
* JODOH WASIAT AYAH *
Ep.7
Jebakan
Pena: Smilling
Zayna tercengang tak menyangka saat Naira dan Heri membawanya ketempat acara yang ternyata sebuah club, bukannya gedung kampus seperti dugaannya.
"Kok kita malah kesini sih, ngapain?!" tanya Zayna sewot menarik lengan sang sahabat. Naira berbalik. "Lah kan memang acaranya disini" jawabnya bingung, karena setiap tahun acara free night kampus memang diselenggarakan ditempat hiburan malam ini.
Zayna mengernyit makin bingung dan risih melihat beberapa orang yang hendak masuk kedalam tempat itu terlihat aneh apalagi yang perempuan busana mereka seperti kurang jahitan.
"Gue kira dikampus" terangnya polos. Seketika Naira tertawa hingga Heri yang sempat mengobrol dengan temannya ikut bergabung dengan keduanya. "Tiap tahun acara free night itu diadain disini Zea, lo nya aja yang nggak pernah mau ikut makanya nggak tau" jawab pria itu sembari merangkul sang kekasih.
Zayna pun akhirnya mulai mengerti dari penjelasan kedua sahabatnya itu. Sempat menolak untuk masuk dan berfikir ingin pulang sendiri niatnya itupun akhirnya tak terjadi karena Naira merajuk, katanya ini untuk yang terakhir kali.
Zayna memang tak menyukai tempat hiburan malam ini, apalagi saat matanya sudah menangkap cahaya silau dari lampu yang terus berputar ditengah ruangan itu. Bau alkohol sudah menyengat ke indra penciumannya, alunan musik dari dj yang tak tau aliran apa itu juga sudah merusak pendengarannya, membuatnya semakin pusing saja.
Gadis itu terus terbawa masuk kedalam klub mengikuti arah tarikan Naira pada lengannya. Sang sahabat itu ternyata membawanya ke lantai dansa bergabung dengan kawan sekampusnya. Naira memang sudah biasa ketempat seperti ini begitu juga Heri, hanya Zayna saja yang tak pernah mau di ajak kemari dan mereka tak pernah memaksa, baru kali ini saja. Padahal menurut mereka tempat ini asik untuk menghilangkan beban pikiran.
Ditempatnya Zayna hanya bisa berdiri dengan bibir tersenyum miring melihat Naira dan beberapa gadis yang dikenalnya mulai menari dengan bebasnya. "Ayo Zea" ajak Naira menggoyangkan tangannya.
Zayna hanya menganggukkan kepala tanpa berniat mengikuti lenggak lenggok tubuh Naira. Dia malah sibuk mencari Heri yang entah hilang kemana sedari mereka masuk tadi.
Semakin lama Zayna merasa nafasnya mulai sesak dan tubuhnya ngilu saat seseorang tak sengaja menyenggolnya, apalagi sedari tadi beberapa pria terus melirik dan mencoba mendekatinya.
"Nai, gue cari minum dulu ya" bisik Zayna pada Naira.
Gadis itu menganggukkan kepala sambil terus berjoget. "Lo tau tempatnya?" tanyanya. Zayna menganggukkan kepala setelah itu pergi meninggalkan Naira yang asik sendiri.
Zayna menoleh kekanan dan kiri mencari tempat dimana ia bisa mendapatkan segelas cairan penghilang dahaga, ketika ia melihat meja panjang dan seorang bartender disisi kanannya, gadis itu lalu mendekat.
"Kak, jus jeruk satu ya" pesannya setelah duduk dikursi tinggi dan berhadapan langsung dengan bartender tampan itu.
"Cuman jus jeruk nih?" tanya pria itu tersenyum penuh arti. Zayna mengernyit sesaat lalu tersenyum kecil kemudian.
"Gue punya racikan enak loh, mau coba?" Tawar pria itu lagi sambil memutar balikkan gelas ditangannya.
"Nggak makasih, jus jeruk aja" tolak halus Zayna, ia tau minuman apa yang ditawarkan pria bartender itu.
__ADS_1
Bartender itupun menyerah dan tertawa kecil. "Oke tunggu sebentar" katanya.
Sambil menunggu itu Zayna memutar kursinya melihat keadaan sekitar yang lumayan ramai, tempat ini sepertinya diboking oleh panitia kampusnya tapi ada beberapa orang luar juga, mungkin tamu VIP disini.
Terlihat dari perawakan dan postur tubuh ala sultannya.
Sesekali ada yang menyapanya bahkan menghampirinya yang dikenal Zayna adalah kawan kampusnya.
Jus Zayna sudah tersedia ia pun berbalik bersamaan dengan itu seseorang menepuk pundaknya. "Hay" sapa pemuda itu.
Zayna menolehkan kepala dengan alis bertautnya. "Abri?" ucapnya.
Abri si ketua BEM itupun tersenyum lebar. "Kirain lo lupa sama gue, lo disini juga?" ucap dan tanya pemuda itu yang langsung ikut duduk disamping Zayna.
Zayna coba tersenyum. "Iya, diajak sama Naira" jawabnya.
"Nggak nyangka gue kita bisa ketemu lagi disini, semenjak lo keluar dari kampus gue nggak pernah liat lo soalnya" ucap Abri dan Zayna hanya tersenyum saja.
"Lo apa kabar, sibuk apa sekarang?" tanya Abri basa basi.
"Baik, kerja di restoran gue" jawab Zayna sekenanya.
