Jodoh Wasiat Ayah

Jodoh Wasiat Ayah
Adrian Hutama Pramana


__ADS_3

* JODOH WASIAT AYAH *


Ep.4


Adrian Hutama Pramana


Pena: Smilling


Tak ada yang berinisiatif untuk ikut campur dalam pertengkaran Zayna dan si pria botak itu. Apalagi untuk membantu seorang pelayan seperti Zayna, mereka lebih suka menonton saja bahkan sudah ada yang merekam kejadiannya.


Dan ditempatnya, Zayna tak sama sekali menghindar walaupun tahu akan dilayangkan tamparan oleh pria botak itu. Dia malah bersiap ingin mencekal dan menampar balik, tapi gerakan sigap seseorang membuatnya tercengang dan sukses mematung ditempatnya.


Grep.


Pria botak itu melirik tajam pada seorang pria juga yang mencekal tangannya diudara. Dia ingin melepaskan tangannya dari pria itu tapi tak bisa, cekalannya terlalu kuat.


"Kamu nggak papa?" tanya pria tampan tersebut pada Zayna dengan senyum manis menawannya.


Zayna tak menjawab hanya menganggukkan kepala dua kali, bukan karena tersihir dengan ketampanan pria itu sendiri tapi karena sepertinya dia familiar dengan wajah itu. Tapi dia muncul dari mana, pahlawan kesiangan dari mana dia.


"Bereng***, lepaskan tanganku!!" bentak pria botak itu.


Pria tampan itupun beralih padanya, menatapnya tajam seperti ingin menghunus pedang pada lawannya. Setidaknya itulah yang dirasakan si pria botak.


Krek.


"Arggghhhhh".


"Sialan, apa apaan kau ini!!!" pekik pria botak itu kesakitan saat tangannya di kretekkan oleh si pria tampan. Patah tulang adalah pelajaran kecil untuknya.


Pria tampan itu hanya tertawa miring. "Aku hanya memberikan sedikit pelajaran pada bajingan yang suka mengganggu wanita sepertimu" jawabnya enteng.


"Siapa kau berani beraninya memberiku pelajaran hah!!!".


Pria tampan itu berdecih. "Siapa aku?" beonya.


Ia melangkahkan kaki mendekati pria botak itu masih dengan tatapan menusuknya yang tak ayal membuat si pria botak memundurkan dirinya. Sampai terpojok kemeja, si pria tampan berdiri sombong memasukkan tangan kesaku celananya sambil berkata. "Pramana" gumam pria itu.


Sesaat si pria botak terdiam mengingat ingat, sepertinya dia pernah dengar nama itu. "Adrian Hutama Pramana" tambahnya dengan seringai iblis.


Terang saja mendengar nama lengkap itu si pria botak memaku, tanpa sadar tubuhnya mulai gemetar. Untuk menatap pria tinggi tampan yang mengaku bernama Adrian itupun dia tak sanggup.


"Ma...., Maafkan aku Tuan sudah menyinggungmu, sekali lagi maaf Tuan" ucap pria botak itu gemetar dan langsung pergi terbirit dari restoran tersebut.


Setelah kepergiannya Adrian dan beberapa pengunjung tertawa lucu, sedang Zayna mendesah tak percaya. Hanya didekati saja pria itu langsung lari, apa apaan pikir Zayna. Ya, gadis berumur dua puluh dua tahun itu memang tak mendengar apa yang diucapkan Adrian tadi pada si pria botak.


Adrian pun berbalik tersenyum memandang Zayna. "Benar kamu nggak apa apa?" tanyanya sekali lagi.

__ADS_1


Zayna yang awalnya masih menatap pada pintu restoran beralih menatap Adrian dengan mata bulat hitamnya, seketika waktu terhenti untuk Adrian. Ia terpesona.


"Saya tidak apa apa, terima kasih sudah menolong saya" ucap Zayna sopan.


Adrian menggeleng dengan tawa kecilnya. "Nggak masalah" jawabnya.


"Oh ya, boleh kita berkenalan?" ijin Adrian.


Zayna mengernyit namun tak lama mengangguk sekali. "Adri, kamu?" sebut Adrian memperkenalkan nama akrab yang biasa disebutkan teman temannya. Ia mengulurkan tangannya.


"Zayna, Ardella Zayna" jawab Zayna menjabat tangan Adrian. "Lembut sekali" Adrian tersenyum dalam hati.


"Nama yang cantik" ucap Adrian. Seperti orangnya tambahnya lagi dalam hati.


Zayna hanya tersenyum samar. "Kalau begitu permisi Tuan, saya harus kembali bekerja". pamit Zayna yang hanya diangguki Adrian dia kembali terpesona sepertinya sampai tak sadar Zayna pergi dari hadapannya.


"Eh" Adrian hendak menahannya tapi Zayna sudah terlalu jauh.


"Nanti akan kucari tau siapa dia sebenarnya yang berani mencuri hatiku secepat itu." Adrian bergumam.


"Lo udah datang, sory gue ada urusan sebentar tadi" seseorang menepuk pundak Adrian. Dia sempat berpikir ada apa disini, suasananya nampak sedikit berbeda. Tapi tak dihiraukannya.


Adrian berbalik. "Nggak masalah, berkat ngaretnya lo, gue beruntung karena sudah melihat bidadari impian gue" jawabnya asal membuat temannya tertawa.


