
Pagi yang basah karena habis turun hujan tadi malam, masih tersisa pelukan hangat dari kekasih halalku yang sudah menjadi bagian dari hidupku semenjak aku menikah dengannya, Mas Rudi adalah suamiku yang hanya tamatan SMP, sedangkan aku berprofesi sebagai guru honorer. Walau tak mendapat restu orang tuaku aku tetap bersikeras menikah dengannya karena rasa cintaku sudah terlalu besar dengan Mas Rudi.
Awal menikah dengannya dia hanya bekerja sebagai kuli pabrik. Rumah tangga kami sangat berbahagia karena Mas Rudi orang yang sangat pengertian dan penyayang. Hingga suatu saat aku berniat mendaftarnya mengikuti sekolah paket C agar dia mendapatkan ijazah SMU agar kepercayaan dirinya timbul.
"Mas, ikut sekolah paket C ya Mas, biar dapat kenaikan gaji di pabrik Mas," ucapku menyakinkan.
Mas Rudi sebenarnya orangnya sangat cerdas dan pintar hanya saja waktu SMP dia tak mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
"Urus la Dik, Mas mau aja, demi kebahagiaan kita bersama," jawabnya lembut.
Akupun mencari semua informasi untuk mengikuti ujian untuk suamiku, walau kedua orang tuaku tetap tak mendukung semua usahaku yang mensuport kemajuan Mas Rudi. Mama selalu memandangku sinis. Tapi aku cuek saja, lagian aku sudah dewasa, aku sudah berhak memilih jalan hidupku sendiri.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu selesai sudah, Mas Rudi mendapatkan izajah SMU dan mendapatkan kenaikan gaji dan mendapat posisi yang lebih baik, sekarang dia sudah menjadi bagian QC. Aku sangat berbahagia tak sia-sia semua perjuanganku selama ini.
"Dik, makasih ya dik, akhirnya Mas bisa mendapatkan posisi yang lebih baik dari pada dulu, Mas cuma buruh angkat barang, sekarang kerjaan Mas sudah enak," ucap Mas Rudi bersemangat.
"Iya, Mas, aku juga sangat berbahagia Mas udah nggak capek lagi kerjanya dan sekarang udah rapi nggak perlu ngoyo lagi," ujarku lembut.
Mas Rudi memeluk dan mencium keningku. Malam yang dingin menambah kesyahduan malam itu, sebagai sepasang suami istri yang belum dikaruniai seorang anak menjadikan kami seperti pasangan pengantin baru walau pernikahan kami memasuki tahun kedua.
💓💓💓💓💓💓💓💓💓
"Dik, dipabrik Mas ada pengangkatan jabatan tapi harus kuliah dik, gimana dik menurut adik," ucapnya bersemangat.
Saat itu aku sedang mengandung anak pertama kami, tubuhku sangat lemah, tapi melihat semangat suamiku aku tak berani mematahkan semangatnya.
"Ya udah Mas kuliah di universitas terbuka aja Mas, masalah biaya nanti kita pikirkan bersama," ucapku mantap.
Mata Mas Rudi berbinar mendengar jawabanku, matanya menunjukan rasa cinta yang memabukkan. Aku sangat bangga memiliki suami yang memiliki cita-cita tinggi dan semangat juang untuk membahagiakan anak istrinya.
__ADS_1
Akhirnya Mas Rudi bisa menyelesaikan kuliah dengan mudah, walau masalah biaya dia taunya beres. Aku yang montang-manting cari uang, kadang uang gaji suamiku tak mencukupi memenuhi semua kebutuhan keluarga kami. Uang gajikupun habis terkuras. Kami tak punya tabungan sama sekali. Semua habis untuk kuliah Mas Rudi.
