
POV Rudi
Air mataku sudah menganak sungai, tak mampu percaya wanita yang biasanya kuat saat ini pingsan tak berdaya. Kutatap wajah wanita yang selama ini sudah menemaniku dalam suka dan duka.
"Maaf Ara, aku memang pecundang. Bukan suami yang baik." Kubenamkan wajahku di lengan Tiara istriku.
Sesampainya di Rumah Sakit Cahaya Bunda aku dihadapkan oleh pilihan yang sulit.
"Menyelamatkan anaknya atau Ibunya pak." Tanya Dokter yang menangani Tiara, seketika dadaku sesak, benar-benar pilihan yang sulit. Maafkan Papa Nak.
"Ibunya Dok, emang nggak bisa diselamatkan keduanya Dok," ucapku lirih.
"Maaf pak, ini pilihan yang sulit pak, do'akan ya Pak, semoga keduanya bisa tertolong," ujarnya lirih.
Mama mertuaku dengan rombongan menatapku sinis, kutau keluarga istriku memang tak menyukaiku dari awal menikah.
"Kenapa bisa begini, pasti kamu bertengkar dengan Tiarakan," ucap Mama ketus.
"Maafkan aku Ma, Pa," ujarku lirih.
"Bila terjadi apa-apa dengan putriku kau akan tau akibatnya," ucap Papa mertuaku. Matanya penuh amarah.
Hati dan jiwaku seraya melayang, tiga jam Tiara berada di ruang Operasi dan akhirnya anakku yang berjenis kelamin wanita harus pergi untuk selama-lamanya. Semua mata memandangku penuh kebencian, Tiara masih koma. Aku pulang untuk melakukan pemakaman anak perempuanku. Tiara belum sadarkan diri.
"Ma, titip Tiara ya Ma." Mataku memanas saat kulihat wajah itu begitu tenang.
Mama hanya mendehem. Sungguh seperti orang asing aku ditengah-tengah mereka. Hanya Namira adik bungsu Tiara yang masih bersikap bersahabat denganku.
Setelah acara pemakaman aku terduduk di kursi malas yang berada di kamarku. Kulirik ada sebuah buku diary warna coklat. Kubuka lembar demi lembar curahan hati Tiara.
Tgl 20 Maret 2015
__ADS_1
Diary, hari ini aku sangat sedih, besok adalah acara Wisuda suamiku, sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu olehku dan olehnya, tapi semua jadi tak menyenangkan saat beberapa rekanku datang kerumah untuk menagih hutangku, utang itu untuk membayar semua keperluan Mas Rudi tanpa sepengetahuannya, tapi apa yang kudapat tatapan tajam itu, marah dan sumpah serapah, menuduhku selingkuh uang, padahal untuk kepentinganku saja kutangguhkan semua demi Mas Rudi tapi apa yang kudapat. Aku memang sok wonder women, pahlawan kesiangan, ya Rabb kenapa rasanya sesakit ini. Pikirnya gaji 2 juta itu cukup untuk membiayai keperluanku dan kuliahnya kalau bukan aku yang banting tulang. Tapi biarlah kutelan semua ini sendiri karena besok hari yang spesial buat dirinya aku tak mau merusak suasana hatinya.
Hatiku merana membaca aksara yang terangkai itu jadi diksi-diksi yang menyayat hati dan sebagai tamparan buatku. Kubuka lagi lembaran berikutnya, kuseka air mata yang meluncur terjun bebas dari kelopak mataku.
Tgl 21 Maret 2015
Diary.....
