Jodoh Wasiat Ayah

Jodoh Wasiat Ayah
Berhenti kuliah


__ADS_3

* JODOH WASIAT AYAH *


Ep.3


Berhenti kuliah


Pena: Smilling


Ditengah jalan Zayna menaiki motornya dengan pikiran yang melayang entah kemana. Tagihan kuliah yang belum dibayar dan tabungan pribadi yang mulai menipis membuat otaknya berputar ratusan kali dan hal buruk pun terjadi.


Ckiiiitttttttt.


Braakk!!!!!!.


Zayna terlempar jatuh jauh dari motornya yang sudah pasti rusak dibagian kirinya sebab ditabrak mobil dari arah samping. Orang orang sekitar yang melihat kejadian kecelakaan itu pun sigap mendekat dan membantu Zayna.


"Adek nggak papa" tanya seorang bapak dan ibu yang membantu Zayna untuk berpindah kepinggir jalan juga membantu gadis itu membuka helm yang apik terpasang dikepalanya.


"Nggak papa, saya nggak papa" jawab Zayna mencoba menenangkan para penolongnya, tapi tak ayal meringis dan menggelengkan kepala juga karena merasa pusing tentu saja. Bayangkan saja dia sampai terlempar dan terguling dihitamnya aspal jalanan.


Melihat sang korban adalah gadis dan ada luka dikaki juga tangannya membuat orang orang emosi mendatangi pemilik mobil yang menabrak Zayna.


"Woy tanggung jawab lo, anak orang itu!!!" bentak warga.


Tak berniat sama sekali untuk kabur karena langsung menghentikan mobilnya saat tau dia menabrak orang, sang pemilik mobil pun keluar dari kendaraannya.


"Iya saya tanggung jawab" ucapnya tegas.


Pemilik mobil yang ternyata seorang pria itupun menghampiri Zayna. "Kau tidak apa apa?" tanyanya.


Zayna mendongak melihat pria itu dia langsung tau pria itulah yang menabraknya. "Nggak papa gimana badanku lecet semua ini" dalam hati ia memaki.


Tapi nyatanya gadis itu mencoba tersenyum. "Saya nggak papa" jawabnya.


Pria itu mengernyit, melihat si gadis terluka karenanya tanpa aba aba dia menggendong Zayna ala bridal style, membuat gadis itu terkejut bukan main.


"Tolong turunkan saya, saya tidak apa apa" tolak Zayna.


"Saya harus membawamu kerumah sakit". Pria itupun berjalan tanpa menghiraukan yang lain memasukkan Zayna kedalam mobilnya.


"Apa dia tidak apa apa, Dok?" tanya pria itu berwajah khawatir sekali, Zayna memutar bola matanya.


"Tidak papa, hanya luka ringan saja" jawab sang Dokter.


Pria itu menghela napas lega setelah beberapa kali pemeriksaan lagi, dia pun membawa Zayna kekursi tunggu dan berpesan jangan kemana mana karena dia mau menebus obat.


Tapi bukan Zayna jika tak lari dari seorang pria, gadis itu langsung pergi walau dengan langkah pincangnya sekalipun.


Sedangkan si pria yang baru datang dengan sekantung obat ditangannya panik mencarinya.


"Kemana dia?" tanyanya heran.


Setelah kejadian itu Zayna pulang kerumah dan mendapati kepanikan, kekhawatiran juga omelan sang Ibu tak terkecuali dua sahabatnya yang sama khawatirnya.


*****

__ADS_1


Tiga bulan setelah kepergian sang Ayah keadaan Zayna dan sang Ibu mulai memprihatinkan. Salah memilih keputusan dengan mempercayakan pabrik kain sang Ayah pada tangan kanan pria itu, membuat mereka kehilangan pendapatan satu satunya.


Pria tak tahu diri itu kabur membawa semua uang keuntungan pabrik, meninggalkan utang dan gajih karyawan yang belum dibayar selama tiga bulan.


Akibatnya Zayna dan sang Ibu harus rela menguras habis tabungan mereka untuk membayar itu semua. Dan beginilah sekarang sang Ibu hanya bisa berjualan gorengan dan nasi uduk didepan rumahnya untuk menyambung hidup dan biaya kuliah Zayna.


"Woy, masih pagi udah ngelamun aja, kesambet lo entar" tegur Naira mengejutkan Zayna. Gadis itu datang bersama Heri sang kekasih.


Ya, mereka berpacaran. Entah karena Zayna terlalu pusing dengan masalah pabrik atau dia yang selama ini menjadi lebih diam setelah kepergian sang Ayah jadi tak memperhatikan kedekatan keduanya. Dia pun terkejut dengan hubungan kedua sahabatnya itu. Mereka yang tiap hari berantem mulu bisa bisanya menjalin cinta. Tapi Zayna bersyukur dan mendukung keduanya.