Sekarang dia sudah mendapatkan posisi yang enak di pabriknya, sekarang dia sudah kerja di kantor sebagai administrasi. Kerjanya pun sudah pake kemeja dan wangi. Aku semakin sibuk dengan pekerjaanku dan anak-anak, tanpa mengetahui gelagat Mas Rudi yang mulai berubah.
Dia tak lagi lembut padaku, padahal aku sedang mengandung anak ke dua darinya, karena jarak anak pertama dan kedua sedikit rapat aku mulai kelelahan dan tak sempat memikirkan penampilanku. Apalagi aku memikirkan semua hutang-hutangku tanpa sepengetahuan Mas Rudi karena menurutku dia harus menyelesaikan kuliahnya tepat waktu hingga aku yang bodoh ini tak ingin membuat Mas Rudi ikut memikirkan beban hutang-hutang keluarga kami yang tak pernah kuberitahu Mas Rudi. Tapi ternyata semuanya bagai Boomerang dalam keluargaku.
Mas Rudi semakin berubah dan cuek denganku. Dia mulai berani bermain api. Aku menemukan beberapa chat-an mesra dari seseakun. Hatiku remuk redam, aku bisa apa, saat usia kandunganku memasuki bulan kesembilan.
"Mas, aku mau lahiran, tolong persiapkan uang untuk lahiran," ucapku pelan.
"Emang uang kita kemana semua, keuanganan semua ada di tanganmu, aku tak pernah tau bentuk dan rupanya uang gajiku selama ini. Sekarang kau minta aku cari uang untuk lahiran, uang kerjamu kemana semua," ucapnya ketus.
"Mas kok ngomong gitu," ucapku terisak dan histeris.
"Akukan nggak tau uangnya kemana semua. Jangan-jangan kau ngasih keluargamu tanpa sepengetahuanku." Matanya menatapku penuh amarah.
Bagai orang yang kesetanan saat itu, aku sangat murka dan sangat membenci suami yang susah payah kusuport.
"Mas, ini chat-an siapa." Mataku nanar menatapnya.
"Pacarku, kau tak menarik lagi, aku muak dengan daster-daster. Kenapa kau tak pandai merawat badan, jangan salahkan aku bila berpaling kelain hati," ucapnya santai.
Aku tak sanggup mendengar semua ucapan Mas Rudi yang sudah keterlaluan hatiku remuk redam segala emosi memuncak. Akhirnya aku pendarahan karena terlalu menahan emosi, masih kudengar sayup-sayup suara Mas Rudi yang terisak dan suara Radit anak pertamaku yang memanggil-manggil namaku. Semua memori terputar kembali saat kedua orang tuaku tak menyetujui hubunganku dengan Mas Rudi. Ternyata ucapan Mama benar maafkan anakmu Ma dalam hatiku bergumam. Walau kudengar sayup-sayup suara serinai ambulans, aku mau dibawa kemalll
Selama diperjalanan mata memang tertutup tapi hatiku menerawang jauh mengenang semua kebersamaan bersama Mas Rudi. Apakah tak seberharga itu aku Mas di matamu. Dialog demi dialog bagai diksi tak beraturan yang membuat rasaku semakin memudar. Rasanya seperti perjuangan yang sia-sia. Semua pengorbananku dibalas dengan rasa sakit yang sulit kuterjemahkan dengan kata-kata.
"Tiara, kenapa hutang kita banyak, setiap hari ada saja yang menagih hutang, apa kau selingkuh uang," ucapnya ketus.
"Mas, semua keperluanmu, kuliahmu itu butuh uang yang banyak, emang uang gajimu berapa sih Mas, kok nanya uang kita kemana semua, pikirmu orang tuaku mau uang dari hasil keringatmu, lagian orang tuaku kecukupan ko," ucapku berapi-api.
__ADS_1
"Plakkk, plakkk ,plakkk." Tamparan keras mendarat di pipiku.
"Apa-apaan kamu Mas, berani kau tampar aku ya Mas? Oke Mas, semua akan aku buka semuanya, kemana semua uang kita." Mataku berkilat dan amarahku memuncak.
