Jodoh Wasiat Ayah

Jodoh Wasiat Ayah
PDKT


__ADS_3

*JODOH WASIAT AYAH*


Ep.5


PDKT


Pena: Smilling


Zayna awalnya sempat tak percaya dengan ucapan Daniel yang mengatakan Adri menyukainya. Dia pikir pria itu hanya bercanda dan mengodanya. Tapi setelah beberapa hari ini berlalu dia mulai meyakininya.


Bagaimana tidak, jika Adrian sering datang kerestoran hanya untuk duduk disalah satu meja menatapnya tanpa mengenal masa. Sesekali membawakan bunga, coklat, boneka dan lainnya.


Seperti hari ini juga pria itu lagi lagi datang tapi diakhir jamnya bekerja. "Zayna" panggil Adrian saat Zayna sibuk membersihkan meja.


Pria itu mendekat dan duduk dikursi meja yang Zayna tengah bersihkan. Meletakkan kedua siku diatasnya dan menopang dagu disana. "Zayna" panggilnya lagi manja saat Zayna tak juga menghiraukannya.


Zayna yang mulai kesal didekati sedari tadi membanting lap keatas meja kasar. "Apasih?!" sentaknya mulai berani tak menganggap Adrian pelanggan restorannya lagi.


Adrian mengerjap dua kali pura pura sakit hati. "Ishhh, galaknya" rengeknya menyentuh dada bidangnya.


Zayna mendesah kesal melihatnya sedang Daniel yang mengawasi disudut lainnya mencebikkan bibir. Dan pegawai yang lain malah takjub dengan perubahan sikap sahabat sang bos yang terkenal dingin dan jutek itu bisa bersikap manis dan manja.


"Tau ah gelap". Zayna membalikkan tubuhnya ingin pergi secepatnya tapi Adrian menahannya.


"Apa sih, lo mau apa?" tanya Zayna meninggikan nada suaranya, habis kesabaran dengan sikap Adrian. Gadis itu berbalik berhadapan dengannya dengan tangan bersidekap dada.


Adrian berdiri membuat Zayna terpaksa mendongak sebab tinggi mereka berbeda jauh. Pria itu berwajah serius. "Tatap aku, dengarkan aku, perhatikan aku" ucapnya.


Jika gadis lain digoda seperti itu dengan Adrian sudah pasti klepek klepek tapi tidak dengan Zayna. Gadis itu malah bergidik ngeri. "Ogah amat" jawabnya.


"Udah lah, buang buang waktu ngeladenin lo tuh" tambah Zayna menepis tangan Adrian lalu pergi meninggalkan pria itu yang gemas sendiri. "Gadis ini benar benar" geramnya.


Sungguh ini pertama kalinya bagi seorang Adrian Hutama Pramana mengejar seorang gadis karena biasanya dialah yang dikejar kejar. Status yang terbilang sultan memiliki beberapa perusahaan membuat para gadis rela menjatuhkan harga diri untuk mendapatkannya bahkan hanya untuk menghangatkan ranjangnya dalam semalam.


Tapi seorang Zayna malah menganggapnya bagai debu yang menganggu. Pantas saja sejak pertama kali bertemu gadis itu, Adrian sudah jatuh penasaran padanya.


Atau karena Zayna tak mengenali dia sebagai seorang pengusaha kah makanya gadis itu mengabaikannya, tapi kan dia sedang mencari pendamping yang tak melihat harta keluarganya.


Tapi jika tak ada cara lain untuk mendekati gadis itu terpaksa Adrian membongkar jati dirinya. Emang ya kalau udah jatuh cinta keyakinan pun bisa goyah juga.


"Dri, sini lo" panggil Daniel dan Adrian pun mendekatinya dengan langkah yang tak bersemangat.


"Paan?" tanyanya malas.


"PDKT lo, belum berhasil?" tanya Daniel dengan nada dan ekpresi yang mengejek.


Adrian memutar bola matanya jengah. "Menurut lo" jawabnya sebal.


Daniel tertawa meledek. "Semangat lah bro" ucapnya meninju dada Adrian main main yang mencebikkan bibir.


