Kacang Lupa Kulitnya

Kacang Lupa Kulitnya
Bab 3 Koma


__ADS_3

POV Rudi


Sudah lima hari Tiara koma, aku izin masuk kantor sama Mama mertuaku dan diizinkan, hatiku masih merasa bersalah dan enggan meninggalkan Tiara. Sesampainya di kantor Kalina menghampiriku.


"Rud, kenapa menghindariku," ucapnya ketus.


"Maafkan aku, dosaku sudah terlalu banyak, dosa lama saja blom terampuni mau buat dosa baru lagi, maafkan aku yang pernah membuka peluang dosa itu," ucapku mantap.


"Udah tobat ya sayang," ucapnya manja.


"Lupakan aku dan bertobatlah Kalina, sudah tua, lagian kain kafan sedang ditenun kita masih menyukai maksiat, aku ingin hijrah."


Kalina melengos pergi meninggalkanku yang masih mematung dimeja kantorku. Setelah Kalina pergi Revan teman sekantorku menghampiriku.


"Hai Rud, lama ambil cuti, emang Tiara lahiran ya?" tanyanya.


"Tiara keguguran," jawabku.


"Turut berdukacita aku Rud. Aku kagum sama Tiara, dia mampu menyulapmu dari buruh panggul jadi pekerja kantoran berdasi lagi, memang benar kata pepatah di balik lelaki hebat ada perempuan yang hebat, Tiara baik-baik saja kan," ujarnya penuh selidik.


"Apakah kau mengenal Tiara, istriku?"


"Ya kenallah, Tiara teman masa SMU ku, dia anaknya mandiri dari dulu, beruntunglah kau memiliki istri sepertinya, walau gajimu dulu pas-pasan dia mampu menghendel semuanya sampai kau tamat dan sukses sekarang." Matanya menatapku tajam.


"Kau pernah naksir Tiara ya," ucapku santai.


"Kami pernah pacaran tapi selama aku kuliah di Jogja kami hilang kontak satu sama lain dan akhirnya aku menikah dengan istriku yang model itu Elmira namanya, tapi sayang pernikahanku hanya seumur jagung, El ternyata bergaya hidup mewah, aku tak sanggup mendanai semua kebutuhannya yang serba wow. Jadi jangan sia-siakan wanita sebaik Tiara. Kalau kamu menyakitinya aku tak segan-segan mengambilnya darimu," ucapnya serius.


Aku hanya menunduk tak mampu bila harus bersaing dengan Revan, entahlah aku lelah dengan pikiranku sendiri. Akhirnya Revan meninggalkanku sendiri yang masih menerka-nerka bagaimana kelanjutan kisah cintaku dengan Tiara, apakah ada kesempatan kedua bagiku atau dia akan membuangku keselat samudera.


Diary Tiara selalu kubawa kemanapun aku pergi, lembar demi lembar kubaca dengan penuh penghayatan, bagai membaca novel yang aku jadi tokoh utamanya, kadang aku senyum-senyum sendiri membaca setiap aksara yang terangkai dengan indah. Sampai pada cerita yang menggetarkan hatiku dan membuat tangisku tumpah. Aku menikmati detik-detik perpisahanku dengan Tiara.


Tgl 13 Mei 2012


Hai Diary,


Ini lebaran pertama setelah aku menikah dengan Mas Rudi. Aku sebel sama kedua orang tuaku, mereka masih saja tak menyukai Mas Rudi dan selalu mengolok-oloknya, hatiku sakit, bila pilihan hatiku dihina-hina, sama saja menghina diriku, bukankah suami adalah pakaian istri dan sebaliknya, kadang Mama tak dewasa apalagi Papa, tapi mereka masih menghargai keputusanku, ucapan Mama yang menyudutkan Mas Rudi membuat aku semakin terpacu untuk membantunya menjadi sarjana sepertiku, aku akan tunjukan sama Mama dan Papa bahwa mantu yang mereka pandang sebelah mata suatu saat akan membanggakan mereka. Aku tak suka siapapun menghina dirinya walau orang tuaku sendiri. Aku akan membangun kepercayaan dirinya dan aku yakin dia akan sukses, aku akan memperjuangkannya karena aku sangat mencintai suamiku apapun keadaannya.


Aku menangis berkali-kali, menangisi kebodohanku. Tiara maafkan aku, ternyata kau tak ingin aku dihina oleh keluargamu, kau ingin menunjukkan pada dunia bahwa siapa yang bersungguh-sungguh dia akan menuai hasilnya, Tiara terima kasih banyak memberiku pelajaran hidup.


