Jodoh Wasiat Ayah

Jodoh Wasiat Ayah
Penangkapan


__ADS_3

* JODOH WASIAT AYAH *


Ep.8


Penangkapan


Pena: Smilling


Beberapa jam sebelumnya.


"Oke, semoga kerja sama kita bisa berjalan sukses" ucap seorang pria yang sedikit lebih tua dari Adrian.


"Semoga saja" jawab Adrian menerima jabat tangan dari rekan bisnisnya itu.


Setelah pertemuan bisnis sembari berolahraga disalah satu arena golf itu. Keduanya menyepakati pergi ke klub malam untuk merayakan kerja sama mereka usai asisten dan sekertaris masing masing kembali lebih dulu.


Karena ini bisnis besar dan untuk menghormati Adrian pun mau tak mau mengikuti ajakan rekan bisnisnya tersebut.


Setibanya diklub yang sepertinya dipenuhi para mahasiswa yang menggelar pesta, keduanya langsung menuju ruang VIP.


"Silahkan Pak Adrian pesan lagi yang anda suka, wanita pun tak masalah saya yang bayar" ucap rekan bisnis Adrian itu.


Baru saja menenggak beberapa gelas minuman beralkohol kesadaran pria berambut cepak itu sudah melayang entah kemana. Dia terus minum dan senang senang ditemani dua wanita penghibur disampingnya. Sedang Adrian dari tadi hanya tertawa remeh sambil menikmati sepuntung rokok ditangannya, untuk malam ini dia tak berniat menambah dosa.


Sampai beberapa menit kemudian sepertinya rekan bisnisnya itu sudah berada diambang batasnya dan dengan terpaksa Adrian membawanya kelantai atas gedung untuk mengisi satu kamar disana, berhubung dia tak tahu juga alamat rumah pria itu.


Setelah keluar kamar dan berjalan menuju lift, Adrian mencebikkan bibir melihat seorang gadis tak berdaya dipapah pemuda berwajah mesum.


Drrt, drrt.


Adrian menjawab panggilan telfon namun masih terus berjalan dan akhirnya menabrak dua orang itu. "Sorry sorry, lanjut aja" ucapnya.


Pria itu kembali melanjutkan langkahnya tapi menyadari sesuatu ia kembali menoleh memperhatikan gadis yang dirangkul pemuda tadi.


Segera ia memutus panggilan lalu mendial nomer Daniel.


"Nil, Zayna mana malam ini kerja nggak, dia ada di resto nggak?" tanya Adrian to the point.


Terdengar dari balik sambungan telpon Daniel berdecih. "Lo nelpon gue cuman buat nanya Zayna doang?" sindirnya.


Adrian memutar bola malas. "Udah jawab aja penting nih?!".

__ADS_1


"Zayna ijin, malam ini dia pergi sama Naira ngadirin free night kampusnya." jawab Daniel malas.


Mendengar jawaban itu hati Adrian mulai tak enak. "Dikampusnya?".


"Kata Naira sih di Bar Diamond".


"****!!!" langsung saja Adrian mengumpat kesal. Dia jadi yakin gadis tadi itu Zayna.


"Kenapa, ada apa?" tanya Daniel heran mendengar Adrian tiba tiba mengumpat.


"Lo telpon ade lo, bisa bisanya dia ninggalin Zayna sendirian, suruh dia susul gue kelantai atas, cepat!!" omel dan titah Adrian menaikkan nada suaranya. Mematikan panggilannya tanpa aba aba, lalu berlari mencari Zayna yang hilang dibalik belokan lorong.


*****


Darah Adrian seketika naik ke kepala melihat pemuda itu sudah menaiki tubuh Zayna yang tak berdaya. Sepertinya gadis itu di cekoki obat bius hingga tak sadarkan diri. Langsung saja tanpa babibu lagi Adrian menerjang pemuda yang berani beraninya menyentuh gadisnya itu.


Adrian semakin dirasuki arwah lucifer kala mendengar kalimat yang keluar dari mulut pemuda itu.


"Ternyata kau pemakai dia juga, bagaimana kalau kita menikmatinya bersama pasti lebih seru kan?". Dipikirnya Zayna sebuah barang yang bisa dipakai bersama. Ia murka gadis yang dicintainya direndahkan sedemikian rupa.


Tanpa mengingat bahwa yang dipukulinya juga manusia bernyawa, Adrian terus memukuli Abri hingga Naira dan Heri datang.


Naira langsung menghampiri Zayna memeluknya sambil mencoba menyadarkannya, sedang Heri menarik Adrian agar pria itu tak membunuh Abri.


"Tidak, akan kubunuh dia saat ini juga!!!" tolak Adrian keras.


"Bang, lo nggak ingat sama Zea, dia butuh lo bang?!" tanya Heri yang sukses membuat tangan Adrian terhenti di udara.


Adrian menatap Abri tajam. "Sekali lagi lo sentuh atau bahkan dekat dengan Zayna, bakal gue abisin lo!!" ancamnya lalu mendorong asal tubuh Abri yang sudah tak sanggup bergerak lagi.


