
Pov Rudi
Sudah enam bulan perceraianku dengan Tiara, sedikitpun hatiku tak pernah bisa menerima keputusan sepihaknya, aku masih sering menangis, selama berpisah dengannya aku jadi lebih melankolis dan sensitif. Menyebalkan. Seperti pagi ini saat kulihat ruang dapur yang lenggang tak ada lagi canda tawanya, kulihat daster-daster Tiara tersusun rapi di lemari, dulu pakaian itu sangat kubenci saat dia memakainya tapi saat ini aku sangat merindukan semua tentang dia. Lagu Andmesh yang kudengar sayup-sayup dari radio yang kuputar di ruang tamu sangat menusuk ulu hatiku. Ya aku benar-benar rindu, apalagi saat weekend seperti ini.
Lirik lagu itu benar-benar membiusku dalam Isak yang dalam.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Saat ku sendiri, kulihat foto dan video
Bersamamu yang telah lama kusimpan
Hancur hati ini melihat semua gambar diri
Yang tak bisa, kuulang kembali
Kuingin saat ini, engkau ada disini
Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar
Tuhan tolong kabulkan lah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu
Segala cara telah kucoba
Agar aku bisa tanpa dirimu
Namun semua berbeda
Sulit ku menghapus kenangan bersamamu
Bait demi bait lirik lagu itu kuresapi, aku menangis meraung menatap semua gambar diri dan memutar video saat ulang tahun anakku Radit. Tawanya, cerianya, sabarnya, gigihnya semua sangat kurindukan. Tiara aku jatuh cinta berkali-kali padamu. Kuhapus air mata yang mengenang disudut mata.
Aku tak pernah bisa memaafkan kesalahan yang telah memisahkan anak dengan ayahnya, kebodohan yang hakiki menggadaikan kebahagian sejati hanya untuk kesenangan sesaat. Saat ini tak ada satu wanitapun yang mampu mengalihkan perhatianku, hati dan jiwaku selalu menuju Tiara.
Kukerjakan sholat Dzuhur padahal dulu sangat jarang kulakukan, senyumku mengembang saat Tiara menjewer kupingku saat masuk waktu Dzuhur aku masih asyik main game. Saat-saat seperti itu sangat kurindukan. Tiara adalah wanita yang taat beragama, dia adalah wanita Sholeha tapi semua itu hanya menjadi kenangan saat ini dia memilih berpisah denganku walaupun aku berlutut dan menangis darah itu tak akan merubah pendiriannya, dia sangat kuat pendirian.
Tiba-tiba dadaku sesak menangis dalam sholat, aku benar-benar kalah ya Rabb, ampuni aku ya Rabb, seandainya masih boleh berharap kembalikan Tiara kembali ya Rabb, aku ingin memperbaiki semuanya.
Tiba-tiba hape berderit berkali-kali kulihat panggilan dari wa. Ternyata dari Tiara, hatiku bergemuruh ada talu bersahut-sahutan, seperti masih abg, tubuhku panas dingin melihat wajahnya di layar hape.
"Assalamu'alaikum Mas, lagi apa, si Radit ini kangen sama kamu, merengek aja," ucapnya lugas.
Kulihat Tiara begitu segar, wajahnya putih bersih dan sekarang dia mengenakan hijaber menambah keanggunannya dan keayuan dirinya.
"Waalaaikum salam Mas udah selesai sholat, mana Radit." Mataku masih malu menatap wajah ayu itu, karena bukan mahramku lagi.
__ADS_1
Sebenarnya dalam hatiku masih ingin berlama-lama berbincang dengannya, tapi aku harus basa basi menanyakan Radit putraku semata wayang.
"Dulu aja susah banget disuruh sholat, sekarang udah rajin sholat ya, Radit masih pipis, bentar lagi sepertinya, nah dia udah lari kearah sini," ucapnya antusias.
Dalam hatiku bergumam beri waktu lima menit saja untuk menatap wajah itu lagi ya Rabb, aku sungguh sangat rindu.