Mengapa perasaan takut kehilangan itu muncul saat dia benar-benar ingin meninggalkanku, benar kata bang Roma.


Kalau sudah tiada baru terasa

__ADS_1


Bahwa kehadirannya sungguh berharga


Sungguh berat aku rasa kehilangan dia


Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia.


Penggalan lirik itu menceritakan semua rasa yang menghantuiku selama ini. Kenapa selama 8 tahun pernikahanku dengannya tak sedikitpun aku merasa setakut ini. Dulu saat dia begitu nyata aku sibuk mencari cinta yang lain, dia yang begitu sayang, tulus, ikhlas mencintaiku kusia-siakan.


Tiba-tiba hapeku berderit, ternyata Tiara sudah sadar, dia memanggil-manggil namaku, apakah dia sudah memaafkanku. Ya Rabb berikan aku kekuatan menghadapi hal terburuk sekalipun.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Sesampainya di ruangan Tiara, kulihat dia menangis histeris mencari bayinya, aku sangat takut melihat kesedihannya yang mendalam. Aku takut ya Rabb.


"Mas kemana anak kita Mas? Kamu apakan anakku Mas!" Bentaknya.


Tiara sangat terguncang dan terus berlinangan air mata, aku coba mendekatinya tapi matanya menatapku sinis.


"Sayang, anak kita sudah nggak ada, Mas tak mampu menyelamatkan kalian berdua, dia sudah tenang di sana sayang, maafkan Mas," ucapku lirih.


"Kau yang membunuh anakku, pergi! pergi kau dari sini, aku tak mau melihat wajahmu lagi, pembunuh."


Matanya nanar melihatku, aku tak pernah melihat Tiara Semarah ini, mungkin ini semua kemarahan-kemarahan yang selama ini terpendam di dadanya sekarang baru bisa dia luapkan segalanya.


"Maafkan aku Tiara," ucapku.


Aku berlutut di lantai, luruh hatiku dalam rasa takut, kalut, kacau. Air mata jatuh luruh bersama hatiku yang rapuh.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


POV Tiara


Air matanya mengalir deras, tak ada rasa iba sedikitpun dihatikuv, dia meraung-raung keras. Rasa benci, muak, lelah, kecewa menjadi satu. Aku membenci lelaki ini ya Rabb.


"Ampuni semua khilafku Ra, beri aku kesempatan kedua, aku ingin memperbaiki semuanya demi anak kita," ucapnya lirih.


"Aku nggak bisa, aku capek, lelah, semuanya ingin kuakhiri sekarang," ucapku tegas.


"Ra, aku mohon, bagaimana caranya agar kau memaafkanku, kita mulai lagi dari awal sayang," ucapnya terbata-bata.


Aku semakin histeris dan memaki-maki lelaki yang pernah sepenuh hati kucintai, mungkin efek rasa marah, kecewa, yang terpendam menjadi amukan tsunami yang dahsyat. Seumur hidupku tak pernah aku semarah ini, sungguh seperti orang lain. Mataku menatapnya tajam.


"Mas, aku ingin mengakhiri semua ini, sudah cukup rasa sakit yang kau beri padaku. Usah menangis lagi, mungkin ini yang terbaik buat kita berdua," isakku.

__ADS_1


"Ra, haruskah aku bersujud dihadapanmu untuk mengharap maafmu," ujarnya lirih. Matanya sudah basah dengan air mata.


Sebenarnya aku tak menyukai drama sedih ini tapi rasa sakit kehilangan anak dan kehilangan kepercayaan membuatku muak dengan semua ini.


"Aku ingin sendiri, pergilah, kita saling introspeksi diri, mungkin aku juga bersalah dalam hal ini, aku tak pernah mengeluhkan dan membicarakan keluh kesahku, aku sok kuat menghadapi semuanya sendiri dan saat ini aku rapuh dan ingin berhenti, aku lelah berduka dan berteman air mata, kau tau yang paling menyakitkan adalah pura-pura tertawa padahal hatiku menangis, itulah aku yang dulu, saat ini aku tak mau mengulangi kesalahanku yang sama, pergilah."


Mama masuk kedalam ruanganku dan menenangkanku.


"Tiara jangan mengambil keputusan saat hati panas, kasian anakmu, banyak yang harus dipikirkan," ujar Mama.


"Ma, maafkan aku Ma, mungkin aku akan tinggal di rumah Mama dulu, aku ingin menenangkan hatiku, tolong suruh pergi lelaki itu," ucapku ketus.


