
POV Rudi
Rasa sakit dapat aku tahan tapi rasa cemburu tak dapat ku sembunyikan. Ada yang berdarah-darah di ulu hatiku. Tiga tahun sudah berlalu tapi rasa cintaku bukannya mati malah tumbuh subur dan aku baru menyadari bahwa dialah belahan jiwaku, kalau kata anak gaul soulmate. Semakin tak ada keberanian membuka hati untuk wanita lain. Setelah pertemuan itu cintaku makin bergelora, ada rindu yang menyatu, dia makin cantik dan anggun tambah dewasa pula, memang benar-benar lelaki bodoh. Dalam hatiku mengumpat semua kebodohanku.
Pernah juga aku bertemu mantan Mama mertuaku dan memintanya membujuk Tiara agar mau memaafkan kesalahanku.
"Ma, maafkan aku Ma, sekarang baru kusadari bahwa Tiara sangat berarti dalam hidupku. Mama tolong bujuk Tiara agar menerimaku lagi," ujarku dan tak terasa mataku berembun.
Mama mertuaku menatapku iba.
"Rud, maafkan Mama, Kaukan tau sifat Tiara itu tegas dan kuat pendirian, kalau dia udah membuat keputusan siapapun tak bisa mengubahnya, ingat dulu waktu Mama tak menyetujui hubungan kalian berdua, dia tetap bersikeras memperjuangkan cintanya, dia itu tipe wanita tegas, salahmu menyia-nyiakannya dulu," ucap Mama mertuaku tegas.
"Maafkan Rudi Ma, aku khilaf, aku memang bodoh Ma menyia-nyiakan wanita sehebat dia," ucapku terbata-bata. Tanpa terasa air mataku mengalir deras sudah.
"Rud, mintalah kepada Allah SWT untuk melembutkan hatinya, Tiara sedari kecil begitu sifatnya, nurun Papanya, tapi ini lebih keras lagi, sabar ya Nak, semoga jadi pelajaran semua yang telah terjadi," ucapnya lembut.
Mama menepuk pundakku, matanya berkaca-kaca, rasa sakit itu masih menyeruak dalam dadaku, sesak sekali.
"Ma, sepertinya tak ada lagi harapan, dia sudah memilih Revan Ma, memang aku tak ada apa-apanya dibanding Revan, dia memiliki segalanya, aku memang lelaki payah," ucapku lirih.
"Rud, cobalah ikhlas dan membuka hatimu untuk wanita lain, mungkin jodohmu dengan Tiara hanya sampai sini aja, tapi kalau Allah sudah berkehendak apapun masih bisa terjadi Nak, move on, di luar sana masih banyak wanita-wanita yang lebih baik dari Tiara anak Mama, Rud, jangan menghukumi dirimu sedemikian rupa, masa depan masih panjang," jelasnya panjang lebar.
Aku masih mencerna kata demi kata dari Ibu yang melahirkan wanita yang sangat kucintai, walau dulu dia kurang menyukaiku tapi akhir-akhir ini dia menunjukan sikap care padaku yang terlihat sangat terpuruk dengan perpisahan ini.
Aku coba menata hatiku lagi, selama tiga tahun menjalani hidup sendiri, aku dapat membeli rumah impian Tiara, rumah dengan gaya minimalis yang memiliki taman yang luas, kolam renang mini, dan kebun buah-buahan di belakang rumah, disamping dan depan rumah bunga warna-warni seperti impian Tiara, ada ayunan di taman samping, aku duduk luruh dalam tangis.
"Tiara sayang ini rumah impian kita, impianmu sudah kuwujudkan sayang. Taman yang indah, ayunan, kolam renang mini, semua sudah kuwujudkan untukmu, tapi kau tak milikku lagi, seminggu lagi kau akan jadi milik orang lain, Tiara sesak benar rasa ini sayang, aku tak bisa benar-benar move on darimu sayang," dalam hatiku berbisik. Ya Rabb bagaimana aku menghabiskan sisa hidupku tanpa belahan jiwaku. Tunjukan aku jalanMu ya Rabb.