Adrian berdiri tegap lalu melirik kearah Zayna yang juga belum sadar dalam pelukan Naira. "Lapor polisi, biar bajingan ini dipenjara" suruhnya pada Heri, dia merasa pelajaran untuk Abri itu belum setimpal.


Pria itu mendekati dua gadis yang ada di atas ranjang tersebut, melihat keadaan Zayna benar benar membuat darah Adrian mendidih. Ia membuka jas yang dipakainya lalu memakaikan ke tubuh mungil Zayna.


"Gimana ini bang, Zea nggak bangun bangun" tanya Naira khawatir sedari tadi ia mencoba membangunkan Zayna tapi sang sahabat tak kunjung bangun juga.


Adrian pun duduk mencoba mengambil alih tugas Naira, membawa Zayna kedalam pelukannya. "Zea..., Zayna bangunlah" panggil pria itu lembut berbeda tiga ratus enam puluh derajat saat dia memaki Abri tadi.


Naira segera mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Adrian. "Coba pake ini bang" usulnya.


Adrian pun membaluri leher dan kepala Zayna dengan benda itu, lalu menciumkan aromanya ke hidung gadis itu sambil terus memanggil manggil namanya.

__ADS_1


Ternyata usaha itu membuahkan hasil, Zayna mulai mencoba membuka matanya.


"Zea, syukurlah" ucap Naira antusias sekaligus lega melihat sahabatnya itu mulai sadar.


Tapi baru saja pandangannya mulai fokus Zayna malah berteriak dan berontak lebih dulu. "Nggak lepasin gue, jangan dekatin gue, pergi!!!" pekiknya mendorong dorong tubuh Adrian mengejutkan Naira dan Heri.


"Zea..." panggil Naira mencoba menyadarkan.


"Lepasin gue, lepasin" Zayna masih histeris.


Dia baru diam saat Adrian menangkap wajahnya, menatapnya serius. "Zea, ini aku Adri, kamu sudah selamat bajingan itu sudah aku habisi" ucapnya menenangkan.


Zayna sesenggukkan balik menatap Adri lekat lekat. "Adri" beonya dan pria itu menganggukkan kepala.


"Ia ini aku, kamu sudah aman".


Zayna terdiam menunduk melihat kondisi tubuhnya dengan pakaian utuh dan terbalut jas pria. Gadis itu kembali mendongak menatap Adri berkaca dan langsung saja menghambur kepelukan pria itu.


"Aku takut, aku takut, hiks..., Hiks...." tangisnya dalam pelukan Adrian yang sigap mengelus kepalanya kembali mengucap kata menenangkan.


Naira dan Heri yang melihat keduanya pun tersenyum tenang.


*****


Mendapati keramaian dan banyaknya polisi membuat beberapa orang yang berlalu lalang juga pengunjung bar menjadi penasaran dengan apa yang terjadi. Menyebabkan kerumunan orang memadati pelataran gedung melihat aksi penangkapan tersebut.


Sedangkan masih dalam rangkulan Adrian, Zayna menatap datar Abri yang dibawa masuk kemobil oleh polisi. Kamera cctv dan pengakuan saksi cukup menjadi bukti untuk memenjarakan pemuda itu atas kasus percobaan pemerkosaan. Dan pengacara Adrian akan mengurus semuanya. Daniel pun datang untuk melihat keadaan.


"Bang kita titip Zayna sama lo ya" ucap Heri. Pemuda itu memang sudah cukup kenal dengan kawan sepupu kekasihnya itu. Hanya saja dia dan Naira tak mengenalkannya pada Zayna, tak menyangka juga kalau pria pemilik salah satu perusahaan terkenal itu akan menyukai sahabat mereka.


"Gue juga balik ikut mereka, nyokapnya Naira udah khawatir banget soalnya" tambah Daniel.


Adrian sesaat melirik Zayna yang masih diam saja. Pria itu menganggukkan kepala, "kalian pulang duluan aja, biar Zayna sama sama gue" jawabnya.


"Em..., itu bang soal Ibunya Zayna....".


"Itu tanggung jawab abang, biar abang yang jelasin semuanya sama tante Santi" sela Adrian seperti tau kekhawatiran Naira.


"Yaudah kalau gitu kita balik duluan, kalian hati hati" ucap Daniel lalu dia, Naira dan Heri pergi meninggalkan Adrian dan Zayna.


Adrian kembali menatap Zayna dilepasnya rangkulannya beralih memperbaiki jas yang dipakai gadis itu, lalu mengusap kepalanya lembut.

__ADS_1


"Ku antar pulang yah" ajaknya dengan senyuman.


Zayna tak menjawab hanya menatap Adrian kosong tapi menganggukkan kepalanya. Adrian tersenyum mengecup kening Zayna lalu membawa gadis itu masuk kemobilnya untuk diantarnya pulang.


__ADS_2