Kacang Lupa Kulitnya

Kacang Lupa Kulitnya
Bab 8 Kehilangan


__ADS_3

POV Tiara


Waktu terus berlalu, hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun tapi Revanku tak pernah kembali, walau seluruh dunia mengabarkan dia telah wafat tapi dalam hati ini dia masih hidup dan belum ditemukan saja, mungkin dia terdampar di suatu daerah terpencil.


Keluarga besar selalu memberi support tapi aku seperti kehilangan ruh untuk hidup. Tubuh ini bernyawa tapi jiwaku mati, diri ini melanjutkan hidup hanya untuk Radit dan Radita putriku dari Revan. Ini sudah 3 tahun berlalu tapi jiwa ini masih terus menunggunya entah sampai kapan.


Bila merindukannya aku datang kelautan lepas tempat dia bersemayam, berziarah dan menumpahkan semua rasa yang terpendam di hati ini. Aku tak benar-benar kuat kehilangan sekali ini ya Rabb, sungguh diri ini sayang lelaki ini, baru kali ini aku merasa dicintai oleh seseorang tapi mengapa begitu cepat rasa itu terenggut. Bukan aku mengingkari takdirMu ya Rabb aku ingin pertemukan sekali saja dengan lelakiku.


Suara isak kian pilu, kularung hati dan jiwa kelautan untuk memulihkan raga yang tak bernyawa ini demi kedua buah hati tapi apa yang kudapat, hati semakin terpuruk dalam lembah yang dalam, jiwaku benar-benar sakit. Aku kehilangan separuh jiwa ini.


"Revan kenapa kau tega meninggalkan diri ini sendirian," ucapku parau.


Aku tak punya siapa-siapa lagi untuk berbagi, setelah kepergian Revan setahun kemudian Mama mertuaku menyusulnya dan setahun kemudian Mama juga ikut berpulang juga, kehilangan demi kehilangan telah aku lalui. Hidup ini bagai lampu dinding menunggu kematian tapi mengapa begitu cepat mereka meninggalkan diri ini sendirian. Aku menangis pilu.


Pernah terbersit ingin mengakhiri hidup ini tapi suara Radit dan Radita yang menangis pilu menyadarkanku, diri ini harus tetap hidup untuk mereka. Mereka adalah pelita hati saat aku kegelapan, aku mencari Allah lagi, aku ikhlas ya Rabb menerima takdirMu. Diri ini luruh di tepi pantai dan berlutut memohon ampunan kepada yang maha kuasa yang selama ini tak mampu menerima takdir Allah SWT.


Setelah kutumpahkan segala keluh kesah, kesedihan demi kkesedihan aku beranjak pulang dan hatiku sedikit lebih tenang. Sesampai di rumah pukul 7 malam saat itu suasana lengang, tak ada Radit dan Radita aku baru sadar kalau hapeku, kunonaktifkan, panik menjalar tubuh ini, apalagi ini ya Rabb. Kuambil gawaiku dan terlihat ada ratusan panggilan dari Mas Rudi dan Papa.


"Assalamu'alaikum Mas, Radit kenapa? Kalian dimana sekarang," ucapku panik.


"Waalaaikum salam, Radit tadi kecelakaan saat pulang sekolah, dia menyebrang jalan terus disambar kereta temennya, tapi udah ditangani dokter kok, kamu jangan panik, aku jemput kamu ya, kamu dimana?" jawabnya.


"Aku di rumah Mas, aku bisa nyetir sendiri kok, di rumah sakit mana?" tanyaku.


"Udah biar aku jemput, kata Papa kau tadi pergi kelautan itu, pasti hatimu sedang kacau, aku tak mau terjadi apa-apa padamu, lima belas menit tunggu aku di sana ya," ucapnya khawatir.


"Oke, aku tunggu," ucapku lugas dan menahan sesak di dada.


Mas Rudi saat ini juga sudah berpisah dengan Mira, usia pernikahan mereka hanya bertahan selama tiga bulan, aku tak pernah ingin kembali pada lelaki itu tapi dia selalu meyakinkanku dia sudah berubah dan ingin memulai semua dari nol. Dia membutuhkan diri ini begitu sebaliknya aku juga membutuhkannya. Tapi cintaku pada Revan begitu besar, hati ini tak akan mengkhianati cinta Revan.


Tapi hari kian hari aku benar-benar merasakan membutuhkan pendamping hidup. Aku lelah merasakan sakit ini sendirian.


Teringat kembali saat Mas Rudi merawatku saat ngidam Radita, dia seolah-olah jadi Papa pengganti untuk Radita, putriku mendapatkan kasih sayang penuh seorang Papa dari Mas Rudi, tapi aku belum mampu menerimanya kembali. Biarlah seperti ini dulu apa adanya. Tiga tahun dia berjuang mendapatkan hatiku kembali. Memang tak ada lagi getar-getar aneh yang menjalar. Kami sudah seperti teman. Tapi entahlah hingga besok atau lusa aku tak pernah tau.