Baru saja Naira dan Heri akan duduk ucapan Zayna yang terbilang buru buru membuat keduanya terpaku. "Gue mutusin berenti kuliah".


"What?!!!" pekik Naira.


"Lo bercanda, kita lulus tinggal berapa bulan lagi Zea" tambah Heri.


Zayna menghela napas berat mengurut kening pusing. "Cuman itu yang bisa gue lakuin sekarang, gue mau berenti kuliah dan fokus kerja buat bantuin Ibu, nggak tega gue liat Ibu banting tulang sendirian, lagian biaya kuliah kedepannya gue nggak akan sanggup bayar" terangnya.


Naira dan Heri mengerti dengan masalah Zayna tapi jika harus berhenti kuliah yang tinggal sebentar lagi, apa nggak sayang. "Soal biaya, gue bisa bantu lo" ucap Heri yakin. Pemuda ini memang termasuk orang kaya yang tak mempermasalahkan banyaknya uangnya terbuang percuma. Apalagi untuk membantu sahabatnya.


Naira mengangguk setuju. "Iya Zea untuk biaya lo nggak usah pusing" tambahnya.


Zayna menatap kedua sahabatnya bangga. "Tapi gue nggak mau ngerepotin kalian, biaya selama beberapa bulan itu nggak murah Nai" ucapnya.


"Kenapa ngerepotin, kita sahabat lo Zea, selama kita bisa bantu kenapa nggak" Naira menaikkan nada bicaranya.


"Iya gue tau, kalian sahabat terbaik gue, tapi gue udah yakin sama keputusan itu".


Heri memegang pundak Naira yang akan kembali meyakinkan Zayna. "Oke kalau itu keputusan lo, kita nggak bisa maksa, tapi kalau lo butuh bantuan ngomong aja kita siap bantu lo kapanpun" ucapnya membuat Naira akhirnya pasrah saja.


"Terus kita nggak bisa ketemu dikampus lagi dong" Naira merengek berubah melow menggoyang goyangkan tangan Zayna.


Zayna tertawa kecil. "Kita kan bisa ketemu diluar kampus Nai, lo juga masih boleh kok nginep dirumah".


"Zayna cuman berenti kuliah bukan pindah kota, kamu mah lebay" sanggah Heri.


"Diem lo, nggak ngerti perasaan cewek!" sentak Naira. Heri memutar bola mata. Zayna tertawa suka berantem gini gimana bisa cinta aneh aneh aja.


"Terus sekarang lo mau gimana?" tanya Heri.


Zayna nampak berfikir sesaat. "Mungkin untuk sekarang gue mau cari kerjaan dulu" jawabnya. Tapi Naira terdiam mengingat ingat mengenai kata pekerjaan.


"Kayanya restoran sepupu gue lagi cari karyawan lo bisa gue rekomendasiin, tapi lo....". ucapan Naira terhenti ia terkejut saat Zayna menarik tangannya dan digenggamnya kuat.


Dilihatnya wajah berharap Zayna walau gadis itu tak berkata apa apa, Naira tahu Zayna meminta tolong dipekerjakan disana. Naira mendorong dahi Zayna gemas.


"Dibantuin masalah kecil begini lo baru mau" sindir Naira membuat Zayna tertawa. "Entar gue telpon seppupu gue, kalau bisa gue kabarin lo" tambahnya Zayna mengangguk antusias.


Tapi tak lama Naira kembali merengek dan sudah memeluk dari samping. "Kalau lo nggak ada, bunga kampus juga nggak ada dong, gue nggak bisa makan coklat gratis lagi, makan mie ayam gratis.....".


"Ckckck, jadi lo temenan sama gue karena coklat gratis?!" tanya Zayna pura pura marah. Naira menyengir kuda. Heri berdecih. "Timbang coklat doang, gue bisa beliin sepabrik pabriknya" gumamnya yang masih terdengar dua gadis itu.


Naira beralih pada Heri menatapnya dengan mata mengerjap lucu. "Cius, mi apah?????".


Heri tersenyum. "Demi cinta gue sama lo" jawabnya membuat Zayna bergaya mual.

__ADS_1


Tapi tidak dengan Naira. "Co cweet" ucapnya bergelayut manja dilengan Heri.


Naira memutar bola matanya jengah. Tapi ia berfikir pasti akan merindukan kedekatan mereka ini, karena jika mulai bekerja nanti mungkin mereka tak sering bersama lagi. Dan melihat pergulatan keduanya.


