Kacang Lupa Kulitnya

Kacang Lupa Kulitnya
Bab 7 Harapan nan Sirna


__ADS_3

Pov Tiara


Bersama Revan hidupku sangat bahagia, dia lelaki yang sangat penyayang dan sabar, bukan hanya itu dia juga romantis dan Sholeh, tiap hari dia membawa Radit sholat berjamaah dan selalu menegurku bila aku sholat di ujung waktu, dia adalah suami idaman.


"Bang makasih ya sudah menyayangiku sedemikian rupa dan menerima Radit apa adanya," ucapku lembut.


"Abanglah lelaki yang sangat beruntung memiliki istri yang Sholeha sepertimu dik, bukankah perhiasan dunia adalah istri yang Sholeha," ucapnya mantap. Diusapnya pucuk kepalaku.


Pernikahan ini sudah memasuki dua tahun tapi belum ada tanda-tanda aku akan mengandung anak kedua.


Seminggu lagi Revan akan pergi keluar kota untuk mengerjakan proyek dari kantornya tapi hatiku sangat takut ada perasaan tak enak, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi melarangnya untuk tak pergi tak ada keberanian di hatiku.


"Bang, emang nggak bisa di gantikan orang lain untuk berangkat ke Surabaya Minggu depan ya Bang," ujarku sedih.


"Kenapa dik, kok kayaknya kuatir gitu, nggak bisa dik, Abang kepercayaan bos untuk menangani proyek ini," ucapnya lembut.


"Hatiku nggak enak Bang, sepertinya akan ada sesuatu yang akan terjadi," ucapku pelan.


Dikecupnya dahiku lembut.


"Do'akan yang terbaik saja, kita pasrahkan saja semuanya kepada Allah SWT. Hidup dan mati semua ditanganNya." Matanya menatapku lembut.


Sudah seminggu aku mimpi buruk, mimpi pesawat terbakar, tapi pesawat itu entah apa nama penerbangannya. Sudah tiga hari berturut-turut mimpi yang sama. Tepatnya pagi itu Bang Revan mencium pipiku dan keningku untuk berangkat ke Surabaya dengan penerbangan rute dini hari.Aku tak di izinkan mengantarnya karena jadwal penerbangan masih dini hari, pukul 4 pagi, karena presentase dengan perusahaan di Surabaya pukul 7 pagi.


Hatiku was-was tak menentu, saat didekapnya tubuhku ada sesuatu yang sepertinya akan hilang tapi entah apa. Hatiku menangis sejadinya malam itu


"Kenapa sih sayang, kok manja banget nggak ingin di tinggal suami mau cari mam," ucapnya lembut sebelum keberangkatannya.


"Bang, badanku nggak enak, mual-mual terus, aku pengen dipeluk sama Abang trus, sedih rasanya kalau bangun pagi Abang udah nggak ada," rengekku.


Diusapnya lembut perutku sepertinya dia merasakan ada benih yang tumbuh disana. Aku sudah telat 2 Minggu.


"Sayang, sepulang dari Surabaya kita cek ya, semoga saja ada dedeknya Radit disana," ucapnya lembut.


"Jangan pergi Bang, kumohon tetaplah disini menemani kami," ucapku serius.


"Sayang nggak bisa, ini presentase yang sangat penting sayang, udah bobok aja ya, ntar kalau kangen bisa vc kok," ujarnya lembut.


Dielusnya pucuk kepalaku hingga aku tertidur pulas didekapannya, malam itu adalah malam terakhir aku tidur didekapannya, benar saja aku mimpi lagi mimpi yang mengerikan dan nyata sekali, mimpi melihat burung besi itu terbakar di ujung ekornya dan terjun bebas ke lautan lepas, setelah terbangun ternyata Revan tak ada lagi disisiku. Aku yakin sekali itu penerbangan Revan, karena terlihat jelas nama badan pesawat adalah pesawat yang di tumpangi Revan.


Kuambil gawaiku di nakas, ku vc Suamiku tercinta ternyata dia sudah di bandara.


"Sayang bentar lagi Abang masuk ke pesawat udah dulu ya," ucapnya lembut.


"Bang, jangan berangkat kumohon, pesawat itu akan mengalami kecelakaan, please," ucapku terbata-bata. Air mata berurai.


"Jangan ngacolah sayang, udah tutup ya hapenya, itu udah ada panggilan dari petugas untuk memasuki badan pesawat," ucapnya lagi. Kulihat dia melambaikan tangan.


Tubuhku luruh kelantai, ada sebagian dari jiwaku yang hilang, ini benar-benar nyata, tapi mengapa Bang Revan tak mau mendengarkanku sedikitpun. Aku menangis dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud untuk keselamatan suamiku. Tak terasa semua air mata tumpah ruah di sajadah. Kuserahkan semuanya kepadaMu ya Rabb. Apapun itu aku harus terima apa adanya.

__ADS_1


Tepat pukul 04 30 tiba-tiba ku klik hapeku ada pemberitaan dari link berita bahwa penerbangan Jakarta Surabaya mengalami kecelakaan. Hatiku benar-benar remuk redam. Saat mimpi jadi kenyataan. Itulah mimpi yang sangat kutakutkan yang jadi kenyataan.


Bang kenapa kau tak percaya istrimu ini sekali ini saja, dalam hatiku bergumam dan menangis tersedu-sedu.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Air mata trus jatuh sampai Radit terbangun dari tidurnya.


"Mama, kenapa nangis, Papa Revan kemana?" ucapnya polos.


"Do'akan Papa Revan baik-baik saja ya Nak," jawabku lemah.


