
Cangkir kosong terletak di dasar mesin press kopi. Seruni, pemilik Kafe Botani, menuangkan kopi yang sudah jadi ke dalam cangkir kosong. Tercium aroma kopi memenuhi ruangan kafe. Seruni sebagai pemilik kafe sengaja mengerjakan pembuatan kopinya sendiri karena tidak mau merepotkan dua pegawainya, Dini dan Lusi, yang sedang menyiapkan kursi untuk bagian depan kafe. Selesai membuat kopi, Seruni mengantarkannya pada pelanggan yang sudah duduk menunggu di dalam kafe. Sudah setahun ini Seruni membuka kafe. Pelanggannya cukup banyak, mulai dari pelajar hingga pegawai-pegawai kantor yang berada di dekat kafenya. Tak jarang, beberapa pegawai kantoran lainnya yang berada cukup jauh dari lokasi mengunjungi kafe setelah bubaran kantor. Mereka memilih menghabiskan waktu hingga jalanan kota lebih masuk akal untuk ditelusuri di kafe milik Seruni. Ada beberapa alasan kenapa kafe Seruni bisa mendapat cukup banyak pelanggan. Pertama, lokasi yang nyaman dan cukup asri membuat pengunjung betah lama berada di sana. Banyak tanaman yang dipajang, tak hanya di luar kafe tetapi juga di dalam. Belum lagi terdapat toko tanaman di sebelah kiri kafe. Tak jarang juga pengunjung kafe Seruni mampir ke toko tanaman setelah selesai atau sebaliknya. Kedua, berbeda dengan kafe pada umumnya yang hanya menyediakan makanan simpel untuk menjadi teman ngopi, kafe milik Seruni juga menyediakan masakan rumah yang resepnya dibuat oleh Diah. Perjumpaan Seruni dengan Diah terjadi puluhan tahun lalu di Panti Asuhan Cahaya Maria yang kini sudah beralih fungsi menjadi panti jompo. Diah yang kala itu sudah berumur lima belas tahun ikut membantu merawat Seruni yang ditinggal begitu saja di depan pintu panti asuhan. Begitu dekatnya mereka hingga Seruni tidak memedulikan lagi siapa orang tuanya dan menganggap Diah seperti kakaknya sendiri.
Tepat pukul sebelas siang, masuk seorang pelanggan kafe Seruni. Seruni tersenyum melihat pelanggan wanita tersebut masuk. Seruni berubah menjadi heran. Ia mengernyitkan dahinya karena tidak biasa pelanggan wanita tersebut mengabaikan Seruni. Seruni mencoba positif, mungkin ia sedang bingung dengan kerjaannya di kantor. Seruni bangkit berdiri lalu mengambil buku menu untuk ditawarkan pada pelanggan wanita tersebut.
“Hari ini mau mesen apa, Lisa?” tanya seruni sambil menyodorkan buku menu. Lisa melihat tidak antusias ke arah Seruni. Seruni mengamati dengan serius raut muka Lisa. Sepertiya ada yang tidak beres dengan pelanggannya ini.
“Yang biasa kupesen buat Rina aja, Ni” jawab Lisa.
“Gak sekalian makan siangnya? Hari ini ada gudeg basah loh,” ujar Seruni.
“Manis gak Ni?” tanya Lisa.
“Engga. Lebih ke gurih,” jawab Seruni.
Lisa terdiam sejenak lalu melihat ke arah jam dinding di Kafe Botani.
“Boleh deh Ni,” ujar Lisa.
Seruni tidak segera beranjak dari meja Lisa.
“Lis, kok tumben belakangan ini kamu sendiri terus ke sini? Rina mana?” tanya Seruni.
“Aku juga ga tau dia ke mana Ni,” jawab Lisa dengan raut wajah sedih. Seruni mengernyitkan dahinya, kebingungan mendengar jawaban Lisa.
“Bulan lalu dia ngilang dari rumah. Halaman depan rumahnya angus, anaknya juga ga ada. Aku nyoba nanya ke orang tuanya juga ga dijawab,” jelas Lisa. Seruni mengalihkan pandangannya ke bawah, merasa tidak enak karena sudah bertanya.
“Maaf ya, Lis. Semoga cepet ada kabar baik,” ujar Seruni.
