
POV Rudi
Setelah kejadian malam itu akhirnya aku melamar Mira dan tak menunggu waktu lama aku menikahinya, hanya butuh waktu 3 bulan bagiku memantapkan hati untum melepas masa dudaku. Mira gadis yang sangat mempesona, wajahnya yang ayu ditambah bodynya yang aduhai. Dia benar-benar memabukanku setidaknya aku bisa melupakan sedikit saja tentang Tiara.
Malam ini adalah malam pertama kami, dia mengenakan pakaian yang menggoda, lehernya yang jenjang membuatku ingin mengulang lagi sesuatu yang pernah kami reguk bersama. Dia tersenyum dan menatapku malu-malu.
"Mas, ini bukan malam pertama buat kita, tapi aku sangat bahagia bisa menjadi istrimu," ucapnya lembut dan matanya masih tertunduk.
Aku tersenyum dan kuusap pucuk kepalanya, mencium keningnya, kuhirup aroma lembut yang membuat pikiranku melayang, tanpa pikir panjang, kuangkat wajah cantiknya, wajahnya yang putih bersih tiba-tiba bersemu merah, menambah rasa gemas pingin nyubit dan bermanja-manja dengan wanita ini.
Kukulum lembut bibirnya yang ranum, ciuman semakin memanas dan membuat hasratku tak terkendali, setelah hampir ******* kuucapkan
Terimakasih Tiara. Aku sangat mencintaimu. Tiba-tiba tubuh Mira menegang dan menangis, aku bingung antara kalut dan merasa bersalah.
"Maafkan aku sayang, tak bermaksud menyakiti hatimu," ucapku lirih, kurengkuh tubuhnya yang masih menangis. Dia membelakangiku dan suara isaknya kian terasa.
Kupeluk dari belakang kucoba membalikkan tubuhnya tapi dia masih terisak, kupeluk tubuhnya, hembusan nafasnya dan air matanya tumpah di dada bidangku yang masih tanpa busana.
"Mira, maafkan Mas ya." Kukecup keningnya.
"Mas mengapa menikahiku kalau di hati Mas hanya Mbak Tiara seorang, aku sakit Mas," ucapnya terbata-bata.
Kupeluk erat tubuhnya, hawa panas menjalar, AC di kamar itu tak memberi efek dingin, ruangan itu terasa panas dengan hasrat dan emosi yang sama-sama memuncak.
"Mira, kita tidur dulu yuk, maafkan Mas yang merusak malam pertama kita," ucapku lirih. Ada rasa bersalah yang hebat dalam hatiku.
Tiba-tiba bibirnya mengecup lembut bibirku, rasa panas itu merambat dan menjadikan hasrat kelelakianku memuncak lagi, walau merasa aneh dengan sikapnya tapi aku pasrah dan menikmati permainannya, Mira menjadi lebih agresif dan menambah gerah malam itu.
Tubuhnya yang ranum naik turun meliuk-liuk seperti penari yang mengikuti alunan musik. Aku tak berani sedikitpun berucap aku takut mengulangi kesalahan yang sama mengucap nama wanita yang salah. Entah mengapa sulit sekali melupakan nama Mamanya Radit itu. Aku bingung apakah menikahi Mira adalah pelarian sakit hatiku karena Tiara menikah dengan Revan.
Setelah sama-sama mencapai puncak dari pendakian yang panjang akhirnya tubuh Mira terkulai lemah di atas ranjang, kulihat wajahnya berpeluh, dia menikmati permainannya, kukecup berkali-kali pipi dan keningnya.
"Makasih sayang," ucapku mesra di telinganya.
Dia menggeliat dan memeluk tubuhku.
"Mas, jangan sakiti aku untuk alasan apapun, aku akan membuatmu melupakan Mbak Tiara, hanya aku wanita satu-satunya dihatimu mulai saat ini," ucapnya manja.
"Iya sayang, ternyata istri Mas, hot juga ya, tambah cinta deh Mas." Mataku menatapnya penuh kasih, dia menunduk malu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Tingkahnya itu menambah rasa gemas ingin selalu memeluknya. Kucubit hidungnya yang bangir.
"Mau honeymoon kemana sayang," ucapku lembut di telinganya.
__ADS_1
"Disini aja la Mas, aku capek, Minggu depan aja ya honeymoonnya," rengeknya.
Mira adalah anak bungsu dan itu penyebab mengapa dia sangat manja dan kolokan. Sikapnya yang manja menjadikanku sangat spesial. Aku memang menyukai wanita yang manja dan mengantungkan semuanya kepada lelakinya, seperti tambah macho seorang lelaki saat wanitanya bergantung padanya.
Kuselimuti tubuhnya yang masih tanpa busana, aku masih belum bisa memejamkan mata. Mengapa aku bisa menyebut nama Tiara padahal aku sudah hampir bisa melupakannya.
Toh dia juga sudah melupakanku. Kusesap sebatang rokok dan duduk di sofa yang mengahadap ke jendela. Kulihat Mira sudah tertidur. Aku menghela nafas panjang, kuraih ponsel di nakas kuklik aplikasi berwarna biru berlogo huruf F itu. Kuklik nama Tiara, nampak foto-foto honeymoonnya bersama Revan di pulau Lombok.