"Iya dik sekarang Mas merasa sendiri dan tak punya pegangan hidup, seperti separuh jiwaku terbang saat perpisahan kita, aku benar-benar rapuh, sholatku yang menjadikan hidupku lebih tenang, aku belajar ikhlas menerima takdir ini," ujarku terbata-bata. Tak terasa air bening meluncur bebas dari mataku tanpa bisa ku kontrol.
Kutatap mata itu juga berkaca-kaca mendengar curahan hatiku. Saat netra kami beradu dia mengusap ujung matanya, dia juga menangis.
"Semoga semua ini ada hikmahnya buat kita semua ya Mas."
"Sejak kapan pakai hijab dik," ucapku lembut.
"Udah dua bulan Mas, susah menyandang status ini, banyak mata lelaki yang nakal," ucapnya lembut.
Tiba-tiba wajah Tiara hilang berganti dengan wajah putraku semata wayang. Raditya Rafa.
"Assalamu'alaikum Papa, Radit kangen, biasanya weekend kita selalu main kepantai, main yuk Pa," ucap anak lima tahun itu lucu.
"Waalaaikum salam Nak, Papa mau aja tapi a Mamamu itu mau nggak, rayu dong Mama Dit, biar kita jalan-jalan," ucapku sambil tersenyum.
"Kata Mama Minggu depan Pa, nanti Mama mau pergi sama Om Revan," ucap Radit polos.
Hatiku merasakan sakit luar biasa saat nama Revan disebut-sebut oleh anak kesayanganku.
Apakah ini pertanda Revan akan menjadi penggantiku
Sudah 3 tahun perpisahan itu terjadi, tapi tak pernah sedikitpun hati ini bisa melepaskan bayangan masa lalu bersama Tiara, semakin besar rasa cintaku padanya, mencintainya bagai candu, hati ini tak pernah bisa berdamai dengan waktu, semakin aku ingin melupakannya bayangannya semakin datang menari-nari dipelupuk mata. Terima kasih Tiara kehadiran dan kehilanganmu membawa hikmah yang besar dalam hidup ini, aku belajar ikhlas dan rasa syukur. Maafkan segala salah yang pernah menyia-nyiakan dirimu. Dalam hati ku bergumam.
Aku siap-siap jam 2 siang akan bertemu seseorang yang pernah kusia-siakan dan saat ini dia juga wanita yang sangat kucintai dan kurindukan. Perpisahan mengajarkanku rasa yang tak mampu kulukiskan dengan kata -kata. Di kafe Plamboyan, itu nama kafe langganan kami waktu masih pacaran dulu.
Susana kafe yang tak begitu rame membuat perasaanku semakin tak menentu apalagi suara lembut vokalis Naff menyanyikan sebuah lagu yang menyayat jiwa. Itu adalah lagu pertama kali bertemu Tiara dan lagu itu juga yang mengantarkanku menikahi Tiara. Seperti dejavu semua memori indah terulang kembali.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Akhirnya kumenukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Kuberharap engkaulah
Jawaban segala resah hatiku
Dan biarkan diriku
mencintaimu hingga ujung usiaku
Bila nanti kusanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahan ku
__ADS_1
Dan bila nanti engkau disampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Itulah penggalan lagu yang menjadi saksi bisu sejarah cintaku pada wanita yang telah berjuang dan sekaligus kusia-siakan, dia letih mencintaiku yang tak tau diri ini. Maafkan aku Tiara, Mamanya Radit, dalam hatiku bergumam. Kuusap air mata yang meluncur saat meresapi kata demi kata yang dinyanyikan vokalis Naff itu, jujur lagu itu bagai tamparan keras bagiku. Tiba-tiba wanita yang kutunggu datang juga. Mengenakan gamis serba hitam ditambah hijab besar yang menambah keanggunan pemakaiannya, akhh hatiku sampai terpana menatap keanggunan mantan istriku. Dia benar-benar bersinar setelah pergi dariku.
"Assalamu'alaikum Mas, maaf ya telat tadi Radit mau ikut jadi bujuk dia dulu, ini lagu kita dulu Mas," ucapnya santai.