Menikmati kesendirian itu sungguh menyiksa, mengikhlaskan kepergian Revan adalah sesuatu yang begitu sulit. Aku ingin bangkit dan berjuang lagi. Air mata serasa habis, aku tak punya air mata lagi, untuk menangisi hidupku yang payah ini, air mata sudah tak punya lagi. Benar-benar kering. Kehilangan demi kehilangan menjadikan hatiku kuat sekaligus rapuh. Pernyataan yang selalu kuingat dari Revan.


"Sayang, hidup ini hanya masalah waktu, kalau tak ditinggalkan ya meninggalkan dan aku memilih untuk meninggalkanmu saja karena kalau kau yang meninggalkanku aku yakin aku tak kan kuat. Kau wanita kuat sayang, makanya Allah selalu mengujimu dengan kejadian-kejadian hebat. Kalau aku tak kan sanggup." ucapan Revan terbukti saat ini.

__ADS_1


Apakah benar aku wanita kuat itu? Ya Rabb kuserahkan semuanya hanya padaMu. Hanya mencintaiMu yang tak ada air mata, aku belajar lagi mencintai sesuatu hanya karena Allah dan belajar lagi mencintai sekedarnya saja karena hanya mencintaiNya yang boleh sepenuhnya. Mencintai makhlukNya hanya akan meninggalkan kesakitan demi kesakitan. Aku berjanji mencintai semua mahklukNya karena Allah semata saja. Aku berserah pada takdir kemana akan membawaku.


Air mata telah habis dan diriku pasrah akan kehendak Nya. Rasa sakit demi sakit telah menempahku jadi wanita yang kuat. Aku tak ingin rasanya menangis lagi, biarlah kuikuti alur cerita dari sang Pemberi harapan. Dialah Allah sang Maha Kuasa.


Mas Rudi sudah berada di depanku, kulihat wajahnya sendu, mungkin habis menangisi anak semata wayangnya yang hampir meregang nyawa.


"Ra, apakah kau baik-baik saja," ucapnya lembut.


"Iya Mas, aku baik-baik saja, Radit gimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja," tanyaku lemah.


"Radit sudah melewati masa kritisnya," ucap Mas Rudi lugas.


"Aku memang Ibu yang payah, tak mendampingi anakku saat sedang kritis," ujarku lirih.


"Sudahlah, tak baik menghukumi diri sendiri, semua sudah terjadi karena kehendakNya," lanjutnya menguatkanku.


"Pasti Radit kecewa padaku Mas, aku belum jadi Ibu yang baik buat Radit dan Radita," isakku, dadaku bergemuruh menahan rasa sakit dan sesak di dada.


Selama di dalam mobil aku hanya diam, jiwaku masih bertanya-tanya apakah semua ini hukuman atau ujian hidup bagiku, semua rentetan masalah yang menguji keimananku sebagai seorang hamba. Aku benar-benar di titik nadir, benar-benar kehilangan arah. Seperti wanita tersesat yang tak tau jalan pulang.


"Ra, kenapa diam, jangan terlalu dipikirkan masalah Radit lagian ada Mas dan Papa tadi yang sudah menyelesaikan semuanya," ucap Mas Rudi lembut.


"Buka masalah Radit Mas, tapi masalah hidupku, kenapa aku selalu diuji ujian yang berat dan menggetarkan jiwa dan menguji keimananku sebagai seorang hamba, apakah ini bentuk ujian atau hukuman." Mataku mulai berkaca-kaca.


"Ra, kamu kok ngomongnya gitu, Allah itu kalau udah sayang sama hambaNya selalu memberikan ujian-ujian dalam hidup, bukankah level keimanan kita akan naik kalau kita udah diuji," ucapnya serius.


Dipinggirkannya mobilnya menepi. Aku masih terisak.


"Aku capek Mas, aku lelah dan hampir kalah, hampir putus asa," ucapku terbata-bata.


Akhirnya aku menangis lagi setelah aku berjanji pada diriku sendiri untuk tak menangis lagi akhirnya aku mengkhianati kesepakatan yang kubuat dengan hatiku sendiri. Dasar bodoh mengapa kau terlihat lemah Dimata mantan suami hei Tiara, ada yang mencemooh dalam diriku sendiri.


Persetan terlihat lemah memang pada hakekatnya aku wanita yang lemah.