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
Acara pernikahan Tiara sangat meriah, semua tamu undangan berbahagia kecuali aku, hatiku menangis melihatnya tersenyum bahagia dan bersuka cita dengan cintanya, aku duduk di sudut ruangan yang mewah dan meriah itu. Tiara mengunakan selayar merah dengan riasan sederhana, Revan mengunakan blezer hitam dan anakku Radit mengunakan blezer senada dengan Revan, benar-benar keluarga yang harmonis. Sedangkan aku hanya penonton yang menyedihkan.
Kunikmati kesendirianku dan tiba-tiba aku menangis. Ya selama berpisah dengan wanita itu aku benar-benar sudah jadi wanita, perasa, cengeng dan melankolis, menyebalkan. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku.
"Hai, Pak Rudi, datang juga ya," ucapnya ramah.
"Siapa ya, maaf aku nggak kenal," ucapku bingung.
"Aku Mira, teman sekantor Bapak tapi lain devisi, aku anak baru Pak, satu devisi sama Revan," ucapnya antusias.
"O, maaf kalau aku nggak kenal," ucapku ramah.
"Nggak apa-apa kok, kenalan pak," diulurkan tangannya dan menyebutkan namanya.
"Mira Adelia," ucapnya.
"Rudi Anggara."
Sebenarnya aku malas berbincang-bincang dengan wanita, selama tiga tahun terakhir ini aku menikmati kesendirianku, seperti malam ini aku ingin menikmati rasa sakitku. Tapi biarlah wanita ini menemaniku, lagian aku jadi tak seperti lelaki yang menyedihkan di hadapan
Tiara dan Revan.
Tiba-tiba Radit menghampiriku.
"Pa, lihat Mama, cantikan Pa, kenapa bukan Papa yang bersanding dengan Mama kenapa om Revan, apakah Papa juga akan bersanding dengan Tante ini," ucap anak 8 tahun itu lucu.
Mira jadi tersipu malu, wanita berambut panjang di sampingku wajahnya memerah saat Radit menunjuk kalau dia pengganti Mamanya.
"Radit masih kecil, Radit belum ngerti Nak," ucapku lembut.
"Radit bingung Pa, tapi Radit seneng sih punya dua Mama dan dua Papa. Keren, apakah Tante pengganti Mamaku ya," ucapnya pada Mira, gadis yang baru kukenal.
Mira hanya tersenyum ramah. Wanita itu memiliki lesung pipi dan wajahnya sangat ayu.
💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Disela-sela riuhnya pesta terdengar suara penyanyi wanita dan penyanyi pria menyanyikan lagu kesukaan Tiara, lagu yang dibawakan Lesty dan Pildan.
Kuakan menyayangmu sampai waktu memanggilku
Selalu bersamamu janjiku pada Tuhanku
Aku terlanjur teramat sayang padamu
Aku tak sanggup bila harus berpisah darimu
Kekasihku
Hari terus berganti kutakut engkau pergi
Kau telah kumiliki tak akan kulepas lagi
Roda hidup berputar suka terkadang duka
Asal bersamamu kurela tuk menerima
Terimakasih cinta atas segala rasa
Semoga slalu bersama lebih dari segalanya.
Lagu itu membuatku menitiskan air mata, kulihat Tiara juga menyeka air matanya, karena kulihat dia mengusap kedua matanya. Dulu kami sering menyanyikan lagu itu duet bersama. Itu lagu kesukaan Tiara, saat ini lagu itu, lirik lagu itu aku tak bisa wujudkan. Aku tak bisa suka duka bersama, dulu waktu masih susah aku tak tergoda tapi setelah sukses dan beruang aku lupa akan janji setiaku pada wanita yang telah bersusah payah berjuang dari nol. Hatiku terbakar ingin rasanya aku pulang dan menangis di sudut kamar. Hatiku remuk redam.
Akhirnya kusalami juga kedua mempelai itu, Mira mengekor di belakangku, seolah-olah dia pasanganku, Tiara menatapku tajam, sorot matanya begitu menghujam kalbu. Apakah dia cemburu.