Hatiku yang bergemuruh, ada perasaan yang tak menentu, panas dingin seperti abg labil, selama berpisah dengannya tak pernah aku dekat lagi dengan wanita lain dan tak mampu berpaling kelain hati, aku selalu bermunajat kepada Allah SWT untuk mengembalikan Tiara padaku tapi ternyata Allah berkehendak lain. Hatiku masih berdarah.
"Waalaaikum salam, nggak apa-apa kok, baru lima belas menit nunggunya, kamu masih ingat ini lagu kita?" ucapku malu-malu.
Lagu itu menghanyutkan perasaanku dan perasaannya, dia kulihat menikmati bait demi bait lirik lagu itu dan aku tau itu lagu favoritnya.
"Ra, apakah ini bukan pertanda kalau alam ingin menyatukan kita lagi," ucapku lirih.
"Maaf Mas, hatiku tak menuju lagi padamu, aku sudah menambatkan hatiku ke dermaga yang lain," ucapnya lembut.
Kualihkan pembicaraan dan kami memesan makanan, kuperhatikan wajah wanita yang kepergiannya baru membuatku sadar bahwa dia berlian yang kusia-siakan hatiku mengutuk semua kebodohanku.
"Ra, apakah kau bahagia dengan Revan, apakah tak ada kesempatan untukku bersaing dengannya," ucapku memelas.
"Maaf Mas, sebenarnya dulu aku memberimu banyak waktu, 5 tahun kita bersama tapi bukan hanya sekali kau mengkhianatiku, berkali-kali Mas, klimaksnya kau menjalin hubungan dengan Kalin dan menyebabkan aku kehilangan anakku, sungguh aku tak bisa memberikan kesempatan lagi. Maafkan aku Mas," ucapnya tegas.
"Maafkan aku Ra, tapi setelah kehilanganmu aku baru tau rasanya bahwa cintaku hanya untukmu, baru kutau rasa cintaku yang besar hanya kupersembahkan padamu," ucapku. Tak terasa mataku berembun, aku menangis dihadapan wanita yang sangat kucintai.
Matanya menatapku lekat-lekat ada rasa iba disana.
"Maafkan aku Mas, mungkin jodoh kita hanya sampai disitu saja, maafkan," ujarnya lembut.
Kulihat dia menyeka ujung matanya yang menitiskan air mata.
Akhirnya pesanan kami datang, aku tak ada selera makan lagi, kulirik wanita yang santai menyantap makanan yang tersaji. Hatiku meradang dan aku benar-benar cemburu.
"Ra, Radit gimana, apakah dia setuju dengan keputusanmu menikah dengan Revan," ketusku.
"Radit happy-happy aja Mas, lagian Revan orangnya penyayang anak-anak," ujarnya.
Ada yang membakar hatiku saat dia menyanjung lelaki lain. Oh Tuhan kusangat mencintai wanita ini ya Rabb. Tak terasa aku mengenggam jemarinya yang lembut.
"Ra, maafkan aku, aku mengizinkan kau menikah dengan lelaki lain, tapi izinkan aku tetap mencintaimu dalam hati dan doa-doaku, aku sungguh menyesal pernah menyia-nyiakaamu. Aku sangat mencintaimu," ucapku terbata-bata. Aku menangis dihadapan wanita itu. Aku tak peduli penilaiannya terhadapku, yang penting hatiku plong saat mengungkap semua unek-unek di dalam hati ini.
Kulirik wajahnya memerah dan matanya basah.
Bulu matanya yang lentik dan hidungnya yang mancung memerah, bibirnya yang mungil mengucapkan sesuatu.
"Mas, coba maafkan dirimu sendiri dan bukalah hati untuk wanita lain, Mas pasti bisa melupakan aku lagian akukan wanita kucel yang tak kau inginkan dulu," ucapnya menyindirku.
Wajahku memerah dan aku benar-benar tertampar dengan kata-katanya.
__ADS_1
Jangan pernah menyia-nyiakan seseorang yang mau berjuang denganmu dari nol. Saat dia pergi baru kau rasakan betapa berharganya dia dihidupmu.
Next