"Dasar kamu tak pandai mengelola keuangan, aku capek kerja, sudah lima tahun kita ngontrak trus, ganti ganti kontrakan, aku bosan, bukannya bisa nyimpan malah tekor, aku bosan tiap hari di ceritain Ama tetangga-tetangga kalau hutang kamu banyak di sekolahan kamu," ujarnya lagi.
"Mas, aku nggak boros, semua uang habis karena beli semua keperluan kamu, beli kereta baru untuk kerja dan ke kampus kamu, aku rela beli kereta agar kamu bisa cepat geraknya, walau bodohnya aku nggak pernah mau berbagi cerita, sebelum aku mati aku pengen kamu yang mengelola keuangan sebulan aja, cukup nggak," ketusku. Air mata trus berurai.
Suamiku terdiam dan memandangiku lekat-lekat.
"Maafkan aku dik."
"Udah terlambat Mas, hatiku udah sakit, aku kira dulu kau kukuliahkan agar timbul rasa syukurmu memiliki istri yang mensuport semua kemajuanmu tapi ternyata aku salah, semua pencapaianmu membuat kau lupa diri dan lupa dari mana asalmu, belum kaya aja kamu udah bertingkah." Kata-kataku menusuk kalbunya, emang aku udah mempersiapkan semua kata-kata ini karena Mas Rudi udah aku pantau 2 bulan terakhir ini.
Dia berlutut memohon ampun tapi hatiku masih meradang, selama 2 bulan ini semua akses medsosnya aku copy, memang pertemanannya dengan atasannya itu belum terlalu jauh, masih pedekate tapi harus kubasmi dan kucuci otaknya biar nggak macam-macam dia sama aku. Memang lelaki diuji keimanannya saat sudah punya taring, dulu waktu masih jadi kuli panggul siapa yang mau mendekatinya. Menyebalkan.
Semua memori terulang kembali sebelum mataku terpejam tapi pikiranku tau semua apa yang dia lakukan saat aku pendarahan. Dengan dibantu Mbak Surti tetangga rumahku, dia histeris, berteriak-teriak minta tolong, semua warga perumahan kami pun berdatangan untuk melihat keadaanku yang mengenaskan. Kulihat wajah Mas Rudi memucat saat melihatku terkulai lemah, aku masih terkikik dalam hatiku baru kau rasakan rasanya kehilangan wanita sepertiku.
Selama di ambulance mataku masih terpejam tapi kupingku menangkap jelas penyesalan yang dalam dari bibir lelaki yang sudah susah payah kuperjuangkan karirnya. Belum sukses saja sudah berani berkhianat pada istrinya yang tulus, bagaimana kalau udah sukses ntar, mungkin aku akan dibuang dari kehidupannya. Dasar lelaki tak bermoral, benar kata Mama saat melihat Mas Rudi awal-awal pacaran.
"Tiara, kenapa sama lelaki itu sih Kak, kayaknya orangnya nggak sopan gitu, nggak ada akhlak, pecicilan," ucap Mama lembut.
"Dia nggak pecicilan Ma, hanya aktif aja kok Ma, dia baik Ma," ujarku meyakinkan.
Mama menghela nafas panjang mendengar semua argumenku, ya karena rasa cintaku yang begitu besar mengalahkan semuanya. Semua pandangan miring tentang Mas Rudi kutepis. Tapi semuanya kini jadi kenyataan, tapi semua belum terlambat masih ada waktu untuk memperbaiki ini semua.
Aku akan membuat perhitungan kepadamu Mas Rudi. Kau akan menjadi aku walau sebentar saja biar kau dapat merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Jangankan untuk menjaga penampilan untuk makan saja kadang aku kudu prihatin agar ada bayar uang semesternya, semua keperluannya. Dasar suami kacang lupa kulitnya.
Next
__ADS_1