Kulihat senyum selalu mengembang di sudut bibir mereka, mungkinkah Tiara sudah melupakanku seratus persen hingga bisa tertawa bahagia, sedangkan aku masih terus mengenangnya. Dasar lelaki payah, dalam hatiku bergumam. Masa depanku saat ini bersama Mira, Tiara hanya masa laluku, aku harus bisa melupakannya dan membunuh semua tentangnya.
Kuambil lagi satu batang rokok dan kusesapi setiap hisapannya seperti ada kenikmatan tersendiri dan saat kuhempaskan asap ke udara seperti ada beban yang hilang. Besok aku akan berterus terang pada Mira semuanya tentangku, tak ingin ada yang di tutup-tutupi lagi. Aku harus jujur dan terbuka tentang masa laluku. Semoga Mira dapat menerimaku apa adanya. Setelah kantuk menyerang akhirnya aku terlelap dalam mimpiku.
Saat sinar pagi menciumiku, kubuka mata ternyata Mira masih tertidur pulas di pelukanku, aku mulai membanding-bandingkan antara Tiara dan Mira, kalau dulu Tiara sudah sholat subuh dan membangunkanku untuk sholat berjamaah di Mesjid. Menyiapkan sarapan dan menyediakan semua keperluanku. Tapi Mira jam 8 pagi masih tertidur pulas di pelukanku. Memang 2 wanita yang memiliki karakter yang berbeda. Mira masih kekanak-kanakan. Semoga aku bisa menjadi imam yang baik buat Mira kelak.
Aku bangkit dari tidur langsung membersihkan tubuhku, setelah habis mandi kusiapkan makanan ala kadarnya untuk sarapan pagi. Sekitar lima belas menit Mira menghampiriku dengan rambut yang basah dan dililit handuk.
" Ayuk makan sini, kita sarapan bareng tapi hanya susu dan roti panggang ya sayang," ucapku lembut.
"Maaf ya Mas aku kesiangan, seharusnya aku yang menyediakan sarapan pertama kita," ucapnya malu-malu.
"Santai aja, udah sini duduk dan makan ini."
Kuambil roti dan selai kacang, kuolesi dan kuberikan pada Mira, dia menatapku malu-malu.
Akupun menceritakan semua yang dilakukan Tiara, mulai membangunkanku untuk sholat subuh, memasak makanan kesukaanku, semua nya kuceritakan secara detail. Tapi tanpa sengaja Mira tertunduk dan menangis. Yeelaaaaa wanita memang mahkluk yang aneh, dia yang minta diceritain e dianya yang cemburu dasar wanita atau aku ya lelaki yang nggak punya perasaan. Hah entahlah dilema jadi lelaki seperti aku. Rudi Anggara, lelaki yang payah.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗
POV Revan
Akhirnya Tiara menjadi milikku seutuhnya tapi tetap ada yang mengganjal di hatiku, 3 tahun bukan waktu yang cepat untuk dapat melupakan Rudi mantan suaminya itu, aku tau di sudut hatinya terdalam dia masih menyimpan Rudi di dalam hatinya. Sudah tiga bulan aku menikahinya, walau sikapnya manis padaku, santun, lembut tapi hatinya belum seutuhnya bisa melepas masalalunya terbukti dia masih suka menangis saat mendengar lagu-lagu kenangan mereka berdua yang sedang didengarkannya. Tapi walaupun begitu aku tetap akan membuatnya nyaman.
Seperti malam ini, tak sengaja aku membaca tulisan di diarynya yang tak sengaja terbacaku.
Dear Diary
Tgl 21 Maret 2019
Hai Diary aku sudah melepaskan masa laluku dan memilih Revan menjadi tambatan terakhirku semoga dia bisa jadi imam yang baik buat masa depanku kelak walau sejujurnya masih ada rasa takut memulai lagi biduk rumah tangga, ada trauma yang besar gimana kalau gagal lagi. Sebisa mungkin aku move on dari Mas Rudi tapi bagaimanapun Papa Radit masih selalu ada di hatiku.
Ya maafkan aku ya bang Revan, aku belum bisa menyerahkan seluruh hatiku buatmu tapi berjalan seiringnya waktu mungkin bisa atau harus bisa. Semoga hanya maut yang memisahkan kita kelak, bukan perceraian, itu sangat menyakitkan sekali. Pengalaman yang sangat mengiris kalbu, jujur aku sangat takut bila kejadian itu terjadi dua kali dalam hidupku, mungkin aku tak akan sanggup walaupun hakekatnya hidup adalah siapa yang terlebih dulu meninggalkan atau di tinggalkan. Tapi intinya perpisahan dengan cara apapun sangat menyakitkan.
Tak sanggup kumembaca seluruh isi diary wanitaku, seperti pencuri yang diam-diam membaca rahasia seseorang, akhirnya kuberhentikan kegiatan membacaku. Tapi aku jadi tau kalau Tiara hanya kuat di luarnya saja tapi hati dan jiwanya sangat rapuh dan sakit. Aku dapat merasakan kesakitan yang hebat pada kedua bola matanya, selalu menyiratkan rasa sakit, patah hati dan nelangsa. Aku akan sekuat tenaga membahagiakanmu Tiara.