Lisa mengangguk pelan ke arah Seruni. Seruni tersenyum kecil.
“Aku siapin dulu ya pesenannya.”
Seruni kembali ke meja kasir dan memberitahu pesanan Lisa pada Lusi lalu melihat ke arah Hpnya yang berbunyi. Segera Seruni mengambil HP di rongga meja kasir lalu membuka pesan yang dikirim oleh Rudi, calon suaminya. Rudi mengabarkan kalau sepuluh menit lagi ia akan berangkat dari kantor untuk menjemputnya di Kafe Botani.
...****...
Rudi melihat ke layar komputer. Terlihat laporan panen berbagai macam sayur dari beberapa daerah di Pulau Jawa. Rudi memejamkan mata lalu mengusap mata kanan. Ia merasa letih dengan pekerjaannya. Pernikahannya yang tinggal beberapa minggu lagi harus diselingi dengan sibuknya memeriksa hasil panen yang nantinya akan disediakan untuk supermarket di daerah Jakarta. Entah berapa lama lagi ia harus berfokus pada pekerjaan hingga akhirnya bisa fokus untuk pernikahannya nanti. Saat ini, ia hanya bisa bersyukur Seruni mau mengerti keadaannya. Entah bagaimana rencana pernikahannya nanti jika Seruni tidak banyak mengambil alih. Hal itu juga yang membuat Rudi merasa bersalah pada Seruni. Untuk itu, ia berjanji akan mengatur semua rencana bulan madu nanti. Destinasi apapun yang ingin didatangi Seruni, Rudi siap merencanakan segalanya. Setidaknya itu yang bisa dilakukan Rudi. Rudi mematikan komputer kerjanya lalu beranjak dari kursi ergonomis yang terlihat masih baru. Kursi ergonomis tersebut adalah pemberian dari Seruni. Seruni yang dulu pernah berkunjung ke ruang kerja Rudi marah karena kursi pemberian kantor terlihat tidak nyaman dan menunjang pekerjaannya yang harus lama duduk di depan komputer. Rudi mematikan AC dalam ruangan lalu pergi meninggalkan ruangan.
...****...
Mobil Rudi sampai di area parkir rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang kosong, Seruni dan Rudi turun dari mobil. Rudi mendekat lalu merangkul Seruni sambil terus berjalan menuju rumah sakit.
“Tadi udah selesai semua kerjaannya?” tanya Seruni.
“Masih ada yang belum. Panen kentangnya masih kurang,” jawab Rudi.
Seruni tersenyum kecil untuk Rudi. Terbayang calon suaminya ini akan semakin sibuk beberapa hari ke depan untuk menanggulangi kekurangan ini.
“Tapi ya udah lah. Emang lagi jelek semua hasil panennya,” kata Rudi.
__ADS_1
“Bener gapapa?” tanya Seruni.
“Nanti kutunjukin juga hasil panennya gimana ke Pak Rahmat. Biar cepet selesai,” jawab Rudi.
Seruni dan Rudi memasuki rumah sakit. Tidak terlalu banyak keluarga pasien dan pengunjung lainnya berada di lobi.
“Aku ‘kan juga mau cepet bisa bantu kamu siap-siap buat nikahan nanti,” ujar Rudi.
Rudi merangkul pinggang Seruni sambil mendekati meja resepsionis. Seruni masih tersenyum, senang mendengar jawaban dari Rudi. Seruni dan Rudi sampai di depan meja resepsionis. Mereka melihat seorang perempuan cukup muda, mungkin baru bekerja di tempat ini, yang terpaku pada layar komputer dengan headset terpasang di telinganya. Wajar saja mungkin mereka pikir. Baru selesai jam istirahat, hari Sabtu dan tidak begitu banyak pengunjung yang berlalu-lalang. Seruni mengetuk meja resepsionis mencoba mengalihkan perhatian Resepsionis.
“Mba?” ujar Seruni karena tidak berhasil mengalihkan perhatian Resepsionis.
Resepsionis menoleh ke sumber suara lalu tersenyum canggung sambil melepas headset di telinganya.
“Iya maaf Bu. Ada yang bisa dibantu?” ujar Resepsionis masih tersenyum canggung.