"Rud, sebaiknya pulang saja dulu, nanti kita bicarakan semua secara kekeluargaan." Mata Mama menatap Mas Rudi iba.


"Ma, maafkan Rudi Ma, maafkan," isaknya dalam.


Akhirnya dia memutuskan untuk pergi karena aku menunjukan sikap kurang suka dengan semua tentang dia. Aku benar-benar murka.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Setelah aku diperbolehkan pulang oleh pihak Rumah Sakit, Mama membawaku pulang ke rumah yang pernah membesarkanku dan aku mantap berpisah dengannya. Walau tak terasa aku menitiskan air mata perpisahan.


Siang itu tubuhku sudah sangat segar, tapi ingatanku tentang bayiku masih terus berputar dan memberikan rasa yang meremas seluruh nalarku, ya Rabb bukan aku tak terima takdirmu aku hanya rindu pada dia yang pernah bersemayam dihatiku dan pernah memberiku kekuatan untuk berjuang walau penuh dengan air mata. Ndukk Mama rindu, kuseka air mata yang meluncur dari sudut mataku.


Tiba-tiba lelaki itu menemuiku, wajahnya sangat layu dan menyedihkan, dia terluka dengan semua keputusanku, dia sangat menyedihkan.


"Tiara, aku ingin bicara dan mengungkapkan semua rasa yang menghimpit dadaku. Aku sesak dan sedih." Matanya masih menyapaku lekat.


"Mas, kita akhiri semuaya ya, carilah kebahagiaanmu dengan wanita itu, aku sudah mengikhlaskan semuanya, aku sudah tak mencintaimu lagi," ketusku.


"Dik, maafkan aku, bagaimana caranya agar kau memaafkanku. Please, beri aku satu kesempatan sekali lagi, aku sudah tobat dek, nggak ada lagi wanita lain dihatiku selain dirimu sayang," rayunya.


"Walaupun kau merayuku, walau kau sudah tobat sekalipun tapi cintaku padamu telah mati Mas, kedatanganmu tak memberi efek nyaman di hatiku lagi, biarlah kita jalan sendiri-sendiri saja dulu," ucapku serius.


Digenggamnya jemariku, kuamati setiap inci lekuk wajahnya yang mulai cekung, disorot matanya ada rasa penyesalan yang dalam, apakah dia benar-benar telah bertaubat dan menyesali perbuatannya tapi mengapa hatiku sudah beku, tak ada lagi getar-getar aneh dihatiku, apakah cintaku telah mati karena dendam itu, entahlah. Kuremas ujung piayamaku.


"Mas, lupakan aku, kita jalani semua sendiri-sendiri saja ya, aku sudah urus semuanya di pengadilan agama, tinggal menunggu sidang. Mungkin ini jalan yang terbaik buat kita berdua," ucapku serius. Walau tak terasa mataku sudah berembun.


"Ra, bagaimana dengan si Abang, putra sulung kita. Apakah dia tak berhak memiliki keluarga yang utuh, Ra, please pikirkan masak-masak keputusanmu, ada anak yang jadi korban atas keputusanmu." Air mata menetes dari matanya yang cekung.


"Maafkan aku Mas, kalau aku terkesan egois tapi ini sudah menjadi keputusanku, biarlah Anak besok tau sendiri kalau sudah besar siapa yang bener dan siapa yang salah. Hatiku tak menuju lagi padamu, apa boleh buat, kau sudah terlambat untuk mendapatkan hatiku lagi. Cinta dan hatiku telah mati untuk namamu Mas."


Air mata bercucuran kulirik dari matanya, padahal seingatku Mas Rudi bukanlah lelaki yang cengeng, ada penyelesalan yang mendalam di lubuk hatinya yang terdalam.

__ADS_1


Semoga semua ini menjadi renungan untuknya, aku ingin memberi pelajaran. Bahwa cinta seorang istri yang tulus mencintai dengan sepenuh hati adalah anugrah terbesar dalam hidup. Dia pernah menyia-nyiakan anugrah terbesar itu. Semua rasa sakit itu harus dibalas dengan perpisahan dan kesakitan biar dia tau rasanya kehilangan agar menyadari bahwa pertemuan dan kebersamaan itu adalah anugrah. Walau hatiku iba melihat lelakiku menangis pilu menangisi kesalahannya. Maafkan aku Mas, Maaf tak bisa memberimu kesempatan kedua.


Next


__ADS_2