Beberapa menit kemudian. "Bye, mba" pamit Zayna melambaikan tangannya pada Dona dan Ranti.


Gadis itu pun mulai ingin menyebrang untuk menunggu bus dihalte sebrang jalan. Tapi entah karena ia tengah lelah atau tak fokus, hampir saja Zayna diserempet mobil jika tubuhnya tak ditarik oleh seseorang. Membuat tubuh keduanya terputar dipinggir jalan seperti adegan dalam drakor.

__ADS_1


"Ber****sek!!!!" maki Adrian berteriak pada sipengendara mobil ugalan ugalan yang sempat berhenti kemudian kabur tanpa kata maaf yang berarti.


Adrian benar benar kesal dengan pengendara mobil itu, jika tidak ada Zayna mungkin dia sudah mengejarnya dan memberi pelajaran pada pria tersebut.


Tapi..., Oh iya Zayna.


Adri menunduk menatap Zayna yang dipeluknya erat didada. "Kamu nggak apa apa?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


Zayna pelan pelan mendongak menatap Adri, bukan tatapan berterima kasih tapi tajam penuh kekesalan. Adri saja sampai meneguk salivanya berat karena merasa terintimidasi.


"Lepas" ucap gadis itu datar.


Adri sempat menaikkan kedua alisnya bingung. "Apa?" tanyanya.


Zayna tak menjawab tapi lirikan matanya tertuju pada lengan Adri. Dan sukses membuat pria itu akhirnya sadar diri. Rupanya mungkin karena takut Zayna terluka Adri memeluknya terlalu erat dan tak melepaskannya.


Adri reflek melepas pelukannnya. "Oh, sorry" sesalnya.


Zayna melengos memperbaiki rambut panjang sepunggungnya itu sambil mengatur nafasnya yang nyaris habis dalam pelukan pria gila itu.


"Sorry tadi ada......".


"Dengan cara lo tadi, gue bukan mati ketabrak mobil tapi bisa aja mati kehabisan napas gara gara lo, pikirin aja mana yang paling nyiksa" sela Zayna.


Adri mengerjap berfikir jika gadis didepannya sangat jutek dan dingin. Dirinya tak pernah menyangka jika gadis yang disukainya adalah gadis modelan Zayna. Tapi justru itu yang membuatnya semakin ingin mendapatkannya.


Menurutnya tipe seperti Zayna ini adalah tipe yang suka diperjuangkan. Karena sosoknya adalah tipe mandiri dan bisa hidup tanpa lelaki. Tipe langka lah pokoknya.


"Iya iya sorry sorry" ucap Adri tertawa kecil. Zayna melengos.


"Males gue ladenin lo, gue mau pulang". Zayna berbalik.


"Ku antar".


"Nggak usah gue bisa sendiri" tolak Zayna tanpa berbalik.


Tapi Adri mengejar dan tanpa aba aba menarik Zayna menulikan telinga dengan setiap penolakan dari gadis itu.


Didalam mobil Zayna hanya diam dengan tangan terlipat didepan dada. Dia benar benar kesal dengan sikap berani Adrian sebelumnya.


"Kenapa sih kamu dingin terus jutek banget sama aku Na?" tanya Adrian setelah lama mereka terdiam.


"Nggak ada alasan" jawab Zayna sekenanya.


Adri mendengus. "Alasan akan selalu ada disetiap perbuatan, Na".


Zayna memutar bola mata malas. "Yah emang sifat gue gitu mau gimana lagi" jawabnya sekenanya.


Oke Adrian menerima jawaban itu tapi, "Terus kenapa semua benda pemberianku kamu tolak, pake ada yang dibuang lagi?".


"Gue nggak butuh, nggak guna juga" jawab Zayna santai.


Adri mmembuka mata lebar sesaat melirik kesamping lalu kembali fokus pada kemudi. "Nggak gunanya dimana?, Cokelat bisa kamu makan, bunga bisa jadi pengharum kamarmu, surat supaya kamu tau isi hatiku, boneka bisa kamu peluk saat tidur, kurang apalagi?".