Daniel sang teman pun membawa Adrian ke ruangan pribadinya dalam restoran itu. Tapi Adrian seperti teringat, ia meninju main main lengan temannya itu. "Ada karyawan baru nggak bilang bilang" sindirnya.


"Siapa dia?" tanya Adrian antusias.


"Dia temen adik sepupu gue" jawab Daniel.


Adrian mengernyit adik sepupu Daniel, berarti. "Anak kuliahan dong" ucapnya.


"Iya".


Adrian tersenyum dan rencana pendekatan sudah tersusun rapi dipikiran.


*****


Keesokan harinya Zayna sudah gugup dan berpikiran jelek saat baru saja ia tiba lalu menaruh tas Ranti sudah berkata. "Zea, kamu dipanggil bos besar diruangannya".


Mati lah.


Zayna yang jika dilihat mungkin sudah mulai terlihat pucat, mencoba menenangkan dirinya saat menuju ruangan sang bos besar. Bukan apa dia berpikir jelek, karena kemarin dia bermasalah dengan si botak mesum dia takut si bos akan memarahi atau bahkan memecatnya.


Kalau benar begitu dia mau cari kerja dimana lagi coba dan dia tak enak hati pada Naira yang sudah merekomendasikan dirinya pada sepupunya, masa baru beberapa hari kerja sudah dipecat. Sekalipun dia juga lumayan kenal dengan Daniel tapi untuk masalah pekerjaan beda lagi ceritanya kan.


Sialnya hidup ini.

__ADS_1


Tok, tok, tok.


"Masuk". Setelah membuka pintu dan masuk Zayna lalu menutupnya kembali dan melangkah mendekati meja Daniel. "Maaf, Pak Daniel panggil saya?" tanyanya sopan tak berani menatap Daniel.


"Iya, duduk" ucap Daniel menyuruh Zayna untuk duduk dikursi nadanya datar bak triplek yang dijual ditoko ujung jalan.


Perlahan dan mulai gemetar Zayna pun duduk dikursi. "A...., Ada apa yah Pak?" ujarnya berani bertanya tapi tetap menundukkan kepala segan menatap sang bos yang adalah sepupu sahabatnya itu.


"Kamu bener karyawan yang kemarin bertengkar dengan Pak Wanto?" tanya Daniel to the point.


Zayna reflek mendongak tatapannya menerka. "I..., Iya Pak saya" jawabnya peka. Semakin takut saja saat sang bos menghela napas panjangnya. Tapi saat Daniel kembali mengucap kalimat yang justru Zayna dibuat tercengang.


"Bagus, bagus kamu sudah berani melawannya" ucap Daniel dengan bangganya.


"Eh, lo kok gini?" dalam hati Zayna bertanya tanya.


"Maksud bapak?" tanyanya bingung.


"Iya, dulu sebelum kamu banyak karyawan saya yang diganggu tua bangka mesum itu, tapi tak ada yang berani melawan malah ada yang menerima dengan lapang dada dan berhenti dari restoran saya" jawab Daniel dengan nada menyesalnya.


"Bahkan dulu restoran saya pernah dianggap penyetok wanita penghibur karena dia, makanya saya tak menerima karyawan wanita muda lagi setelahnya, baru kamu ini saja karena kamu sahabat adik sepupu saya" tambah Daniel menerangkan.


Zayna pun sekarang mengerti kenapa hanya ada dua wanita yang bekerja disini, yaitu Mba Dona kasir yang sudah berumur kepala empat dan Ranti yang berumur tak jauh beda. Selebihnya lelaki semua beberapa malah ada yang gemulai. Ini toh alasannya.


"Tapi dengan keberanian kamu kemarin, tua bangka itu pasti tidak akan berani datang kemari lagi".


Zayna tersenyum tak enak hati. "Memangnya siapa sih dia, pelanggan direstoran ini?". Dia malah lebih tertarik untuk bertanya.


"Dia itu sebenernya teman bisnis papa saya, jadi untuk menegurnya saya segan. Apalagi dimata Papa saya dia pria terhormat, pernah saya adukan tapi Papa saya tak percaya, maklum baginya saya hanya anak muda yang mencari alasan kenapa banyak gosip jelek tentang restoran ini, jadi untuk beliau percaya sulit sekali dan kelakuan teman bisnisnya itu semakin menjadi" jawab Daniel panjang lebar.


Lah, kok terselip nada curhatan didalamnya.


Zayna tersenyum canggung. "Tapi mungkin bukan karena saya dia tak berani kemari, tapi karena pria yang membantu saya, setelah pria itu membisikkan sesuatu Pak Wanto langsung pergi" terangnya polos sekali.


Daniel mengernyit, "Siapa yang membantumu?" tanyanya.


Zayna mengingat. "Sebentar Pak saya ingat ingat dulu" ucapnya.


"Ar...., I....., Adri...., Ya namanya Adri Pak" jawab Zayna yakin.


Daniel tercengang kemudian mendengus sebal. "Kenapa Pak?" tanya Zayna heran.


"Adri, dia itu teman saya" jawab Daniel yang mulai mengerti dengan wajah mesam mesem sang sahabat itu kemarin.


Zayna tak menanggapi berlebihan dia hanya menganggukkan kepala.


"Saya rasa dia menyukaimu".

__ADS_1


"Hahhh?????".


__ADS_2