****


Disinilah Zayna sekarang berlalu lalang dengan seragam khasnya dan nampan ditangannya. Sebenarnya menjadi pelayan restoran bukanlah impian Zayna yang dulunya adalah mahasiswa jurusan bisnis. Tapi dengan keadaan yang tak mendukung mengharuskannya untuk bekerja lebih awal dan memutuskan kuliahnya.


Menjadi pelayan pun bukan perkara mudah baginya karena sang Ibu yang awalnya menolak keras, harus dibujuknya dengan beribu bagai cara. Dan akhirnya Santi menerima keputusan sang putri yaitu berenti kuliah dan membantunya mencari uang untuk biaya hidup mereka.


"Zayna" panggil seorang teman kerja Zayna dari pantri. Zayna yang baru selesai mengelap meja bergegas menghampiri.


Ranti menyerahkan nampan berisi makanan lengkap dengan minumannnya pada Zayna. "Ini untuk meja nomer delapan" ucapnya.


"Oke" jawab Zayna langsung berbalik mengantar makanannya meninggalkan Ranti yang tersenyum. Ia sangat menyukai pegawai baru ini, walaupun dia baru bekerja beberapa hari tapi Zayna cekatan dan mudah mengerti, rajin lagi. Jarang jarang dia bisa mendapatkan teman kerja seperti Zayna.


Sedangkan dimeja nomer delapan, Zayna mulai meletakkan isi nampan ke atas meja. "Pesanan anda Tuan" ucapnya lembut.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Zayna berpikir untuk segera berbalik tapi langkahnya hanya melayang diudara. Dengan kening mengernyit, Zayna menolehkan kepala. Ternyata pria di meja delapan itu menahan dengan memegang tangannya.


"Maaf Tuan" tolak halus Zayna melepaskan tangan pria itu dari pergelangannya.


Tapi Tuan itu tak begitu saja melepaskannya, dia malah kembali mencekal tangan Zayna. "Tuan lepaskan" pinta Zayna masih bisa sabar.


Bukannya melepaskan si Tuan itu malah tersenyum menatap tubuh Zayna dari bawah hingga atas dengan mesumnya, ganti nama ajalah jangan si Tuan, si Ba****an sekalian lebih cocok.


"Hey Nona, berapa gajihmu disini pasti kecil kan, apa kau mau bekerja denganku, aku akan membayarmu lima kali lipat" ucapnya.


Oh Tuhan, habis sudah kesabaran Zayna untuk saat ini. Biarlah dia dianggap kurang ajar kepada pelanggan dari pada dia yang dikurang ajari pria hidung belang ini. Masalah dipecat tidaknya Zayna sudah pasrah.


Tatapan Zayna yang awalnya masih lembut berubah tajam nan dingin, dia langsung menepis kasar tangan pria itu. "Maaf tapi saya tidak sudi bekerja dengan Anda, permisi!" tolak keras Zayna menekan setiap katanya.


Mendapati penolakan kasar Zayna, pria itu tak terima dia berdiri sambil menggebrak meja. Sampai beberapa pelanggan yang ada disana menaruh fokus pada keduanya, untung saja ini bukan jam makan siang jadi restoran masih tak terlalu ramai dan kejadian memalukan ini tak dilihat banyak orang. Tapi buruknya hal itu menjadikan si pria ba****an lebih leluasa menganggu Zayna.


"Sialan, kau tak tau siapa aku hah!!!" teriak pria itu.


Zayna yang baru beranjak dua langkah memutar bola matanya jengah, ia kembali berbalik. "Tau" jawabnya.


Pria itupun tersenyum bangga. "Pria ba****an yang suka menganggu para wanita polos" tambah Zayna yang membuat wajah pria itu berubah marah.


"Kau...." geram pria itu mendekat dan mencoba menarik tangan Zayna tapi wanita itu dengan sigap mengelak lalu membuahkan tamparan keras pada pipi pria itu.


"Jangan berani menyentuhku!!" ancam Zayna.


Pria itu murka pipinya memanas, giginya gemeretak kesal. Dipermalukan didepan umum begini dia baru pertama kali oleh gadis kecil seperti ini lagi, dia tak terima.


"Dasar ******!!" ucapnya mengangkat tangan melayangkan sebuah tamparan.


Dan.


?????????


Mau bunyi apa untuk mengisi tanda tanya diakhir cerita diatas?.


Plak, grep, bruak, bongkar, atau cepirit😂😂

__ADS_1


Ayo lanjut terus bacanya jangan lupa komen juga see you next episodenya ya....🖐️🖐️


__ADS_2