Hari ini adalah moment yang sangat menyakitkan dalam hidupku, saat yang paling bahagia di hidupnya adalah saat yang paling menyakitkan dalam hidupku. Aku menangis saat dia tak memelukku, dia menganggapku bagai orang asing yang merusak kebahagiaan nya, dia memeluk semua anggota keluarganya sedangkan kepadaku dia hanya menatap sinis dan menatapku bagai kuman yang mengganggu kebahagiannya, hatiku sakit ya Rabb, padahal aku yang berjuang mati-matian demi karir dan pendidikannya tapi apa yang kudapat penghinaan demi penghinaan. Dia tak berterimakasih sedikitpun kepadaku, jangankan memelukku menyalamikupun dia enggan. Dia asik menghabiskan waktu dengan keluarganya dan teman-temannya sedangkan aku dan anaknya diabaikan. Ya Rabb kenapa rasanya sesakit ini, apakah mencintai makhlukMu harus sesakit ini ya Rabb. Ternyata hanya mencintaiMu yang tak pernah memberikan rasa sakit, hanya kapadaMu kuserahkan cintaku, hidup dan matiku. Cinta pada manusia ada batasnya. Ini rasa yang paling menyakitkan dalam hidupku air susu dibalas dengan air tuba.
Tak mampu kubendung lagi air mata yang menganak sungai membanjiri kedua pipiku yang mulai cekung, ya Rabb begitu banyak dosaku pada Tiaraku. Memori saat wisuda itu terekam ulang di memori otakku. Dia berusaha tertawa dan menikmati kebahagiaanku padahal hatinya menangis mendapatkan perlakuanku yang tak adil baginya, suami macam apa aku ini ya Rabb.
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
Air mata hampir habis saat kubaca lagi bait-bait kata yang tertulis rapi di dalam diary Tiara, selama ini Tiaraku sedang sakit, dia menyembunyikan lukanya dariku, dari keluarganya dari dunia. Dia tak berani membagi kisahnya padaku tapi aku jadi salah paham atas segalanya, dia memang pahlawanku.
Tgl 12 Mei 2015
Tgl 20 Maret 2016
Hai Diaryku sayang, hari ini aku ingin curhat lagi, aku tak habis pikir dengan semua ini, rasanya air mataku telah habis, dia sudah enak sekarang kerjanya, gajinyapun sudah 10 juta sebulan, dia sudah tak menghargaiku lagi, bentak-bentak sesuka hatinya, padahal aku sedang mengandung anak kedua darinya, aku stres dengan semua sikapnya, kulihat dia intens dengan hapenya, apakah dia ada main dengan atasannya yang janda itu, aku harus memperhatikan semua gerak-geriknya, kalau itu sampai terjadi aku memilih pergi untuk selama-lamanya dari hidupnya, biarlah aku yang memperbaiki strata hidupnya tapi dia mencampakkanku saat dia sedang dipuncak karirnya.
Tgl 21 Maret 2016
Diary sayang hatiku sangat hancur banyak chatan mesra dari seseakun atas nama Kalina, aku tau itu nama wanita yang menjadi atasannya, apakah hubungan mereka sudah terlalu jauh, ya Rabb sepertinya bumi ini berhenti berputar, kenapa rasanya sesakit ini ya Rabb, kalau bisa memilih aku ingin kembalikan dia seperti dulu saja, buruh panggulku, lelaki lugu tamatan SMP aja kalau rasanya sesakit ini, ya Rabb hatiku berdarah-darah. Apa salahku ya Rabb hingga cobaan demi cobaan harus kureguk, aku kehilangan suami yang sangat mencintaiku walau dia masih hidup di dunia ini,
Sesuatu yang menyakitkan saat aku harus tersenyum sebenarnya hatiku sedang menangis. Aku ingin marah dan memakinya tapi apalah daya rasa cintaku begitu besar untuknya.
Tgl 22 Maret 2016
Diary aku benar-benar ingin mengakhiri semua ini, aku akan melepaskan semuanya, saat ini aku bagai pungguk merindukan bulan, disaat aku butuh kasih sayang saat aku sedang mengandung buah cintanya dia asyik-asyik bermesraan dengan wanitanya, sudah habis rasaku, aku akan pergi untuk selama-lamanya dari hidupnya, mungkin selama ini aku terlalu mandiri hingga dia tak tau betapa sulitnya aku memperjuangkan semuanya untuknya, saat dia di puncaknya dia mencampakkanku bagai sampah. Mas Rudi semoga kau bahagia selalu walau tanpa aku lagi disisimu. Pergilah dengan cintamu yang baru, aku rela melepasmu, mungkin kau tak bahagia saat bersamaku. Maafkan aku yang tak bisa mempertahankan cinta kita, bukan aku tak ingin bertahan kau yang tak menginginkan aku untuk bertahan. Sakit rasanya bila bertepuk sebelah tangan. Sakit semoga kau tak tak merasakan apa yang aku rasakan. Mencintai sesuatu yang sulit kau jangkau.