Radit memelukku sambil menangis, setengah jam kemudian Mama mertua dan Mama dan Papaku sudah datang ke rumahku. Mereka menguatkan sambil semangat hidup. Aku memang benar-benar patah dan hampir putus asa karena kali ini perpisahannya sangat menyakitkan, berpisah lagi sayang-sayangnya lagi manis-manisnya. Apalagi di dalam rahimku sedang mengandung buah cinta Revan.


"Ma, sepertinya aku hamil, bagaimana nasibku Ma, kasian anak ini bila harus kehilangan kasih sayang seorang Papa, Radit kecil sudah happy punya Papa pengganti tapi takdir berkata lain," ucapku lirih, tangisku pecah dalam pelukan Mama.


"Sabar dan ikhlas Nak, Allah yakin kau mampu menghadapi semua ini, dia percaya hanya kamu yang mampu melewati badai ini, yang lain tidak," jawab Mama sendu.


"Kenapa anak-anakku harus kehilangan pigur seorang Papa Ma, hatiku nelongso Ma, dulu aku sangat bahagia memiliki keluarga lengkap dan sangat bahagia tapi kenapa anak-anakku tak dapat merasakan kebahagian yang sama sepertiku Ma," isakku.


"Setiap manusia berdiri di atas takdir yang berbeda-beda Nak, jangan bershuuzon kepada Allah SWT Nak, semangat ya Nak," ucap Mama lembut. Diusapnya pucuk kepalaku.


Aku menyuruh adik bungsuku untuk membeli tespek agar jelas, aku sedang mengandung atau hanya lagi masuk angin biasa.


"Malu la Mbak, Sarah masih gadis beli gituan," ujarnya malu-malu.


"Udah biar Mama temenin," ucap Mama.


"Ya Rabb kembalikan Revan padaku ya Rabb, aku tau hakikatnya hidup ini hanya masalah ditinggalkan dan meninggalkan tapi kumohon tangguhkan ya Rabb," aku berbisik dalam sholat hajatku.


Seperti kehilangan arah, saat baru mereguk manisnya cinta ternyata Allah lebih menyayangi dia dari pada aku, hanya sebatas itu pertemuan kami.


"Revan, terima kasih sudah memberiku rasa dicintai, dikasihi, dimanja, dilindungi yang dulu tak pernah kurasakan dengan suami yang terdahulu. Tapi pertemuan kita begitu singkat aku ingin lebih lama lagi bersamamu Sayang." Kuusap foto pernikahan kami.


Dia tersenyum manis difoto itu, masih terasa hangatnya pelukan tadi malam saat dia coba meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Masih hangat dalam ingatan semua kasih sayangnya yang begitu tulus. Ya Rabb kuatkan hambaMu yang hina ini. Hati ini benar-benar rapuh dan hancur.


Teringat jelas ucapan Revan.


"Sayang kalau boleh meminta kepada Allah, aku saja yang meninggalkanmu tak kuat rasanya bila kau yang meninggalkanku, cintaku begitu besar untukmu Mamanya Radit."


Semua memori terulang kembali, tiba-tiba aku ingat lagu kesukaannya lagu Kemaren Seventeen. Padahal sudah kularang jangan menyukai lagu sedih-sedih aku nggak suka. Tapi dia selalu tak peduli.


"Sayang aku ingin kau selalu mengenangku seperti lagu ini ya," sambil dinyanyikannya.


Kuputar kembali lagu kesukaannya diplaydistnya.


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼


Kemarin

__ADS_1


Kemarin engkau masih ada di sini


Bersamaku menikmati rasa ini


Berharap semua takkan pernah berakhir


Bersamamu


Bersamamu


Kemarin dunia terlihat sangat indah


Dan denganmu merasakan ini semua


Melewati hitam putih hidup ini


Bersamamu


Bersamamu


Kini sendiri disini


Mencarimu tak tau di mana


Semoga tenang


Kau disana selamanya


Aku selalu mengingatmu


Do'akanmu setiap malam ku


Semoga tenang


Kau disana


Selamanya


Kuresapi lirik lagu itu dan kunikmati sensasi rasa sakitnya, aku tambah terpuruk. Mama mertuaku memelukku erat.


"Ra, jangan di putar lagu-lagu yang menyayat hati, akan tambah lukanya, berdo'a saja Nak, semoga ada keajaiban dariNya," ujar Mama mertuaku, dipeluknya tubuhku erat.


"Ma, ini lagu kesukaan Bang Revan Ma, ternyata dia ingin kekenang sepanjang hidupku, Ma, aku lemah dan rapuh Ma," ujarku lemah.


"Mama yakin dia akan tenang di sana, tapi Mama masih ingin dia kembali untuk kita, masih banyak tanggung jawabnya, Mama selalu berdo'a semoga ada keajaiban dariNya."


Setengah jam kemudian suara hapeku berdering ternyata dari kantor Bang Revan menyatakan bahwa Revan menjadi salah satu korban dari kecelakaan pesawat itu, tapi masih ada kemungkinan ada keajaiban karena jasad Revan belum ditemukan, hanya koper dan tas sandang milik Revan, kami harus menjemputnya dan memastikan itu semua barang milik Revan.


Aku tak mampu berkata apa-apa hanya air mata terus berurai sambil mengelus lembut buah cinta kami, Papa memberi kekuatan kepadaku walau matanya memerah karena menahan rasa sakit luar biasa. Radit menangis mendengar berita dari televisi bahwa Papanya menjadi korban pesawat naas itu.

__ADS_1


Tiba-tiba pandanganku gelap dan aku tak tau lagi apa yang terjadi, kulihat bang Revan tersenyum padaku, aku menangis melihatnya melambaikan tangan.


Next


__ADS_2