Seruni ikut tersenyum agar tidak memberikan tekanan tambahan pada Resepsionis muda ini. Berbeda dengan Seruni, Rudi tersenyum karena ia membayangkan jika Resepsionis di kantornya ketahuan seperti itu di depan Pak Rahmat.
“Kami udah janjian sama Dokter Deni buat cek pra nikah. Udah bisa ditemuin?” ujar Seruni.
“Sebentar ya Bu,” ujar Resepsionis sambil kembali melihat ke arah komputer.
Tak lama Seruni dan Rudi menunggu, Resepsionis menengadahkan kepalanya ke arah mereka.
“Udah Bu, udah bisa ditemui sekarang,” ujar Resepsionis.
“Sama-sama,” jawab Resepsionis.
Seruni dan Rudi beranjak dari meja resepsionis menuju lift.
“Bu,” ujar Rudi mencoba mengejek Seruni.
Seruni melirik sinis ke arah Rudi lalu menoyor kepala Rudi. Rudi tertawa karena berhasil membuat calon istrinya ini tersinggung.
“Ampun Bu,” Rudi semakin menjadi-jadi.
Sigap, Seruni mencubit pinggang Rudi. Resepsionis memandangi kedua pasangan yang baru saja mendatanginya tadi. Rasa iri datang menghampirinya, berharap ia akan juga memiliki pasangan yang seperti itu.
...****...
Dua jam berlalu setelah Seruni dan Rudi melakukan cek pra nikah. Mereka menunggu di kantin rumah sakit. Setelah berpuasa untuk persiapan cek, mereka akhirnya dapat makan dengan bebas. Seruni memandangi anak kecil yang tertawa karena diangkat tinggi-tinggi oleh Bapaknya.
“Sabar,” ujar Rudi sekenanya pada Seruni.
Seruni melirik ke arah Rudi.
“Emang kamu kuat ngangkat anak kecil tinggi-tinggi gitu? Tanya Seruni judes pada Rudi.
“Ya untungnya kursi kantor udah kamu paksa ganti sih. Rusak duluan boyokku kalo gak cepet ganti. Makasih ya,” jawab Rudi sambil tersenyum.
__ADS_1
Seruni tersenyum pada Rudi. Teringat pengalamannya dulu mencoba duduk di kursi kerja Rudi yang lama. Punggung yang terus tegak tanpa sandaran yang nyaman membuat Seruni tidak betah berlama-lama duduk di depan komputer. Seruni merasa cukup bangga dengan capaiannya itu. Mata kuliah ergonomika yang dulu pernah diambilnya ternyata berguna untuk berdebat dengan calon suaminya mengenai kursi kerja. Rudi melihat ke arah jam tangannya. Sepertinya hasil sudah bisa diambil.
“Udah?” tanya Rudi.
Seruni menganggukkan kepalanya menanggapi Rudi. Mereka segera bangkit dari kursi yang mereka duduki lalu berjalan meninggalkan kantin.
...****...
Rudi menatap kosong pada selembar kertas yang ia pegang di hadapan mukanya. Seruni diam, memandang kasihan pada calon suaminya ini. Ia tidak menyangka kalau hasil cek pra nikah untuk Rudi akan seperti ini. Kualitas ****** Rudi buruk. Rudi bingung, apa penyebab dari hasil cek ini. Dokter Deni terdiam, mencoba mencari waktu terbaik untuk menjelaskan situasi pada pasiennya ini.
“Saran saya, coba kurangi tingkat stresnya. Entah di pekerjaan atau di lingkungan lainnya,” ujar Dokter Deni.
Rudi dan Seruni memperhatikan Dokter Deni dengan seksama.
“Perbanyak olahraga juga, konsumsi makanannya juga dijaga. Hindari dulu minum alkohol. Sementara itu saja dulu dicoba, nanti kalau sudah dilakukan selama bisa cek lagi,” Dokter Deni menjelaskan pada Rudi.
Rudi masih terdiam, tidak menanggapi jabaran Dokter Deni. Ia merasa sudah menjaga gaya hidupnya sebaik mungkin. Alkohol terakhir ia konsumsi tiga bulan yang lalu. Itu pun karena ada pesta lajang dari rekan kerjanya di kantor. Rokok tidak ia hisap sama sekali setelah Rudi mengetahui semakin tua Ibunya menjadi tidak kuat dengan asap rokok ketika ia kuliah. Olahraga? Ya, sesekali Rudi bersepeda. Tidak rutin, tetapi selalu ia usahakan ketika tidak sibuk dengan pekerjaannya.
