "Nggak tau lah Nai, gue masih nggak bisa percaya sama cowok" jawabnya.


Naira menghela napas panjangnya. "Masa lo mau kek gini terus sih, tapi terserah lo aja apapun keputusan lo gue dukung" ucapnya yakin.


Zayna melengos. "Keputusan paan sih?!" elaknya.


Setelah itu obrolan panjang mengenai hari hari keduanya pun berlanjut, sampai Zayna yang memutuskan panggilan videonya dengan alasan ingin cepat tidur karena besok kebagian shif pagi. Tapi sebelum dia benar benar tertidur kalimat Naira terulang lagi dalam pikirannya.


"Apakah benar aku harus membuka hatiku?" gumamnya ragu.

__ADS_1


*****


Keesokan paginya Zayna yang baru selesai memakai pakaiannya mengernyit heran, menajamkan telinga mendengar dengan siapa pagi pagi begini sang Ibu tertawa.


Dengan pelanggannya kah?


Setelah memakai tas dan sepatunya Zayna pun keluar dari rumah baru sampai didepan pintu ia mendadak beku lalu mendengus sebal.


Ia pun mendekati sang Ibu yang membuka warung makan kecilnya dihalaman rumah itu, dan yang disapa malah bukan wanita paruh baya itu.


"Ngapain lo pagi buta gini udah disini, disuguhin kopi lagi enak banget idup lo" sindir Zayna pada Adrian yang entah kapan datangnya. Tiba tiba saja pria itu sudah duduk dikursi warung sang ibu dengan secangkir kopi didepannya.


"Lah kan ibu yang ngundang nak Adri kemari, kamu gimana si?" sang Ibu yang menjawab membuat Zayna semakin kesal.


"Iya Na, kopi buatan tante memang enak loh" ucap Adrian menyela mengacungkan satu jempolnya.


Zayna memutar bola mata. "Serah lo" ucapnya kemudian menarik tangan sang ibu untuk dikecup punggungnya.


"Zea berangkat kerja dulu bu, assallamualaikum" ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Adrian yang bengong menatapnya.


"Waalaikumsalam" jawab Santi lalu melirik Adrian.


"Nak Adri" tegurnya. Adri menoleh padanya. "Tunggu apa lagi kejar sana" suruhnya dan seketika membuat Adrian sadar. Ia pun segera berdiri tak lupa menyalimi tangan Santi lalu mengejar putri satu satunya wanita itu.


Zayna berjalan kaki dipinggir jalan menuju halte bus didepan gangnya, diikuti sebuah mobil sport merah disampingnya. "Zea, ayolah masuk biar gue anter" bujuk Adrian lembut.


"Zayna" panggil Adrian lagi memohon tapi Zayna tetap berjalan lurus kedepan.


Masih seperti itu hingga beberapa saat sampai Adrian mulai putus asa, baru dia hendak menancap gas mobilnya Zayna berkata. "Oke gue mau" langsung saja senyum


secerah matahari pagi ditunjukkan Adrian.


Dia sigap membukakan pintu mobil untuk Zayna.


Adrian terus tersenyum sambil sesekali melirik kearah Zayna, sedangkan gadis itu hanya diam menopang pipi dengan tangan yang bertumpu pada jendela mobil yang setengah terbuka kacanya.


Merasa seperti diperhatikan Zayna mendadak menoleh yang membuat Adrian memaku dikursi kemudinya.


"Kenapa sih, dasar aneh!!!" ucapnya ketus. Adrian tersenyum miris.


"Kamu tau nggak sih Zea, kalau kamu itu cantik?" tanya Adrian menggoda dan mendapat jawaban tak terduga.


"Taulah hasil oplas kok" jawab Zayna santai.


Adrian sempat terdiam sampai akhirnya tergelak. "Nggak mungkin sih ku rasa, kecantikanmu itu alami, mau ngelak nggak begitu juga Na" elaknya.