__ADS_1


"Makan cokelat gue bisa gemuk, gue alergi serbuk sari, gue nggak suka baca, gue sukanya figur marvels, masih perlu alasan lagi?" Zayna membalik pertanyaan.


Bukannya marah atau kembali mendebat Adri malah tersenyum, mematikan mesin mobil lalu menatap Zayna yang sedari tadi sudah menatapnya kesal.


"Nggak perlu alasan lagi, yang aku perlu sekarang apa aku boleh mampir kerumahmu, sepertinya ibumu sudah menunggu kita sedari tadi" ucap Adri.


Zayna mengerjap dua kali, mengedar pandang dan merasa aneh kenapa dia bisa sudah ada didepan rumahnya. Bukan apa sedari tadi kan dia belum memberitahukan alamat rumahnya, dan saking kesalnya Zayna tak fokus pada jalan yang dilalui keduanya.


"Lo tau rumah gue dari mana?" Zayna malah memilih bertanya.


Adri tergelak. "Kontak batin mungkin" ucapnya membuka pintu mobil lalu turun dari sana menghampiri Ibu Zayna tanpa gadis itu sendiri.


Zayna yang masih dalam mobil mendesak tak percaya. Pria ini ternyata tingkat gila dan anehnya sudah diatas rata rata. Ia pun bergegas keluar dari mobil saat Adri sudah menyalimi tangan Santi.


"Malam bu..., Maaf saya terlambat mengantar putri Ibu pulang, tadi ada sedikit masalah dalam perjalanan kami" ucap Adri sopan.


"Oh iya tidak apa apa" jawab Santi bingung. Bingung harus menjawab apa selain kata tak apa. Sejam menunggu putrinya yang tak kunjung pulang dan sekalinya pulang malah bawa cowok tampan dia jadi berfikir putrinya pulang dari bekerja atau berkencan.


Karena sedari dulu Zayna yang walaupun terkenal cantik itu, tak pernah sekalipun diantarkan seorang pria pulang. Satu satunya pria yang pernah mengantarkannya pulang hanya Heri sang sahabat yang kini menjadi kekasih Naira.


Wah ada kemajuan nih.


"Maaf tapi kamu......".


Adri sudah bersiap membuka mulut menjawab jika Santi sudah selesai bertanya tapi gerakan cepat Zayna yang berdiri diantara keduanya dan mendorong mundur sang Ibu membuat Adri terdiam.


"Zea" pekik tertahan sang Ibu.


Zayna berdesis lalu menatap Adri garang. "Pulang gih, makasih udah ngantar sampai rumah" ucapnya ketus


Plak!.


Awwwwwwww...


Zayna mengelus punggungnya yang terkena pukulan tapak budha dari sang ibu. "Ibu kok mukul si!!!" protesnya.


"Ya kamu ada tamu bukannya disuruh masuk, malah diusir nggak ada terima kasihnya sudah dianterin pulang" omel sang Ibu.


"Kan aku tadi udah bilang makasih" elak Zayna.


"Jangan cuman pake kata makasih kepaksa pula, ajak masuk sebentar minum kopi lah".


Zayna memutar bola mata malas. "Ini tuh udah malam bu, nggak bagus rumah janda dan gadis malam malam di masukin orang mana cowok lagi" ucap Zayna yang ada benarnya.


Santi nampak berfikir. "Iya juga yah".


Zayna menganggukkan kepala, misi berhasil. "Tuh kan denger udah pulang sana, masih berdiri aja kek patung" ucapnya pada Adri yang menikmati perdebatan keduanya yang ia baru tahu tak hanya dengannya dengan sang Ibu pun Zayna suka berdebat.


"Iya maaf yah nak karena ibu janda dan ini anak gadis ibu satu satunya, hari juga sudah malam jadi kamu nggak bisa mampir" sesal Santi.


Adri tersenyum. "Iya bu nggak papa, saya mengerti kok" jawabnya.


Santi mengangguk, Zayna pun sama. "Tapi besok pagi boleh kok kesini lagi, jemput Zayna sekalian ngopi, kopi buatan ibu katanya enak loh".

__ADS_1


"Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuu".


*****


__ADS_2