“Jangan khawatir, Mas. Hal ini lumrah dijumpai. Bisa diperbaiki kok. Yang penting Mas Rudi mau menjalankan saran saya,” ujar Dokter Deni mencoba menyemangati pasiennya.
Seruni mengelus tangan kanan Rudi yang terus mengetuk pelan pahanya. Ia mencoba menenangkan Rudi yang dirasa tidak tenang saat ini.
“Iya Dok, nanti saya coba,” jawab Rudi.
Dokter Deni tersenyum kecil pada pasiennya. Mencoba positif dan memberi semangat untuk mereka. Entah sudah berapa kali ia menjelaskan hal ini pada pasien yang datang mengunjunginya. Hasil buruk seperti ini sudah banyak ia temui, tapi bagi para pasien tentu saja tidak. Tekanan kerja yang berat tentu saja akan mempermudah hal ini terjadi dan Dokter Deni memahaminya betul. Dalam hatinya, ia berharap kualitas ****** yang buruk juga dapat diperhatikan oleh perusahaan-perusahaan yang rajin memberikan tekanan berlebih pada pegawainya.
...****...
Sore ini di Kafe Botani berbeda dari biasanya, sepi dan hanya ada beberapa pengunjung. Itu pun mereka duduk di kursi luar. Seruni dan Rudi duduk diam di kursi Kafe Botani bagian dalam. Seruni terus mengelus tangan Rudi, mencoba menguatkan Rudi. Dini mengantarkan pesanan pemilik kafe dan calon suaminya ini dengan cekatan. Dini tidak berani mengganggu kesunyian yang ada di dalam kafe lalu mengisyaratkan pada Lusi yang duduk di bagian kasir untuk keluar dari dalam kafe.
“Apa gara-gara kerjaanku ya?” ujar Rudi.
Seruni sadar betapa sibuknya Rudi semenjak tiga bulan lalu. Waktu pacaran berkurang, Rudi tidak sempat mengurus pernikahan mereka nanti, konsumsi kopi bertambah dan bersepeda pun terakhir bulan lalu. Belum lagi cerita mengenai panen yang tidak mencukupi. Entah berapa besar tekanan yang dihadapi Rudi.
“Aku takut bilang hasilnya ke Ibu, Ni.”
Seruni terdiam. Ia teringat Sri, calon ibu mertuanya, yang meminta untuk tidak menunda memiliki momongan. Seruni melihat ke arah Rudi, mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan pendapatnya.
“Apa kita bilang aja ke Ibu, kita sepakat buat nunda punya anak?” tanya Seruni.
Rudi memandang ke arah Seruni dengan perasaan tidak enak. Ia tidak suka dengan arah perbincangan ini akan ke mana.
“Nanti aku bilang kalo aku masih mau fokus ke kafe kalo kamu masih takut buat bilang ke Ibu. Aku gak pernah punya orang tua jadi aku gak tau tekananmu gimana buat permintaan kayak gitu. Kamu fokus aja buat jalanin sarannya Dokter Deni sembari nunggu waktu yang pas buat bilang ke Ibu,” ujar Seruni.
Rudi diam. Pundaknya seakan mendapat beban seribu kilogram karena masalah ini. Solusi yang diberikan Seruni entah akan efektif sampai kapan. Entah kapan juga keadaan Rudi akan membaik. Rudi bingung, ia tidak ingin memberikan tanggung jawab tambahan pada Seruni terlebih persiapan pernikahan mereka harus segera diselesaikan.
“Udah, percaya sama aku,” Seruni mencoba meyakinkan Rudi.
Rudi menunduk malu, tidak berani menatap Seruni. Rudi berpikir apa jadinya ia tanpa Seruni. Seruni menggenggam tangan Rudi dengan mantap lalu menyadarkan Rudi dari diamnya. Seruni tersenyum menguatkan Rudi. Rudi tersenyum kecil menyambut Seruni.
__ADS_1