__ADS_1
Aku tersentak membaca bait terakhir, seolah-olah dia memang berniat berpisah denganku. Kubaca lagi bagian terakhir.
Diaryku
Dia sudah berani main tangan kepadaku, padahal sedari kecil aku tak pernah dikasari oleh kedua orang tuaku, aku akan kembali pada kedua orang tuaku, tak bisa aku bertahan dengan suami yang sudah tak menginginkanku lagi. Mungkin ini terakhir kali aku menulis disini. Aku akan pergi sejauh mungkin sampai dia tak dapat menemukanku lagi.
By Tiara Anastasya
Kupeluk diary milik istriku, Menangisi semuanya, aku membuang berlian untuk seonggok batu kali, karena kesombongan aku harus kehilangannya untuk selama-lamanya, apakah aku mampu hidup tanpamu, sungguh manusia bodoh.
"Tiara, maafkan aku, apakah masih ada waktu untukku kembali sayang," ucapku lirih serasa separuh nafasku pergi.
Saat itu semua bayangan Tiara menari-nari di pelupuk mataku, senyumnya yang manis, semua tentangnya bagai kenangan terakhir. Selama ini aku menyia-nyiakannya, tak pernah kuingat kan lagi kapan dia meminum susu hamilnya, makan apa dia, apakah dia baik-baik saja, apa makanan kesukaannya, warna apa favoritnya, aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri hingga aku melupakan wanita yang begitu tabah dan sabar membesarkan namaku. Tapi apa balasan dari kesabarannya, pengkhianatan.
Tiba-tiba satu chat masuk.
[Mas, aku kangen, bisa kita ketemu] ternyata dari Kalina.
[Maaf, sebaiknya kita akhiri semua ini, aku tak mau bermandikan dosa lagi, lupakan aku]
Kukirim pesan terakhirku sambil kukutuk diriku sendiri.
Aku bangkit dan mengambil air wudhu yang sudah lama kutinggalkan walau Tiara selalu mengingatkan.
"Mas, sholat, apa gunanya hidup di dunia ini kalau tak sholat, apa pengakuanmu sebagai seorang hamba kalau tak menyembah pada sang pencipta, benar-benar manusia sombong, lihatlah mas alam semesta ini semua bersujud kepada Rabbnya, walau kita tak tau bagaimana cara mereka menyembah." Nasehatnya selalu tapi aku masih selalu mengabaikannya.
Kali ini aku sangat merindukan bersujud dihadapan sang Maha Kuasa mengaduhkan semua kesalahanku, aku benar-benar bertaubat ya Rabb.
Tubuhku bergetar saat kuucapkan takbiratul ihram Allahu Akbar ada rasa takut dan malu kepada Rabbku selama ini aku kemana, aku terlalu sibuk mengejar dunia hingga aku melupakan sang Maha Besar. Aku menangis dalam sholatku, memohon ampun kepadaNya semoga dia mau menagampunkanku manusia yang banyak dosa ini. Ampuni aku ya Rabb.
Apakah masih pantas aku mendapatkan cinta Tiara kembali ya Rabb, apakah masih pantas bersanding dengan bidadari surga itu. Air mata masih mengalir deras di pipiku. Setelah selesai sholat magrib, aku bergegas menemui wanitaku, aku akan berjuang mendapatkan hatinya yang telah hancur, apakah orang tuanya merelakan anaknya untukku lagi setelah apa yang telah kulakukan pada Tiara. Hatiku bergemuruh dan takut, semuanya akan berakhir.
__ADS_1
Next