"Ra, tanda Allah sayang sama hambaNya Dia akan kasih ujian, bedanya hukuman dengan ujian itu gini lo Ra, bila seorang hamba saat diuji dia bertambah keimanannya kepada Allah SWT itu tandanya ujian tapi sebaliknya bila saat diuji dengan masalah yang berat dia makin terpuruk dan menjauh dan ingkar atau malah durhaka kepada-Nya itu berarti hukuman. Itu aku taunya dari ustadz yang sering kudengar lo," ucapnya malu-malu.


Aku terpukau dengan penjelasan Mas Rudi, ada rasa damai saat aku menyimak kata demi kata yang terucap dari bibirnya, lelaki ini sudah jauh berubah. Dalam hatiku bergumam.

__ADS_1


"Makasih Mas, aku udah agak baikan, boleh dilanjutkan lagi, aku udah pingin buru-buru ketemu Radit," ucapku lemah.


Akhirnya Mas Rudi mengemudikan mobilnya dengan santai. Aku hampir tertidur mendengar lagu sayup-sayup alunan melodi yang terputar dari playdist. Memang tubuhku lelah dengan semua masalah yang menderaku.


Kuhirup udara dalam-dalam agar sedikit menghilangkan beban berat di dadaku. Sesampainya di Rumah Sakit kulihat Papa mengendong Dita putri kecilku, aku berlari memeluk kedua orang yang paling kukasihkan yang masih tersisa. Papa mengusap lembut pucuk kepalaku.


"Ya kuat ya Nak, Radit udah nggak apa-apa kok." Mata Papa kulihat memerah. Kucium punggung tangannya.


"Makasih Pa, sudah selalu ada buat Tiara," ucapku lirih. Aku mendekap tubuh lelaki yang tak pernah menyakitiku seumur hidupnya dialah Papaku.


Kulihat wajah Radit pucat dengan banyak selang, wajahnya tak ada cacatnya hanya lengan dan kaki yang dipasang pen, ya Rabb semoga anakku tak cacat. Anak yang kuat umur delapan tahun sudah mengalami cobaan demi cobaan yang berat, dialah anakku yang paling kuat. Kukecup keningnya lembut. Kehilangan demi kehilangan sudah kami lewati bersama tapi dia selalu tersenyum dan memberiku semangat. Satu kalimat yang indah yang pernah terlontar dari bibir mungilnya.


"Ma, jangan bersedih lagi. Selama Allah bersama kita semua akan baik-baik saja, toh semua akan kembali kepada-Nya," ucapnya lembut saat kami berdua kehilangan Revan Papa sambungnya yang sangat menyayanginya.


Walau kulihat air matanya mengembang saat kami berziarah untuk pertama kalinya di bibir pantai lautan lepas itu.


"Papa Revan, tenang disana ya, aku akan menjaga Mama dan adik Radita. Aku anak sulung Papa yang bisa diandalkan," ucapnya tegas kelautan lepas itu.


Aku dan seluruh rombongan yang hadir ikut larut dalam hati dan kesedihan yang dalam. Saat ini jagoanku itu sedang terbaring lemah. Ada yang menyayat-nyayat jiwaku. Mas Rudi mengagetkanku.


"Ra, makan yuk, wajahmu pucat, pasti kamu belum makan dari pagi kan, sekarang udah malam, kamu harus isi perut kamu,"ucapnya berbisik.


"Nggak Mas, bagaimana aku bisa makan kalau anakku keadaannya seperti ini," ucapku lirih menahan isak.


"Kau harus jaga kesehatan demi Radit dan Radita juga Papa, kalau kamu sakit siapa yang menjaga mereka," tegasnya.


Kutatap wajah itu, ada semburat kecemasan disana. Kuangkat tubuhku yang lemah mengikuti arahan Mas Rudi. Kulihat Papa sangat kusut dan lelah.


"Papa pulang saja bersama Dita, biar aku yang gantian jaga Radit,. Papa istirahat ya Pa," ucapku lembut.


Papa menurutku agar pulang untuk istirahat, dia membawa serta Dita gadis kecilku, kukecup mereka berdua, Dita tertidur pulas dipelukan kakeknya, kulihat punggung lelaki yang sudah membesarkanku. Makasih Pa sudah menemani perjalanan hidupku yang penuh liku onak dan duri.


Mas Rudi juga menyalami mantan mertuanya dengan santun.


"Mas nggak apa-apa kita tinggal Radit sendirian, makannya disini aja ya, aku nggak mau jauh-jauh dari Radit," ucapku memelas.


"Bentar aja nggak apa-apa, kamu makan biar Mas yang jagain Radit ya, Mas antar dulu ke kantin Rumah Sakit ini," ucapnya lembut.

__ADS_1


Kumasih menatap mata lelaki yang pernah mengisi ruang hatiku. Apakah ini lelaki yang sama yang pernah menyakiti aku dulu, dalam hatiku bergumam.


Next


__ADS_2