__ADS_1


Zayna melengos. "Tapi di kampus gue biasa dibilang cantik karena oplas" jawabnya. Yang ternyata memang kenyataannya.


Memiliki hidung mancung namun terlihat mungil, mata rusa yang berkilau, kulit putih wajah tirus tanpa jerawat dan lesung pipi yang hanya sebelah, membuat setiap orang yang melihat Zayna berpikir wajah itu terlalu sempurna. Dan terciptalah kata hasil oplas katanya sampai Zayna biasa mendengarnya dan cuek cuek saja.


Adrian kembali tertawa. "Mereka tuh iri sama kamu".


Zayna tertawa miris. "Apa yang di iriin dari gue coba, memang dasarnya manusia suka ngebandingin, padahal nasib sama aja, nggak pernah mulus semulus aspal ibu kota".


Setelahnya obrolan keduanya berlarut namun tak menyenggol masalah perasaan, keduanya sibuk menilai kehidupan masing masing sampai tak terasa mobil mereka tiba di tujuan.


"Ngapain lo pagi buta udah kemari, mau makan gratis lo?!" tuduh Daniel melihat temannya sudah duduk manis dikursi meja dalam restorannya.


Adrian yang tadinya sibuk memandangi Zayna melirik tak suka. "Duit gue nggak bakal habis dua belas turunan kalau cuman buat makan, beli tempat lo ini juga duit gue nggak bakal abis" jawabnya.


"Iya iya percaya gue, lah terus lo ngapain disini" tanya Daniel lagi setelah tertawa geli.


Adrian tersenyum kembali memandangi Zayna yang sibuk dengan dunia pekerjaannya. "Memandangi indahnya pagi" jawabnya sok puitis.


Daniel menggelengkan kepala tak mengerti tapi saat mendapati arah tatapan Adri ia mencebikkan bibir.


"Ganteng doang, pendekatan nggak ada kemajuan, mati ajalah mendingan" sindirnya sembari berjalan meninggalkan sang sahabat yang terang mengumpat.


"Setan!!!".


*****


Tiga hari setelahnya, Zayna meminta ijin bekerja setengah hari direstorannya untuk menghadiri acara kampus yang ternyata masih mengundang dirinya yang padahal bukan mahasiswi lagi disana.


"Emang harus yah pake baju ginian??" tanya Zayna memandangi dirinya dipantulan cermin.


Naira berbalik mendekati Zayna ikut memandang penampilan sang sahabat lewat pantulan cermin didepannya. Ia tersenyum, "Kenapa emangnya?" tanyanya balik.


Alis Zayna bertaut gelisah. "Risih gue pake ginian" ucapnya sembari terus menarik narik gaun malamnya.


Gaun berwarna hitam selutut berlengan model sabrina, masih terkesan biasa tapi sudah sexy sekali bagi Zayna.


"Lah kenapa, lo cantik lagi pake gaun ini" puji Naira tulus.


Zayna melirik Naira lama dengan wajah seriusnya membuat gadis itu takut kali ini Zayna akan menolak pilihannya seperti dulu. "Baru nyadar lo kalo gue cantik" sentak Zayna yang sukses saja Naira tercengang dibuatnya tapi ada perasaan lega disana.


Naira mencebikkan bibirnya. "Kepedean lo" balasnya dan keduanya pun tertawa. Mereka menoleh kearah pintu saat benda itu terdengar diketuk oleh seseorang.


"Set, cewek kalau udah dandan waktu seabad pun jadi dah, buruan woy elah telat entar kita" teriak seorang diluar. Siapa lagi kalau bukan Heri pacar Naira yang cerewet seantero negeri.


"Sabar!!!" teriak Zayna dan Naira bersamaan lalu saling memperbaiki diri masing masing.

__ADS_1


Sedangkan Heri yang sudah rapi dengan setelan semi casualnya itu menggerutu sendiri. "Dari tadi disuruh sabar mulu udah tiga jam, nggak lama basi juga deh ni sabar gue".


__ADS_2