"Selamat ya Van, aku titip Tiara dan Radit padamu," ucapku pada Revan.
"Siap bro."
"Tiara selamat ya," ucapku lirih. Sebenarnya ingin rasa aku memeluknya untuk terakhir kali, tapi ada rasa takut dan nyeri. Tanganku dingin seperti es.
"Makasih Mas, semoga cepat nyusul ya Mas," ucapnya.
"Mir, kamu pulang naik apa," ucapku lembut.
"Tadi rombongan Pak, tapi aku ditinggal rombongan Pak, makanya aku ngikuti Bapak trus, mau nebeng pulangnya Pak," ucapnya malu-malu.
"Kalau aku blom mau pulang gimana, kamu naik taksi aja ya?" ujarku. Mataku melirik wajahnya yang menunduk.
"Kalau gitu ya udahlah aku naik ojol aja Pak." Matanya melirikku.
"Ya udahlah, biar aku antar aja, nggak baik anak cewek naik ojol malam-malam, tapi temenin aku minum ya."
"Minum apa Pak, aku di mobil aja ya Pak," ucapnya lembut.
"Minumnya di rumahku, bisa nemenin akukan, masih jam 9 juga, kalau diem berarti mau," ucapku lembut.
Kulirik wanita di sampingku yang masih bingung. Kubuka pintu mobil mempersilahkan Mira masuk. Kukemudikan mobilku dengan santai kuputar lagu-lagu lembut. Mira masih diam.
"Mir, kamu sudah punya pacar," tanyaku untuk mencairkan suasana.
"Belum Pak," jawabnya malu-malu.
"Baguslah," ucapku datar.
Sesampainya di rumahku kupersilahkan Mira masuk.
"Temenin aku ya Mir, hatiku lagi kacau," ucapku miris.
Wanita itu hanya diam saja masih mematung, kutarik tangannya dan kurasakan ada rasa hangat yang menjalar. Mungkin karena sudah 3 tahun hidup tanpa sentuhan seorang wanita, hatiku bergemuruh.
"Mir, nggak apa-apa aku minum ya, aku sedih sekali, kamu anggap saja rumahmu sendiri, kalau mau buah ambil di kulkas, nanti jam sebelas kuantar kamu, kamu tinggal di mana, sama orang tua atau sama saudara," ucapku lembut.
__ADS_1
"Aku ngekost pak," jawabnya lirih.
"Jangan panggil Pak, panggil Mas aja atau Bang juga boleh."
"O, gitu ya Pak."
"Kok Pak lagi."
"O, iya Mas."
Saat dia memanggil aku Mas, ada rasa hangat menjalar dihati ini, ada rasa rindu dengan sebutan itu.
Kulihat wanita itu tertidur di sofa, aku tak sampai hati membangunkannya, aku terlalu banyak minum kepalaku pusing. Ku rengkuh tubuh wanita muda itu, kubopong menuju kamar tamu, setelah sampai di ranjang, kulihat wajah itu berubah seperti wajah Tiara. Kukecup keningnya, bibirnya yang ranum, turun ke leher jenjangnya. Sampai akhirnya aku melakukan sesuatu yang tak semestinya. Walau ada perlawanan dari Mira, tapi karena hasrat sudah membuncah akhirnya perlawanannya tak mampu menghentikan hasratku yang menggebu.
Tiara aku sangat merindukanmu, kurengkuh tubuh wanita itu, dia menangis.
"Mas, aku bukan Tiara Mas."
Kudengar Isak tangisnya
"Mas, kenapa melakukan ini padaku Mas," ucapnya terbata-bata.
"Maafkan aku, Mir. Tapi mengapa kau tak menolak dan seperti menikmati semuanya," ucapku ketus.
"Mas tega kamu Mas," ucapnya lirih. Sambil menangis tersedu-sedu.
Kulihat banyak bercak darah, Mira masih perawan. Kututup tubuhnya yang polos tanpa busana, sebenarnya dia tadi berusaha menolakku, tapi karena hasratku sudah memuncak aku tak dapat mengendalikan nafsuku.