Ia mencoba berdiri dengan tangan menyentuh dahi, tapi ia oleng hingga hampir terjatuh dipelukan Abri. Pandangannya mengabur.
"Lo kenapa?" tanya pemuda itu.
Zayna menggeleng. "Nggak tau kepala gue pusing" jawabnya samar.
"Lo sakit?" tanya pemuda itu lagi.
"Nggak tau" jawab Zayna. "Bisa tolong anter gue ke Naira atau Heri?" pinta gadis itu.
"Oke". Abri pun sigap membawa tangan Zayna kebelakang lehernya untuk ia papah. Tapi sebelum melangkah pemuda itu meletakkan beberapa lembar uang keatas meja dan tersenyum iblis pada sang bartender disebrangnya.
"Kena lo sekarang" ucap Abri dalam hati girang menatap wajah cantik Zayna yang tak lagi berdaya dalam pelukannya.
*****
Tanpa ada yang sadar baik itu Naira ataupun Heri, Zayna sudah masuk dalam jebakan si bajingan Abri. Pemuda itu membawanya kelantai atas gedung yang adalah sebuah penginapan. Ternyata saat ia tahu Zayna akan datang ke acara malam ini, Abri sudah menyusun rencana untuk mendapatkan gadis itu sebagai ganti malu penolakannya terdahulu.
"Nai..., Naira lo dimana si?" Zayna terus mengoceh tak jelas walau pelan.
__ADS_1
Saat Abri terus memapah Zayna yang semakin hilang kesadarannya tanpa sengaja mereka menabrak seseorang.
"Sorry sorry lanjut aja" ucap orang itu. Dan Abri pun melanjutkan langkahnya walaupun ia kesal juga tapi Zayna lebih penting saat ini.
Tiba didepan sebuah pintu kamar tanpa kesulitan berarti Abri mampu membukanya, lalu masuk kedalamnya dan merebahkan kasar Zayna keatas ranjangnya. Gadis itu sudah tak berdaya bahkan untuk menggerakkan tubuhnya.
Pemuda bajingan itu tersenyum melihat tubuh mulus Zayna yang tertutup gaun hitam selututnya itu, matanya berbinar melihat kemolekan tubuh gadis tak berdaya tersebut. Apalagi kecantikan wajah yang diidam idamkan pemuda kampusnya itu.
Abri duduk disisi ranjang memandangi wajah Zayna yang terpoles make up tipis itu, tangannya meraba pipi Zayna.
"Malam ini lo bakal jadi milik gue, setelah gue puas, gue bakal pamer foto toples lo dikampus" gumam pemudia itu diselingi tawa iblisnya.
"Ba.., ji...., ngan....., lo!!" umpat Zayna walau suaranya tak sempurna. Kesadarannya masih ada tapi untuk melawan ia tak bisa. Abri tersenyum menang mengabaikan umpatan dari gadis didepannya.
Tak sabar untuk menikmati tubuh Zayna, Abri berdiri lalu mulai membuka jaket dan kaos yang dipakainya juga sabuk pinggangnya.
"Ja...., ngan deketin gue, be....., reng....., sek!!" tolak Zayna mencoba berontak tapi hanya dengan suara yang tenggelam, sedangkan tubuhnya menolak diperintah. Tak lama mata pun tak kuat lagi dibukannya, Zayna sudah sepenuhnya kehilangan kesadarannya.
Abri pun mulai merangkak diatas ranjang menindih tubuh Zayna, dengan mata berkabut dan barang yang sudah tegak dibalik sangkarnya pemuda itu bersiap memberi tanda kepemilikan di leher Zayna yang mulus.
Tapi,
Bruak!!!!!.
"Bajingan keparat, mati kau!!!" teriak seseorang yang langsung menghampiri Abri yang terkejut setengah mati. Pria itu secepat kilat memberikan pukulan bertubi diwajah Abri setelah menariknya menjauh dari tubuh Zayna.
"Si..., Siapa kau kenapa kau memukuliku?" tanya Abri disela kesakitannya. Ia berusaha melindungi wajahnya dari pukulan pria yang mengamuk itu tapi tak bisa sepenuhnya.
Pria itu semakin geram mulai mencekik dan mengangkat tubuh Abri merapatkannya ketembok kamar. "Berani sekali kau menyentuh gadisku, punya berapa nyawa memang kamu hah??!!!" ucap pria itu geram.
Tapi Abri tertawa remeh. "Ternyata kau pemakai dia juga, bagaimana kalau kita menikmatinya bersama pasti lebih seru kan?" ucapnya yang benar benar bosan hidup.
Dan terang saja sorot pria itu semakin tajam menyalang, seperti ada api biru dimatanya. "Mati kau bajingan!!!" teriaknya.
Pria itu menendang perut Abri kuat hingga pemuda itu terjatuh kelantai, tak habis disitu pukulan bertubi dan membabi buta diseluruh tubuh terutama wajah dan dada dari pria itu membuat Abri tak bisa menyelamatkan dirinya lagi. Ia pasrah.
"Bang Adri, udah bang udah" ucap Heri menahan Adrian yang mengamuk besar.
"Lepasin, biar ku bunuh keparat ini!!" sentak Adrian. Tapi Heri terus berusaha menarik Adrian karena Abri sudah terlihat kehabisan napas.
Sedang Naira sudah menangis memeluk Zayna yang tak tahu kemana alam bawah sadar membawanya.
__ADS_1