__ADS_1
"Bang, kok melamun sih, mikirin apa, besok kita udah pulang ke Jakarta, honeymoonnya dah selesai, kita jalan-jalan siang ini ke pantai yuk. Aku ingin melihat sunset. Kayaknya seru," ucap Tiara antusias.
"Oke sayang, aku kok kangen sama Radit ya," ucapku pelan.
"Sama dung, udah seminggu kita tinggalkan dia sama Omanya di rumah, pasti anak itu udah rewel banget,"
"Radit emang anak yang mengemaskan dan aktif, mungkin Rudi kecil seperti itu ya dik," ucapku keceplosan.
Kulihat mata Tiara terkejut dengan pernyataan ku. Kutau Rudi sudah menikahi Mira teman satu kantorku, walau kami tak bisa hadir karena sedang honeymoon, tapi kado tetap kami titipkan pada teman kantor. Mira orang Surabaya, entah kenapa mereka menikah tepat saat kami sedang honeymoon mungkin memang menghindari Tiara atau gimana aku nggak mau suudzonn la. Semoga mereka bahagia sama seperti kami berdua.
"Mas Rudi sudah memilih Mira, berarti dia udah bisa melupakan aku Bang," ucapnya murung.
"Kenapa wajahnya sedih," ucapku meledek Tiara.
Kulihat wajahnya memerah entah itu kaget atau bingung dengan pertanyaan yang kulontarkan. Buru-buru aku mencubit hidungnya untuk menetralkan perasaannya.
"Lupakan sang mantan ya sayang, sekarang ada suamimu yang selalu akan membuatmu bahagia," ujarku. Sambil kudekap tubuhnya.
Tiara hanya diam saja, sekilas kulihat senyumnya merekah.
"Suamiku cemburu ya, wajahnya tegang tuh," ucap Tiara santai.
Akhirnya kami tertawa bersama setelah dia membereskan tempat tidur hotel akhirnya kami bergegas ke pantai.
Tiara berlari-lari kecil, gamis dan jilbabnya berkobar-kobar menambah keindahannya, dia mengunakan gamis berwarna biru langit ditambah hijab yang senada menambah pelengkap busananya dia mengunakan topi pantai berwarna kuning gading menambah manis penampilannya ditambah eksentrik kacamata hitam. Wanitaku memang anggun dan eksotis. Wanita-wanita bule yang sedang berjemur dan memamerkan auratnya semuanya lewat ke cantikannya dibanding wanitaku yang auratnya tertutup sempurnah yang menambah nilai plusnya.
Hijabnya berkibar-kibar, dia ku foto diam-diam, wajah yang agak oriental karena Papa mertuaku keturunan Jerman dan Mamaku Jawa Sunda menambah keunikan wajah Tiara. Kalau artis mirip Cellsea Islan. Miriplah, sebelas dua belas. Versi berhijab. Cantiknya full.
Kami menikmati kelapa muda yang dijajahkan di pinggiran pantai, aku sangat menikmati pemandangan pantai Lombok yang eksotis. Bali sebelas dua belas lah. Tapi Lombok masih asri dan perawan. Masih sangat alami.
Disela-sela menikmati sunset, Tiara mengatakan sesuatu yang membakar hatiku karena cemburu.
"Sunset ini adalah hal yang yang paling disukai Mas Rudi, dia selalu sukanya main di pantai, dulu waktu haneymoon ke Jogjakarta yang dituju semua pantai," ucapnya lirih.
Dia tersenyum simpul mungkin mengenang kebersamannya dengan mantan suaminya itu, tapi dia tak menyadari kalau ada hati yang cemburu disini. Tiara memang hobby jalan-jalan tamasya sama seperti Rudi, mereka dulu sering mengunggah semua storynya di wall FB nya makanya aku tau kalau Rudi lelaki pantai.
"O, gitu ya dek," ucapku singkat.
Dia menatapku penuh selidik, mungkin dia merasakan ada intonasi cemburu dalam jawaban ketusku barusan, dia tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundakku dengan manja.
"Jangan cemburulah Bang, dia hanya sepenggal masalalu," ucapnya lirih.
Sepenggal masalalunya yang sulit kau lupakan kan sayang, dalam hatiku bergumam. Apakah aku hanya menikahi raganya, hati dan jiwanya masih terus mengenang lelaki yang sudah memberikannya bukti cintanya yaitu Raditya Fasha. Anak semata wayang buah cinta mereka. Ah tak mau memikirkannya terlalu jauh. Kukecup keningnya dan kuusap lembut pucuk kepalanya. Aku sangat mencintaimu Tiara, kalau boleh minta kepada ALLAH biarlah aku yang meninggalkanmu jangan kau yang meninggalkanku, kalau bisa kematian saja yang memisahkan kita. Aku tak sanggup bila harus berpisah darimu, tak sanggup rasanya.
__ADS_1
Next