"Maafkan aku Mir. Aku khilaf, semua karena pengaruh alkohol, maafkan, aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu, itupun kalau engkau mau menikah dengan duda anak satu sepertiku," ucapku lirih.
Kupeluk tubuh wanita itu yang masih menangis disisi ranjang, aku memperkosa wanita ini. Dia pasrah saat kupeluk tubuhnya, tak sadar tanganku bergerilya lagi, bibirku menaut lagi di bibirnya, makin panas dan mendebarkan, Mira yang masih polos membuatku gemas, saat ini aku benar-benar sadar melakukan hal yang sudah lama tak kulakukan, kurengkuh tubuh wanita itu dengan lembut tak inginku menyakitinya karena ini pengalaman pertamanya. Wanita itu hanya pasrah saja saat bibirku mengulum lembut leher jenjangnya, wanita yang sangat lugu.
Semua rindu dan hasrat terlarang bersatu padu diatas ranjang, aku benar-benar menghabiskan waktu bersama dengan wanita asing yang baru kukenal, tanpa kami sadari kami menghabiskan satu malamam suntuk melakukan hubungan terlarang itu. Setelah puas kukecup keningnya berkali-kali.
"Mir, makasih ya, aku akan menikahimu," ucapku lembut di telinganya.
Dia malu dan membenamkan wajahnya kedada bidangku, dapat kurasakan hembusan nafas yang menghangatkanku. Aku akan membuka hatiku untuk wanita ini, kupeluk tubuhnya dan kami tertidur diranjang yang sama.
Aku melakukannya dengan sadar sampai tiga kali, benar-benar duda payah. Hati kecilku mengejek. Wanita itu kulihat kelelahan, tertidur pulas, kulihat wajahnya yang putih bersih bak pualam tertidur pulas dipelukanku. Aku tak habis pikir apa yang sudah kulakukan.
Dasar lelaki bodoh, mengapa kau nodai anak gadis orang, menyedihkan. Suara hatiku seakan mengejekku lagi. Kuambil bantal dan menutup telingaku. Semua kesedihan ditinggal nikah oleh Tiara membuat otakku tak mampu berpikiran waras. Biarlah yang terjadi terjadilah.
Kupejamkan mataku walau wajah Tiara seakan mengejekku. Tapi ya apa boleh buat semuanya sudah terjadi. Pagi ini kami nggak ke kantor karena hari weekend. Kulihat wajah Mira masih kelelahan, kubiarkan dia tertidur, kusiapkan sarapan pagi untuknya.
"Hai sudah bangun, capek ya, maafkan aku ya Mir, bajumu sobek, pake kaosku aja ya, mandi dan kita sarapan ya, nanti agak siang kuantar kau pulang," ucapku lembut.
Dia hanya menunduk dan meraih handuk merah darah yang kuberi bersama sikat gigi baru.
"Di situ kamar mandinya Mir." Kutunjuk ruangan yang terselip di dekat kamar utama.
Kulirik wanita yang hanya terlilit handuk warna merah, rambutnya yang panjang tergerai basah membuat hasratku memuncak lagi. Tapi dapat ku tundukkan.
Setelah dia mengenakan kaos dan celana pendekku menambah keseksian wanita itu.
"Makan Mir, nanti kita belanja bajumu ya," ucapku lembut.
"Nggak usah Mas."
Kami sarapan dengan suasana kikuk dan malu. Setelah selesai sarapan. Mira mematut wajahnya di depan cermin dekat ruang keluarga.Wajah Mira bersemu merah saat di depan kaca melihat leher jenjangnya penuh bekas merah-merah. Ulahku tadi malam.
Kurengkuh tubuhnya dari belakang dan kukalungkan tanganku di pinggangnya, seraya kuberanikan
"Maafkan aku ya Mir, maaf." Kucuri satu kecupan di pipinya.
Aku membelikan baju di toko dekat rumahku, setelah itu kuantarkan Mira ke-kostannya, aku pamit langsung pulang. Kurebahkan tubuhku di ranjang dan terulang rekaman kejadian tadi malam membuat aku senyum-senyum sendiri. Dosa yang terlarang tapi begitu indah.
__ADS_1
Next